
"Mau pesan apa?" tanya Alex pada Tere.
Alex mengajak Tere makan malam di tempat biasanya mereka makan. Karena Alex tidak tahu tempat lainnya yang cocok dengan selera Tere.
"Seperti biasa aja, mas!" jawab Tere manja.
Walaupun Tere berpenampilan menarik, tapi bagi Alex biaya saja. Tidak ada wanita yang lebih anggun dari Ary. Bagi Alex, Ary tiada duanya.
Mereka pun memesan makanan seperti biasa mereka makan di restoran itu. Karena tidak ada yang istimewa di hari itu. Mereka makan dalam diam hingga makanan habis.
"Ada yang mau aku omongin, aku harap kamu mau mendengarkan sampai selesai." kata Alex begitu mereka selesai menikmati makan malam.
"Ngomong saja, mas! Tere siap mendengarkan kok." jawab Tere dengan tersenyum manis.
"Ini soal kita." Alex menjeda kata-katanya sejenak.
Dia ingin melihat reaksi Tere. Tere yang masih diam, siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Alex. Walaupun Tere terus mengejar Alex, tapi Tere batasannya.
"Sebaiknya kita sudahi saja pertunangan ini, karena sampai sekarang aku belum juga bisa mencintai kamu. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu belum juga hadir, padahal kita bersama sudah bertahun-tahun. Mungkin lebih baik kita menjadi sahabat atau saudara saja." Alex mengambil udara sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Reaksi Tere mendengar perkataan Alex hanya diam saja, tapi wajahnya menunjukkan kesedihan dan kekecewaan. Kedua matanya pun sudah berembun. Tapi Tere masih ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Alex.
"Kamu itu cantik, baik dan penyayang. Aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus. Laki-laki yang bisa membahagiakan kamu nantinya. Dan laki-laki itu bukan aku." kata Alex mengakhiri hubungan dengan Tere.
"Tere tidak bisa, mas! Tere sudah terlanjur mencintai mas Alex." jawab Tere berlinang air mata.
"Perasaan tidak bisa dipaksakan, Tere. Seandainya hati kita bisa kita atur untuk mencintai siapa. Sudah pasti aku suruh untuk mencintai kamu. Tapi hatiku tidak bisa ku suruh untuk melabuhkan pada siapapun." kata Alex menenangkan Tere.
"Karena hati tidak bisa diatur, makanya Tere bertahan menunggu mas Alex mau menerima Tere. Tere masih sabar menunggu mas Alex mencintai Tere." sahut Tere.
__ADS_1
"Oleh karena itu, aku tidak mau semakin menyakiti kamu. Lebih baik kita akhiri semua ini. Agar tidak semakin dalam luka di hatimu. Juga agar aku tidak semakin merasa bersalah karena selalu menyakiti kamu." Alex menjelaskan keinginannya.
"Tere akan tetap bertahan, Tere akan tetap menunggu mas Alex mencintai Tere. Titik!" jawab Tere tetap pada pendiriannya.
Alex dibuat frustasi dengan jawaban Tere, dia sama sekali tidak menyangka jika Tere akan tetap bertahan dalam keadaan ini.
"Kamu akan tersakiti Tere!" kata Alex sambil memegang kedua pundak Tere.
"Tere rela sakit, asalkan bersama mas Alex!" jawab Tere yakin.
"Lihat dunia luar, Tere! Banyak laki-laki di luar sana yang mencintai kamu dengan tulus. Jangan sakiti dirimu sendiri, itu namanya menyiksa diri! Tuhan akan marah jika umatnya menyiksa diri sendiri." Alex mencoba membujuk Tere, agar mau mengakhiri pertunangan mereka.
"Kalau kita akhiri pertunangan ini, kita batal menikah. Pasti kedua orang tua kita akan malu, mas!" Tere mencari alasan agar Alex membatalkan niatnya.
"Tidak ada yang tahu pertunangan kita, Tere!" jawab Alex.
