
Hari pun berlalu, Jessie masih betah mengurung diri dalam kamar. Dia tidak pernah mau bertemu dan berbicara dengan anak dan suaminya. Dia merasa suami dan anaknya sudah mengabaikan dirinya.
Pagi ini Kusuma sengaja tidak ke kantor, dia ingin berbicara dengan istrinya. Ternyata membujuk ibu dari anak-anaknya lebih susah, dibandingkan dengan membujuk anak-anaknya sewaktu kecil.
"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Kenapa harus menyiksa diri, kalau kita bisa bahagia. Kita sudah tua, mengikuti keinginan anak apa salahnya? Toh, kalau anak cucu kita bahagia kita juga akan ikut bahagia. Tujuan hidup kita kan melihat anak cucu bahagia." Kusuma memulai ceramah paginya.
Rasanya Kusuma sudah tidak tahan lagi melihat anak dan istrinya seperti ini. Istrinya merajuk terlalu lama, sehingga kesejahteraan dirinya terancam. Bagaimana tidak terancam, semua kebutuhannya selalu disediakan dan diurus istrinya. Selama istrinya merajuk, Kusuma mengerjakan semuanya sendiri. Biasanya makan dilayani, sekarang jangankan dilayani ditemani makan pun sudah tidak pernah lagi.
"Sampai anakmu mau meninggalkan perempuan itu!" jawab Jessie ketus.
"Ary, mi namanya. Anak kita tidak akan pernah mau meninggalkan cinta pertamanya, karena dia merasa nyaman bersama Ary." kata Kusuma.
"Kalau begitu, aku akan terus seperti ini sampai dia sadar perempuan itu tidak pantas di sisinya." sahut Jessie.
"Kenapa kamu berpikir kalau Ary tidak pantas mendampingi anak kita? Apa yang kurang dari Ary menurut kamu?" tanya Kusuma lembut, agar Jessie tidak emosi sehingga memicu tekanan darahnya.
"Kita tidak tahu siapa dia, lagian kita berbeda dari dia. Ada yang sama dengan kita, kenapa mencari yang berbeda sih?!!" jawab Jessie dengan mata berembun menahan tangisnya
"Karena jodoh, maut, rejeki dan kelahiran sudah diatur Tuhan, kita hanya bisa menjalaninya saja." jelas Kusuma.
"Terserah! Bela terus anakmu itu. Bapak sama anak sama saja. Nganyelke!" teriak Jessie sambil meninggalkan Kusuma di kamar sendiri.
Kusuma hanya bisa menghela nafasnya kasar. Niat hati ingin meredakan kemarahan istrinya, malah semakin marah. Ternyata usahanya untuk membuat anak dan istrinya berbaikan belum memberikan hasil.
***
Ary berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya. Ary menatap dirinya dalam pantulan cermin. Wajahnya yang manis semakin terlihat cantik dan sempurna dengan riasan make up natural. Ditambah gamis yang dikenakan, melekat sempurna di tubuh mungilnya, sehingga terlihat elegan.
Tidak lama lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri sekaligus ibu bagi anak sambungnya, Kevin. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab sudah menunggu di depan mata. Walaupun ibu mertua belum kunjung merestui menjadi ganjalan hatinya.
__ADS_1
"Cantik sekali anak bunda hari ini, sampai bunda tidak mengenali." kata bunda Widya begitu masuk ke kamar Ary.
Tadi Ary meminta ditinggalkan sendirian di kamarnya. Kamar yang ditempatinya sejak kecil hingga sekarang. Dalam kamar ini belum pernah dimasuki oleh laki-laki kecuali ayah dan kakaknya. Dulu, saat menikah dengan Rendy, pernikahan dilaksanakan di kediaman mempelai pria. Rumah yang sekarang sudah berpindah nama menjadi milik Ary. Semua peninggalan Rendy sudah berganti nama menjadi milik Ary.
"Makasih bunda! Menurut aku sih biasa saja, nggak ada yang istimewa." jawab Ary.
"Hari ini kamu tampak berbeda dari biasanya, biasanya cantiknya dapat nilai delapan, sekarang mendapat nilai sepuluh!" kata bunda Widya.
"Kok jadi sempit ya hijab sama bajunya." kata Ary tiba-tiba.
Bunda menjadi heran mendengar kata-kata Ary, karena tadi tidak ada keluhan tentang baju dan hijab yang dikenakannya.
