
Alex tidak menyadari kalau Ary sudah pergi meninggalkan bangunan tersebut. Alex mulai merasa kehilangan Ary saat acara makan malam berlangsung. Ary meninggalkan acara itu dalam keadaan perut kosong, karena dia belum makan sejak siang tadi.
Alex terus mencoba menghubungi Ary, baik mengirimkan pesan atau melakukan panggilan. Tapi semuanya tidak ada respon, karena HP Ary dimatikan. Alex sudah mencari Ary di sekitar mall-nya, bahkan dia mendatangi rumah dinas Ary malam itu juga. Tapi hingga dini hari, Alex belum juga mendapatkan hasilnya.
"Papi lihat Ary nggak tadi?" tanya Alex begitu berpapasan dengan ayahnya di lobi.
"Papi tadi kan sibuk merayu mami kamu! Mami benar-benar kecewa sama kamu." jawab Kusuma.
"Maafin Alex, Pi! Alex salah, karena tidak memberitahu mami sebelumnya. Sekarang Ary pergi menghilang, dihubungi juga tidak bisa." kata Alex sendu.
"Kamu harus sabar, lebih banyak berusaha untuk meluluhkan hati mereka berdua. Mami dan Ary sama-sama wanita yang kamu cintai. Papi berharap kamu bisa mendapatkan hati dari keduanya. Agam hidupmu tenang dan bahagia." nasehat Kusuma sambil menepuk pelan pundak anaknya, sebagai penambah semangat untuk Alex.
Sebenarnya dia tidak tega melihat anaknya menderita. Tapi melihat Alex yang sering salah dalam mengambil keputusan, membuatnya Kusuma ragu jika pernikahan anaknya bisa berharap sesuai rencana.
Jessie yang masih kecewa pada Alex hanya diam saja melihat apa yang dilakukan Alex. Bahkan semua karyawannya menjadi sasaran kemarahan Alex. Jessie memilih bercengkrama dengan Tere dan keluarganya. Dia tidak mau lagi berurusan dengan anaknya itu.
Keesokan harinya, Alex kembali menghubungi Ary tapi tetap tidak bisa. Bahkan tadi malam Alex pun pergi mencari Ary ke rumah dinas. Tapi usahanya sia-sia, karena Ary tidak pulang ke rumah itu. Alex bahkan hanya tidur dua jam saja, karena sibuk mencari Ary. Kalau saja tidak ada acara grand opening, mungkin saat ini dia sudah mencari Ary di rumah orangtuanya.
"Ary, dimana kamu sayang?!" gumam Alex pelan dengan dada yang sesak.
Alex harus bersabar menunggu acara selesai baru dia akan ke rumah orang tua Ary. Dia ingin meminta maaf pada Ary, sebelum semuanya terlambat. Bahkan menyembah Ary pun dia rela, asalkan Ary kembali bersamanya dan menikah dengannya.
***
Acara grand opening berjalan lancar sesuai rencana. Alex bergegas meninggalkan mall itu untuk mencari Ary. Alex meminta ayahnya untuk menemaninya ke rumah orang tua Ary. Tapi Kusuma sanggup menemaninya malam hari, karena Kusuma tidak mau acara berantakan karena dua orang pemiliknya pergi dari tempat itu.
Kusuma berjanji pada Alex akan menemaninya setelah acara selesai, dan itu berarti sekitar dua jam lagi. Sedangkan perasaan Alex sudah bercampur aduk seperti buah masuk ke dalam blender.
Alex kembali ke rumah dinas Ary, dia juga mendatangi rumah sakit tempat Ary bertugas. Tapi tidak satupun orang-orangnya Ary tahu dimana keberadaan Ary. Ary menghilang bak ditelan bumi. Setelah lelah mencari Ary, Alex kembali ke mall tadi.
"Pi!" teriak Alex ketika melihat kelebat ayahnya.
Kusuma yang mendengar panggilan dari anaknya pun , menoleh dan mendekati Alex.
"Bagaimana?" tanya Kusuma penasaran.
__ADS_1
"Belum ketemu, Pi!" jawab Alex lemas, tanpa semangat hidup.
"Acaranya sudah selesai! kamu istirahat dulu atau kita langsung berangkat?" tanya Kusuma pada Alex, anaknya.
"Kita langsung berangkat aja, Pi! Keburu malam, takutnya nanti malah gak dibukain pintu." jawab Alex sambil melangkah kakinya keluar dari mall tersebut.
