MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Keluarga Kecil Agam


__ADS_3

"Eno mandi dulu, Bu! Sudah lewat Dzuhur, sekalian mau sholat!" pamit Eno pada mertuanya.


Setelah berpamitan Eno langsung meninggalkan ruangan itu dengan sedikit tergesa, tanpa menunggu jawaban dari mertuanya.


"Agam juga mau sholat Dzuhur, Bu," Agam mengikuti istrinya tanpa menunggu lama.


"Anak sekarang! Orang tua ngomong malah kabur." kata bu Warni sambil menggelengkan kepalanya.


Eno langsung berlari ke kamar mandi begitu sampai di kamarnya, kamarnya bersama Agam lebih tepatnya. Seperti biasa, Eno selalu lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Eno masih sering lupa jika kini dia tidak sendiri lagi, ada seorang suami yang selalu bersamanya.


Agam masuk ke dalam kamarnya saat terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Agam duduk di pinggir ranjangnya, tak lama kemudian dia merebahkan tubuhnya yang letih. Istirahat seminggu rasanya belum cukup untuk memulihkan tenaganya. Rasa lelah karena mempersiapkan pernikahannya selama dua bulan telah berganti dengan rasa bahagia. Sat rasa bahagia itu tiba-tiba terusik, rasa lelah akan kembali hadir.


Sesaat Agam akan mulai berpetualang ke dunia mimpi, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan sesosok gadis cantik yang mulai menjadi pusat perhatiannya. Agam dan Eno saling pandang kemudian tersenyum tipis. Wajah Eno langsung seperti kepiting rebus, karena saat ini dia hanya menggunakan handuk saja. Rasa malu mulai menghinggapinya.


Tatapan mata Agam masih tertuju pada tubuh Eno, ini kali keduanya dia melihat paha mulus Eno. Agam seperti terhipnotis. Pikirannya mulai berkelana sedangkan juniornya yang tertidur mulai menggeliat bangun.


"Mas Agam mandi dulu gih, sebelum sholat!" perintah Eno, membuyarkan lamunan Agam.


Eno berjalan kembali ke kamar mandi setelah mengambil baju gantinya. Dengan detak jantung berdebar kencang, Eno sengaja pura-pura menahan malunya.


Kesadaran Agam kembali saat terdengar suara pintu tertutup. Eno sengaja membanting pintu kamar mandi agar Agam tersadar dari lamunannya.


"Ini sebenarnya hadiah atau musibah, setiap hari melihat paha mulus?! Kapan ya, bisa menyentuh paha mulus itu?" gumam Agam.


Agam segera mengambil baju koko dan sarungnya. Begitu Eno keluar dari kamar mandi, Agam segera masuk ke dalam kamar mandi.


***

__ADS_1


"Mas, dekat sini katanya ada candi ya?" tanya Eno beberapa saat setelah mereka menikmati makan siang.


"Ada, tapi tempatnya sepi. Hanya masyarakat sekitar sini aja yang main-main ke sana. Lagian tempatnya sedikit jorok, banyak sampah berserakan." jawab Agam menjelaskan bagaimana kondisi candi di dekat rumah mereka.


"Kita ke sana yuk, mas! Suntuk di rumah terus!" ajak Eno.


Tanpa mereka sadari, bu Warni menguping percakapan mereka.


"Kamu nggak capek? Sejak jam empat Subuh lho kamu bangun sampai sekarang belum istirahat. Kita tidur siang dulu sebentar, nanti sore kita ke sana. Bagaimana, hmm?" jawab Agam.


"Capeknya sih capek, tapi karena dibantuin sama mas Agam, jadi nggak begitu capek!" kata Eno sambil cengengesan.


"Sudah pinter gombal, ya?!" ucap Agam sambil menggelitik pinggang Eno.


"Hahaha..." Eno tertawa menahan geli.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah melimpahkan kebahagiaan pada kami," ucap bu Warni pelan sambil memasuki kamarnya, dimana cucunya sedang tidur siang.


Fani memilih tidur di kamar neneknya setelah lelah bermain. Fani lebih terbiasa bersama neneknya dari pada bersama ayahnya, Agam. Mungkin karena neneknya 'lah yang mengasuhnya selama ini, selain itu juga karena Agam jarang bertemu dengan anaknya. Agam pulang ke kampungnya beberapa bulan sekali, sehingga anaknya tidak begitu dekat dengan dirinya.


