
"Ar! Hiks... hiks..." Eno menangis, mengadukan nasibnya pada sahabatnya.
Eno menelepon Ary untuk curhat.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba nangis gak jelas kek gitu!" tanya Ary keheranan.
"Aku mau dijodohin. Huwaaaa..." tangis Eno semakin kencang.
"Enak dong, ada yang nyariin jodoh! Nggak usah capek-capek lagi buat seleksi." Jawa Ary enteng.
"Percuma gue ngadu sama Lo!" teriak Eno kemudian mematikan HP-nya.
Eno menangis memeluk bantal. Dia tidak mau dijodohkan tapi dia juga tidak ingin melihat orang tuanya sedih.
Ary langsung menghubungi Eno begitu Eno mematikan sambungan teleponnya. Sudah berulangkali menghubungi tapi Eno tidak mau menerimanya, karena dia sudah terlanjur kesal pada Ary.
Akhirnya Ary memutuskan untuk mengirim pesan saja, siapa tahu nanti Eno mau membacanya kemudian membalas pesan tersebut.
"No, kamu marah ya? Sorry tadi aku hanya bercanda kok. Kita ngobrol yuk, video call!" isi pesan Ary untuk Eno.
Setelah menunggu beberapa saat, Eno tidak juga mau membaca apalagi membalasnya. Kemudian Ary mulai mengetik dan mengirimkan pesan lagi.
"No, usia kita sudah seharusnya berumah tangga. Wajar saja kedua orang tuamu ingin menjodohkan kamu, karena mereka takut anaknya akan menua sendiri. Mereka takut tidak bisa menimang anakmu nanti. Jadi aku mohon, jangan kecewakan mereka. Jika aku dijodohkan oleh orang tuaku, kemungkinan besar aku akan menerimanya. Karena setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya."
"Aku yakin, orang tua kita pasti memilihkan laki-laki yang soleh dan baik untuk kita. Jangan langsung marah jika kamu dijodohkan! Coba kamu shalat istikharah, biar hatimu tenang menentukan pilihan. Ingat jangan sebut nama aki-laki yang kamu cintai, cukup sebut pilihkan laki-laki yang terbaik untukku, ya Allah."
Eno hanya membaca saja pesan yang dikirim oleh Ary. Eno mulai memikirkan kata-kata yang tertulis dalam pesan tersebut. Dia selama ini sedikit melupakan jika masih ada Tuhan untuk tempat curhat. Sudah lama dia tidak mengadukan nasibnya pada Tuhannya.
Manusia jika bahagia kadang melupakan dari mana bahagia itu berasal. Jika manusia diberi ujian sedikit saja, dia akan mengadu kenapa aku begini ya Tuhan. Masih pantaskah kita menuntut kebahagiaan, jika saat bahagia kita melalaikanNya?
Eno pun melakukan apa yang disarankan oleh Ary. Dia menangis sambil bersimpuh memohon ampun atas kelalaiannya. Setelah mengadu pada Tuhannya, Eno merasa tenang dan dia pun tertidur pulas.
***
Eno kembali ke Kulonprogo, kembali pada aktivitasnya setiap hari. Melayani pembeli dengan ramah, membuat pembukuan serta re order barang dagangannya yang stoknya mulai menipis.
__ADS_1
Di sela aktivitasnya itu, Agam mendatanginya di sore hari.
"Apa saya bisa mengganggu sebentar?" tanya Agam setelah mengucapkan salam dan Eno membalasnya.
"Mas Agam tidak menganggu kok. Lagian sudah sore, pembeli juga sudah gak ada lagi." jawab Eno sambil tersenyum.
Eno berjalan keluar dari tokonya, dia mengajak Agam ke bangunan di sebelah toko. Bangunan berupa sebuah rumah minimalis, yang menjadi tempat tinggalnya setelah Ary menempati rumah dinas.
"Kita di teras saja ya, mas!?" ucap Eno sambil mempersilahkan Agam duduk.
"Iya, kita di luar saja. Lebih santai!" jawab Agam.
"Sebentar ya, Mas!" ucap Eno meninggalkan Agam.
Eno masuk ke dalam rumahnya, dia hendak mengambil minum dan beberapa makanan untuk teman minumannya.
Tak lama kemudian, Eno sudah kembali membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa toples kue kering.
"Aduh! Saya jadi merepotkan." ucap Agam merasa tidak enak, karena Eno menjamunya.
"Ada perlu apa, mas? Nggak biasanya datang ke sini." tanya Eno begitu duduk di kursi seberang Agam.
