
Alex datang bersama ayahnya, Kusuma dan seorang ustadz. Mereka bertiga menunggu cukup lama di teras rumah orang tua Ary. Kemal sengaja mengulur waktu untuk menemui calon menantu dan calon besannya.
"Ada perlu apalagi kalian ke sini?" tanya Kemal begitu melewati gawang pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum, pak Kemal!" sapa ustadz Thoriq.
Ustadz yang sengaja Alex bayar untuk mengajarinya selama beberapa Minggu ini. Saat ini Alex mengajak ustadz Thoriq untuk melamar kembali sang pujaan hati. Maksud kedatangannya kali ini, dia ingin mempercepat jadwal pernikahannya dengan Ary.
"Wa.. Wa'alaikumsalam ustadz!" jawab Kemal tergagap karena terkejut. Kemal tidak menyangka sama sekali jika kedatangan Alex bersama ustadz Thoriq, temannya dalam tarekat.
"Silahkan masuk dan duduk dulu!" ajak Kemal pada tamunya.
Kemal langsung memanggil Asih untuk membuat minum, karena merasa tidak enak pada ustadz Thoriq. Kalau tidak ada ustadz Thoriq, mungkin Alex dan ayahnya sudah diusirnya.
"Ada perlu apa kiranya pak ustadz datang kemari?" tanya Kemal setelah semua tamunya duduk di ruang tamu.
"Kedatangan kami kesini yang pertama untuk menyambung tali silaturahmi. Dan yang kedua, saya sebagai utusan dari keluarga pak Kusuma Wijaya, ingin meminang putri pak Kemal." ustadz Thoriq menjelaskan maksud kedatangannya bersama Alex dan Kusuma.
"Oh begitu. Begini ya ustadz, kedatangan kalian kami terima dengan senang hati karena menambah keluarga. Niat yang kedua, jawabannya saya serahkan pada putri kami. Karena itu hak dia untuk memilih pasangan hidupnya." jawab Kemal menanggapi ustadz Thoriq.
"Apa kami boleh menemui putri bapak?" tanya ustadz Thoriq.
Sepertinya Alex dan Kusuma tahu, jika kedatangan mereka kali ini tidak diharapkan sama sekali. Makanya mereka mengajak ustadz Thoriq, sebagai penengah. Agar kedatangannya bisa diterima oleh Kemal.
"Asih, panggilkan ibu dan mbakmu!" teriak Kemal dari tempat duduknya.
"Suruh mereka ke sini!" lanjutnya lagi.
Asih yang mendengar perintah dari majikannya langsung bergegas ke teras belakang. Asih sedikit berlari ke arah belakang rumah, untuk menghemat waktu.
"Maaf, Bu! Ibu sama mbak Ary dipanggil bapak." kata Asih dengan nafas tersengal.
Asih ketakutan mendengar suara teriakan Kemal. Selama dia bekerja di rumah itu, tidak pernah sekalipun Kemal berkata dengan suara keras. Kemal tidak pernah marah, tapi begitu marah, emosinya tidak terkontrol lagi.
__ADS_1
Seorang ayah wajar jika marah, apabila melihat anaknya disakiti. Orang tua manapun pasti ikut terluka jika anaknya disakiti. Kemal sebisa mungkin meredam amarahnya pada Alex. Kalau saja Alex mau jujur, mungkin Ary tidak akan kecewa. Tapi nasi sudah jadi bubur, sekarang tinggal bagaimana menikmati bubur tersebut agar terasa nikmat.
Ary dan Widya berjalan beriringan menuju ruang tamu. Mereka segera beranjak dari duduknya begitu Asih mengatakan, Kemal memanggil mereka berdua.
"Iya, ayah! Ada apa?" kata Ary begitu sampai di ruang tamu.
Ary dan Widya duduk di kursi yang masih kosong.
"Ary, ayah mau tanya. Kami jawab yang jujur ya!" kata Kemal begitu anak dan istrinya duduk di dekatnya.
"Ayah mau tanya apa, sebisa mungkin Ary usahakan untuk jujur. " jawab Ary dengan kepala tertunduk.
"Apakah kamu masih ingin tetap menikah dengan dia?" tanya Kemal menunjuk ke wajah Alex.
Hening...
Belum ada jawaban dari Ary, Ary asik melamun mendengar pertanyaan ayahnya.
"Ary!" kata Widya sambil menggenggam tangan Ary kemudian mere. masnya untuk mengembalikan kesadaran Ary.
"Iya! Ary mau." jawab Ary dengan yakin.
