MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Ketakutan Eno


__ADS_3

Eno dihantui rasa bersalah karena belum sepenuhnya jujur pada Dzaky tentang pernikahannya. Tidak hanya rasa bersalah pada Dzaky, kepada Agam pun Eno juga merasa sangat bersalah karena belum bisa mencintai Agam.


Kesempatan untuk berbuat baik ternyata selalu ada. Begitu juga dengan niat baik Eno, dia secara tidak sengaja bertemu lagi dengan Dzaky di kota. Tepatnya di sebuah apotik, saat itu Eno ingin membeli obat penurun panas untuk anak sambungnya, Fani.


"Mbak, obat penurun panas untuk balita umur dua tahun ada?" kata Eno pada petugas penjaga apotik.


"Ada, mau yang rasa apa?" jawab penjaga apotik.


"Rasa jeruk aja deh!" jawab Eno. Dia juga membeli beberapa obat untuk mengisi kotak P3K miliknya yang di rumah.


"Berapa semuanya, mbak?" tanya Eno saat penjaga apotik menyerahkan beberapa obat yang dibelinya.


"Dua ratus dua puluh tujuh ribu." jawab penjaga apotik sambil menyerahkan sekantung plastik ukuran tiga kilogram pada Eno.


Eno pun membayar semuanya, kemudian berbalik. Sambil berjalan, Eno mengecek isi kantung plastik yang dibawanya tanpa melihat jalanan. Eno tidak sengaja menabrak pengunjung apotik yang baru saja masuk.


Bruk...


Plastik di tangan Eno terjatuh tapi isinya tidak berserakan.


"Maaf... maaf!" ucap Eno sambil mendongakkan kepalanya ke atas setelah mengambil kantung plastik yang terjatuh.


Eno langsung mematung menatap orang yang ditabraknya tadi.


"Lain kali kalau jalan itu lihat depan! Cerobohnya nggak hilang!" ucap seorang laki-laki yang suaranya sangat Eno kenal.


"Hehehe..." jawab Eno dengan cengiran kuda yang menjadi ciri khasnya.


"Belanja apa, banyak banget?!" tanya Dzaky sambil menunjuk plastik di tangan Eno dengan kepalanya.


"Oh, ini?! Obat penurun panas untuk anakku dan isi kotak P3K," jawab Eno tanpa menyadari jika dia menyebutkan anakku.


Mendengar kata anakku, Dzaky merasa heran dan marah sekaligus. Dia merasa dipermainkan oleh Eno.


"Anakku? Setahuku kamu masih perawan, atau kamu sengaja ngaku single padaku?!" kata Dzaky kasar, dia merasa dibohongi oleh Eno.


"Eh! Aku bisa jelaskan. Kamu jangan marah dulu!" kata Eno mencoba meredam kemarahan Dzaky.

__ADS_1


Eno merasa takut membuat keributan di apotik itu. Eno mengajak Dzaky keluar dari apotik.


"Aku minta maaf. Sesuai kesepakatan kita saat terakhir kali bertemu..." Eno terdiam sejenak untuk memantapkan hatinya untuk berkata jujur pada Dzaky. "Aku menerima lamaran seorang laki-laki. Dia seorang duda beranak satu. Sekarang kami sudah menikah, jadi anaknya juga anakku. Soal perawan atau tidak, biarlah itu hanya suamiku yang tahu!" akhirnya Eno bisa berkata jujur pada Dzaky.


"Hhh!" Eno menghembuskan nafas lega karena sudah bisa menyelesaikan masalahnya.


"Oh! Selamat kalau begitu, semoga bahagia!" ucap Dzaky sambil mengulurkan tangannya.


Eno menyambut uluran tangan Dzaky, mereka bersalaman sebagai seorang teman. Setelah itu Eno meninggalkan parkiran dengan hati lega.


Eno memutuskan untuk mencoba membuka hatinya untuk Agam, setelah bertemu dengan Dzaky. Walau bagaimanapun juga Agam sudah menjadi suaminya. Tidak hanya itu, Agam juga sangat menyayangi dan menghormatinya sebagai seorang istri. Masih pantaskah dia bersanding dengan Agam jika membuka hatinya saja tidak mampu.


"Aku janji, mulai saat ini aku akan mencoba mencintai mas Agam. Semoga bisa! Semangat!!!" batin Eno menyemangati diri sendiri.


***


Enam bulan sudah Agam dan Eno tidur seranjang bertiga dengan Fani. Agam selalu mencari cara agar Fani tidur di kamar sendiri, tapi Eno selalu mengiyakan jika Fani tidur di ranjang mereka.


