
Alex sudah tampak berpakaian rapi pagi ini, padahal jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Alex terbangun setengah jam yang lalu, kemudian mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sesuai permintaan Eno tadi malam melalui telepon.
Setelah memastikan dandanan dan pakaiannya rapi, Alex berjalan keluar dari kamarnya. Sebelum dia keluar rumah, Alex masuk ke ruang kerjanya. Dia ingin mempersiapkan dokumen dan berkas lainnya, karena dia juga ingin pergi ke Purworejo.
Saat memasukkan berkas yang tidak dibawanya ke dalam laci meja, Alex melihat kotak beludru kecil berwarna merah. Kotak itu berisi cincin yang dibelinya saat masih kuliah di Singapura. Dia membeli cincin itu untuk melamar Ary, saat itu. Tapi karena kejadian saat pesta kelulusannya, dia tidak jadi melamar Ary. Meskipun begitu, cincin itu masih tetap disimpannya.
Alex kemudian memasukkan kotak cincin itu ke dalam saku celananya. Dia berharap bisa bertemu kembali dengan Ary, sehingga bisa melamar Ary. Dan bisa menikahi Ary walaupun ada perbedaan antara mereka.
Setelah selesai memasukkan semua barang yang hendak dibawanya, Alex pergi meninggalkan rumah itu. Alex pergi saat suasana rumah masih sepi. Alex sengaja cepat-cepat pergi sebelum ibunya turun dan melihatnya. Alex masih malas bertemu dengan ibunya.
Belum jam delapan Alex sudah sampai bandara, dia mencari keberadaan Eno setelah memarkirkan mobilnya. Karena tidak kunjung menemukan Eno, Alex mencoba menghubungi Eno.
"Dimana?" kata Alex begitu terdengar suara Eno.
"Baru nyampai parkiran! Kamu dimana?" tanya Eno sambil keluar dari mobil Ary.
Eno dan Agam diantar Ary ke bandara, karena mobil Agam ditinggalkan di rumah orang tuanya. Sebenarnya Agam sudah berangkat ke Sumatera sejak enam bulan yang lalu, saat ini hanya menjemput anak dan istrinya saja.
"Ok, kami segera meluncur!" kata Eno sesaat setelah Alex mengatakan dimana dia menunggu Eno.
Ary, Eno dan Agam beserta anaknya berjalan beriringan menuju kafe yang ada di bandara.
"Kok ke sini?" tanya Ary heran.
"Kita sarapan dulu! Tadi kan belum sempat sarapan." jawab Eno.
"Sandwich yang kita makan sebelum berangkat tadi, itu namanya apa kalau bukan sarapan?" tanya Ary mulai curiga. Pasti temannya itu sedang merencanakan sesuatu, tanpa sepengetahuannya.
"Bukan, sarapan itu dinikmati sambil duduk tenang. Sandwich yang tadi itu dimakan sambil berjalan karena memburu waktu. Jadi sandwich tadi tidak termasuk sarapan." jawab Eno dengan senyum terukir.
"Dasar! Busui bawaannya makan mulu!" kata Ary sambil duduk di dekat jendela, agar bisa melihat luar dengan bebas.
"Nah itu tahu!" celetuk Eno.
Eno menyapu ruangan itu dengan kedua matanya, dia mencari keberadaan Alex. Karena tidak kunjung menemukan Alex, Eno mengirim pesan pada Alex.
"Dimana sih?! Tadi katanya di kafe ini, kami datang kamu ngilang." pesan terkirim. Eno masih berharap cemas menunggu kedatangan Alex.
__ADS_1
Eno tidak mau gagal lagi dalam menjalankan misinya. Eno sangat yakin jika Alex dan Ary masih saling mencintai, tapi terlalu tinggi ego-nya. Sehingga mereka tidak akan bisa bersatu jika keduanya masih sama-sama mengedepankan ego masing-masing.
"Aku bawa Ary, manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kesempatan memang bisa datang berkali-kali, tapi keberuntungan tidak akan datang berulang kali." isi pesan kedua dari Eno.
Tak lama setelah pesan kedua terbaca, Eno mendapat balasan dari Alex.
"Sorry, tadi lagi ke toilet."
"Siap laksanakan!" kedua pesan Alex masuk dalam waktu yang bersamaan.
