
Saat acara pernikahan Eno dan Agam berlangsung, Ary tidak bisa menemani Eno. Ary sedang mengurus pembebasan lahan yang akan digunakan untuk membangun sebuah pabrik komputer. Pabrik yang diimpikan oleh Rendy sejak masih sekolah.
Ary hanya sebentar menghadiri acara pernikahan Eno, hanya saat akad nikah dan pesta pedang pora. Siang harinya, Ary sudah ditunggu oleh pengacaranya untuk pembebasan lahan. Sehingga saat Alex dan Anton datang ke pesta pernikahan Eno, Ary belum sempat bertemu.
"No, kok gue gak lihat Ary disini? Masak soulmate nikah gak datang!" tanya Anton pada Eno, sejak tadi matanya memindai semua tamu undangan.
Anton ingin mempertemukan Alex dengan Ary, tapi sepertinya rencananya itu tidak berhasil. Karena mereka berselisih jalan saat datang tadi.
"Ada kok tadi! Dia kesini sama brondongnya." jawab Eno.
Eno belum tahu jika Ary sudah pamitan pada orangtuanya saat dia masih bertukar baju pengantin.
"Hah?!' Anton kaget mendengar kata-kata Eno barusan.
"Itu tuh, orang yang lagi deket sama Ary. Sejak suaminya meninggal, dia kan deket sama temen suaminya." jelas Eno.
Alex yang saat itu sedang ke toilet, tidak tahu jika Ary sudah menjanda. Pikiran Alex selama ini, Ary sudah bersuamikan seorang brondong.
"Kenapa nggak kamu suruh balikan sama Alex aja sih?" tanya Anton kesal.
"Dia belum mau membuka hatinya buat orang lain. Kedekatan Ary dengan temen lakinya, karena urusan bisnis. Ary sekarang mengurus usaha peninggalan almarhum suaminya." jawab Eno.
Agam hanya menjadi pendengar saja, karena dia belum kenal Anton. Sesekali Agam menyalami tamu undangan.
"Oh, ternyata penggemar Ary banyak juga, tapi sayang dia susah move on. Untung belum terlanjur cinta." batin Agam.
Perasaan Agam terhadap Ary baru dimulai, jadi masih bisa dengan mudah dihilangkan. Apalagi kehadiran Eno yang ceria, kocak dan penyayang, bisa dengan mudah menggeser posisi Ary di hati Agam. Walaupun Eno orangnya selengekan, tapi dia sangat menyayangi anaknya. Bahkan dengan mudahnya Eno mengambil hati anak dan ibunya. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada Eno.
"Si colek kemana, kok dari tadi belum kelihatan?" tanya Eno karena sedari tadi dia menunggu kedatangan Alex.
Mata Anton mencari-cari sosok Alex diantara tamu undangan.
"Nah, itu dia!" kata Anton sambil menunjuk pada seseorang yang mendekati mereka.
"Hai! Selamat berbahagia, semoga langgeng hingga kakek nenek. Diberikan momongan yang banyak." kata Alex sambil menyalami Eno dan Agam bergantian.
"Terima kasih pak Bos, sudah mau datang! Kado buat aku mana?" tanya Eno tanpa tedeng aling-aling.
"En!" tegur Agam sambil menyenggol lengan Eno.
"Kan gak apa-apa, dia kan banyak duitnya!" jawab Eno.
"Berapa no rekening kamu?" tanya Alex. Alex memang sengaja tidak membawa kado ataupun amplop.
__ADS_1
Eno menyebutkan beberapa angka pada Alex.
"Ihiiirrrr! Cair!" sorak Eno sambil bertepuk tangan saking bahagianya.
Agam hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan wanita yang baru beberapa jam resmi menjadi istrinya. Eno wanita yang tidak terduga tingkah lakunya, begitu banyak kejutan yang didapat dari Eno.
Alex sibuk memencet HP-nya untuk melakukan transfer melalui m-banking. Anton yang melihat interaksi Alex dan Eno hanya bisa menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Enak ya Lo! Gue yang selalu mendampingi dia aja susah cairnya." gerutu Anton.
"Ya jelas dong, dia gak boleh pelit ma gue! Kalau dia pelit ma gue, gue juga mau pelit informasi ke dia." Eno menjawab gerutuan Anton.
"Bahas apa sih?" bisik Agam di telinga Eno.
"Nanti aku ceritakan, sabar!" jawab Eno sambil berbisik juga di telinga Agam.
