
Sebulan sudah usia pernikahan Agam dan Eno, tapi Agam belum juga mencetak gol. Eno selalu meminta Fani untuk tidur bersama mereka, sebagai pembatas antara Eno dan Agam. Agam pun tahu, jika Eno belum bisa mencintainya. Agam tetap bersabar menunggu saat itu tiba, saat Eno melabuhkan hatinya untuk Agam seorang.
Dulu saat pernikahan pertamanya, dia yang tidak mau menyentuh istrinya dengan alasan belum mencintai. Saat sekarang ini, Agam yang harus bersabar untuk tidak menyentuh istrinya. Agam merasa ini adalah karma karena dulu terpaksa menikah dengan wanita pilihan ibunya. Sehingga untuk menyentuh istrinya pun dia enggan.
Agam yang mulai jatuh cinta dengan sifat Eno yang unik serta apa adanya, harus berjuang keras untuk mendapatkan hati seorang Eno. Walaupun awalnya dia tertarik pada Ary, akhirnya dia jatuh pada pesona Eno. Sepertinya slogan Eno "cantik mempesona sepanjang masa" telah terbukti. Agam jatuh dalam pesona kecantikan Eno, cantik wajah dan hatinya.
Hari ini Eno pergi ke kota Kulonprogo sendirian, dia akan berbelanja kebutuhan rumah selama sebulan. Eno mengendarai Toyota Fortuner miliknya seorang diri. Fani, anak sambungnya ditinggalkan bersama dengan para karyawannya. Fani sudah biasa bermain-main dengan para pekerja di rumah orang tuanya, sehingga mudah untuk ditinggal.
Saat asik memilih bahan makanan, Eno tidak sengaja menyenggol seseorang karena terburu-buru. Barang-barang yang dibawa orang itu berhamburan karena tidak membawa keranjang atau troli sebagai tempat barang belanjaannya. Eno pun melepaskan troli yang dipegangnya untuk membantu orang itu memungut barang yang jatuh berhamburan.
"Maaf, mas! Tadi saya buru-buru," ucap Eno sambil berjongkok memungut barang belanjaan orang yang ditabraknya tadi.
"Nggak apa-apa kok, mbak!" jawab orang itu.
Eno merasa sangat familiar dengan suara orang yang baru saja menjawab perkataannya, langsung mengangkat kepalanya untuk melihat wajah orang itu. Ternyata sesuai dengan dugaannya.
"Yang?!" kata Eno serasa tak percaya, orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata bertemu di sini.
Dzaky pun tidak kalah terkejutnya. Penampilan Eno sekarang berubah drastis. Dulu Eno biasa menggunakan celana jeans dan kaos oblong, sekarang memakai dress dengan rambut diikat tinggi seperti ekor kuda.
"E-no?! Ka-kamu di sini?!" jawab Dzaky tergagap karena terkejut tidak menyangka akan bertemu Eno di sini. Apalagi melihat penampilan Eno yang semakin cantik.
"Lho, aku kan memang tinggal di sini!" jawab Eno kesal karena Dzaky lupa jika Eno tinggal di pinggiran kota Kulonprogo.
__ADS_1
"Yang seharusnya tanya itu aku, kok kamu bisa sampai di sini!? Ada urusan apa?" tanya Eno, rasa kepo Eno dalam mode on.
"Aku ditugaskan di salah satu desa di kabupaten ini. Maaf aku nggak bisa ngabarin kamu karena... susah sinyal! Yah, karena susah sinyal." jawab Dzaky penuh keraguan, seperti ada yang ditutupi.
Eno merasa curiga dengan sikap Dzaky kali ini, setelah lama menghilang Dzaky menjadi sering gugup jika bertemu Eno.
"Oke! Bisa kita ngobrol sebentar? Mumpung kita bertemu di sini! Lagian kamu susah dihubungi, jadi sekarang waktu yang tepat buat ngobrol," ucap Eno.
Akhirnya setelah selesai berbelanja mereka mencari tempat untuk ngobrol sambil minum. Mereka memilih kafe yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan itu.
"Lama tak bertemu kamu makin gemuk ya?" tanya Eno setelah memindai badan Dzaky dari kepala hingga ujung kaki dan dari kaki hingga ujung kepala.
"Itu perasaan kamu aja!" jawab Dzaky sambil memainkan pipet gantungan kunci yang dipegangnya.
Sudah lama Eno memendam kekesalannya pada Dzaky. Tapi rasa cintanya mengalahkan kekesalannya selama ini.
