
"Aku mencintai kamu lebih dari apapun. Bahkan aku rela menunggumu sampai sekarang. Itu bukti kalau aku mencintaimu." kata Alex kesal karena Ary memuji suami pertamanya.
"Masak sih? Kalau kamu rela menungguku kenapa menikah dengan Paula dan punya anak?" jawab Ary sambil berdiri, hendak ke ranjang.
Ary berjalan tertatih menuju ranjang. Rasa perih dan mengganjal belum juga hilang, padahal sudah tadi diobati. Setelah sampai di ranjang Ary langsung duduk bersandar di headboard ranjang, sebelumnya dia mengambil HP-nya.
"Itu! Itu karena aku khilaf." jawab Alex sambil mengusap tengkuknya.
"Hmm." jawab Ary sambil memainkan HP-nya, dia malas ribut dengan Alex.
Alex mendekati Ary, dia duduk di dekat Ary kemudian memijit kaki Ary.
"Ok! Aku memang salah, karena tidak bisa menahan naf su. Tapi ketahuilah, aku tersiksa karena merasa menjadi pengkhianat. Dalam hati dan pikiranku hanya ada kamu. Jangan marah ya!" bujuk Alex, dia takut Ary marah pasti kesejahteraan junior terancam.
"Aku tidak marah. Sama sekali tidak marah. Aku pun minta maaf, karena posisi dia tidak bisa digantikan oleh kamu." kata Ary lirih
Dalam hati kecilnya nama Rendy tidak tergantikan, dia menempati posisi tersendiri yang tak dapat digeser oleh siapapun. Tapi di hatinya itu juga terdapat nama Alex. Mereka menempati posisi masing-masing tanpa bisa tergantikan.
"Rendy dan Paula itu masa lalu kita, sekarang sebaiknya kita lebih fokus pada masa depan. Yang ada disini sekarang aku dan kamu, telah menjadi kita. Jadi aku harap kita melangkah ke depan, jangan lagi melihat ke belakang." kata Alex bijak.
Alex tidak ingin menyakiti Ary lagi, sebisa mungkin dia akan mengalah demi kebahagiaan mereka nantinya.
"Ok, mulai sekarang jangan bahas masa lalu lagi. Masa lalu biarlah berlalu, karena dia tidak akan bisa menjadi masa depan." jawab Ary sambil tersenyum.
"Janji?!" kata Alex sambil mengangsurkan jari kelingkingnya ke depan Ary.
"Kek anak kecil aja!" celetuk Ary cengengesan.
"Aku diajari Kevin." jawab Alex sambil nyengir.
Mereka berdua saling menautkan jari kelingking dan tertawa bersama.
"Aku ada janji ketemu sama Gerry saat makan siang, kamu mau ikut?" tanya Alex begitu melepaskan tautan jarinya.
"Aku disini saja, boleh?" kata Ary sambil meringis, dia malas keluar kamar karena selangkangannya masih sakit untuk berjalan.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanya Alex sambil mengusap wajah Ary.
"Masih, dikit! Lagian malu, jalanku kek bebek begini." jawab Ary nyengir.
"Ya sudah, ini sudah jam sebelas. Mungkin sebentar lagi dia datang. Aku tinggal sendiri nggak apa-apa, kan?" tanya Alex.
"Iya, aku nggak apa-apa kok. Sudah terbiasa sendiri ini." jawab Ary tersenyum.
"Kamu sekarang nggak sendiri lagi! Ada aku di sisimu. Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian, kecuali maut memisahkan." kata Alex.
"Iyaa!" jawab Ary.
"Apapun yang terjadi, kamu harus tetap bertahan di sisiku. Kita berjuang bersama-sama." pinta Alex sebelum meninggalkan Ary di kamar.
"Kata-kata kamu bikin merinding, seolah tak bisa menjaga aku." jawab Ary bergidik.
"Aku tinggal dulu, kalau butuh apa-apa kamu tinggal hubungi resepsionis atau pelayan saja. Jangan pergi sendiri, jika kamu bosan di kamar." pesan Alex sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Siaappp, bos?!" teriak Ary sambil menarik selimut untuk menutupi perut hingga kakinya.
Alex ada janji dengan Gerry untuk membahas outlet untuk display barang dagangan milik Gerry.
"Lo butuh berapa m² buat display barang dan lain-lainnya? Lo sudah perkirakan semuanya kan?!" kata Alex sambil menyesap jus jeruk miliknya.