Alex, Kusuma dan ustadz Thoriq menghembuskan nafas lega. Akhirnya seru mau menerima Alex lagi.
Ustadz Thoriq ikut bahagia, karena Alex sudah menunjukkan antusiasnya untuk belajar agama. Walau bagaimanapun juga, Alex sudah berusaha menjadi seorang imam yang selalu memberikan kebaikan.
"Alhamdulillah... berarti sudah clear masalahnya ya. Kalian berdua baik-baiklah berumah tangga, jika satu jadi api satunya harus menjadi air. Agar segera selesai permasalahannya, sehingga tidak menumpuk menjadi beban." kata ustadz Thoriq memberikan nasehatnya pada Ary dan Alex.
"Maaf, saya hanya ingin mengutarakan maksud saya. Saya ingin pernikahan saya dengan Ary dilaksanakan secepat mungkin, apakah bisa ustadz?" kata Alex menegaskan keinginannya.
"Bagaimana nak Ary, apa kamu setuju untuk mengikuti kemauan nak Alex?" tanya ustadz Thoriq pada Ary.
Ustadz Thoriq berusaha meyakinkan siapapun yang berada di ruang itu. Bahwa pernikahan yang ditunda itu tidak baik, karena hanya akan menambah dosa keduanya.
__ADS_1
"Saya setuju kalau dia sudah belajar dan memahami keyakinan saya." jawab Ary datar. Tak ada lagi senyuman yang menghiasi bibirnya. Bahkan pandangan matanya pun tidak secerah biasanya.
Ary yang biasa ceria sekarang memasang wajah datar. Seperti tidak ada lagi lampu yang berpendar menyinarinya. Rasa kecewanya harus dia telan sendiri. Dia hanya bisa berharap pernikahannya nanti akan bahagia dan langgeng.
"Nak Alex tadi pagi sudah mewujudkan keinginan nak Ary. Sekarang nak Ary juga harus menepati janji. Berarti nak Ary bersedia menikah dengan nak Alex secepatnya, bukan?" kata ustadz Thoriq.
"Ustadz Thoriq yang sudah mengajari saya, yah. Banyak saksinya kok, papi juga menyaksikan tadi, selain warga dekat sini tentunya." Alex ikut berbicara, tidak tahan rasanya berdiam diri tanpa menjawab omongan orang lain.
"Betul itu ustadz?" tanya Kemal.
"Benarkah yang dia katakan, ustadz?" kata Widya hampir bersamaan dengan Kemal.
"Iya, betul. Tadi pagi, sudah disaksikan beberapa jemaah masjid Al Furqon." jawab ustadz Thoriq berusaha meyakinkan tuan rumah.
"Baiklah! Ary bersedia, ustadz." jawab Ary akhirnya.
Ary sudah memantapkan hatinya memilih Alex, karena Ary type wanita lebih baik dicintai. Ary tahu jika Alex sejak pertama kenal sudah mulai jatuh pada pesona kecantikan Ary.
Setelah Ary menjawab bersedia, Alex dan Kusuma merasa lega. Tinggal menentukan kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan.
"Bagaimana kalau pernikahan mereka diadakan di hotel milik kami?" usul Kusuma.
Kusuma adalah orang kedua yang paling bahagia setelah kedua mempelai. Dulu besannya adalah wanita pujaan hatinya. Kusuma meyakini bahwa Ary menuruni sifat rendah hatinya Widya. Widya yang low profil dan humble membuatnya bertekuk lutut.
Begitu pula Alex, dia juga tidak bisa lepas dari pesona seorang dokter yang low profil. Ary telah menguasai seluruh hatinya. Bahkan Alex rela dimusuhi ibunya demi mendapatkan gadis pujaan hatinya.
"Ary ingin menikah secara sederhana, tanpa pesta yang mewah. Kecuali, ibu Jessie sudah merestui." jawab Ary menanggapi usul Kusuma.
"Alex juga ingin saat acara pernikahan berlangsung secara hikmat. Tenang tanpa keramaian." Alex menimpali perkataan Ary.
"Kalau begitu diadakan di rumah saja atau di KUA, biar sesuai keinginan mempelai." usul ustadz Thoriq.
"Di manapun bisa, yang penting jelas kapan akan dilaksanakan!" kata Widya tiba-tiba. Widya yang sejak tadi hanya menjadi audience akhirnya buka suara.
__ADS_1
Pengumuman buat peserta top fans gift yang belum masuk ke GC AYi, tolong segera mengetuk pintu. Akan diadakan tebaran kotak pada tanggal 10 Desember nanti. Kami tunggu hingga tanggal 10 pagi, batas akhir jam 12 siang.