MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Baby Richard Rewel


__ADS_3

Keesokan harinya...


Eno terbangun kala suara baby Richard melengking keras. Baby Richard selalu menangis jika keluar dari bak mandi. Bayi berusia tiga puluh enam hari itu sudah tahu bermain air. Setiap kali diangkat dari bak-nya dia selalu berpegangan erat pada pinggiran bak.


Mama Eno yang pagi ini memandikan baby Richard mengalami sedikit permasalahan. Baby Richard yang diangkat paksa keluar dari bak mandi menjerit dengan kerasnya seperti anak yang terjatuh.


Eno bergegas keluar dari kamarnya tanpa dia sadari bagaimana keadaan bajunya yang sudah terbuka semua. Tadi malam Agam mengerjai Eno habis -habisan, dia melukis badan Eno tanpa Eno sadari. Eno benar-benar lelah sehingga tidurnya nyenyak sekali.


"En?!" teriak Agam saat melihat Eno berdiri di gawang pintu kamar mereka, saat Agam hendak membangunkan Eno.


Agam langsung menarik Eno kembali masuk ke kamar. Dia mulai mengancingkan baju Eno. Eno yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menatap wajah Agam. Dia nampak heran kenapa kancing piyamanya terbuka semua.


"Mas???" ucap Eno sambil terus menatap tajam Agam.


Agam yang ditatap menjadi salah tingkah, dia mengusap tengkuknya kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Eno masih menatapnya tajam menunggu jawaban keluar dari bibir Agam.


"Engng... Tadi malam aku tiba-tiba pingin itu!" jawab Agam kembali menggaruk kepalanya.


"Pingin jahil?!" tanya Eno ketus.


Di luar, baby Richard masih menangis di gendongan bu Marini. Pak Mundarman juga ikut menenangkan cucu kesayangannya itu. Sepertinya usaha kedua orang tua itu untuk menenangkan cucunya tidak berhasil, terbukti bukannya diam bayi itu semakin keras tangisnya.


Eno yang kembali mendengar jeritan tangis anaknya langsung lari menghampiri sang buah hati. Eno langsung mengambil bayi itu dari tangan mamanya. Dia mendekap anaknya penuh kasih sayang, diusapnya punggung anak itu agar tenang. Setelah agak tenang, Eno duduk di sofa ruang keluarga. Eno mengeluarkan sumber penghidupan baby Richard. Bayi itu langsung menangkapnya, tapi tak berselang lama kemudian bayi itu kembali menangis.


Semua yang ada di dekat Eno merasa heran kenapa baby Richard kembali menangis. Eno pun mulai memijit sekitar aerola, ternyata air susunya tidak keluar. Jika keluar, itupun hanya sedikit. Beberapa tetes saja. Wajar jika baby Richard kembali menangis karena sudah kelaparan.

__ADS_1


Agam yang melihat Eno memijit payu daranya pun berinisiatif untuk membantu. Agam berjalan ke sisi belakang Eno. Setelah itu dia mulai memijat tengkuk dan pundak Eno, untuk mengurangi stres-nya. Agam melakukan itu karena mengingat pesan dokter saat Eno masih di rumah sakit.


Jika ASI tidak mau keluar, suami bisa membantu istrinya. Dengan memijat tengkuk, pundak dan punggung, maka aliran darah akan lancar. Aliran darah yang lancar membuat pikiran sang ibu menjadi rileks. ASI akan mudah keluar jika pikiran yang bersangkutan rileks tanpa tekanan.


"Kamu pasti kepikiran Ibu!" ucap Agam sambil memijat pundak Eno.


"Eng-nggaakk!" elak Eno.


Agam dan kedua mertuanya hanya menggelengkan kepala mendengar kebohongan Eno.


"Seorang ibu menyusui itu tidak bisa berbohong jika menyangkut ASI. Ibu yang banyak pikiran akan mempengaruhi produksi ASI. Semakin kamu banyak pikiran, semakin susah ASI terproduksi," ucap mama Eno.


"Selain pengaruh ke ASI, bayinya juga akan rewel. Seperti saat ini, Richard sejak tadi nangis susah ditenangkan. Ini tidak seperti biasanya! Dia itu anak yang baik, gampang diurus. Kalau dia rewel itu berarti ibunya sedang bermasalah!" imbuhnya sambil berdiri meninggalkan anak dan menantunya, kesal.


