
Setelah selesai makan, Alex menyempatkan diri untuk meminta waktu pada Ary berbicara berdua dengannya.
"Ar, bisa minta waktunya sebentar saja. Nggak lama kok." tanya Alex.
"Bisa!" jawab Ary yakin.
Akhirnya Alex mengajak Ary keluar ruangan itu. Alex mengajak Ary duduk di taman.
"Ada apa, sepertinya penting banget?!" tanya Ary begitu sampai di taman.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alex sambil mengarahkan Ary untuk duduk di sebelahnya.
"Aku alhamdulilah, baik." jawab Ary setelah duduk di samping Alex.
"Pernikahan kamu?" tanya Alex lagi.
"Suamiku meninggal sudah lebih 3 tahun. Karena kelelahan dia terkena serangan jantung. Dia terkena komplikasi, jadi aku tidak bisa menolongnya." jawab Ary dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf! Aku tidak tahu jika suami kamu sudah meninggal." kata Alex.
"Gak apa-apa! Aku sudah terbiasa dengan keadaanku sekarang." jawab Ary.
"Lalu itu, laki-laki yang bernama Brandon tadi siapa?" tanya Alex.
Alex harus tetap menjaga kata-katanya, agar tidak terlihat kalau dia cemburu. Ary merasa pertanyaan Alex seperti seorang detektif yang mencari informasi.
"Dia siapa, itu bukan urusan kamu! Karena kamu membawa siapa ke acara ini, aku juga tidak peduli." jawab Ary kesal.
"Bukan begitu, aku kira dia suami kamu. Karena aku dengar kamu menikah dengan brondong. Tadi kalian bilang si brondong, tapi wajahnya terlihat lebih tua dia daripada kamu." jelas Alex.
"Lalu?" tanya Ary sambil melihat ke arah Alex.
"Aku hanya ingin tahu suamimu. Aku dan Tere hanya kebetulan berangkat bersama, karena kami sama-sama tidak memiliki pasangan." jawab Alex, ingin mengatakan jika dia masih mencinta Ary. Tapi bibirnya terasa kelu.
"Oh ya, lalu kemana istrimu? Bukannya kamu sudah menikah?" tanya Ary.
"Kami sudah bercerai 3 tahun yang lalu." jawab Alex.
"Kenapa?" tanya Ary.
"Sudah tidak ada kecocokan lagi. Dia mencari yang lebih." jawab Alex.
"Kenapa tidak menikahi Tere saja? Kalian berdua cocok kok jadi pasangan. Tere juga baik orangnya." kata Ary, sebenarnya dia merasa tidak nyaman duduk berdua saja di taman.
"Karena aku tidak pernah mencintai dia!" jawab Alex, berusaha membuat Ary mengerti maksudnya.
"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, jika ada kenyamanan diantaranya. Aku yakin kalian berdua saling merasa nyaman. Ku lihat kalian menikmati kebersamaan kalian tadi." kata Ary datar sambil sesekali menoleh ke arah Alex.
Saat Alex dan Ary berada di taman, Tere kebingungan mencari Alex. Karena tidak kunjung melihat Alex, Tere pun kembali ke meja yang didudukinya tadi bersama Alex.
"Ton, mana si Alex?" tanya Tere sambil mendudukkan bo*kongnya.
"Keluar sebentar!" jawab Anton kembali mengobrol dengan Brandon.
__ADS_1
Anton dan Brandon saling bertukar pengalaman bisnis mereka. Tanpa menghiraukan keberadaan Tere. Tere hanya diam saja mendengarkan obrolan antara Anton dan Brandon. Untuk membuang rasa bosannya, Tere akhirnya bermain hp.
Di taman Alex masih belum puas melepas rindu dengan Ary. Dia masih ingin ngobrol lama dengan Ary. Tapi sepertinya Ary sudah merasa tidak nyaman di dekatnya.
"Besok kamu kerja?" tanya Alex, tangannya merogoh kantongnya hendak merokok tapi ditahannya karena ada Ary.
"Kerja! Aku kan makan gaji, gak mungkin bolos kerja. Jadi abdi masyarakat itu harus selalu siap dalam keadaan apapun. Walaupun capek karena perjalanan jauh, aku harus tetap kerja." jawab Ary dengan semangat. Begitulah Ary, dia akan semangat jika membahas kerjaan.
"Oh! Boleh minta no yang bisa dihubungi?" tanya Alex.
"Maksudnya? Emang ada ya, no yang tidak bisa dihubungi?" tanya Ary.
"Mana tahu, iseng dikasih no asal saja!" jawab Alex sambil menahan tawanya.
