MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Bulan Madu


__ADS_3

Agam sudah merencanakan akan minta ijin seminggu untuk berbulan madu. Agam mengajukan ijin tidak masuk kerja pada Jum'at pagi. Dia sudah berencana malam Minggu akan membobol gawang dilanjutkan dengan bulan madu ke Kaliurang. Tidak usah jauh-jauh berbulan madu, yang penting tempatnya mendukung untuk mengurung Eno dalam kamar.


Di pernikahan yang pertamanya, Agam kurang dekat dengan istrinya. Hanya sekali sentuh, Anita langsung hamil. Anita yang memilih tinggal bersama orang tuanya, tidak dijadikan masalah buat Agam. Agam dan Anita menikah karena dijodohkan. Agam tidak mencintai Anita, tapi karena rasa bakti pada ibunya dia mau menikahi Anita. Agam menyentuh Anita karena desakan dari ibunya yang menginginkan cucu.


Saat berhubungan suami istri dengan Anita rasanya berbeda dengan saat bersama Eno. Saat bersama Eno ada rasa cinta yang membuncah sehingga tidak pernah ada kata puas. Yang ada selalu ketagihan. Sedangkan saat bersama Anita, Agam hanya merasa memenuhi kewajiban sebagai suami, yaitu memberi nafkah batin. Apalagi saat itu Anita terlalu agresif padanya.


Minggu sore, Agam membawa Eno ke sebuah vila di daerah Kaliurang. Jangan tanyakan bagaimana si kecil Fani. Fani terus menangis mencari ayah dan mamanya. Agam dan Eno meninggalkan rumah, saat Fani sedang terlelap karena kelelahan menangis.


Eno keluar kamar waktu makan siang telah lewat. Dia mendapati anak sambungnya menangis tiada henti. Dengan tubuh remuk redam, Eno menyuapi anaknya. Setelah kenyang, Eno pun menidurkan Fani.


Fani tertidur, Eno langsung ditarik tangannya oleh Agam. Eno yang mulai sedikit terlelap pun terkejut.


"Apa, mas?" tanya Eno lemah, masih mempertahankan posisinya rebahan di samping Fani.


"Ayo ikut aku!" jawab Agam masih memegang tangan Eno, sedikit menariknya agar Eno bangun dan mengikutinya.


"Kemana? Badanku lemes banget!" jawab Eno sambil malas-malasan bangkit dari posisinya.


"Bulan madu!" jawab Agam saat mereka sudah mencapai gawang pintu.


"Aku capek! Besok aja ya! Ya... ya... ya?!" ucap Eno sedikit membujuk.


"Kita ke Kaliurang malam ini! Kita harus segera berangkat agar tidak kemalaman di jalan," kata Agam masih terus menarik tangan Eno menuju mobilnya.


Saat Eno sibuk mengurus anaknya, Agam menyiapkan segala keperluan Eno dan dirinya yang akan digunakan selama di Kaliurang. Kemudian Agam mengangkat tas ranselnya dan menaruhnya di jok belakang mobilnya.


"Sudah sekarang kamu duduk manis saja di sini! Aku sudah pamitan sama mereka dan berpesan agar mereka mengurus Fani dan toko dengan baik." ucap Agam panjang dan lebar sambil memasangkan sabuk pengaman Eno.


Setelah menutup pintu, Agam berjalan memutar ke arah posisi kemudi. Dia masuk dan duduk, siap berangkat. Agam membunyikan klakson mobil tanda dia akan segera jalan. Agam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang agar Eno bisa kembali tidur di dalam mobil.


***


Sekitar jam tujuh malam mereka sampai di vila yang disewa Agam beberapa hari yang lalu.


Selama perjalanan Eno lebih banyak diam dan tidur ayam. Badannya terasa remuk redam karena ulah Agam yang tak pernah puas menggagahinya. Untuk mengeluarkan suara saja rasanya malas, apalagi untuk ngoceh ria seperti biasanya.

__ADS_1


"En, kok diam aja dari tadi. Kenapa, hmm?" tanya Agam saat melihat Eno melamun.


"Capek!" jawab Eno singkat, jangan lupakan bibirnya yang mencebik sehingga Agam ingin ******* bibir Eno yang bengkak itu.


"Tapi enak 'kan?" kata Agam sambil memainkan alis matanya.


