
"Apapun keputusan kamu, ayah harap kamu bisa hidup bahagia. Dengan siapa pun kamu menikah, ayah pasti merestui. Hanya satu yang ayah minta, hiduplah dengan rukun. Ada masalah apapun harus diselesaikan dengan kepala dingin." kata ayah menasehati Ary.
Ary yang mendengarkan nasehat ayah menjadi terharu. Dia tidak menyangka sama sekali jika ayah memberikan restunya, tanpa syarat apapun selain kebahagiaannya. Bagi Ary, ayah adalah cinta pertamanya. Kasih sayang ayahnya begitu besar kepadanya.
"Bunda juga berharap, apapun yang menjadi keputusan kamu, kamu akan selalu bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bunda tidak ingin anak kesayangan bunda menderita. Jika kamu menderita, lebih baik bunda mati dari pada menyaksikan anak bunda bersedih." bunda ikut menasehati Ary.
Kata-kata bunda bisa jadi suatu pertanda bahwa kasih sayang orang tua itu tiada batasan, karena itu sumpah seorang ibu untuk anaknya. Dan nantinya kata-kata bunda akan terbukti, karena tidak ada satupun seorang ibu tega melihat anaknya meneteskan air matanya.
"Iya, Ary janji. Ary akan selalu bahagia. Dan Ary yakin, Ary pasti bahagia." jawab Ary mantap.
"Lalu apa keputusan yang kamu ambil?" tanya ayah.
"Ary menerimanya, ayah!" jawab Ary sambil tertunduk.
Bunda yang mendengar jawaban Ary hanya bisa meneteskan air matanya. Sepertinya bunda merasakan kesedihan Ary berada di depan mata. Perasaan dan firasat seorang ibu tidak akan melenceng, walaupun melenceng tidak terlalu jauh.
Ayah yang melihat bunda menangis, hanya bisa mengusap punggung bunda pelan. Ayah tahu pasti, suatu saat nanti Ary akan menikah dan meninggalkan mereka. Orang tua mana yang rela berpisah dengan anaknya. Padahal pernikahan Ary belum tentu terjadi, tetapi sebagai orang tua mereka harus melepaskan anaknya jika sudah menikah nanti.
"Apa kamu sudah merasa yakin?" tanya ayah pelan, takut menyinggung perasaan Ary.
"Tujuh puluh persen, yah!" jawab Ary masih dengan kepala tertunduk, dia belum berani memandang ayah dan bundanya.
"Kalau begitu, nanti malam kamu lakukan sekali lagi. Memohon petunjuk dari Allah." nasehat ayah.
"Setelah benar-benar yakin, besok kamu suruh dia datang membawa keluarganya. Terutama orang tuanya!" kata ayah sambil berdiri hendak melakukan ibadah.
"Sudah waktunya melakukan ibadah, sebaiknya kita beribadah dan memohon petunjuk-Nya." kata bunda mengingatkan Ary.
Bunda pun mengikuti ayah masuk kamar. Meninggalkan Ary sendiri di meja makan. Awalnya Ary merasa lega karena orang tuanya mendukung apapun yang menjadi keputusannya. Tapi Ary merasa bimbang saat ayah meminta Alex datang membawa keluarganya, termasuk orang tua Alex.
Bagaimana kalau orang tua Alex menentang keputusan mereka berdua? Bagaimana kalau keluarga Alex membencinya? Dan berbagai pertanyaan lainnya sedang berkecamuk dalam pikirannya.
Akhirnya Ary pun berdiri berjalan menuju kamarnya. Dia ingin meminta petunjuk kembali pada Yang Maha membolak-balikkan hati. Bisa saja hari ini mereka berdua bisa bersatu, esok lusa atau nanti rumah tangga diterjang badai.
***
Keesokan harinya, Ary bangun kesiangan. Semua ini dikarenakan, Ary kurang tidur. Di sisa pertiga malamnya digunakannya untuk mengadukan nasibnya pada Allah. Sepertiga malam yang dilakukannya sampai subuh, membuat Ary menjadi sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Pagi ayah! Pagi bunda!" teriak Ary begitu sampai di meja makan.
Saat ini kedua orang tuanya sudah duduk mengitari meja makan. Mereka berdua menunggu Ary, untuk sarapan bersama. Mbak Asih sudah menghidangkan semuanya di atas meja.
"Pagi, sayang!" jawab ayah dan bunda kompak.
"Maaf, Ary tadi setelah sholat Subuh tidur lagi. Jadi bangun kesiangan deh!" kata Ary sambil duduk di depan bunda, di sebelah kiri ayah.
"Bagaimana tidurmu tadi malam?" tanya ayah memandang anak kesayangannya.
