
Setelah melewati beberapa rumah dan perkebunan kelapa sawit, akhirnya mereka sampai juga di sebuah gubuk di pinggir sungai besar. Orang setempat menyebutnya tangkahan, yaitu tempat orang memarkirkan sampannya.
"Kita duduk di gubuk sebelah sana aja kak, yang dekat pohon durian." kata Gita sambil menunjuk sebuah gubuk yang sisi kanan kirinya dengan pohon durian dan pohon rambutan.
"Iya, ayok! Adem ya disini." kata Ary sambil berjalan mengikuti adik iparnya.
Mereka berdua berjalan beberapa meter dari tangkahan untuk mencapai gubuk kecil itu. Karena jalannya tidak rata, makanya motor Gita ditinggalkan di dekat gubuk yang dekat dengan tangkahan.
"Huh... sejuk ya disini! Pemandangannya juga lumayan!" kata Ary sambil merentangkan kedua tangannya, menikmati tiupan angin yang berhembus sepoi-sepoi.
"Duduk sini kak!" ajak Gita sambil menaiki gubuk dan duduk di lantai gubuk itu.
Ary berjalan mendekati gubuk itu, karena dia tadi lebih memilih berjalan mendekati pohon rambutan yang berdiri di sebelah gubuk.
"Gubuk ini milik siapa?" tanya Ary sambil ikut duduk di depan Gita, dengan posisi kaki dibiarkan menggantung begitu saja.
"Gubuk ini yang buat papa, ini tanah papa juga. Kata papa, tanah ini atas nama Abang. Karena Abang sering kabur kesini jika sedang marah sama mama papa." jawab Gita sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
Angin tidak juga berhenti berhembus, mengakibatkan hijab Ary selalu berkibar seperti bendera.
"Marah kenapa? Sepertinya mama sama papa baik orangnya." Ary penasaran dengan masa kecil almarhum suaminya.
"Abang sering membuat ulah agar diperhatikan oleh mama dan papa. Tapi mama sama papa tidak mau tahu, tahunya mereka Abang nakal. Abang lebih dekat dengan nenek, karena sedari kecil nenek yang menjadi temannya bermain."
Gita berhenti sejenak, menghela nafasnya. Kemudian melanjutkan lagi ceritanya.
"Saat nenek masih hidup, Abang tidak merasa kesepian. Dia masih merasa ada yang memperhatikannya. Tapi begitu nenek meninggal, Abang mulai menunjukkan pemberontakan. Dia salah memilih teman, akhirnya... Begitulah!" Anggita mengakhiri ceritanya sambil mengangkat bahunya.
"Engng... boleh kakak nanya?" kata Ary ragu-ragu sambil mengayunkan kedua kakinya yang menggantung.
"Tanya aja kak! Memang kakak mau tanya apa?" tanya Gita.
"Lukisan dan foto kakak itu dari mana kamu dapat? Kenapa bisa kamu yang menyimpan?' tanya Ary beruntun.
__ADS_1
"Lukisan yang menggambarkan kakak dan Abang bergandengan tangan itu dibuat berdasarkan mimpi Abang. Sedangkan foto itu, diambil saat Abang pertama kali bertemu kakak di rumah sakit. Setelah dia mengambil gambar kakak, dia kirimkan ke aku dengan caption bidadari surga Abang." jawab Gita.
"Kalau kenapa aku menyimpan itu semua, karena hanya itu benda yang paling berharga bagi Abang. Jadi aku menyimpannya agar tidak rusak. Karena kakak adalah bidadari surga Abang, sumber kebahagiaan Abang. Dan sekarang menjadi sumber kebahagiaan kami." jelas Gita dengan senyum terukir.
"Jangan terlalu memujiku, aku hanya orang biasa seperti kalian." ucap Ary merendah.
"Kakak orang biasa yang berhati malaikat. Kalau kakak sama seperti kami, pasti kakak juga akan menjauhi Abang. Meninggalkan Abang sendiri, seperti teman-teman Abang ya g disini. Semua mendekati Abang hanya untuk ikut menikmati kekayaan Abang. Tapi begitu Abang sakit, tidak satupun teman Abang datang menjenguk." kata Gita sambil memegang kedua tangan Ary.
"Jangan bahas itu lagi ya! Sekarang ayo antar aku ke kafe peninggalan Abang!" ajak Ary sambil berdiri turun dari gubuk.
"Mamolo songoni, let's go!" jawab Gita dengan semangat.
"Kamu ngomong apaan sih, ora mudeng aku!" tanya Ary sambil tertawa.
(Tidak tahu aku)
"Buat PR aja kak! Ayo kita berangkat!" Gita langsung menghidupkan mesin motor setelah Ary naik ke atas motornya.
