
Kiara di rumah Nayla sangat kasihan melihat Nayla yang teler karena kehamilannya. Kiara berbagi pengalaman dengan Nayla ketika Kiara hamil Daffa.
Kiara dengan telaten juga berbagi kepada Nayla ketika menyikapi kalau dirinya sedang teler waktu hamil. Di saat mereka sedang ngobrol, Nayla sudah mulai membaik. Kiara cara memberi rujak untuk Nayla sehingga Nayla sangat menikmatinya.
“ Kiara, rujak buah yang kamu bawakan ini sangat lezat dan aku serasa bertambah semangat. Rasa mual, dan rasa pening aku seolah-olah telah hilang. Aku seperti mendapat kekuatan untuk bisa beraktivitas kembali seperti biasa,” ucap Nayla senang dan tanpa basa-basi Nayla menghabiskan rujak yang dibawakan oleh Kiara.
“Ini buatnya gampang kok! Jadi kalau kamu menginginkan bisa langsung meminta si Mbok kamu untuk membuatkan,” ucap Kiara sambil memberinya cara-cara membuat rujak tersebut. Mereka berdua ngobrol dengan semangat dan tanpa mereka sadari suami mereka telah mengintai kegiatan mereka berdua di depan pintu.
“Varel, tuh liat! Aku rasa Kiara bisa mengatasi permasalahan mu! Itu Si Nayla sudah ada pawangnya nya! Ntar aku jamin kamu semalaman akan tidur enak,” bisik Agam kepada sahabatnya. Hingga akhirnya Agam menarik Varel untuk pergi kembali ke ruang tengah.
“Iya, aku heran. Kalau dilihat seperti itu dia nampak baik-baik saja. Bahkan dia seperti punya tenaga ekstra,” ucap Varel penasaran dengan istrinya yang sudah kelihatan biasa dan bertenaga.
“Makanya kalau punya teman itu diajak sering, dan lagian kamu punya masalah kamu selesaikan sendiri. Tanya dong sama yang lebih pengalaman?” goda Agam kepada sahabatnya Varel.
“Iya…, iya dari dulu smapai sekarang kau adalah sahabatku yang terbaik!” jawab Varel berusaha menyenagkan Agam.
“Ha…, ha…, mau bagaimanapun kamu itu tidak bisa lepas dari aku dong Rel? Lihat kamu dapat istri juga sahabat dari istriku. Kalau kita tahu semua itu kayak sudah ada yang mengatur. Kita berdua dari kecil hingga sudah beristri tetap saja tidak bisa dipisahkan. Dan yang terpenting kita harus bisa menjaga perasaan satu dengan yang lainnya,” ucap Agam senang karena dalam hatinya yang terdalam dia seperti mempunyai saudara laki-laki meskipun tidak terlahir dengan rahim yang sama.
Bahkan varel pun tidak segan-segan tanya kepada Agam tentang bagaimana dia kalau menginginkan hubungan suami istri ketika istrinya sedang hamil. Agam pun juga berbagai pengalaman bagaimana dirinya memulai berhubungan intim dengan istrinya di waktu hamil.
Bahkan Agam pun juga membagikan pengalamannya bagaimana dia menyikapi dirinya ketika istrinya belum bisa disentuh terutama di kehamilan trisemester pertama.
Mereka berdua ngobrol hingga sore hari, bahkan mereka tidak kembali lagi ke kantor yang kebetulan pekerjaan di kantor sudah terselesaikan dengan baik. Klien mereka hari ini juga sudah closing untuk melakukan kerjasama dengan mereka.
__ADS_1
Mereka berempat juga shalat Ashar bersama di rumah Varel. Setelah sholat bersama Kiara pamitan pulang karena Daffa terlalu lama ditinggal.
Sepeninggal Kiara dan Agam, Nayla kembali mulai manja terhadap suaminya. Kali ini tanpa sebab tiba–tiba Nayla menangis.
“Hik…, hik…, kakak jahat!” ucap Nayla tiba-tiba kepada suaminya. Varel yang tidak mengerti apa-apa langsung bingung melihat tingkah Nayla.
“Sayang, kamu kenapa? Dan aku jahat kenapa?” tanya Varel masih bingung dengan tingkah istrinya.