"Masak sih, perasaan gak ada yang berubah." sahut Widya keheranan.
"Bunda puji Ary terus, jadi melar badan dan kepala Ary, deh!" jawab Ary kemudian tertawa.
Walaupun Ary tertawa dan memasang wajah ceria, tapi bunda tahu kalau dia menyimpan kegundahan.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu sendiri. Bunda hanya berharap, kamu bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anakmu kelak. Ini adalah pilihan kamu, maka jangan sekali pun kamu menyalahkan orang lain, jika pernikahan kamu gagal atau tidak bahagia." kata Widya akhirnya, dia tidak bisa menyimpan apa yang ada di pikirannya.
"Do'akan kami terus Bun, agar pernikahan kami langgeng dan bahagia." kata Ary dengan mata berkaca-kaca.
"Ary takut, jika pernikahan Ary tidak sesederhana impian. Ary takut Bun! Do'akan Ary ya!" lanjut Ary sambil memeluk bunda Widya.
"Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, nak! Sekarang jangan menangis nanti make up nya luntur. Kamu harus selalu tersenyum, kamu tidak boleh menangis. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu kuat." Widya menasehati Ary.
"Sekarang kita keluar ya, sebentar lagi acara akan dimulai. Tapi air matanya dihapus dulu, make up nya juga harus dibenahi sedikit." kata Widya sambil menyapukan bedak ke wajah Ary.
Mereka berdua keluar dari kamar Ary menuju ke ruangan dimana acara akad nikah dilakukan. Acara ini hanya mengundang kerabat dekat dan beberapa tamu undangan yang dianggap penting saja.
__ADS_1
Dekorasi ruangan itu dibuat sederhana tapi elegan, karena pada dasarnya Ary lebih suka kesederhanaan. Walaupun sederhana tapi tidak mengurangi kesakralan acara pernikahan tersebut.
Alex memandang Ary tanpa berkedip saat Ary berjalan mendekati tempatnya duduk sama ini. Alex semakin terpukau dengan kecantikan Ary. Benar kata bunda, Ary hari ini tampak lebih cantik dari biasanya. Acara akan segera dimulai, sehingga menyadarkan Alex dari lamunannya.
***
"Akhirnya! Selamat ya, sudah bukan janda ting-ting lagi. Semoga samawa dan langgeng." kata Eno dari seberang telepon.
Setelah selesai acara pernikahan tadi, Eno langsung menghubungi Ary. Eno tidak dapat menghadiri acara pernikahan Ary karena kesibukannya.
"Aamiin!" jawab Ary tersenyum simpul.
"Hati-hati lho, dia sudah lama nggak kena. Nanti malam kamu habis dibantai Alex!" kata Eno menakuti Ary.
"Sok tahu! Emangnya kamu dulu dibantai mas Agam?" tanya Ary penasaran.
"Pokoknya siap-siap aja! Jangan bilang kalau aku tidak kasih tahu kamu! Sudah ya, Richard demam jadi rewel banget." kata Eno sambil menenangkan anaknya di gendongan.
Ary mendengar rengekan bayi samar-samar, sepertinya Eno mulai kewalahan menghadapi anaknya sehingga mengakhiri panggilannya.
"Ok! Assalamu'alaikum!" kata Ary akhirnya dia yang mengakhiri panggilan, karena Eno sibuk menenangkan jagoannya.
Bulu kuduk Ary meremang, mengingat kata-kata Eno tadi. Dia menjadi was-was, karena dia belum pernah melakukan itu. Ary jadi berpikir, bagaimana caranya agar malam ini terbebas dari bantaian Alex.
"Sayang!" panggil Alex sambil mendekati Ary.
Ary semakin gugup, saat Alex mulai memeluknya dari belakang. Kata-kata Eno selalu terngiang di telinganya, seolah tidak mau pergi.
"Kenapa menyendiri disini, hmm?" tanya Alex merasa heran dengan wanita yang beberapa saat yang lalu sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Saat ini mereka berada di halaman belakang, karena tadi Ary memilih ke belakang saat menerima telepon. Karena di dalam rumah sangat ramai tamu dan keluarga yang sedang berkumpul.
"Ini, tadi Eno menelepon mengucapkan selamat. Karena di dalam ramai, jadi aku memilih ke sini saja." Ary menjelaskan kenapa dia berada di belakang sendirian.