Sore harinya, setelah bangun tidur. Eno memandikan anak sambungnya, mendandaninya secantik mungkin. Fani tampak cantik dan wangi, Eno membelikan beberapa kosmetik untuk anak usia balita. Eno yang hobi dandan, menginginkan anak sambungnya juga didandani. Walaupun harus merogoh kocek agak dalam, tapi Eno puas bisa menyulap anak sambungnya menjadi lebih cantik.


"Wanginya anak dan istri ayah!" ucap Agam sambil mencium pipi Fani dalam pangkuan Eno.


Anak balita itu diam saja dikerjain oleh Eno, lebih tepatnya didandani Eno.


"Siapa dulu dong mamanya, Eno!" ucap Eno membanggakan dirinya.

__ADS_1


"Mama?!" tanya Agam sambil menautkan kedua alisnya hingga menjadi satu.


"Ekspresimu, mas! Kok keheranan gitu, nggak boleh ya Fani manggil aku mama?" tanya Eno.


"Bukan nggak boleh, aku malah berterima kasih karena kamu mau menerima anakku," ucap Agam terharu, dia tidak menyangka sama sekali jika Eno mau menerima anaknya.


Selama ini Eno selalu menolak perjodohan ini, Agam jadi tidak berpikir Eno mau menerima Fani diantara mereka. Dilihat dari apa yang dilakukan Eno sepanjang hari ini, Agam merasa bersyukur akhirnya Eno bisa menerima dirinya dan anaknya.


"Terus ekspresi wajahmu itu, kek orang kaget gitu," jawab Eno masih heran.


"Aku terharu melihat kamu dan Fani bisa sedekat ini. Padahal Fani susah didekati oleh orang yang baru dikenalnya. Aku pikir akan susah membuat kalian bisa saling menerima. Ternyata kalian memang anak dan ibu yang kompak!" jelas Agam sambil mengangkat Fani dari pangkuan Eno.


"Mandi sudah, sholat sudah, dandan sudah! Sekarang kita berangkat ya, mas!" kata Eno sambil mengambil dompet dan HP-nya, kemudian memasukkan ke kantong celananya.


"Ok! Kita pamitan sama ibu dulu, biar nanti beliau tidak kecarian!" jawab Agam sambil berjalan keluar dari kamar mereka dengan Fani dalam gendongannya.


Setelah berpamitan pada bu Warni, mereka berangkat menuju candi menggunakan sepeda motor matic milik bu Warni. Karena di rumah itu hanya ada motor bu Warni dan mobil Avanza milik Agam.


Mereka bertiga tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Agam yang membawa motor, sedangkan Eno duduk di belakang sambil memegangi Fani yang berdiri memegang pundak Agam. Orang tidak akan tahu jika keluarga itu baru saja terbentuk. Wajah Fani yang dominan wajah Agam, orang akan mengira Eno ibu kandung Fani. Apalagi melihat kasih sayang Eno pada Fani, tidak akan ada yang tahu.


Candi itu tidak jauh dari rumah Agam. Dalam perjalanan menuju candi itu, mereka melewati rumah lamanya. Sekarang rumah itu dipakai untuk usaha bu Warni. Bu Warni menerima jahitan pakaian, mulai dari permak hingga menerima pesanan menjahit pakaian seragam sekolah ataupun perorangan.


Agam juga menceritakan tentang rumah dan usaha yang digeluti ibunya.


"Wow! Tempatnya bagus ya, mas!" ucap Eno dengan mata berbinar penuh kekaguman.


Eno kagum melihat tempat peninggalan sejarah yang tidak terawat dengan baik itu. Candi yang sudah mulai rusak, tapi tidak mengurangi keindahannya. Tempat itu sangat rindang, banyak pohon besar tumbuh di sekeliling candi itu. Bahkan tanaman bunga mawar dan melati tumbuh liar. Tidak hanya itu, masih banyak tanaman rumput liar yang berkhasiat juga tumbuh di sekitar candi itu. Hanya saja sampah dari pengunjung tidak kalah banyaknya. Tapi sampah itu tidak mengurangi keindahan tempat itu.

__ADS_1



__ADS_2