
"Bagaimana kabar pak Kemal?" tanya Kusuma begitu mereka duduk di ruang tamu.
"Alhamdulillah, seperti yang anda lihat!" jawab Kemal merentangkan kedua tangannya dengan tersenyum.
"Ary di rumah, Bun?" tanya Alex pada Widya yang saat itu menghidangkan kopi di meja.
"Bukannya ini hari kerja? Kalau hari kerja seperti ini, Ary tidak pernah pulang." Widya menjawab pertanyaan Alex dengan raut wajah heran.
"Tadi saya ke rumah sakit, Ary tidak masuk kerja. Lalu saya datangi ke rumah dinasnya , dia juga tidak ada. Saya kira dia pulang ke sini." jelas Alex.
"Apa sudah dicoba menghubungi HP-nya?" tanya Kemal.
"Tidak biasanya Ary menghilang tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan dia pergi tanpa kabar." kata Widya khawatir.
Ibu mana yang tidak mengkhawatirkan keadaan anaknya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tanpa tahu penyebab anaknya menghilang. Seandainya tahu penyebabnya mungkin tidak akan terlalu khawatir.
"Saya sudah berulangkali menghubungi Ary, yah. Tapi sepertinya HP-nya dimatikan sejak tadi malam. Tadi pagi pesan saya dibacanya, tapi dia tidak membalas atau menghubungi saya balik." Alex menceritakan jika Ary tidak bisa dihubungi melalui ponselnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Kalian itu sudah dewasa, bukan lagi anak ABG dengan pikiran labilnya!" kata Kemal marah.
Selama ini Kemal tidak pernah menunjukkan kemarahannya. Dia selalu sabar menghadapi semua orang yang mencari masalah padanya. Tapi kali ini, kemarahan jelas tampak dari raut wajahnya. Ary adalah hartanya yang berharga, semua tidak dibiarkan untuk menyakiti hartanya itu.
Bagi Kemal kebahagiaan Ary itu yang utama, biarlah dia menanggung semua beban Ary. Tidak sedikit pun Kemal biarkan Ary menangis. Tangis Ary adalah luka bagi Kemal.
"Kedatangan kami kesini ingin meminta maaf pada Ary dan kalian berdua. Saya selaku orang tua Alex, merasa sangat malu atas kelakuan Alex. Seharusnya dia tidak membuat Ary kecewa. Tapi percayalah, semua ini dia lakukan untuk Ary." kata Kusuma meraih cangkir kopi kemudian menyesapnya untuk membasahi tenggorokannya.
"Alex ingin memperkenalkan Ary pada keluarga kami, tadi malam. Saat pertemuan itu ternyata ada masalah lama yang belum Alex tuntaskan. Sehingga membuat ibunya dan calon istrinya kecewa dan terluka." lanjut Kusuma begitu selesai membasahi tenggorokannya.
"Masalah lama? Ada masalah apa sehingga Ary begitu kecewa hingga pergi tanpa kabar?" tanya Widya mengerutkan keningnya.
Widya merasa ada yang sedang Alex tutupi, sejak tadi jawaban dari Alex dan ayahnya hanya berputar-putar di tempat. Kemal yang juga menaruh kecurigaan seperti Widya pun akhirnya berbicara.
__ADS_1
"Jika kalian menutupi suatu masalah dan menyimpan rahasia besar untuk mendapatkan Ary. Jangan harap Ary bisa kalian temukan! Bahkan saya sendiri yang akan membawa Ary pergi jauh dari kalian, dan menyembunyikannya." kata Kemal dengan amarah yang berkobar.
Widya yang mendengar kata-kata Kemal yang penuh dengan kemarahan, langsung mengusap lengan Kemal. Widya bermaksud mengurangi emosi Kemal. Widya menyalurkan ketenangan untuk Kemal.
"Alex pernah bertunangan sebelumnya, dan pertunangan itu Alex akhiri tanpa memberitahukan pada kami, orang tuanya. Dia hanya memutuskan gadis tersebut. Dan gadis itu sampai sekarang masih berpura-pura menjadi tunangan Alex di hadapan istri saya." Kusuma akhirnya menjelaskan masalah yang sebenarnya pada orang tua Ary.
"Tadi malam adalah acara syukuran pembukaan mall baru kami. Alex mengajak Ary untuk dikenalkan pada seluruh keluarga dan koleganya. Tapi saat itu juga, istri saya memperkenalkan mantan tunangan Alex sebagai calon mantunya. Sehingga banyak dari tamu undangan itu yang bingung, sebenarnya siapa calon menantu kami. Di saat semuanya sibuk membicarakan siapa tunangan sebenarnya, Ary meninggalkan mall tanpa kami sadari." Kusuma mengakhiri ceritanya dengan wajah bersalah.
