
Alex berusaha menahan hasratnya, dia tidak tega membangunkan Ary. Alex mengalihkan perhatiannya pada hal lain, agar juniornya tertidur. Mulai dari menetralkan pikiran, sibuk dengan pekerjaannya hingga nge gym. Tapi semua itu sia-sia, junior tetap tegak berdiri tidak mau tidur. Hingga akhirnya Alex tertidur karena kelelahan, tapi junior tetap tidak mau tidur.
Sore hari, Ary terbangun kala mentari berubah warna menjadi jingga. Ary merasa ada yang menimpa perutnya. Dilihatnya tangan Alex sedang memeluk perutnya dari belakang. Dengan perlahan Ary memindahkan tangan Alex dari perutnya.
Alex yang merasakan ada pergerakan di sampingnya pun terbangun. Setengah jam sudah Alex tertidur pulas, tapi sayangnya si junior tetap tidak mau tidur. Alex pun merasa heran, ada apa dengan juniornya.
"Sayang..." suara Alex terdengar serak karena baru terbangun.
Ary yang mendengar suara Alex langsung menoleh ke arah suaminya yang masih berbaring di atas ranjang.
"Maaf, aku jadi membangunkan kamu!" kata Ary salah paham, Ary berpikir dia telah membuat Alex terbangun.
"Nggak apa-apa! Bukan itu, aku memanggil kamu cuma memastikan kamu masih disini." jawab Alex sambil menguap kemudian meregangkan tubuhnya agar kantuknya hilang.
"Aku mau mandi, sudah sore. Aku belum menjalankan kewajibanku." kata Ary sambil meninggalkan Alex menuju kamar mandi.
Alex pun bangun, dan berjalan menuju balkon, dia menikmati langit sore. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya perlahan. Alex tidak habis pikir, kenapa gara-gara sebutir permen membuatnya tersiksa.
***
"Yang, itunya masih sakit nggak?" tanya Alex sambil memeluk dari belakang sesekali menggesekkan juniornya yang sakit keras ke bo kong Ary.
Mereka saat ini berdiri di balkon, dengan posisi Ary berdiri berpegangan pada pagar stainless yang mengitari balkon.
"Sudah mendingan!" jawab Ary singkat, Ary sudah tahu maksud pertanyaan suaminya.
"Aku sakit keras, obatin dong!" rengek Alex meminta haknya.
Tak lama kemudian Alex langsung mengecupi leher Ary dari samping. Alex sudah tidak bisa menahan lagi, setelah hampir seharian dia tersiksa, dia butuh pelampiasan.
__ADS_1
"Hmmm..." gumam Ary saat merasakan geli karena ulah Alex.
"Masuk yuk! Aku sudah tidak tahan lagi. Selama kamu tidur tadi, dia sudah terbangun dan tidak mau tidur. Sekarang tugas kamu menidurkan dia." kata Alex sambil menunjuk bawah, antara kedua pahanya.
Tampak oleh Ary sesuatu yang menonjol besar di sana. Walaupun tertutup rapat oleh celana jeans Alex, tapi tonjolan itu tercetak jelas besar dan panjang. Sebagai seorang istri sekaligus pawang ular Alex, Ary harus memenuhi kewajibannya. Ary menganggukkan kepalanya saat Alex mengajaknya bercocok tanam.
Alex mulai menyerang Ary, mengecup leher Ary dari samping memutar hingga bagian depan. Ary berusaha menghindari serangan Alex yang semakin ganas. Alex menyesap leher Ary hingga meninggalkan bekas merah kebiruan.
"Ahhh..." desa han lolos dari bibir Ary.
Alex memagut bibir Ary, Melu mat, menyesap dan menghisap. Alex melepaskan pagutannya sebentar untuk mengambil nafas. Kemudian Alex kembali menyerang bibir Ary hingga sedikit terbuka. Melesak masuk kemudian Alex mengabsen seluruh isi rongga mulut Ary.
Turun dari mulut menuju leher terus menyusuri hingga ke bukit kecil yang menyerupai squishy. Mulut Alex bermain-main di tempat favoritnya, tangannya pun tak tinggal diam. Alex mulai melepas satu persatu kain yang melekat pada tubuh Ary, hingga menyisakan segitiga bermuda yang menutupi milik Ary.