"Kurang tidur ya?" tanya bunda sambil mengambilkan nasi goreng untuk ayah.
"Nyenyak sih, tapi Ary terbangun di sepertiga malam. Jadi Ary lanjut hingga Subuh sekalian. Karena masih mengantuk, Ary tidur lagi." jelas Ary sambil mengambil gelas berisi air putih untuk minum.
"Kenapa nggak diminum susunya?" tanya bunda, karena Ary lebih memilih air putih dari susu yang sudah dibuat oleh mbak Asih tadi.
"Kalau makan nasi terus minum susu, mana muat perut Ary, Bun?!" jawab Ary sambil mengambil sendok, karena nasinya sudah diambilkan bunda.
Akhirnya mereka makan dalam keheningan, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring.
"Yang buat nasi goreng siapa, Bun?" tanya Ary setelah nasi goreng di piringnya habis.
"Tumben lain rasanya, gak seperti biasanya!" jawab Ary.
"Lain bagaimana?" tanya bunda lagi.
"Ada yang kurang, bun!" jawab Ary sambil menunduk menahan tawanya.
"Kurang apanya, bumbunya atau gula garamnya?" tanya bunda lagi, sambil mengambil sesendok nasi goreng dan mulai merasai, dengan pelan bunda mengunyah nasi tersebut.
"Kurang banyak! Hahaha..." jawab Ary sambil tertawa lepas karena sejak tadi sudah sudah menahan tawanya.
"Dasar kamu ya! Ngerjain orang tua aja, bisanya!" teriak bunda sambil melemparkan kain lap ke arah wajah Ary.
"Bunda kek nggak tau aja, gimana anaknya. Dari dulu kan, memang suka bercanda dia!" kata ayah membela gadis kesayangannya itu.
"Ary! Kamu sudah menghubungi laki-laki itu?" tanya ayah kemudian, ketika dia teringat tentang obrolan Ary kemarin.
__ADS_1
"Ingat pesan ayah! Nanti malam mereka harus sudah berada di sini. Orang tua wajib ikut, kalau memang dia serius!" lanjut ayah.
"Iya, yah! Nanti setelah ini Ary hubungi dia." jawab Ary sambil meletakkan gelas kosong setelah isinya ditenggak habis.
Ary membantu bunda membereskan peralatan makan mereka tadi. Ary membawa ke dapur kemudian mencucinya.
"Biar Asih aja yang cuci piringnya, mbak!" kata mbak Asih ketika melihat Ary mulai mencuci piring.
"Sudah kadung, mbak Asih kerjakan yang lainnya aja!" jawab Ary masih melanjutkan menyabuni piring.
Akhirnya Asih meninggalkan Ary yang mencuci piring, Asih memilih menurut pada juragan kecilnya itu. Karena bagaimanapun juga, juragan kecilnya itu adalah ratu di rumah ini sejak dulu.
Selesai mencuci piring, Ary mengelap tangannya hingga kering kemudian menuju kamarnya untuk menghubungi Alex. Ary harus meminta Alex datang bersama orang tuanya, atau ayah akan menolaknya.
"Nanti malam datang ke rumah bawa orang tua dan anggota keluarga lainnya. Ayah dan bunda ingin berkenalan dengan mereka"
Setelah pesan terkirim, Ary menyimpan kembali HP-nya di atas nakas samping tempat tidurnya. Ary berharap cemas balasan dari Alex.
Sementara itu Alex yang baru saja memasuki kamarnya, mendengar ada notifikasi pesan masuk. Kemudian Alex membuka pesan dari Ary, setelah membacanya, Alex pun membalas pesan tersebut.
"Aku usahakan! Tenang saja pasti berhasil."
"Jam tujuh malam, kami pasti datang" isi pesan berikutnya.
Betapa senangnya hati Alex, karena Ary meminta dia datang bersama keluarganya. Berarti lamarannya kemungkinan besar diterima.
Tepat jam tujuh malam, Alex datang bersama papinya Pak Kusuma Wijaya dan Anton, tidak lupa dia juga membawa Kevin. Mereka datang dengan membawa beberapa buah tangan.
"Tunggu sebentar, bapak sama ibu masih di dalam." kata mbak Asih saat menghidangkan minum dan beberapa kue.
"Ary mana mbak?" tanya Alex tidak sabar.
"Mbak Ary masih di kamarnya." jawab mbak Asih sebelum berlalu dari hadapan mereka.
Tak berapa lama, setelah itu, kedua orang tua Ary datang ke ruang tamu. Dimana Alex dan keluarganya menunggu.
"Kusuma!"
__ADS_1
"Widya!"
Teriak Bu Widya dan pak Kusuma bersamaan.