MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Kenapa Mommy Kevin Banyak, Dad


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, akhirnya diputuskan pernikahan Alex dan Ary akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Waktu tiga bulan dirasa cukup untuk mereka saling memahami kepribadian calon pasangannya. Alex juga akan belajar hal-hal yang mendasar dalam keyakinan Ary, karena pernikahan dilakukan mengikuti keyakinan Ary.


Walaupun Ary tidak memaksa Alex untuk berpindah keyakinan. Tapi Alex berkemauan untuk mempelajarinya, hingga saat pengucapan janji suci nanti berjalan lancar.


Setelah selesai acara lamaran yang sederhana itu, akhirnya Alex dan keluarganya pamit pulang. Saat pulang, Kevin belum juga tidur, walaupun dia sudah berulangkali menguap.


"Kenapa mommy Kevin jadi banyak, dad?" tanya Kevin tiba-tiba begitu mobil yang mereka tumpangi berjalan.


"Hah!" Alex terjengit kaget mendengar pertanyaan anaknya.


"Kok bengong sih! Jawab dong, dad!" Kevin semakin tidak sabar menunggu jawaban dari ayahnya.


"Banyak? Memang siapa aja?" tanya Alex heran, anaknya tahu dari mana kalau ibunya banyak.


"Mommy Paula, aunty Tere sama mommy Ary." jawab Kevin sambil menganggukkan kepalanya.


"Hadeehh! Siapa yang bilang, Kevin?" tanya Alex geram sambil menahan emosi.


"Nggak ada! Kata daddy dulu, nama mommy Kevin mommy Paula. Terus kata eyang uti, aunty Tere akan jadi mommy Kevin. Terus tadi, kita barusan pulang dari rumah mommy Ary." jawab Kevin dengan semangat.


"Banyak kan?" imbuh Kevin.


Alex dan papinya hanya bisa menepuk jidatnya. Sedangkan Anton malah tertawa terbahak-bahak, hingga keluar air matanya.


"Sudah ketawanya? Liat jalanan, jangan ketawa aja!" kata Alex ketus.


Anton tidak memperdulikan Alex, dia masih terus tertawa. Menertawakan kebodohan Alex, yang terlambat mengambil keputusan. Seandainya dari awal Alex dekat dengan anaknya pasti anaknya tidak akan terpengaruh dengan omongan orang lain, sekalipun itu neneknya.


Alex tidak menyangka maminya sudah mempengaruhi anaknya. Selama ini Alex memang kurang dekat dengan anaknya, dikarenakan sibuk mengurus bisnis keluarga. Alex merasa kecolongan, jadi sebisa mungkin dia akan menjauhkan anaknya dari Tere.


"Aunty Tere bukan mommy Kevin, dan tidak akan pernah menjadi mommy Kevin. Mommy Kevin yaitu mommy Paula, karena dia yang telah melahirkan Kevin. Mommy Ary juga mommy Kevin, karena dia yang akan menjadi istri daddy." jelas Alex pada anaknya itu, sambil mengusap kepala Kevin.

__ADS_1


"Tapi selama ini aunty Tere yang menemani Kevin bermain. Sedangkan mommy Ary, baru ini bertemu dengan Kevin." protes Kevin.


"Karena aunty Tere itu teman daddy, selain itu aunty Tere tidak bekerja jadi bebas mau bermain kapan saja." Alex langsung membantah protes Kevin.


"Sedangkan mommy Ary bekerja di luar kota, dia seorang dokter di daerah pelosok. Jadi dia sibuk menolong orang, mana sempat bermain dengan Kevin. Sedangkan sama daddy aja. jarang bertemu." Alex melanjutkan memberi penjelasan pada Kevin agar mau menerima Ary.


"Dokter?!" tanya Kevin kaget. Selama ini Kevin sangat takut jika diajak ke dokter.


"Iya!" jawab Alex sambil menganggukkan kepalanya.


"Kevin takut, dad!" kata Kevin ketakutan.


"Mommy Ary itu dokter yang baik dan ramah. Kenapa Kevin takut? Tadi mommy Ary baik, bukan?" tanya Alex, heran kenapa anaknya itu takut dengan dokter. Padahal selama ini dia tidak pernah menakut-nakuti anaknya tentang dokter. Seperti ada yang tidak beres ini! batin Alex.