Kusuma dan Alex benar-benar menunjukkan penyesalannya atas kejadian tadi malam. Kejadian itu menjadi pukulan yang keras bagi Alex. Sehingga menyadari begitu banyak kesalahan yang telah Alex lakukan.
Kemal yang mendengar penjelasan dari Kusuma, emosinya kembali tersulut. Dia tidak menyangka jika Alex memperlakukan Ary dengan begitu buruk.
"Jika kamu belum bisa membahagiakannya setidaknya jangan buat dia menangis. Asal kamu tahu, semasa hidupnya kami tidak pernah membuatnya menangis. Begitu juga dengan Rendy, dia selalu berusaha membuat Ary tertawa. Walaupun Rendy membuat Ary menangis, karena Rendy dipanggil Tuhan." kata Kemal lirih, menahan sesak di dadanya.
"Alex minta maaf, yah! Alex sama sekali tidak bermaksud menyakiti Ary. Alex pikir masalah dengan Tere sudah selesai, karena Alex dan Tere sudah tidak ada hubungan apa-apa." kata Alex duduk bersimpuh di kaki Kemal.
"Seharusnya kamu minta maaf pada anak kami, bukan pada kami. Karena yang menjadi korban disini adalah Ary. Dia yang terluka karena perbuatan kamu." jawab Kemal datar.
"Alex benar-benar minta maaf ayah. Oleh karena itu, kami datang ke sini untuk bertemu langsung dengan Ary beserta ayah dan bunda." kata Alex masih pada posisi duduknya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Kemal begitu panggilannya tersambung.
"....."
"Alhamdulillah, ayah dan bunda sehat. Kamu sekarang dimana, nak?" tanya Kemal.
"....."
"Bagaimana keadaan mu? Ayah mau tanya sesuatu, boleh?" kata Kemal lembut.
"....."
__ADS_1
Alex dan Kusuma mendengarkan percakapan antara ayah dan anak itu. Perasaan mereka berdua was-was, takut Ary tidak mau pulang untuk memaafkan atau pun menemui mereka.
"Sebenarnya kamu dan Alex ada masalah apa? Kalian sudah sama-sama dewasa, sama-sama sudah pernah menikah. Apa pantas kamu pergi saat ada masalah? Masalah untuk dihadapi dan diselesaikan, bukan dihindari atau ditinggalkan." kata Kemal.
"....."
"Pulanglah, nak! Kita selesaikan bersama-sama masalah yang sedang kamu hadapi. Ayah yakin, anak ayah pasti akan menghadapi masalah yang sedang menguji. Apalagi kalian sudah merencanakan pernikahan, ujiannya banyak sekali." pinta Kemal pada anak kesayangannya.
"....."
"Iya , sayang! Ayah dan bunda tidak marah. Sebaiknya kamu segera pulang, biar cepat ringan beban di pundak mu."
"....."
"Baiklah, ayah tunggu di rumah. Kamu bawa sopir saja, atau minta antar siapa gitu!" pesan Kemal.
"....."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh!". jawab Kemal sebelum mengakhiri panggilannya.
Kemal mengambil udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya perlahan. Baru kali ini dia menghadapi masalah seperti ini. Kedua kakak Ary tidak ada masalah dengan pernikahannya. Mereka tidak pernah membuat kedua orang tuanya gelisah.
Kemal pun menyadari, mungkin perbedaan antara Ary dan Alex yang membuat mereka selalu dirundung masalah. Perbedaan yang sulit untuk disatukan, serta restu yang belum sepenuhnya, membuat Ary dan Alex sulit untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
"Bagaimana, yah? Apakah Ary akan pulang ke sini?" berondong Alex begitu Kemal mengakhiri panggilan dengan Ary.
"Ary akan pulang. Sebaiknya sekarang kalian pulang dulu, besok ke sini lagi." saran Kemal pada Alex dan Kusuma.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang." kata Kusuma sambil berdiri dari duduknya.
Kusuma dan Kemal saling berjabat tangan sebagai salam perpisahan. Kusuma juga menyalami tangan Widya.
__ADS_1
Giliran Alex berjabat tangan dengan Kemal, karena tadi dia terlebih dahulu berjabat tangan dengan Widya.
"Ingat, jangan pernah buat dia menangis! Jika itu terjadi, kamu tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengannya!" ancam Kemal pada Alex saat mereka berjabat tangan.