"Capek ih! Sudah dibilang capek juga, masih aja ditanya!" jawab Eno semakin kesal.


Eno kesal karena terus digarap oleh Agam. Satu malam belum cukup juga menggarap Eno, masih berlanjut hingga pagi dan siang hari. Rasanya Eno ingin menghajar Agam, tapi apa daya tubuhnya juga menikmati sentuhan Agam.


"Oh! Ya sudah, kamu istirahat! Biar aku yang kerja, kamu tinggal menikmati saja!" jawab Agam sambil memarkir mobilnya di halaman vila yang asri.


"Yuk, turun!" ajak Agam sambil keluar dari mobil.


Karena badan yang terasa remuk redam dan miliknya yang terasa perih dan mengganjal, Eno tidak kunjung bergerak dari duduknya. Agam yang melihat itupun, mulai menurunkan ranselnya kemudian menggendongnya. Setelah itu membuka pintu mobil, mengangkat tubuh Eno. Agam menggendong Eno di depan ala bridal style.


"Bayi besar Mas manja banget sih!" ucap Agam sambil sesekali mencium kening Eno.


Agam menurunkan Eno di depan pintu utama vila yang disewanya. Agam mulai mengetuk pintu tersebut, tak berselang lama penjaga vila membuka pintu.


"Selamat malam, pak!" ucap Agam begitu penjaga vila membuka pintu.


"Iya, benar." jawab Agam.


"Silahkan masuk, semua sudah saya bersihkan. Tinggal menempati saja!" ucap bapak penjaga vila tersebut.


Agam dan Eno masuk ke vila, sedangkan penjaga vila memberikan kunci vila itu pada Agam kemudian meninggalkan Agam dan Eno.


***


Fani terus menangis karena kehilangan ibunya. Fani sudah terlanjur lengket dengan Eno sehingga susah pisah.


"Mamaaaa... Fani janji nggak nakal lagi!"


"Maaa... Fani ikut mama!"

__ADS_1


Fani terus menangis sambil memanggil Eno. Anak kecil itu terus menangis histeris. Akhirnya para karyawan Eno yang mengasuhnya merasa kasihan.


"Kita telepon juragan nona saja. Kasihan juragan cilik, dari tadi nangis terus," kata Wulan yang merasa iba melihat juragan ciliknya menangis terus ditinggal orang tuanya.


"Iya, kita video call aja. Biar dia tahu anaknya rewel!" jawab Leli mengompori.


Akhirnya Reni mengambil HP-nya untuk menghubungi sang juragan yang sedang berbulan madu. Walaupun ada rasa takut, tapi dia tetap melakukan panggilan video pada juragannya.


Tak lama kemudian panggilan video pun dilakukan.


"Ada apa, Ren?" tanya Eno begitu melihat wajah Reni di layar HP-nya.


"Itu mbak, si Fani menangis terus sejak tadi!" jawab Reni sedikit takut, takut menganggu.


"Mana anak mama? Mama mau lihat cantiknya anak mama," ucap Eno sambil tersenyum.


Fani yang mendengar suara ibunya langsung berhenti menangis. Dia mencari keberadaan ibunya.


"Fani, ini mama mau ngomong!" kata Reni sambil mengarahkan kamera HP-nya ke wajah Fani.


Fani langsung antusias ingin berbicara pada mamanya.


"Mamaaaa!" teriak Fani.


"Iya, sayang. Ada apa, hmm?" tanya Eno dengan suara lembut.


"Mama dimana? Fani ikut!" jawab Fani sambil memegang HP milik Reni.


"Mama masih di luar kota. Besok kalau sudah selesai, mama sama ayah langsung pulang. Fani jangan nakal selama mama nggak di rumah!" kata Eno menasehati anak sambungnya.


"Iya, ma!" jawab Fani sambil menunduk.


"Tapi mama jangan lama-lama perginya!" lanjut Fani.


"Iya! Mama nggak lama kok. Fani sudah makan malam belum?" tanya Eno, sesekali menyelipkan rambutnya yang berantakan ke belakang telinganya.

__ADS_1


"Belum!" jawab Fani kembali menunduk karena merasa bersalah.


"Sekarang Fani makan dulu sama mbak Arum. Mama tutup ya, mama juga mau makan malam. Assalamu'alaikum. Daaaghhhh!" kata Eno mengakhiri panggilannya sambil melambaikan tangannya.


__ADS_2