MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Hanya Tunangan


__ADS_3

"Hanya tunangan saja! Bukan menikah!" batin Alex.


Alex mengikuti permainan ibunya, sekarang belum saatnya untuk melawan. Karena bagaimanapun juga dia harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai rencananya hancur berantakan karena melakukan perlawanan di saat yang tidak tepat.


Senyum Tere terus mengembang selama acara berlangsung, setelah menjadi tunangan Alex. Berbeda jauh dengan Alex, tak ada sedikitpun senyum terlihat di wajahnya.


Anton datang terlambat, karena dia sedang mengurus pertemuannya dengan supplier baru. Sehingga dia tidak bisa membantu Alex menggagalkan pertunangan itu.


Setelah berbasa-basi sebentar, Alex pamit pada kedua keluarga itu, untuk kembali ke ruang kerjanya bersama Anton. Tentunya dengan alasan pekerjaan agar dilepaskan ibunya.


"Dasar nggak guna, Lo telat! Gara-gara Lo telat, terpaksa gue harus memakai cincin sialan ini!" teriak Alex sambil melempar cincin yang tadi dipasangkan oleh Tere.


Dengan sigap Anton menangkap cincin itu, dia tidak mau terkena masalah karena cincin itu hilang.


"Sorry, supplier baru itu susah ditaklukkan. Banyak sekali mintanya, katanya cuma dia yang memasok ikan beku di daerah Jogja dan sekitarnya. Jadi rapat berjalan alot!" Anton menjelaskan alasannya telat datang.


"Sekarang Lo cari cara untuk membatalkan pertunangan, agar tidak berlanjut ke pelaminan!" perintah Alex mulai frustasi.


"Belum juga mendapatkan kepercayaan Ary, sekarang gue sudah bertunangan dengan Tere. Arghhhh..." teriak Alex lagi sambil meremas rambutnya.


"Sabar! Kita ikuti saja permainan mereka. Disuruh tunangan, jalankan asal jangan menikah. Kita cari cara agar kita tidak terlihat bersalah jika pertunangan ini batal. Buat Tere menyerah menghadapi kamu!" kata Anton mencoba menenangkan Alex.


"Baiklah, nanti kita cari tahu bagaimana caranya. Sekarang kita bahas pekerjaan!" kata Alex setelah mulai tenang.


Akhirnya mereka berdua tenggelam dengan pekerjaannya masing-masing. Hingga Tere dan keluarganya pamitan pulang pun, Alex dan Anton tidak bergeming sama sekali.


Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, menandakan hari telah berganti malam. Anton baru saja pamit pada Alex, pulang ke rumahnya.


Sesaat setelah Anton keluar dari ruang kerja Alex, terdengar suara HP Alex berbunyi. Alex melirik sekilas saja, tampak nama Eno Mundar-mandir tertera di HP-nya. Tidak menunggu waktu lama, Alex langsung mengangkat HP-nya, untuk menjawab panggilan Eno.


"Met petang, Bos!" sapa Eno begitu Alex menekan tombol terima.


"Hmm!" jawab Alex singkat.


"Keknya mood si bos lagi buruk ya? Mau aku kasih mood booster nggak?" tanya Eno cengengesan.


"Apaan, cepet bilang!" sahut Alex dari seberang telepon.

__ADS_1


"Sabar dong! Nggak sabaran amat jadi orang, amat aja selalu sabar!" gerutu Eno.


"Aku belum mandi nih! Sudah gerah mau mandi. Buruan apa yang mau kamu katakan!" teriak Alex mulai kesal .


"Aku mau pamit, besok aku berangkat ke pulau Sumatera. Jangan lupa besok pagi jam delapan, kamu ke bandara Adi Sucipto!" kata Eno.


"Pasti mau minta ucapan selamat jalan kan? Mau kado perpisahan kan?" tanya Alex dengan segala pikiran buruknya.


"Enak aja! Kalau gak mau datang, dijamin nyesel seumur hidup Lo!" teriak Eno kesal, karena Alex mengira dia menelepon karena mau minta sesuatu untuk kado perpisahannya.


"Emang ada apa, kok aku harus datang?' tanya Alex mulai penasaran.


"Ada dehhhh! Mau tahu aja, apa mau tahu banget?' ledek Eno.


"Serius wooiii! Orang penasaran malah dikerjain, nanti kalau gue mati penasaran gimana?" tanya Alex mengikuti suasana hati Eno.


Eno yang selalu ceria selalu membawa aura positif bagi orang di sekitarnya. Seperti saat ini, kekesalan Alex bisa sedikit terhibur dengan kehadiran Eno, walaupun hanya melalui telepon.


