MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Mabuk


__ADS_3

Dan, apa yang dikhawatirkan oleh Ary pun terjadi. Begitu naik bis, kepala Alex mendadak sakit. Walaupun tidak mual dan muntah, tapi sakit kepala yang dirasakan Alex semakin membuatnya tersiksa. Alex hanya bisa diam terduduk lemas di kursi penumpang.


Karena belum pernah naik bis, Alex bertanya pada kondektur bis, tapi dengan wajah pucat. Seperti, kalau ke Purworejo kota turunnya di mana? Ongkosnya berapa? Berapa lama lagi akan sampai? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya, yang membuat pusing kepala si kondektur.


Dengan sangat terpaksa, kondektur itu menjawab pertanyaan Alex satu persatu. Menjelaskan semua sampai Alex mengerti. Dalam benak kondektur itu merasa heran, melihat Alex yang seperti tidak pernah naik bis.


"Owalaaahhh... ganteng-ganteng kok bodo, koyo wong ra tau numpak bis bae!" Batin kondektur itu.


(Ganteng kok bodoh, seperti orang tidak pernah naik bis saja)


"Saya memang belum pernah naik bis, Mas!" kata Alex tiba-tiba sambil melihat ke arah luar melalui jendela disampingnya.


Kondektur itu kaget karena Alex tahu apa yang ada di benaknya. Dia hanya melontarkan senyum tipis sambil meninggalkan Alex. Setelah bertanya banyak tadi, Alex memberinya selembar uang berwarna merah pada kondektur itu, tanpa meminta kembalian ongkosnya. Betapa senangnya kondektur itu, sehingga mengucapkan terima kasih berulang kali.


"Dasar! Tadi aja dikasih duit, nyembah-nyembah habis itu kok ngatain aku bodoh! Kurang ajar bener orang itu!" umpat Alex pelan, Alex menduduki kursi baris dua yang berada di sebelah kiri.


Saat ini Alex duduk sendiri, dia tidak mau ada penumpang lain duduk di sebelahnya. Dia tidak mau terganggu dengan penumpang lain yang nantinya malah membuat kepalanya semakin sakit. Saat di dalam bis , Alex mengirim pesan pada orang kepercayaannya yang ada di Purworejo untuk menjemputnya di jalan jalur bypass, karena bis yang ditumpanginya tidak melewati kota.


Akhirnya Alex turun juga dari bis itu dengan kepala yang seakan mau pecah. Alex jalan terhuyung masuk ke dalam mobil orang kepercayaannya itu. Begitu duduk, Alex langsung memejamkan matanya. Mungkin kalau dia bisa muntah, akan terasa lebih ringan sakit kepalanya. Tapi Alex tidak muntah sama sekali, dia hanya merasakan sakit kepala yang hebat.


Begitu sampai di kantor, Alex langsung menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu, dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangannya.


"Thom, buatkan aku teh tawar panas! Cepat!" teriak Alex sambil rebahan dengan salah satu tangannya menutupi wajahnya.


"Arghhhh! Besok-besok lagi gak mau aku naik bis. Setengah mati rasanya, huh!'' umpat Alex masih dengan posisi yang sama.


"Baik, bos! Segera datang!" jawab Thomas dari luar ruangan itu.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Thomas sudah datang membawa teh tawar pesanan Alex. Thomas datang saat Alex menghubungi Anton, untuk menjemputnya di sini.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, dua jam lagi kamu harus sudah sampai di sini!" teriak Alex dengan posisi duduk dan HP menempel di telinga kirinya.


"Ini tehnya, bos!" kata Thomas sambil meletakkan secangkir teh tas hangat.


Alex hanya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban. Setelah meletakkan gelas tersebut, Thomas meninggalkan ruangan itu.


"Paling lambat dua jam setengah, kalau lebih kamu saya pecat!" ancam Alex pada Anton.


Dua jam kemudian, ternyata Anton sudah datang. Alex yang baru saja terbangun dari tidurnya, untuk meredakan sakit kepalanya.


"Cepet ya, sudah sampai aja! Padahal belum ada dua jam, saat Alex menelpon tadi.


