
Kevin yang tertidur pulas digendong oleh Alex menuju sebuah kursi sofa di ruang VIP. Mereka memilih ruangan itu, karena dinilai lebih privat. Alex meletakkan Kevin di sofa yang paling panjang, kemudian membetulkan posisi tidurnya agar lebih nyaman.
"Papi mau berkata jujur tentang pikiran papi tadi, papi harap kalian jangan marah. Kalian tidak perlu menjawab, kalian cukup mendengar saja!" kata Kusuma kemudian.
"Sebenarnya papi tadi saat sebelum berangkat ke rumah Widya, papi tidak merestui kalian. Tapi begitu tahu jika Ary anak bungsu Widya, rasanya papi tidak tega jika tidak memberi restu pada kalian." Akhirnya Kusuma lega, karena sudah berkata jujur pada anaknya.
"Papi terpaksa memberi restu pada kami?" tanya Alex menyipitkan matanya yang sipit.
"Papi tidak merasa terpaksa, papi merestui kalian dari lubuk hati papi. Tanpa paksaan!" jawab Kusuma.
"Papi sudah lama mengenal bunda Widya?" tanya Alex setelah selesai mengurus anaknya, kemudian duduk di sebelah kiri sang ayah.
"Kami sudah saling mengenal sejak kecil, karena kedua orang tua kami bersahabat." jawab Kusuma.
"Berarti sudah dekat banget dong!" sahut Anton yang duduk di sebelah kanan pak Kusuma.
"Dekat sekali, bahkan kami berencana untuk membuat sebuah keluarga. Kami dulu sepasang kekasih yang bahagia. Tapi kebahagiaan itu hilang setelah ada orang yang tidak suka dengan keluarga kami."
"Ada seseorang yang dengan sengaja mengadu domba keluarga kami. Sehingga terjadi kesalahpahaman, usaha orang tua Widya mulai jatuh karena ada penggelapan secara besar-besaran, tapi kakekmu yang dijadikan kambing hitam. Waktu itu Wijaya adalah tangan kanan Hadiningrat, sehingga usaha mebel milik ayah Widya berkembang pesat."
"Walaupun Wijaya, kakekmu, memiliki usaha sendiri tapi dia masih membantu Hadiningrat. Kedekatan keduanya juga membawa kedekatan kepada anak-anak mereka. Kebetulan jarak papi dan Widya hanya beberapa tahun saja. Sehingga kami dengan mudah akrab dan dekat."
"Seiring berjalannya waktu, seperti pepatah yang mengatakan cinta ada karena biasa. Cinta diantara kami pun tumbuh, keluarga semakin dekat lagi. Saat itu, Widya sudah menjadi guru honorer di sebuah SD. Sedangkan papi mengurus usaha kakekmu. Kakekmu memiliki sebuah toko grosir pakaian yang cukup besar. Karena papi anak laki-laki satu-satunya, jadi papi yang mengurus usaha tersebut."
"Kakekmu yang baru saja mengundurkan diri menjadi asisten pribadi Hadiningrat, dituduh telah melakukan penggelapan dana. Karena tidak ada bukti-bukti yang kuat, akhirnya keduanya menjadi bermusuhan. Sekarang usaha Hadiningrat sudah tidak seperti dulu, nama Hadiningrat pelan tapi pasti hilang dari dunia bisnis." Kusuma menceritakan semuanya pada anaknya.
"Padahal waktu itu aku hendak melamar Widya sebagai pendamping hidup. Karena masalah tadi, lamaranku ditolak pak Rahardja Hadiningrat mentah-mentah. Widya dijodohkan dengan teman mengajarnya di SD. Laki-laki itu yang sekarang akan menjadi mertuamu. Dia laki-laki yang baik dan penyayang. Sehingga pernikahan mereka bahagia hingga saat ini." Kusuma menyesap kopinya yang mulai dingin.
"Pak Kemal memang baik dan penyayang, Pi! Lihat saja tadi, beliau tidak sedikit pun marah atau menolak kita. Dia menerima kita dengan kedua tangannya." sahut Alex ikut menyesap kopi hitam kesukaannya.
__ADS_1
"Tadi kata papi ada orang ketiga diantara kakek dengan kakek Ary, apakah kakek Ary tahu?" tanya Anton penasaran.
"Tahu, kurasa! Karena kami tidak lagi berurusan dengan keluarga mereka setelah kejadian itu." jawab Kusuma.
"Papi tahu siapa dalang kehancuran bisnis kakek Rahardja?" tanya Alex.
"Adik iparnya, yang juga bekerja di perusahaan itu!" jawab Kusuma, sebenarnya dia tidak mau mengungkapkan aib orang lain. Tapi ini menyangkut masa lalu yang belum beres, mau tidak mau dia menceritakan semuanya.