Saat ini Eno sudah menikah. Dia harus berpikir secara logis agar tidak menelan kekecewaan berulangkali. Dzaky adalah orang kedua yang mengecewakannya, dulu sebelum Dzaky hadir Eno pernah kecewa dengan seorang laki-laki. Rasa kecewanya itu menimbulkan rasa trauma yang cukup lama. Saat rasa trauma itu perlahan menghilang, dia harus kembali menelan kekecewaan.
Ronald, laki-laki pertama yang menjanjikan pernikahan padanya, akhirnya menikah dengan teman dekatnya saat kuliah. Waktu itu Eno kuliah jurusan manajemen bisnis, sedang Ary mengambil kedokteran sehingga Eno pun mendapat teman selain Ary. Ronald mengkhianatinya. Sedangkan Dzaky berjanji membawa kedua orang tuanya datang melamar tapi malah menghilang tanpa kabar.
"Aku minta maaf, sudah membuatmu kecewa. Tapi aku tidak bisa bertukar kabar denganmu karena aku ditugaskan di daerah pelosok. Daerah itu susah untuk mendapatkan sinyal. Bagaimana mau bertukar kabar jika tidak ada jaringan sinyal?" jawab Dzaky berusaha menjelaskan alasannya kenapa menghilang.
Eno mendengarkan alasan yang diberikan oleh Dzaky, tapi tidak percaya sepenuhnya. Dulu sebelum Ary pindah ke rumah dinasnya dan dia pindah ke rumahnya yang sekarang, dia juga tinggal di daerah yang susah jaringan. Tapi setiap kali keluar dari desa itu, mereka mendapatkan jaringan sinyal.
__ADS_1
"Lalu?!" ucap Eno menanggapi perkataan Dzaky yang panjang tadi.
"Kok lalu? Tadi 'kan sudah aku jelaskan, alasan aku nggak bisa hubungi kamu! Kenapa masih bertanya lagi?" tanya Dzaky gugup, dia takut ketahuan berbohong.
Dzaky sebenarnya belum ingin menikah, dia masih ingin bersenang-senang di masa mudanya. Itulah kenapa dia menyetujui ditempatkan di tempat terpencil, untuk menghindari Eno.
"Memangnya kamu nggak pernah ke kota? Setiap kali ke kota pasti mendapatkan jaringan sinyal untuk berkomunikasi. Aku pernah merasakan tinggal di daerah seperti yang kamu ceritakan tadi. Tapi aku masih bisa menjalankan bisnisku dari sana."
"Kamu yang terus menghindari aku tanpa kabar, tanpa alasan yang jelas. Saat belanja ke kota pasti mendapat jaringan sinyal, di situ ada niat pasti ada jalan. Jangan jadikan alasan tidak ada jaringan untuk mencari pembenaran sepihak! Jika kamu masih ingin bersenang-senang, silahkan! Aku hanya ingin kepastian dari kamu. Itu saja, nggak lebih!" akhirnya Eno mengeluarkan semua isi hatinya.
Lega rasanya sudah mengeluarkan semuanya. Tapi sepertinya Dzaky masih belum memberikan keputusan yang pasti.
"Baiklah! Jika ada laki-laki yang datang kepadamu mengajak menikah, terima saja. Aku tidak bisa menjanjikan pernikahan dalam waktu dekat. Aku masih menjalani pendidikan dan harus tertunda karena aku ditugaskan di daerah pelosok untuk bisa menjadi PNS." akhirnya Dzaky memberikan keputusannya.
Eno bukan tidak mau memberitahukan pada Dzaky jika dirinya sudah menikah. Dia hanya ingin menjaga perasaan Dzaky. Mungkin Dzaky menghindar karena belum siap untuk berumah tangga, seperti yang sebelumnya dia utarakan.
Setelah selesai dengan perbincangan yang lumayan panas, penuh dengan ketegangan, akhirnya Eno pamitan pulang. Eno membayar semua tagihan makanan dan minuman yang menemani obrolan mereka tadi.
"Kita tetap bisa menjadi teman 'kan?" ucap Eno sebelum meninggalkan Dzaky di parkiran.
"Yap, memang lebih baik kita berteman. Kita tidak bisa memaksa untuk bersama karena jodoh ditangan Tuhan. Okeh, teman!"
Eno dan Dzaky akhirnya berjabat tangan sebagai teman. Mereka berpisah di halaman kafe.
__ADS_1