"Seperti biasa aja, samakan sama yang lama. Jangan lupa tempatnya harus strategis, seperti biasanya!" jawab Gerry.
"Okelah kalau begitu, berarti samakan dengan yang lama. Nanti aku konfirmasi ma Thomas, dia yang bantu aku urus mall ini. Kemungkinan aku lebih sering disini nanti, tempat lain aku hanya kunjungan saja." kata Alex mengakhiri rapat kerja samanya.
"Kenapa? Lo mau tinggal disini?" tanya Gerry mengerutkan keningnya.
"Bini gue dinas di Kulonprogo, jadi kalau tinggal disini gue bisa pergi pagi pulang sore. Ngumpul terus ma anak bini!" jelas Alex.
Gerry menawarkan permen pada Alex, Alex mengambil satu untuk menghormati teman.
"Nggak trauma Lo? Dulu si Paula Lo bebasin kerja malah cari PIL( Pria Idaman Lain). Sekarang bini Lo kasih kerja juga, takutnya terulang lagi. Bini Lo yang ini bening banget, kalau gue jadi Lo, gue bakalan kurung terus bini gue dalam kamar. Jangan sampai dilirik cowok lain!" kata Gerry memanasi Alex.
__ADS_1
"Aku percaya sama dia, dia itu orangnya nggak gampang tergoda. Dia menjanda lima tahun masih virgin, asal Lo tahu!" jawab Alex santai.
"Apa-a? Yang bener aja, masak janda selama lima tahun masih perawan!" karena Gerry tidak percaya dengan kata-kata Alex.
Wanita secantik Ary ternyata janda ting-ting, kenapa bukan gue yang ketemu duluan ma dia. batin Gerry.
"Begitulah, makanya gue percaya kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi gue kasih ijin dia kerja." jawab Alex.
"Gimana rasanya, enakan ma Paula atau ma yang ini?" tanya Gerry sambil memainkan matanya.
"Jelas yang sekarang lah, masih ting-ting. Kalau yang lama, tong-tong alias blong!" jawab Alex bangga.
"Akhirnya Lo dapat juga yang orisinil! Selamat ya, semoga langgeng hingga anak cucu. Gue jalan dulu, bawa anak bini nih. Mereka ngajak ke Pangandaran." kata Gerry sambil berdiri hendak pamit.
"Yaa, rejeki gue! Hati-hati Lo bawa anak bini di jalan!" jawab Alex sambil bersalaman ala pria dengan Gerry.
"Kalau Lo butuh permen kek gini lagi, Lo calling gue aja!" bisik Gerry sebelum meninggalkan Alex.
Alex menjadi bertanya-tanya apa maksud ucapan Gerry tadi. Tapi Alex melupakan ucapan Gerry begitu mengingat istrinya di kamar.
Alex langsung meninggalkan tempat itu, dia kembali ke kamarnya. Alex sudah merasa sangat merindukan istrinya, padahal baru dua jam dia meninggalkan kamar. Alex berjalan cepat karena sudah tidak sabar untuk menemui sang pujaan hati.
Begitu sampai di kamar, dilihatnya Ary sedang tertidur pulas di atas ranjang. Posisi Ary miring membelakangi pintu. Ary sangat kelelahan, sehingga dia memilih tidur dari pada keluar kamar, ataupun melakukan kegiatan lainnya.
Melihat istrinya tertidur, Alex pun ikut merebahkan tubuhnya di belakang Ary. Alex membetulkan letak selimut Ary yang turun hingga ke kaki. Kemudian dia memeluk Ary dari belakang.
Saat kulitnya bersentuhan dengan Ary, juniornya langsung on. Padahal niat hati ingin menyusul Ary ke alam mimpi, tapi junior tiba-tiba terbangun dan langsung sakit keras.
"Kenapa Lo bangun, gue mau tidur! Gue juga butuh istirahat!" Alex memarahi juniornya yang tiba-tiba sakit keras.
Biasanya jika Alex tidak berpikir mesum juniornya tertidur. Tapi kali ini ada yg berbeda, tiba-tiba saja juniornya terbangun saat dia ingin tidur. Alex ingat perkataan Gerry tadi, dan dia merasa ada yang salah.
"Sial! Pasti gue dikerjain nih, sama monyet satu itu!" gerutu Alex.
"Masak gara-gara permen gue harus perkosa bini!" gumam Alex gelisah, antara membangunkan Ary atau ikut tidur.
__ADS_1