"Kata eyang uti sama aunty Tere, dokter itu suka menyuntik anak yang nakal. Kata aunty Tere Kevin nakal." jawab Kevin.


"Eyang uti bohong! Orang yang disuntik dokter itu, bukan karena nakal tapi karena sakit. Disuntik biar cepet sembuh, cepet sehat!" jelas Kusuma ikut membantu Alex menjelaskan.


Mereka terdiam beberapa saat, karena tidak habis pikir jika Jessie sudah bertindak terlalu jauh.


"Sepertinya kamu kalah cepat dari ibumu, son!" kata Kusuma sambil menepuk pundak anaknya.


"Iya, Pi! Tapi aku yakin pasti aku akan lebih dulu mencapai tujuan." jawab Alex merasa yakin akan berhasil.


"Kamu harus bertindak lebih cepat lagi, agar ibumu tidak bisa menghadang langkahmu!" saran Kusuma.


"Dad, i'm sleepy!" ucap Kevin sambil menguap kemudian mengucek matanya yang mulai memerah karena menahan kantuk.


Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya Kevin langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan eyangnya. Kevin lebih dekat dengan eyangnya dari pada orang tuanya. Karena selama ini yang mengurus Kevin adalah kedua orang tua Alex.


Tak menunggu lama, anak kecil itu pun tertidur pulas di pangkuan eyangnya. Setelah melihat cucu laki-laki satu-satunya tertidur, Kusuma menghentikan aktivitasnya mengusap punggung Kevin. Sejak berpisah dengan ibunya, Kevin selalu meminta diusap punggungnya sebelum tidur. Jika tidak diusap , dia tidak akan bisa tertidur pulas.

__ADS_1


"Iya, Pi! Makanya Alex cepat-cepat melamar Ary tadi. Sebenarnya tiga bulan kelamaan buat Alex, tapi kata ayah mertua Alex harus belajar dulu keyakinan Ary. Biar saat pelaksanaan akad nikah lancar." jawab Alex.


"Maunya cepet aja! Sudah nggak sabar kamu! Kalau seiman besok pagi pun bisa, karena beda kamu harus sabar. Nikmati prosesnya, ikuti alurnya, biar selamat sampai tujuan." nasehat Kusuma sambil mengusap punggung Kevin.


"Pi, Alex boleh tahu masa lalu papi sama bunda?" tanya Alex tiba-tiba sesaat setelah pak Kusuma mengehentikan tangannya yang untuk mengusap punggung Kevin.


"Papi akan menceritakannya! Tapi apa nggak sebaiknya kita ceritanya sambil duduk minum kopi?" kata Kusuma, dia tidak ingin istrinya mendengar cerita ini nantinya.


"Nyet, cari kafe dekat sini aja!" kata Alex pada Anton.


"Beres, nyuk!" jawab Anton sambil celingukan mengedarkan pandangannya mencari kafe terdekat, serta memelankan laju mobilnya.


"Kalian ini, bisa nggak bahasanya jangan terlalu...! Hah!" kata Kusuma mengambang.


Kusuma tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena melihat anak kandungnya dan anak angkatnya selalu seperti itu. Walaupun mereka bukan saudara kandung, tapi mereka besar bersama sehingga terjalin ikatan batin yang kuat.


"Papi ini kek nggak pernah muda aja!" jawab Alex dan Anton bersamaan sambil tertawa.


"Kalian ini kompak banget kalau melawan papi sama mami!" cibir Kusuma.


"Karena ikatan batin kami kuat, Pi! Jadi kami bisa kompak." jawab Anton membela diri.


"Kompak melawan orang tua itu nggak baik!" kata Kusuma.


"Kami tidak melawan papi! Kami kan anak baik, mana berani melawan papi." kata Alex gantian yang melakukan pembelaan.


"Sudahlah! Ton, di depan ada kafe kan?" kata Kusuma mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, Pi! Niatnya Anton juga mau bawa papi ke situ. Kafe itu baru kemarin buka, Pi! Jadi kita cobain kopi di sini, siapa tahu pas di lidah." jawab Anton.


Akhirnya sampailah mereka di kafe yang baru beberapa hari buka. Suasana kafe sama seperti umumnya, hanya bedanya disini baristanya melakukan atraksi dalam meracik kopi. Sehingga bisa menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjungnya.

__ADS_1


__ADS_2