MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Mengenang Rendy


__ADS_3

Ary sangat terharu, karena keluarga Rendy masih menganggap dia sebagai keluarga. Walaupun Rendy sudah meninggal, keluarganya tetap menyayangi Ary seperti awal kenal. Bahkan warisan yang akan diberikan untuk Rendy, diberikan semua pada Ary.


Keesokan harinya, saat selesai sarapan Ary diajak duduk bersama di ruang keluarga. Disana semua anggota keluarga berkumpul. Ada kedua orang tua Rendy, Anggita dan nenek Rendy, serta Ary.


"Ary, tahukah kamu? Kenapa kamu kami panggil kemari?" tanya papa Rendy.


Ary menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak tahu apa-apa. Tapi Ary masih duduk tenang, karena dia tidak merasa bersalah.


"Kami sangat merindukannya." kata mama Hotma sambil meneteskan air matanya.


"Ma..." kata papa Candra.


Sampai saat ini mama Hotma masih sering menangis jika mengingat Rendy. Karena kesibukannya mengurus beberapa rumah makannya yang tersebar di beberapa daerah, dia tidak pernah bisa mendampingi Rendy.


"Pada awalnya kami ingin membangun pabrik kelapa sawit, mengingat perkebunan kami semakin lama semakin bertambah. Tapi karena anak kami sudah meninggal, kami berniat membangun rumah sakit atas nama Rendy." papa Candra membuka percakapan.


"Sebagai orang tua kami tidak pernah membedakan anak. Sejak awal kami membeli lahan perkebunan, sudah kami atasnamakan anak-anak kami. Mereka sekolah dengan biaya dari hasil perkebunan atas nama mereka sendiri. Jadi jangan heran kenapa Rendy sudah memiliki semuanya di usia muda. Itu semua karena dia mengikuti kami. Jiwa bisnisnya sudah ada sejak dia duduk di bangku SMA. Disini dia memiliki kafe yang dikelola oleh anak-anak jalanan yang dididiknya."


Papa Candra berhenti sejenak, dadanya mulai terasa sesak. Dia menyesal karena selama Rendy hidup dia tidak pernah memberikan perhatian. Perhatian orang tua terhadap anaknya. Bahkan karena sibuknya mencari lahan perkebunan, dia tidak mengetahui jika Rendy mengidap penyakit paru-paru hingga bertahun-tahun.


"Untuk mengenangnya dan sebagai tanda permintaan maaf kami padanya, kami berniat membangun sebuah rumah sakit. Kami harap Ary setuju, karena kami akan membangunnya di atas tanah Rendy." akhirnya papa Candra menyampaikan niatnya pada Ary.


"Kenapa harus menunggu Ary, pa? Papa sama mama kan bisa langsung membangun rumah sakit tanpa menunggu Ary. Itu hak papa dan mama." kata Ary.


"Kami menunggumu karena surat wasiat yang ditulis Rendy sewaktu kamu dinas pertama kali ke Kulonprogo. Kamu masih ingat apa isinya kan?" tanya papa Candra.


Ary hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Rendy menulis surat wasiat itu karena cinta yang dalam. Saat itu Rendy berpikir tidak akan pernah bisa menikah dengan Ary. Dia sudah putus asa, sehingga dia mulai malas makan dan meminum obatnya.


Sakit paru-paru yang membutuhkan pengobatan rutin harus sia-sia, hanya karena tidak meminum obat sehari saja. Sedangkan Rendy sudah hitungan minggu bahkan bulan tidak mengkonsumsi obatnya. Ditambah lagi malas makan sehingga terjadi gangguan pada lambungnya.

__ADS_1


Sakit paru-paru itu akhirnya berpengaruh terhadap kinerja jantung Rendy, sehingga terjadi komplikasi. Komplikasi pada paru-paru dan jantung ditambah lambung mengalami masalah, membuat Rendy sering tidak sadarkan diri. Apalagi saat itu semangat hidupnya sudah tidak ada lagi karena kepergian Ary keluar kota tanpa kabar.


Ary meneteskan air matanya mengingat saat-saat terakhirnya dengan Rendy. Begitu besar cinta Rendy kepadanya. Walaupun Rendy sering menjahilinya, tapi Rendy sangat menyayanginya.


"Ada beberapa tanah perkebunan kami atas nama Rendy, jadi sebelum kami mendirikan bangunan di atas tanah itu, kami meminta ijin dari nak Ary." kata papa Candra.


