
"Alex, kamu antar Kevin ke sekolah sekalian mampir ambil pesanan kue mami." kata mami Alex saat sarapan pagi telah usai.
Alex melihat jam di pergelangan tangannya, masih sempat pikir Alex.
"Iya, mi! Mami tidak usah khawatir, Kevin itu anakku. Jadi aku siap mengantarkan kemana aja." jawab Alex kemudian menenggak air putih tanda selesai makan.
"Kevin sudah siap, nak?" tanya Alex pada Kevin sesat setelah menyelesaikan makan sarapannya.
"Bukan hanya mengantar Kevin, tapi juga mengambil pesanan mami di toko langganan mami!" tegas mami Alex.
"Mi, Alex kan antar Kevin sekalian ke kantor! Alex mau kerja mami, kerja!!!" kata Alex sedikit meninggikan intonasinya, berharap ibunya mengerti.
"Kemarin kan sudah mami bilang, hari ini jangan kemana-mana! Gimana sih?" jerit mami Alex kesal karena Alex mau menuruti kemauannya.
"Mi, masih banyak kerjaan Alex yang penting. Apalagi ini menyangkut mall yang baru dibangun. Kalau bukan Alex siapa lagi?" Alex beralasan agar tidak menghadiri acara pertemuan keluarga di rumahnya.
"Pokoknya mami tidak mau tahu! Kamu antar Kevin terus pulang, singgah ke toko kue langganan mami!" titah mami Alex tanpa mau dibantah.
Dengan terpaksa Alex membawa tas kerjanya ke ruang kerjanya di rumah. Alex terpaksa di rumah saja, mengikuti kemauan ibunya.
"Padahal acaranya siang, aku kan bisa pulang sekalian makan siang. Kenapa juga harus stay di rumah." gerutu Alex dalam hati.
Akhirnya Alex mengantarkan Kevin ke sekolah, kemudian ke toko roti langganan ibunya.
Hari ini mami Alex mengundang keluarga Tere untuk membicarakan pertunangan Alex dengan Tere. Oleh karena itu, Alex tidak diperbolehkan keluar rumah. Mami Alex takut, anak laki-lakinya kabur.
Jam sembilan pagi, Tere dan kedua orang tuanya sampai di rumah Alex. Mereka bertiga memakai baju kapel keluarga, dengan motif batik.
Sebenarnya semua ini hanya akal-akalan mami Alex untuk menjodohkan Alex dengan Tere. Karena dulu Alex pernah kabur saat akan ditunangkan dengan Tere. Agar Alex tidak kabur lagi, maka acara pertunangan dilakukan secara mendadak di rumahnya.
Tok... tok... tok...
Pintu ruang kerja Alex diketuk di seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
"Ya?!" teriak Alex dari kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Maaf mas, mas Alex dipanggil ibuk!" kata asisten rumah tangga itu setelah pintu terbuka.
"Iya! Bilang ke mami, sebentar lagi Alex turun!" jawab Alex dengan pandangan tetap menuju berkas yang ada di mejanya.
Asisten rumah tangga itu meninggal ruangan itu.
"Maaf, Bu! Kata mas Alex, sebentar lagi mau turun." kata asisten rumah tangga itu begitu bertemu dengan mami Alex.
"Bagaimana sih anak ini, susah banget diatur?!" gerutu mami Alex.
"Sabar, jeng! Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Biarkan dia menyelesaikan dulu pekerjaannya, jangan diganggu!" saran mama Tere.
"Tere, coba kamu bujuk Alex agar mau meninggalkan pekerjaannya itu!" pinta mami Alex pada Tere.
Tere hanya menganggukkan kepalanya, kemudian beranjak dari duduknya. Tere mencoba lebih dekat lagi dengan Alex, walaupun selalu ada penolakan dari Alex.
Tok... tok... tok...
"Al, boleh masuk?" tanya Tere sambil membuka pintu.
"Hmm!" jawab Alex.
"Sibuk banget ya, sampai lupa waktu?!" sindir Tere.
"Seperti yang kamu lihat?!" kata Alex sambil menunjuk mejanya. Tampak beberapa berkas berserakan di atas meja itu.