“Aku ingin makan. dan aku pengen disuapin oleh kakak,” ucap Nayla kepada suaminya dengan sangat manja memeluk lengan suaminya dan bergelayutan sambil mengusap-usap kumis Varel dimainkan dengan tangannya.
“Astaga sayang geli tahu!” ucap Varel sambil menepiskan tangannya Nayla tapi yang ada Nayla menangis sesenggukan dan langsung meninggalkan suaminya pergi ke kamar. Varel dengan cekatan menyusul Nayla ke kamarnya, namun sayang kamarnya dikunci dari dalam.
Varel bingung dengan sikap istri, kemudian dengan cekatan mengambil kunci cadangan yang terletak di dekat kulkas dapur.
“Ini tuan? Maaf untuk apa ya? Bukannya kunci biasanya juga sudah ada di pintu?” ucap si Mbok bingung menanggapi ulah tuannya.
“Nyonya muda ngambek Mbok! Entahlah tiba-tiba gak jelas menangis dan marah-marah!” ucap Vael memberi keterangan tentang kemarahan istrinya.
“Tuan muda yang sabar ya? Itu mungkin bawaan calon bayi tuan muda? Nyonya muda jangan dimarahi ya?” ucap si Mbok lembut yang memang sudah memperlakukan mereka berdua seperti putranya sendiri.
“Iya mbok terimakasih. Ini aku akan ke kamar dulu, tolong siapkan makanan kesukaan Nayla ya? Nanti kalau sudah jadi bawakan ke kamar kita Mbok? Biar aku suapin!” ucap Varel yang terus bergegas menuju ke kamarnya kembali.
“Sayang…, kakak masuk ya?” ucap Varel masih juga minta izin sama Nayla namun tidak juga ada jawaban. Varel pun tanpa menghiraukan lagi langsung membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan. Varel melihat Nayla tidur dengan posisi menghadap ke tembok dengan bahu yang masih berguncang menunjukan dirinya masih menangis.
__ADS_1
Pelan-pelan Varel naik ke ranjang untuk mendekati istrinya kemudian membalik tubuh istrinya dan dicium kening dan bibir istrinya.
“Sayang maafkan aku ya? Bukan maksud aku membentak kamu, aku sangatlah geli jika kamu perlakukan seperti itu!” ucap Varel yang terus menciumi istrinya dengan pelan dan lembut. Varel pun tak lupa mencium perut Nayla yang mulai membuncit dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
“Sayang, anaknya papa. Papa maaf ya? Papa sangat sayang sama kamu dan mama kamu kok! Kalau gak percaya boleh kok belah dada papa?” ucapnya mulai merayu istrinya.
“Ih…papa kalau dibelah berarti semua isi yang ada di dada papa keluar semua dong?” ucap Nayla yang mulai tenang.
“He eh…, termasuk isi hatiku! Cinta aku yang besar dan tulus telah tertulis untuk kamu dan putra-putra kita sayang?” ucapnya kembali mencium bibir istrinya dengan kasih sayangnya.
“Gombal, lama-lama kamu ketularan kak Agam dech. Sama-sama suka ngegombal!” ucap Nayla yang sering mendengar cerita dan curhatan temannya Kiara.
“He…, kita dari orok memang sering bersama sayang?” ucap Varel mulai tertawa mendengar ocehan istrinya.
“Iya…, aku percaya,” ucap Nayla yang mulai memeluk Varel lembut dan keningnya ditempelkan di kening suaminya.
“Tok…, tok…,” suara ketukan pintu menyadarkan mereka berdua hingga akhirnya mereka berdua melepaskan pelukannya.
Varel yang tahu kalau yang datang si Mbok langsung memintanya masuk dan mengambil makanan yang dibawa si Mbok. Setelah si Mbok pergi Varel menyuapi istrinya untuk makan, bahkan kadang-kadang dirinya juga ikutan makan. Disela-sela mereka makan juga sering bercanda sehingga suasana nampak menunjukan rasa gembira mereka.
Varel juga meminta istrinya untuk makan dengan kenyang tanpa harus takut gemuk karena putranya yang di dalam perutnya juga butuh nutrisi yang banyak.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1