"Ada saja! Masak ada no gak bisa dihubungi dikasih!" kata Ary sambil menggelengkan kepalanya.
"Mana HP kamu?" kata Ary kemudian sambil menadahkan tangannya bermaksud meminta hp Alex.
Alex menyerahkan HP-nya setelah mengambilnya dari saku celananya.
"Kenapa masih terkunci? Buka dulu!" kata Ary mengembalikan HP Alex.
"Tanggal kita jadian waktu SMA! Masih ingat?" kata Alex.
"Maksudnya?" tanya Ary memicingkan matanya sebelah.
"Itu kode pass-nya!" jawab Alex sambil mematik korek hendak merokok.
"Oh!" kata Ary sambil menganggukkan kepalanya. Ternyata dia masih mengingatnya, batin Ary.
"Sudah?" tanya Alex. Ary hanya menganggukkan kepalanya tanda iya.
"Sejak kapan jadi perokok?" tanya Ary.
"Sejak kapan ya?! Lupa!" jawab Alex mengelak.
"Mana ada lupa, aku cuma tanya gak melarang. Karena tidak ada hakku melarang." kata Ary kesal.
"Sudah sekitar tiga tahunan lah." kata Alex akhirnya mengaku.
"Sejak bercerai atau masih dalam proses perceraian? Rokok itu bukan solusi, tapi polusi!" kata Ary sambil berjalan menjauhi Alex.
"Ary, tunggu! Masih banyak yang mau aku tanyakan." kata Alex ketika berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki Ary.
"Besok subuh aku sudah harus berangkat ke Kulonprogo. Jadi aku harus cepat tidur biar tidak bangun kesiangan." kata Ary sambil terus berjalan memasuki ruangan tadi.
Tidak lama kemudian, Alex dan Ary sampai di ruangan. Tapi Eno dan suaminya sudah tidak ada di tempatnya.
"Mana si Eno?" tanya Ary begitu dekat dengan Brandon.
"Mereka sudah pulang, baru saja. Kita pulang atau masih mau disini?" tanya Brandon dengan suara lembut.
"Kita pulang aja! Besok masih harus kerja lagi, kunjungan Bupati ke rumah sakit." jawab Ary sambil berjalan mendekati Tere.
__ADS_1
"Re, aku pulang duluan ya!" pamit Ary pada Tere sambil berpelukan.
"Hati-hati ya!" kata Tere mengusap punggung Ary.
"Iya, kamu juga hati-hati." balas Ary dengan senyuman.
Setelah berpamitan pada Tere, Ary pun menghampiri Anton.
"Aku duluan ya! Cepetan nikah! Aku tunggu undangan pernikahan kamu!" kata Ary sambil menyalami tangan Anton.
"Carikan pasangan dulu, nanti aku kirim undangan ke kamu!" jawab Anton.
"Minta cariin Alex! Dia kan bosmu!" jawab Ary meninggalkan Anton.
"Dia sendiri jomblo, kalau minta cariin dia yang ada ikutan jadi jomblo abadi." gerutu Anton.
"Itu sih derita Lo!" jawab Ary tertawa.
Belum sempat Ary menghampiri Alex, Alex sudah berdiri di samping Ary.
"Kapan-kapan aku hubungi kamu ya!" kata Alex sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman.
Ary menerima pun uluran tangan Alex.
"Silahkan! Kalau aku senggang langsung respon, kalau lagi repot. Maaf jika slow respon." jawab Ary.
"Okeh! Hati-hati!" kata Alex sambil menyalami Brandon ala laki-laki. Brandon juga menyalami Anton dan Tere.
"Kami duluan, byeeee!" ucap Ary sambil melambaikan tangannya.
Ary dan Brandon berjalan meninggalkan ruangan, Brandon memanfaatkan kesempatan itu untuk menggandeng tangan Ary lagi.
Alex memperhatikan kepergian Ary dan Brandon. Alex juga melihat Brandon yang menggandeng tangan Ary posesif.
Halloo readers!!!
Berhubung saya ada sedikit rejeki, saya ingin berbagi sedikit.
LOMBA PODIUM GIFT
Juara 1 100k pulsa
Juara 2 75k pulsa
Juara 3 50k pulsa
Juara 4 25k pulsa
Juara 5 20k pulsa
Lomba dimulai sejak tanggal 15 Oktober dan berakhir tanggal 30 November 2021.
Kenapa rentang waktunya lama, itu dikarenakan saya belum tentu bisa menamatkan novel ini dalam waktu dekat ini. Karena kesibukan di RL lebih menyita waktu saya.
__ADS_1
Mohon favorit, like, dan komen. Terima kasih 😘😘😘