"Ini!" teriak Anton sambil menggelengkan kepalanya. "Sabar woi, nanti malam kalian berdua sudah bebas!"
"Apaan sih, gak jelas!" jawab Eno.
"Sudah masuk kan?" tanya Alex sambil menyimpan HP-nya ke dalam kantong celananya.
"Tunggu! Gue cek dulu!" jawab Eno sambil melihat pesan yang masuk ke HP-nya.
Alex hanya mengacungkan jempolnya, tanda beres.
Tak lama kemudian Anton dan Alex pamit untuk mengambil makan dan minum.
Pernikahan Eno dan Agam berjalan seperti umumnya. Walaupun mereka menikah karena perjodohan, tapi mereka berdua menjalani dengan ikhlas. Dan menganggap bahwa pernikahan mereka sebagai bentuk ibadah. Sehingga pernikahan mereka bahagia.
***Flashback off***
"Ar, kamu beneran nggak mau balikan sama Alex?" tanya Eno saat akan meninggalkan rumah Ary.
"Hahaha..." Ary tertawa mendengar pertanyaan Eno.
"Aseeem! Malah tertawa, emang lucu pertanyaanku?" kata Eno kesal sambil merengut.
"Lucu aja! Dari kemarin sampai sekarang itu aja pertanyaannya, nggak ada yang lain?" jawab Ary sambil mengusap pipi bayi Eno.
"Aku serius ini!" kata Eno mulai emosi.
"Kalau jodoh tak kemana!" jawab Ary masih mengajak bercanda bayi dalam gendongan ibunya.
__ADS_1
"Semoga berjodoh!" kata Eno sambil membetulkan posisi gendongannya, karena baby Richard banyak bergerak diajak bercanda Ary.
"Kita lihat saja nanti!" jawab Ary sambil mengedikan bahunya.
"Sudah?" tanya Agam yang keluar dari mobilnya, terlalu lama menunggu Eno keluar dari rumah Ary, sehingga Agam terpaksa keluar dari mobilnya.
"Bentar lagi, mas! Masih kangen ma Ary." jawab Eno.
"Sudah malam, En! Kasihan Richard kena angin malam." kata Agam mengingatkan Eno.
"Makanya nginep, biar puas ngobrolnya!" kata Ary masih terus mengajak Richard bercanda.
"Puas apaan, dari tadi kamunya malah bercanda sama Richard. Harusnya Richard sudah tidur, kamu gangguin terus gak jadi tidur dia." omel Eno.
"Habisnya gemes aku tuh lihat si embul Richard." kata Ary sambil mencubit pipi Richard pelan.
"Makanya, buruan bikin sendiri!" celetuk Agam membuang pandangannya ke taman, takut Ary tersinggung.
"Mau bikin sama siapa, mas? Suamiku sudah di surga!" jawab Ary.
"Tinggal pilih mau sama siapa! Ada Alex sama Brandon yang siap mengajak kamu ke pelaminan." kata Eno.
"Kamu lihat pernikahan kami, kami bahagia karena kami menikah tujuannya ingin melengkapi ibadah. Kalau kamu mikirnya nikah itu ibadah, pasti kamu akan menyegerakan nikah!" nasehat Agam.
"Iya, mas! Nanti Ary pikirkan." jawab Ary.
"Jangan hanya dipikirkan saja, dilaksanakan juga!" kata Eno.
"Sudah malam nih, kami pamit pulang! Kasihan Richard, kalau kemalaman pulangnya." pamit Agam kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Iya, mas. Hati-hati bawa mobilnya, pelan aja gak usah ngebut. Tahan sebentar, gak jauh kok rumahnya dari sini." jawab Ary mengulum senyum.
"Aku pulang dulu, jangan lupa pikirkan baik-baik kata-kataku tadi!" kata Eno sambil mencium pipi kanan kiri Ary.
"Iya, iyaa! Lihat dek, mama sama ayahmu! Bawel banget." jawab Ary sambil mencium pipi dan tangan Richard sebagai salam perpisahan.
Mobil yang dinaiki Eno dan Agam perlahan meninggalkan rumah Ary.
"Huh!" Ary membuang nafas dengan kasar sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Akhirnya bisa up juga, tadi malam sebenarnya sudah nulis dpt 700 kata lebih. Tapi ketiduran, rencananya mau lanjut sebelum Subuh. Nggak tahunya bocil bangun duluan. Jadi baru sempat up sekarang.
Silahkan like, komen dan vote.
__ADS_1