"Kamu kenapa, nyet? Kemana mobilmu, kamu jual buat nambah modal? " berondong Anton dengan banyak pertanyaan.


"Buahahaha... Makanya jangan sok-sokan kamu, nggak pernah naik kendaraan umum pakai acara naik bis segala. Padahal sudah tahu tidak bisa naik kendaraan umum, masih maksa juga!" Anton ketawa ngakak, melihat raut wajah Alex yang menunjukkan tidak berdaya.


"Awalnya aku pikir, aku bisa naik bis. Aku hanya tidak ingin merepotkan Ary." Alex beralasan.


Sebenarnya dia hanya ingin mencoba merasakan naik kendaraan umum. Karena setahu Alex, Ary dulu sewaktu kuliah terbiasa naik kendaraan umum. Kalau Ary bisa naik kendaraan umum, berarti dia juga harus bisa. Hanya karena ingin dikatakan wah, malah akhirnya menjadi kata payah. Begitulah kalau terlalu menjunjung tinggi gengsi.


Niat hati ingin dipuji karena kerendahan hati, malah merasa setengah mati. Begitulah manusia, selalu ingin lebih. Tidak puas dengan apa yang ada, sehingga bukan mendapatkan kesenangan tetapi penderitaan yang datang.


"Itu namanya tidak bersyukur! Kalau saja kamu mau diantar sopirnya kan enak. Ngapain malu, memang begitu kok keadaannya! Jujur lebih baik dari pada tersiksa." kata Anton menyalahkan Alex.


"Sudah! Jangan dibahas lagi, aku mau pulang. Nggak jadi kerja, malah ngungsi tidur. Tapi seenggaknya aku masih bisa bertemu dan ngobrol sama Ary." kata Alex sambil meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Anton mengikuti Alex dari belakang, sebelumnya dia sudah bertemu Thomas untuk membicarakan masalah pembangunan mall tersebut.


"Makan tuh gengsi sampai mati! Gue jadi repot kalau begini terus!" gerutu Anton pelan, agar tidak ada yang mendengar.


Anton sangat kesal, gara-gara menjemput Alex banyak pekerjaan yang terpaksa dia tinggalkan. Pekerjaan yang semakin banyak, membuatnya susah untuk me time. Padahal Anton juga ingin merasakan libur, menghilangkan rasa penatnya, serta menikmati kesendiriannya. Tapi apa daya, sejak diangkat menjadi asisten pak Kusuma Wijaya, Anton menjadi manusia super sibuk tanpa libur.


Saat reuni dia bisa hadir, karena Alex yang memaksa ikut karena Tere juga ikut hadir. Dengan senang hati dia menghadiri acara tersebut. Walaupun akhirnya pekerjaan dia menjadi lebih banyak. Setiap Alex mengajak dia ke acara tertentu, dia harus mau. Jika tidak, dia harus mempersiapkan diri menerima hukuman dari pak Kusuma dan Alex.


"Ini kita kemana dulu?" tanya Anton begitu duduk di balik kemudi.


"Cari obat sakit kepala terus cari rumah makan!" jawab Alex dengan mata terpejam.


Alex merubah posisi kursi penumpang menjadi sedikit rebah, sehingga dia bisa kembali tidur.


"Ok! Besok lagi kamu naik bis lagi! Itung-itung belajar, biar gak mabuk lagi." kata Anton terkikik menertawakan kebodohan Alex.


"Mulut, nyuk! Mingkem!" teriak Alex kesal.


"Iya, wis tak mingkem! Kamu tidur aja, kalau sudah sampai tujuan aku bangunin." jawab Anton menahan tawanya agar tidak lepas, dan membuat Alex semakin marah.


(Iya, udah aku diem)


Anton sebenarnya masih ingin tertawa, jika teringat Alex yang mabuk kendaraan. Tapi sebagai sahabat dia hanya menahan tawanya. Bagaimana tidak tertawa, sikapa Alex seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Ingin mendapat pujian dari pujaan hati, tapi harus rela merasakan sakit kepala setengah mati.


Maaf telat up, tadi malam ketiduran lagi karena kurang kopi dari para readers. Jadi boleh dong kopinya, biar gak ngantukan lagi🀭


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote for gift.

__ADS_1


Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2