"Siapa bilang tidak ada yang tahu, mamaku dan mami mas Alex sudah mengumumkan pertunangan kita di acara arisan mereka. Sudah banyak yang tahu pertunangan kita, mas! Akan ditaruh dimana muka kedua orang tua kita, jika kita akhiri pertunangan ini?" Tere tetap tidak mau berakhir.
"Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Pernikahan pertamaku gagal, salah satunya karena cinta sepihak. Sampai kapanpun hubungan kita tidak akan pernah berhasil." kata Alex akhirnya, memang salah satu penyebabnya dia belum bisa sepenuhnya mencintai Paula.
Alex mencintai Paula karena adanya darah daging yang menghubungkan antara mereka. Sedangkan dengan Tere, Alex sudah menganggap Tere sebagai adiknya. Karena Alex dan Tere besar bersama, sudah seperti keluarga.
"Akan sangat sakit bila seorang wanita mengejar cinta laki-laki yang tidak pernah melihatnya. Aku tidak ingin kamu tersakiti, karena kamu sudah aku anggap sebagai adik. Kamu tahu kan, cinta tidak dapat dipaksakan. Jadi sebelum kita hancur berantakan, lebih baik kita akhiri sekarang. " lanjut Alex.
Air mata Tere terus mengalir tiada henti hentinya. Tere menangis sampai tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alex.
Alex yang tidak tega melihat Tere yang terus menangis, akhirnya memberikan minum pada Tere sambil tangannya terus mengusap punggungnya. Tere pun menerima minum itu dan meminumnya hingga tandas. Setelah Tere mulai tenang, Alex mengajak Tere pulang.
***
__ADS_1
"Nyet! Tolong dong, kamu hibur Tere! Aku nggak tega melihat dia kek tadi." kata Alex ketika memasuki kamar Anton.
Alex ingin meminta tolong pada Anton, karena Alex merasa yakin bahwa hanya Anton lah yang bisa membantunya.
"Manggil orang itu yang sopan! Minta tolong tapi gak bisa ngormati orang." kata Anton tetap fokus pada HP-nya.
"Antonius Nugroho, saya mau minta tolong bisa? Tolong hibur Tere, terus buat Tere melupakan saya." ucap Alex menahan rasa kesalnya.
"Kalau mau minta tolong itu ke kantor polisi! Aku bukan polisi, jadi mohon maaf! Anda salah alamat." jawab Anton memasang wajah serius.
Alex yang kesal langsung mengambil bantal yang ada di kaki Anton kemudian melemparkannya ke arah Anton.
Pletak... bunyi suara hp Anton yang terjatuh ke lantai, Karen terlepas dari tangan Anton, saat Alex melempar bantal ke arahnya.
"Dasar sodara lucknut! Malas gue bantuin Lo!" kata Anton kesal karena keasikannya bermain hp terganggu.
"Eh, gue serius mau minta tolong, Lo malah ngerjain gue!" kata Alex mendudukkan dirinya di pinggir ranjang Anton.
"Lagian, kamu datang-datang langsung nyuruh orang seenaknya aja!" jawab Anton.
"Aku beneran minta tolong, kamu bujukin Tere biar mau melepaskan aku. Mengakhiri pertunangan kami. Kamu hibur juga dia, cowok di dunia ini bukan aku saja. Masih ada kamu yang mencintainya dengan tulus." kata Alex panjang lebar yang membuat Anton menjadi jengah.
"Kalau seneng diem aja, giliran kena masalah lari ke aku. Sudah kamu apain dia, sampai segitunya nggak mau lepas dari kamu?" kata Anton.
"Nggak ada aku apa-apain. Sumpah!" jawab Alex sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.
"Biasanya cewek kalau nggak mau lepas, itu udah diapa-apain! Nggak percaya aku, kalau belum kamu sentuh dia." jawab Anton.
"Kalau nggak percaya, kamu buktikan sendiri! Kami dekati dia, hibur dia biar dia mau melepaskan aku. Aku beneran minta tolong!" kata Alex sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, tanda memohon.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku bantu kamu. Kalau dia tetap pada pendiriannya, aku bisa apa?" jawab Anton akhirnya, dia tidak tega melihat Alex yang memohon padanya.