"Lalu, orang itu sekarang dimana?" tanya Alex sambil memainkan jari telunjuknya di pinggiran gelas kopi.
"Kalian pernah dengar Harto Meubel? Usaha yang membuat dan menjual perabot rumah tangga." tanya Kusuma memandang wajah Alex dan Anton bergantian.
"Sudah!" ucap Anton
"Belum!" jawab Alex.
Anton dan Alex menjawab pertanyaan pak Kusuma secara bersamaan, tapi berbeda jawaban.
"Dulu itu tokonya tersebar di daerah sini lho!" kata pak Kusuma heran anaknya menjawab belum pernah, padahal usaha itu dulu yang paling terkenal disini.
"Oh, iya! Aku ingat sekarang! Toko outletnya ada lima di sepanjang jalan Jogja - Solo. Outletnya pun besar-besar." teriak Alex begitu mengingat tentang Harto meubel.
"Akhirnya ingat juga!" sahut Anton.
"Harto meubel itu dulunya milik Rahardja, tapi sekarang sudah dikuasai oleh adik iparnya." jelas Kusuma.
"Rahardja bersama anak laki-lakinya, Sofyan, berusaha membangun usaha lagi dari awal. Masih membuat meubel dan kerajinan tangan, tapi diekspor karena dia tidak ingin lagi berurusan dengan adiknya. Dia juga membuka usaha dari beton, membuat batako dan paving." Kusuma melanjutkan ceritanya.
"Tapi tidak lama kemudian Rahardja meninggal, selang beberapa tahun, anak dan menantunya meninggal karena kecelakaan. Jadi usaha itu sekarang dipegang anaknya Sofyan." Kusuma mengakhiri ceritanya dengan kembali menyesap kopinya.
__ADS_1
"Bukannya anak om Sofyan mengalami keterbelakangan mental, Pi?" tanya Anton, dia sedikit tahu tentang beberapa pengusaha di kota itu.
"Anak istri pertamanya kan ada! Laki-laki malah, tapi sepertinya dia lebih memilih menjadi abdi negara. Karena aku pernah melihatnya memakai seragam PNS." jawab Kusuma.
"Kok kamu tahu tentang om Sofyan?" tanya Alex pada Anton, dia merasa heran dari mana Anton tahu.
"Om Sofyan kan bapaknya si Bayu, kakak kelas kita sewaktu SMA! Ingat?" Anton menjelaskan.
"Oh! Berarti Bayu adik sepupu Ary? Pantas saja mereka lengket!" kata Alex ceria, dia tidak habis pikir bahwa pria yang dicemburui dulu adik sepupu Ary.
"Kenapa? Kaget?!" Anton mencibir Alex.
"Kenapa nggak bilang dari dulu! Aseeem!" teriak Alex memukuli Anton karena kesal.
"Buahahaha! Ampun, sakit nyet!'' teriak Anton tertawa sambil menghindari pukulan dari Alex.
"Sudah! Jangan ribut di tempat umum. Sebaiknya kita pulang saja, sudah malam!" kata Kusuma melerai keduanya.
Setelah membayar semua tagihan, mereka berjalan beriringan keluar dari kafe tersebut. Alex menggendong kembali Kevin yang masih tertidur pulas. Anak itu tidak merasa terganggu sama sekali, padahal dia sudah berulangkali pindah tempat.
"Perasaan papi sama Bu Widya sekarang, bagaimana?" tanya Alex tiba-tiba setelah mereka memasuki mobil.
"Biasa aja! Seperti bertemu teman lama." jawab Kusuma berbohong, sebenarnya dia masih memendam perasaan itu. Seandainya tadi tidak ada orang di dekat mereka, mungkin Kusuma akan memeluk Widya dengan erat.
"Sudah seharusnya seperti itu, karena sebentar lagi beliau akan menjadi mertuaku. Artinya akan menjadi besan papi!" kata Alex menanggapi perkataan ayahnya.
Sebenarnya Alex tahu, ada kerinduan yang mendalam tampak di mata ayahnya itu. Tapi dia pura-pura tidak tahu, untuk menjaga perasaan ayahnya.
"Sekarang saatnya mencari jalan agar mamimu mau menerima Ary sebagai menantunya. Bukan memikirkan perasaan papi pada calon ibu mertuamu!" ucap Kusuma saat keheningan melanda, karena mereka sudah mengantuk dan lelah.
__ADS_1
"Iya, Pi! Alex sudah punya rencana untuk membatalkan pertunangan dengan Tere." jawab Alex yakin.