"Silahkan lakukan apapun yang penting untuk kebaikan bersama. Ary merasa itu bukan hak Ary sepenuhnya, karena itu dibeli oleh papa. Yang menjadi hak Ary hanyalah hasil kerja suami Ary, bukan hasil kerja mertua Ary." jawab Ary sambil menahan tangisnya.


"Kak, kita keluar sebentar yuk!" ajak Gita.


Gita merasa iba melihat Ary bersedih karena diingatkan lagi tentang abangnya. Gita pun bersedih setiap orang tuanya membahas abangnya yang sudah tiada.


Gita mengajak ke kamarnya terlebih dahulu sebelum keluar rumah untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung itu.


Saat berada di dalam kamar Gita, Ary melihat fotonya dan lukisan wajahnya.


"Gita, itu fotoku bukan?' tanya Ary penasaran, karena dia merasa tidak pernah memberikan fotonya pada Gita maupun Rendy.


"Kakak tidak merasa memberikan foto kakak pada kalian. Kenapa kalian bisa memilikinya?" tanya Ary.


"Lukisan itu dibuat sewaktu Abang masih SMA, katanya itu bidadari surganya. Setiap malam wanita itu selalu mendatangi Abang dalam alam mimpi. Dalam mimpi itu katanya wanita itulah yang akan menjadi istrinya. Kemudian Abang melukis wajah itu dan menyimpannya. Jadi sewaktu melihat kakak, Abang merasa telah menemukan bidadarinya. Begitu ceritanya." Gita bercerita tentang lukisan itu dengan semangat.


Ary meneteskan air matanya kembali. Dia merasa terharu mendengar cerita Gita. Mengingat betapa besar cinta Rendy kepadanya. Ary mengambil foto dan mengusap fotonya. Hal itu juga dilakukan terhadap lukisan Rendy.


Dalam lukisan itu menggambarkan seorang gadis cantik dan seorang laki-laki. Keduanya saling berpegangan tangan dan tertawa. Wajah dalam lukisan itu sangat mirip dengan wajahnya dan wajah Rendy.


Lukisan yang dibuat jauh sebelum Ary dan Rendy bertemu di dunia nyata. Rendy melukisnya berdasarkan mimpi yang datang saat dia terlelap tidur.


"Aku sudah siap, kak! Ayuk kita pergi!" ajak Gita begitu selesai menyiapkan beberapa barang yang akan dibawanya saat mengelilingi kampung.

__ADS_1


"Kakak jangan bersedih lagi ya!" bujuk Gita.


"Kakak tidak bersedih, hanya merasa terharu karena kakak begitu dicintai di keluarga ini. Terutama Abang!" jawab Ary sambil tersenyum.


"Gita mau ajak kakak mendatangi tempat kesukaan Abang. Setelah itu kita keliling kampung. Bagaimana?" tanya Gita meminta persetujuan dari Ary.


"Jauh nggak?" tanya Ary.


"Nggak jauh sih, tapi kita naik kereta aja ya?!" kata Gita sambil terus berjalan menuju garasi untuk mengambil motornya.


"Kereta?" tanya Ary bingung.


"Kereta itu sepeda motor kak, kalau sepeda disebut lereng." jelas Gita.


"Aku harus ajari kak Ary beberapa bahasa disini. Kalau gak diajari, takutnya nanti dia tidak tahu akan repot." batin Gita.


"Lucu ya?!" kata Ary spontan.


Gita memandang Ary dan menyipitkan sebelah matanya yang sipit itu untuk meminta penjelasan.


"Istilah disini, bahasanya banyak yang lucu terdengar di telinga kakak. Aneh dan lucu aja menurut kakak." kata Ary sambil mengusap tengkuknya karena takut menyinggung perasaan Gita.


"Banyak yang hampir sama kok dengan bahasa Jawa. Kalau kami di rumah pakai bahasa campur-campur, tapi seringnya bahasa Indonesia aja. Karena biasa digunakan oleh anak muda disini." jawab Gita.


"Oh, ya?! Berarti kalau kakak pakai bahasa Jawa, kalian tahu ya?" tanya Ary sambil menaiki motor yang dikemudikan oleh Gita.


"Iya, orang tua papa kan asli Jawa. Mereka transmigran. Sedangkan orang tua mama campuran. Ompung Doli asli Madina, orang disini menyebutnya orang kampung. Ompung Boru Jawa keknya, soalnya beliau pinter bahasa Jawa." jelas Gita melajukan motornya meninggalkan rumah besar itu.


Minta tolong dong 👉👈

__ADS_1


Jangan lupa pencet gambar jempolnya 🙏🙏🙏


Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2