"Ngaco! Mana pernah Widya mengusir tamu, kamu belum begitu mengenal mereka ternyata." kata Kusuma mengikuti langkah Alex sambil menggelengkan kepalanya.
"Mereka itu orang baik, Al! Mereka adalah orang-orang yang tulus, jadi kamu jangan sekali-kali memanfaatkan ketulusan mereka. Papi sudah lama kenal dengan mereka, walaupun sudah terpisah lama. Tapi papi sangat yakin, waktu tidak bisa mengubahnya." Kusuma memberitahukan apa yang ada dalam pikirannya pada Alex.
"Iya, Pi! Alex janji, akan membahagiakan mereka juga keluarga kita." kata Alex sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah keduanya duduk dan memakai seatbelt, Alex melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Ary. Alex melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga Kusuma pun marah.
"Papi masih mau hidup, Al! Kurangi kecepatannya!" teriak Kusuma sambil tangannya menumpu pada dashboard, karena saking lajunya badan Kusuma pun condong ke depan.
"Tapi Pi!?" jawab Alex sambil menoleh ke arah ayahnya.
"Kalau kamu mau mati, mati sendiri jangan bawa papi?" teriak Kusuma lagi karena Alex tak kunjung mengurangi kecepatan mobilnya.
Akhirnya Alex melaju dengan kecepatan sedang, karena tidak mau ayahnya semakin marah.
***
"Permisi! Selamat sore!" teriak Alex sambil mengetuk pintu rumah orang tua Ary.
"Sore! Tunggu sebentar!" teriak mbak Asih dari dalam rumah.
"Ary ada?" tanya Alex begitu pintu terbuka.
Asih yang kaget karena tiba-tiba mendapat pertanyaan dari Alex.
"Bukannya mbak Ary di Jogja ya?" jawab Asih merasa heran dengan kedatangan tamunya itu.
"Kami dari sana, tapi dia tidak ada. Apa Ary di sini?" kata Alex sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1
"Mbak Ary nggak ada pulang sejak mas sama bapak kesini waktu itu." jawab Asih.
Asih keluar rumah, karena majikannya tidak ada di rumah.
"Kalau Widya sama Kemal ada?" tanya Kusuma mendekati Asih.
"Mereka sebentar lagi pulang, paling lama sejam an. Kalau mau nunggu silahkan duduk dulu." kata Asih mempersilahkan tamunya duduk di teras.
Asih tidak berani memasukkan tamu ke dalam rumah, ketika rumah sepi.
"Baik! Kami tunggu disini saja." kata Kusuma kemudian mendudukkan dirinya ke kursi yang ada di teras.
Alex pun mengikuti ayahnya duduk. Alex semakin gelisah memikirkan dimana Ary saat ini. Alex benar-benar resah karena kepergian Ary. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya.
"Kalau begitu, saya tinggal dulu. Maaf, mau minum apa ya?" kata Asih sebelum undur diri ke dapur.
"Apa saja, mbak?" jawab Kusuma sambil meregangkan tangannya.
Rasa lelah menggelayuti badannya. Sejak kejadian tadi malam, Alex dan Kusuma memang kurang tidur. Kusuma sibuk membujuk istrinya, sedang Alex sibuk mencari Ary.
Asih meninggalkan bapak dan anak itu, untuk membuat minum. Tak lama setelah itu, Kemal dan Widya pulang dari pasar dimana kiosnya berada.
"Eh, kita kedatangan tamu, Bun!" kata Kemal saat memarkirkan mobilnya.
"Iya, yah! Ada perlu apa ya mereka kesini?" jawab Widya sambil turun dari mobil.
"Ayah juga tidak tahu, Bun. Kita tanya saja ada perlu apa." kata Kemal sambil mengunci mobilnya setelah keluar dari mobil.
Alex yang melihat kedatangan kedua calon mertuanya, langsung menghampiri mereka. Alex menyalami dan mencium punggung tangan kedua bergantian.
"Sudah lama menunggunya? Kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau datang?!" tanya Kemal begitu dekat dengan calon besannya.
"Kami juga baru sampai. Hanya sekedar bertandang, biar semakin akrab." jawab Kusuma sedikit berbasa-basi.
"Kita masuk saja, biar lebih enak ngobrolnya." ajak Kemal.
__ADS_1
Maaf yaa, belum bisa crazy up lagi. Semoga kalian masih setia menantikan kehadiran Duren Ansa.