Eno kembali menyimpan HP-nya. Ary mulai curiga karena sejak sampai di kafe tersebut, Eno malah asik dengan HP-nya.
"Mau sarapan pakai HP?!" sindir Ary.
"Tadi sibuk ngajak sarapan, sudah sampai malah asik main HP. Anak ma suami tak diperhatikan." lanjut Ary.
Eno yang kena omel Ary hanya nyengir saja, memasang wajah dengan seulas senyuman.
"Ini mau makan! Makasih ya mas, sudah dipesankan nasi goreng." kata Eno sambil menarik piring berisi nasi goreng agar lebih dekat dengannya.
Alex yang dari kejauhan melihat mereka, mendekati dan menarik bangku yang kosong ke meja tersebut.
"Selamat pagi, kalian sudah lama disini?!" tanya Alex begitu duduk di samping Ary.
Alex sengaja memilih duduk di dekat Ary. Hari ini, dia sudah memantapkan hatinya untuk melamar Ary. Apapun hasilnya, setidaknya dia sudah berusaha. Walaupun dia tahu, orang tuanya pasti menentang pilihannya.
"Pagi!" jawab Ary, Eno dan Agam serentak.
"Jam berapa sampai tadi?" tanya Eno.
"Baru saja!" jawab Alex dengan pandangan tak lepas dari wajah Ary.
"Sarapan?" Ary menawarkan sarapan pada Alex, kemudian kembali menyesap milo kesukaannya.
"Terima kasih. Kalian kok belum check in, gak takut ketinggalan pesawat?" Alex bertanya pada Eno.
"Mas, sudah jam berapa sekarang?" tanya Eno setelah selesai makan.
__ADS_1
"Jam delapan lewat dikit." jawab Agam sambil melirik jam tangannya.
"Ya udah, kita check in aja langsung. Sudah diusir nih kita!" kata Eno sambil mengerlingkan matanya. Sebagai tanda mereka harus meninggalkan Alex dan Ary berdua.
"Aku ikut antar sampai pintu masuk!" teriak Ary begitu Agam dan Eno bangkit dari duduknya. Karena makanan dan minuman mereka telah dibayar saat memesan tadi.
Setelah mengantarkan Agam sekeluarga, kini tinggallah Alex dan Ary berdua. Keduanya sama-sama membawa mobil sendiri, sehingga suasana canggung pun mulai melingkupi.
"Temani aku sarapan, bisa?" tanya Alex saat mereka sampai di tempat parkir.
"Ngng... Gimana ya, aku masih kenyang karena tadi kamu lihat sendiri kan. Aku sudah sarapan." jawab Ary bingung.
"Nemenin bukan berarti ikut makan, minum saja kalau sudah kenyang!" kata Alex masih menunggu kata iya keluar dari mulut Ary.
"Terus mobilnya?" tanya Ary.
"Kamu mau naik mobilku atau mobilmu? Kalau aku naik mobil siapa aja tak masalah." Alex memberi Ary pilihan.
"Naik mobilku aja, boleh?" tanya Ary ragu-ragu.
"Kenapa tidak?" jawab Alex sambil tersenyum.
"Mobil kamu?" tanya Ary mendadak bodoh.
"Nanti sepulang dari Purworejo bisa aku ambil, sekarang aku mau numpang kamu sampai Kulonprogo. Itu kalau diijinkan." jawab Alex meminta kunci mobil pada Ary.
"Ok!" kata Ary sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Alex.
"Selera otomotif kamu boleh juga!" kata Alex setelah duduk di balik kemudi. Alex memuji mobil Pajero sport milik Ary yang sudah dirubah interiornya.
"Ini mobil kenangan bersama suamiku sebelum meninggal. Dia membeli ini khusus antar jemput aku ke tempat dinasku yang sekarang. Dia ingin aku merasa nyaman. Baginya kenyamanan dan keselamatan itu yang utama." Ary menjelaskan kenapa dia selalu memakai mobil itu.
Alex hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar jawaban Ary.
Maaf telat up, kerjaan banyak banget. Ini nulis saat istirahat, jadi kalau feel-nya gak dapat. Mohon maaf ya 🙏🙏🙏.
Terima kasih banyak atas dukungannya, baik yang berupa like, komen, vote dan gift 😘😘😘
__ADS_1