Malam ini, Agam kembali meminta Fani untuk tidur terpisah dari orang tuanya. Bahkan berbagai iming-iming telah Agam lakukan agar anaknya mau tidur sendiri di kamar yang sudah dibuat sesuai keinginan Fani.


"Fani mau punya adik nggak?" tanya Agam akhirnya karena sudah putus asa.


"Mau! Adik yang nangis yah." jawab Fani antusias.


Usia Fani sudah lebih dua tahun, bicaranya pun sudah mulai lancar. Walaupun pada huruf tertentu dia tidak bisa mengucapkan dengan fasih, masih celat.


"Kalau Fani mau punya adik yang bisa nangis, Fani harus bobok di kamar Fani sendiri. Fani boboknya mau ditemani mbak Rani, mbak Sari atau sama mbak siapa? Ayah sama Mama mau buat adik buat Fani." ucap Agam pelan-pelan agar tidak terdengar istrinya.


Fani tampak berpikir sebentar. Bocah balita itu masih bingung harus bagaimana. Sejak lahir dia sudah terbiasa tidur dengan neneknya, kadang bersama ayahnya. Setelah memiliki ibu sambung, dia tidur dalam pelukan ibunya tersebut. Kini setelah tiga bulan terbiasa dengan pelukan sang ibu, tiba-tiba harus tidur dengan pengasuh.


"Fani mau punya adik," ucap Fani akhirnya.


"Jadi Fani mau bobok sama siapa malam ini?" tanya Agam.


Sebenarnya Agam sudah mencari seorang pengasuh untuk Fani, tapi Fani lebih memilih bermain dengan para karyawan toko. Sehingga pengasuh itu akhirnya membantu mengurus rumah.


"Fani mau mbak Yeyi!" ucap Fani.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kita cari mbak Leli. Ok?!" kata Agam sambil mengulurkan tangannya untuk menggendong Fani.


Mereka meninggalkan ruang keluarga menuju dapur yang merangkap sebagai ruang makan.


Masih menggendong Fani, Agam memanggil Leli dengan alat yang dipasang oleh Eno waktu itu.


Tak menunggu lama, Leli langsung turun mendatangi majikannya.


"Dalem, Mas Agam! Ada apa ya, kok malam-malam manggil Leli?" ucap Leli begitu sampai di depan Agam.


"Fani mau tidur sama kamu di kamarnya. Kamu temani dia mulai malam ini!" jawab Agam sambil menyerahkan Fani pada Leli.


"Baik, Mas! Ayok dek Fani bobok sama mbak Leli!" kata Leli sambil mengambil Fani dari gendongan Agam.


Eno mendekati Agam dan Leli karena penasaran.


"Ada apa sih, Mas?" tanya Eno berbisik di telinga Agam.


"Si Fani mau tidur ma Leli. Iya kan, sayang?" kata Agam sambil tersenyum.


"Fani mau punya adik, jadi Fani boboknya sama mbak Yeyi." jawab Fani.


"Mama dengar 'kan tadi? Fani mau adik, jadi mulai malam ini Fani bobok di kamar sendiri," ucap Agam.


"Oo... anak mama sudah besar, pintar lagi! Met bobok, jangan rewel ya!" kata Eno sambil mengusap kepala Fani kemudian mencium pipi serta keningnya.


Leli membawa Fani menuju kamarnya, sedangkan Agam mengajak Eno masuk kamar setelah mematikan TV yang tadi ditonton bersama.


Eno yang belum pernah tidur berdua dengan Agam merasa canggung. Dia merasa sekarang 'lah saatnya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dada Eno bergemuruh karena ini pertama kalinya dia akan melakukan itu.


Begitu pintu terkunci, Agam langsung memeluk Eno dari belakang. Kemudian mencium tengkuk leher Eno. Berpindah ke pelipis. Agam membalikkan badan Eno sehingga mereka berhadapan.


Agam pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Eno. Nafas mereka saling menerpa wajah. Agam memagut bibir Eno, menye sap, dan melu mat. Mereka saling bertukar saliva.


Eno sudah berpengalaman dalam berciu man begitu juga dengan Agam. Tapi Eno belum pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya.


Agam mulai melucuti pakaian Eno, kemudian mengangkat tubuh dalam sekali hentakan tanpa melepaskan pagutannya. Agam merebahkan Eno secara perlahan. Semua baju Agam sudah terlepas, hanya tinggal segitiga pengaman yang melekat.

__ADS_1


Saat Agam melepaskan kain terakhir yang melekat, Eno tidak sengaja menatap ke arah Agam. Eno langsung berdiri dan berlari ke arah sudut kamar.


__ADS_2