"Istirahat dulu! Jangan terlalu diforsir, gak baik buat kesehatan!" kata Tere mengingatkan.
"Iya, sebentar lagi! Lagi tanggung nih!" jawab Alex masih asik dengan berkas-berkas di atas mejanya.
"Aku bantuin, boleh?" tanya Tere takut-takut.
Tere selama ini masih takut dengan Alex, padahal mereka besar bersama. Walaupun jarang bertemu, mereka sudah terbiasa dengan kehadiran temannya. Sehingga Alex dan Tere bisa akrab, walaupun kedekatan mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih!
"Tidak usah! Sebentar lagi juga selesai kok, gak usah repot-repot." jawab Alex mulai membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kali, kita kan teman. Jadi saling bantu tidak ada salahnya." bujuk Tere, Tere ingin keberadaannya diperhatikan oleh Alex.
"Jangan keras kepala! Lihat aku sudah selesai!" jawab Alex setelah semua berkas di mejanya sudah tersusun rapi.
"Baiklah, ayo kita turun! Mereka sudah lama menunggu kamu bergabung." ajak Tere.
Akhirnya mereka berdua keluar dari ruang kerja itu. Tere berjalan terlebih dahulu, sedangkan Alex mengikuti dari belakang. Begitu mereka sampai di ruang tamu, mami Alex langsung berdiri menegur anak laki-lakinya yang terlambat bergabung.
"Dasar tidak tahu malu! Masak turun aja harus dijemput calon istrinya." tegur mami Alex.
Alex yang ditegur hanya diam saja, dia langsung duduk di bangku kosong depan maminya. Tidak mau menyapa atau menyalami semua orang yang berada di ruang tamu itu.
"Biasa itu, jeng. Anak muda sekarang memang seperti itu. Lebih suka berduaan dibandingkan bergabung dengan orang tua seperti kita." sahut mama Tere.
"Ok! Sekarang anak-anak sudah disini, sebaiknya kita bahas pertunangan mereka. Bagaimana?" kata mami Alex.
"Bentar bentar! Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Alex bingung.
"Lho jeng, memangnya jeng Jessie tidak kasih tahu ke Alex kalau nanti malam acara pertunangannya?" tanya mama Tere, Rossana.
"Sengaja jeng Ros! Surprise!" jawab Jessie tenang. Dia tidak ingin keluarga Tere tahu, jika Alex menolak untuk dijodohkan dengan anak mereka.
"Nggak lucu, mi! Dan siapa juga yang mau tunangan?" kata Alex ketus menanggapi perkataan ibunya.
"Yang mau bertunangan kan kamu sama Tere. Kalian sudah begitu dekat, apalagi si Kevin selalu menempel kemanapun Tere pergi. Apa kamu tidak mau menikahi Tere? Hanya jalan kemana aja berdua, tanpa ikatan?" tanya mami Jessie.
"Saat ini Alex masih sibuk, mi! Alex masih ingin fokus pada kerjaan. Mami tahu sendiri kan, saat ini Alex sedang menambah cabang mall. Alex tidak mau konsentrasi Alex pecah. Jadi Alex mohon sama mami, jangan paksa Alex untuk menikah!' kata Alex memberikan alasan agar tidak menikahi Tere.
Walau bagaimanapun juga, Alex hanya menganggap Alex hanya sebatas teman dan adik. Tidak lebih! Walaupun Tere selalu perhatian kepadanya dan anaknya, itu tidak bisa mengubah perasaannya.
"Mami yang akan mengurus semua keperluan untuk pernikahan kalian. Jadi kamu masih bisa tetap fokus bekerja. Sekarang saja acara pertunangannya, tidak usah nanti malam. Toh yang hadir orangnya sama saja. Bagaimana?'' kata mami Jessie.
Mami Jessie tahu Alex akan mencari cara agar acara pertunangannya kembali gagal. Tapi mami Jessie juga sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, sehingga Alex mau tidak mau menuruti keinginannya.
Akhirnya Alex dengan terpaksa memakaikan cincin pertunangan di jari Tere, dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga kedua belah pihak. Mami Jessie sangat senang, akhirnya anaknya bertunangan dengan wanita pilihannya.
__ADS_1