"Saya hanya mau kenal lebih dekat dengan Eno, itu pun kalau diijinkan." ucap Agam lirih.
Sebenarnya dia malu untuk bertandang ke rumah Eno. Tapi demi ibu dan anaknya, dia harus sedikit menebalkan mukanya. Ibunya berulang kali memintanya mendekati Eno. Sehingga mau tidak mau dia harus mendatangi kediaman Eno.
"Eno seperti ini, mas. Mas Agam pasti malu kalau beristrikan Eno. Eno nggak bisa masak, mencuci pun mesin cuci yang melakukan. Menggosok pakaian pun ada yang melakukan, membersihkan rumah juga sudah ada yang melakukan. Eno hanya tahu makan dan dandan." jelas Eno panjang kali lebar kali tinggi.
Agam yang mendengar hanya manggut-manggut saja, karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan yang baik. Kita bisa belajar bersama jika ingin." jawab Agam.
"Mas Agam bisa menerima aku, tapi apakah ibu mas Agam bisa menerima menantu yang hanya bisa makan dan berdandan. Jarang lho mas, seorang ibu bisa menerima menantu yang hanya bisa makan dan berdandan." Eno terus mencari alasan agar Agam juga menolaknya.
Eno menolak Agam bukan hanya karena belum mencintai Agam, tapi terlebih karena merasa tidak pantas bersanding dengan Agam. Bagi Eno, Agam terlalu sempurna dan tinggi untuk dijangkau.
__ADS_1
"Ibu yang memilihkan kamu untuk menjadi istriku. Nggak mungkin beliau tidak mau menerima kamu." jawab Agam sambil tersenyum.
"Apa?!" teriak Eno terkejut.
Eno tidak menyangka sama sekali jika ibu Agam sendiri yang memilihnya. Padahal mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
"Iya, katanya ibu sering melihat kamu di rumah ibu Riyana. Tapi beliau hanya memperhatikan kamu saja." kata Agam.
Eno mencoba mengingat kapan dia bertemu ibunya Agam selain di Kulonprogo kota. Seingat Eno hanya bertemu di Kulonprogo kota saat bersama Ary. Selain itu dia tidak mengingatnya, karena dia jarang bertandang ke rumah budhe Riyana.
"Seingatku, kami bertemu hanya saat kita membeli tanaman hari itu." ucap Eno masih memikirkan kapan dia bertemu Bu Warni.
"Mungkin sewaktu Anita masih hidup?!" kata Agam mencoba mengingatkan.
"Ngomong soal Anita! Memangnya mas Agam sudah bisa melupakan dia, kok mau saja dijodohkan?!" ucap Eno.
Ucapan Eno seperti pisau yang menghunus ulu hatinya.
"Dia tidak akan terlupakan, karena dia menempati sudut hatiku yang keberadaannya akan selalu dikenang." jawab Agam sendu.
Agam kembali teringat dengan istrinya yang sudah menghadap Illahi. Mengingat saat-saat bersama menanti kelahiran buah hati mereka.
Eno yang memperhatikan Agam menjadi merasa bersalah, karena Agam tiba-tiba murung. Wajah dan tatapan mata Agam berubah sendu. Padahal tadi saat baru datang, wajah Agam terlihat biasa saja.
"Jika perjodohan ini menyakitkan, lebih baik kita tolak saja. Eno tidak mau hanya dianggapnya sebagai pengganti. Karena sampai kapanpun Anita tidak tergantikan di hati mas Agam." kata Eno sambil menunduk, karena dia tidak sampai hati jika melihat wajah sendu Agam.
Agam yang ramah berubah menjadi Agam berwajah datar nan sendu. Wanita manapun pasti tergila-gila pada Agam, apalagi melihat senyum manisnya.
Hanya saja, jantung Eno masih belum berdetak kencang ketika bersama Agam. Hati Eno juga belum diisi dengan nama Agam.
Eno masih menunggu kepastian dari Dzaky. Jika seminggu ke depan tidak ada kabar, maka Eno akan dipaksa menikah dengan Agam. Padahal Agam tidak pernah memaksa untuk segera menikahi Eno.
Orang tua Eno yang mengenal Agam dari saudara sepupunya, langsung tertarik menjadikan Agam sebagai menantunya.
"Tidak ada istilah pengganti dalam pikiranku. Dia tetaplah dia, dan kamu tetaplah kamu. Maka tetaplah menjadi dirimu sendiri." ucap Agam.
__ADS_1