"Iyaa, serius! Pokoknya surprise buat besok!" jawab Eno sambil menahan tawanya di seberang telepon.


"Awas kalau Lo ngerjain gue! Gue bakalan pites hidung Lo!" ancam Alex.


"Oke, besok pagi gue pergi. Jam delapan pagi tepat gue pastikan, gue sudah disana!" jawab Alex sebelum mengakhiri panggilan telepon dari Eno.


***


"Besok kalian naik pesawat jam berapa?" tanya Ary.


Saat ini Ary berada di rumah Eno, dia berencana menginap di rumah Eno. Karena besok pagi Agam akan membawa anak istrinya ke tempat dinasnya yang baru.


"Pagi, jam sembilan!" jawab Agam dengan Richard duduk di pangkuannya.


"Berarti dari sini pagi buta ya, perjalanan dari sini menuju Adi Sucipto kan lumayan." kata Ary.


(Latar ceritanya saat bandara di Kulonprogo belum dibangun ya, soalnya YIA baru saja beroperasi 🙈🤭)


"Iya, sebelum subuh harus sudah mulai berkemas, agar tidak ketinggalan!" sahut Eno yang baru saja datang dari dapur. Eno membuat minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Makanya, kamu besok juga ikut bantuin aku ya! Sekalian antar kami ke bandara!" lanjut Eno sambil meletakkan gelas ke meja.


"Iya, besok aku bantu urus anak-anak aja! Kamu urus suami ma barang keperluan kalian di jalan." jawab Ary sambil tersenyum.


"Kok itu pasti! Aku akan mengurus suamiku sampai puas." kata Eno tertawa.


"Ehemmm!" Agam berdehem menanggapi celotehan istrinya yang mulai melantur.


"Ada pak Ustadz, jangan bahas yang merembet anu!" bisik Eno di telinga Ary.


"Yang mulai bahas anu juga siapa?!" jawab Ary sambil memutar bola matanya, menghadapi kelakuan Eno.


"Kalian nanti tinggal di daerah mana? Siapa tahu nanti, kalau aku pas lihat rumah sakit Abang bisa mampir." tanya Ary sambil mengambil gelas di meja, kemudian mulai menyesapnya.


"Koramil Labuhan**** lumayan juga sih dari Kualanamu." jawab Agam menyerahkan Richard pada Eno.


"Sepertinya aku pernah dengar atau baca gitu, bentar ya aku lihat memo di hp ku!" kata Ary, dia tidak tahu padahal tempat itu tidak jauh dari rumah mertuanya.


"Tunggu! Aku buka google dulu! Nah, kan kita tetanggaan juga disana!" Ary ngomong sendiri sambil melihat ke HP-nya.


"Kenapa sih, Ar? Heboh sendiri!" tanya Eno penasaran karena sejak tadi mata Ary ke HP tapi mulutnya tidak berhenti ngomong.


"Rumah orang tua Abang di dekat tempat kalian tinggal nanti!" teriak Ary dengan mata berbinar, dia tidak menyangka bahwa mereka akan selalu berdekatan.


"Benarkah?" tanya Eno ikut senang.


"Iya, lihatlah!" kata Ary sambil menunjukkan HP-nya pada Eno.


"Mas, kita nanti disana juga bertetangga dengan Ary. Wah kebetulan yang menguntungkan." teriak Eno pada Agam.


"Iyakah, kalau begitu pasti Ary akan sering mengunjungi kita disana!" jawab Agam.


"Nggak bisa sering datang, mas! Tanggung jawabku disini sangat besar, tidak bisa ditinggal begitu saja." jawab Ary menanggapi perkataan Agam.


"Yaa, sayang sekali! Padahal duitmu banyak, bisa saja kan seminggu sekali mengunjungi kami." kata Eno memelas.


"Semoga saja bisa ya, tapi sepertinya susah kalau seminggu sekali. Sebulan sekali mungkin masih bisa. Kan aku kerja, bukan berdiam diri di rumah." kata Ary menenangkan Eno agar tidak kecewa.

__ADS_1


"Mau sebulan sekali, mau seminggu sekali, mau dua Minggu sekali, yang penting sering mengunjungi kita disana nanti!" sahut Agam, untuk menghentikan perdebatan kedua sahabat tersebut.


"Sudah malam, sekarang kita tidur! Biar besok tidak kesiangan berangkat ke bandara." imbuh Agam sambil menggendong Richard yang tertidur di pangkuan istrinya.


__ADS_2