Kafe yang Rendy dirikan berada di kota, sehingga kafe itu selalu ramai pengunjung. Apalagi kafe tersebut buka 24 jam dengan berbagai menu pilihan andalan dan WiFi gratis, membuat semakin banyak pengunjung kafe tersebut. Saat ini kafe itu dikelola mama Hotma, setelah Rendy meninggal.
Daerah itu dipenuhi ruko di sisi kanan dan kirinya. Tidak ada bangunan tunggal atau bangunan yang berbeda. Sepanjang jalan hanya ada barisan ruko dengan berbagai nama toko.
Ary masih memperhatikan daerah itu, belajar memahami seperti apa lingkungan disini. Karena sangat berbeda jauh dengan bangunan yang ada di Jawa, khususnya tempat tinggalnya selama ini.
"Ayo kak! Kok malah bengong sih?!" kata Gita sambil menarik tangan Ary.
Mereka berdua masuk ke dalam kafe. Ary kagum dengan desain interior kafe tersebut. Walaupun hanya menempati dua buah ruko yang saling bersebelahan, tapi kafe dengan 3 lantai itu terlihat luas dan elegan.
"Waw keren!" kata Ary tidak bisa berkata-kata.
"Ini yang buat desainnya Abang sendiri kak, pengecatan dan penataannya dikerjakan sendiri sama Abang. Dibantu dengan beberapa anak jalanan yang akhirnya menjadi karyawan disini." cerita Gita.
Setelah puas berkeliling kota dan menikmati beberapa hidangan di kafe itu, akhirnya Gita dan Ary pulang. Sesampainya di rumah, mereka sudah ditunggu oleh papa Candra dan mama Hotma.
__ADS_1
"Kalian sudah makan siang?" tanya mama Hotma begitu Ary dan Gita masuk ke rumah.
"Sudah ma, tadi kami makan di kafe Abang." Jawa Gita.
"Sini, duduk! Kami ingin memastikan lagi tentang rumah sakit yang akan kita dirikan." kata mama pelan.
Ary sudah pasrah jika hal itu menyangkut harta warisan. Akhirnya hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.
"Ary menyetujui pembangunan rumah sakit itu, tapi kalau untuk mengelolanya. Terus terang Ary belum sanggup. Maaf ma, pa! Ary masih ingin tinggal di Jogja." kata Ary sambil menunduk.
***
Alex kalang kabut mencari dimana Ary menginap selama di Surabaya. Di hari kedua pencariannya, Alex baru berhasil menemukan hotel tempat Ary menginap. Tapi sayang, usaha Alex hanyalah sia-sia. Ary dan semua peserta sudah meninggalkan hotel berbintang itu.
Alex hanya mendapatkan petunjuk, jika Ary merupakan salah satu peserta seminar yang berasal dari Jogja. Sedangkan Alex sudah tahu itu, sewaktu Eno bertemu dengannya yang terakhir kalinya. Eno hanya memberitahukan Ary dinas di salah satu rumah sakit besar di Jogja. Dengan fasilitas rumah dinas.
"Haahhhh!!! Kenapa susah banget, padahal cuma pengin ngobrol dengannya sebentar saja." gerutu Alex begitu masuk ke mobilnya.
Alex baru saja menemukan hotel tempat Ary menginap. Alex telat mendatangi hotel tersebut, semua peserta dan panitia sudah meninggalkan hotel itu. Banyak peserta seminar yang langsung check out begitu seminar usai. Hanya beberapa peserta saja yang tinggal untuk melakukan perjalanan esok harinya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa tahu keadaanmu?" gumam Alex terlihat pasrah.
Kalau bukan karena perkataan Derry tentang jodoh yang tertunda, mungkin Alex tidak akan repot sibuk mencari informasi tentang Ary.
Alex sudah berulangkali menghubungi Eno, tapi panggilannya tidak ditanggapi. Chat wa pun tidak dibacanya.
"Kemana sih anak itu, dari kemarin di telpon gak diangkat, pesan gak dibaca?!" Alex menggerutu terus sepanjang perjalanan menuju ke kantornya.
Alex kembali tenggelam dengan pekerjaannya begitu sampai di kantor. Alex yang workaholic melampiaskan kekesalannya pada pekerjaannya. Alex mulai bekerja tanpa mengenal waktu, dia ingin melupakan Ary dengan membuat dirinya sesibuk mungkin.
Menjelang tengah malam Alex masih berkutat dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Saat ini mall Alex sedang berada di atas, sehingga dia semakin sibuk mengurus mall. Untuk sementara rasa penasarannya terhadap kehidupan Ary bisa dilupakannya.
Done! Up double hari ini, walaupun terlambat up. Untuk yang pesan double, selamat membaca dan jangan lupa like dan komen-nya 🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa ya jadwal gift 🙈🙈🏃🏃🏃
Terima kasih 😘😘😘😘😘