Setelahnya Alex mulai membuka pakaian dan celananya. Alex merebahkan Ary di ranjang sambil terus mencium, menji Lat dan menye sap. Dengan tangan satu berada di bukit, dan satunya lagi berada di lembah. Alex mulai melakukan penyatuan saat inti Ary sudah basah.
"Ahh... sempit sekali!" racau Alex.
Entah sudah berapa kali Ary mencapai puncaknya, tapi sepertinya sang junior masih terlihat kuat. Tidak ada tanda-tanda akan ada pelepasan. Bahkan sudah hitungan jam junior di dalam Ary. Sepertinya permen yang diberikan Gerry pada Alex bukanlah permen biasa. Terbukti dari junior yang tidak mau tidur sama sekali walaupun sudah terjepit sangat lama.
Ary sampai lemas karena kelelahan, tapi Alex masih tampak bugar dan terus memacu junior. Hingga akhirnya Alex memacu semakin cepat dan pelepasan pun terjadi saat Ary sudah terkulai tak berdaya.
"Maaf!" kata Alex sambil mencium kening Ary.
Alex meminta maaf karena sudah membuat Ary lemas. Walaupun awalnya Ary sangat menikmati, tapi akhirnya harus terkulai lemas dan remuk badannya.
Ary tertidur pulas karena kelelahan, sedangkan Alex langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena aktivitas fisik baru saja.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ternyata junior masih tegak berdiri. Alex pun mulai gelisah memikirkan bagaimana caranya menidurkan juniornya. Alex duduk termenung di sofa kamar itu.
__ADS_1
"Bagaimana ini, kalau aku terus menerkam Ary. Dia pasti tidak sanggup lagi, kasihan dia. Aku tidak mau istriku sakit, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa." gumam Alex.
"Kamu kenapa masih berdiri tegak seperti menara. Padahal badanku sudah letih, lututku pun ngilu rasanya." kata Alex sambil memandang juniornya.
***
Keesokan harinya, Alex terbangun terlebih dahulu. Dia hanya tidur dua jam saja, dikarenakan sang junior yang tak kunjung tidur.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Alex menghubungi Gerry dengan berdiri di balkon, agar istrinya tidak mendengar. Dia ingin memaki Gerry karena membuat istrinya lemas karena kelelahan.
"Siyalan, dia tidak mau mengangkat panggilanku!" maki Alex karena sudah berulangkali menghubungi Gerry tapi tidak ada jawaban.
"Awas kau! Sudah membuat kami tersiksa dengan permen itu!" Alex terus memaki dan mengumpat teman seperjuangannya saat di kuliah di Singapura.
Ary yang mendengar umpatan dan makian Alex pun terbangun. Padahal Alex sudah memelankan suaranya, sedang jarak ranjang dengan balkon cukup jauh.
Ary mulai mengucek matanya untuk menghilangkan kantuknya. Ary merasakan badannya lebih sakit dari sebelumnya. Karena tadi malam Alex begitu ganas menerkamnya.
Ary menjadi teringat kata-kata Eno tempo hari, bahwa dia harus menyiapkan dirinya untuk dibantai Alex. Ary pun bergidik ngeri, dan mulai mempercayai kata-kata Eno. Padahal sebenarnya Alex sudah berusaha menahan hasratnya, tapi karena pengaruh permen pemberian Gerry, Alex menjadi sangat ganas membantainya.
Ary melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dia mulai bangkit dan berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi. Tak sengaja Alex melihat Ary, langsung berlari menuju Ary. Alex langsung menggendong Ary ala bridal style.
"Ahhh!" teriak Ary terkejut saat Alex tiba-tiba badannya terangkat.
"Tenanglah, aku hanya membawamu ke kamar mandi. Itu pasti sakit sekali, hmm." kata Alex sambil menggendong Ary ke kamar mandi.
Ary hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alex. Tangan Ary melingkar di leher Alex.
__ADS_1
Alex membawa Ary ke bath up, menurunkan Ary secara perlahan. Kemudian mengambil selimut yang membungkus tubuh Ary. Setelahnya mengisi bath up dengan Ary hangat, agar badan Ary rileks dan segar.
"Mandilah, aku akan keluar. Kalau sudah selesai teriak saja. Aku akan menggendongmu lagi." kata Alex sambil mengusap kepala Ary dengan sayang.