Bu Warni yang menguping pembicaraan antara anak, menantu dan besannya merasa bersalah. Karena keegoisan dirinya, cucunya yang menjadi korban. Sisi jahat Bu Warni pun tak kalah sengit mempengaruhi cara berpikirnya.


Saat Agam dan Eno berusaha untuk menenangkan baby Richard, Bu Warni masih asik mencari kesalahan-kesalahan Eno. Mulai dari hal yang remeh hingga ke masalah yang tidak ada hubungannya sama sekali.


Tidak perlu menunjukkan kebaikanmu pada semua orang, orang yang membencimu akan tetap mencari keburukanmu. Sedangkan orang yang menyukaimu tak butuh itu semua.


Bu Warni tetap membenci Eno walaupun Eno selalu berbuat baik, baginya Eno tetap buruk di matanya karena Ia merasa Eno telah merebut Agam darinya. Ia merasa menantu pilihannya telah mempengaruhi anaknya untuk melawan orang tuanya. Begitulah manusia jika hatinya sudah tertutup rasa benci, semua kebaikan tidak bisa dengan mudah menyingkirkan rasa benci itu.


Baby Richard tertidur karena kelelahan menangis. Menangis karena haus dan lapar. Sumber penghidupannya telah kering karena banyaknya pikiran sang ibu. Sungguh malang nasib bayi berusia tiga puluh enam hari itu.


"Mas..." panggil Eno lirih, suaranya serak kare ikut menangis saat anaknya menangis tiada henti.

__ADS_1


Agam hari ini masih cuti sehingga dia bisa membantu istrinya mengurus baby Richard.


Agam mendekati Eno yang saat ini terduduk di sofa ruang tamu, badan Eno sudah lemas. Bagaimana tidak lemas saat anak kita yang masih bayi menangis karena haus dan lapar tapi sumber penghidupannya kering? Seperti itu juga dengan Eno saat ini.


"Sabar! Jangan terlalu banyak pikiran agar ASI-nya keluar lagi!" ucap Agam sambil mengusap kepala Eno dengan lembut.


Eno terisak mendengar nasehat suaminya. Dia sudah berusaha sabar, bahkan sudah berusaha melupakan kejadian tadi malam. Bukan lupa tapi kejadian itu malah selalu berputar bak video di pikirannya. Eno menyandarkan kepalanya pada bahu tegap sang suami.


"Jangan menangis lagi, nanti Richard terbangun! Kamu harus tenang, biar Richard juga tenang!" Agam kembali menasehati istrinya, hanya nasehat yang saat ini bisa diberikannya pada Eno.


Saat Agam menenangkan suasana hati Eno, Reni yang tadi disuruh membeli sufor akhirnya pulang membawa sekotak sufor gambar boneka beruang dan botol untuk minum baby Richard. Reni langsung menyerahkan pada Agam. Agam tidak mau menerimanya, tapi dia menyuruh orang kepercayaan istrinya itu untuk membuatkan su su untuk baby Richard.


"Tolong kamu buatin sekalian, biar anakku tidak kelaparan!" perintah Agam.


"Beres, Pak!" jawab Reni mengacungkan jempolnya sambil berjalan menuju dapur.


Reni pun mencuci botol tersebut kemudian mulai menakar air hangat dan sufor agar pas sesuai petunjuk. Setelah selesai dia menyerahkan botol itu pada Agam karena Eno juga mulai terlelap di samping Agam.


"Terima kasih!" ucap Agam seraya mengambil botol su su, kemudian mengangsurkannya pada mulut baby Richard.


Awalnya baby Richard menolak tapi begitu airnya menetes keluar, baby Richard menye dotnya dengan lahap. Sehingga tidak butuh lama untuk menghabiskan 60 ml sufor. Setelah sufor habis, Richard tidur pulas. Agam meletakkan baby Richard dalam boxnya, kemudian gantian memindahkan istrinya ke kamar dengan menggendong.


Maaf baru bisa up 🙏🙏🙏


Kecapekan rewang jadi sedikit drop, nggak bisa dipaksa nulis.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan gift/vote!


Thanks 😘😘😘😘


__ADS_2