
Matahari sudah mulai tenggelam sehingga sebentar lagi malam akan tiba. Agam yang berada di dekat istrinya mengingatkan kembali izin dirinya untuk makan bersama teman lama waktu kuliah bersama Varel.
“ Bagaimana Sayang, aku boleh pergi atau tidak?” tanya Agam kepada istrinya. Agam yang setia tidak akan pergi tanpa izin dari istri tercintanya. Kiara yang menggoda ada suaminya seolah-olah mengabaikan apa yang ditanyakan oleh suaminya.
“Kasih izin apa tidak ya? Bagaimana nak, kita izinkan Papa apa tidak?” tanya Kiara berusaha interaksi dengan dan putranya. Daffa yang tahu mamanya hanya berusaha tersenyum kepada mamanya.
“Sayang, mana bisa nggak kamu jawab pertanyaan ku?” ucap Agam mulai resah dengan tingkah istrinya.
“Iya boleh, tapi jangan minum minuman keras dan pulangnya jangan larut malam!” ucap Kiara menjawab pertanyaan suaminya. Agam dengan spontan langsung memeluk istrinya dan mencium pipi dan kening istrinya. Kiara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya seperti anak kecil yang mendapat lotre.
kanSetelah ada izin dari Kiara, Agam bersiap-siap untuk berangkat. Agam mencari baju untuk dipakainya makan-makan dengan teman lama dari kuliahnya dulu. Sambil mencari baju yang cocok Agam menelpon Varel untuk segera menjemputnya.
Kiara Yang tidak tega melihat suaminya mencari baju yang pas untuk dirinya, akhirnya Kiara membantu mencari baju yang cocok untuk suaminya. Setelah menemukan baju yang cocok untuk suaminya Kiara menyuruh suaminya segera cara memakai baju tersebut.
Agama yang bercermin di depan kaca tampak tersenyum sumringah karena Apa yang dipikirkan cocok dengan apa yang diambilkan oleh istrinya. Agam mendekatkan dirinya kepada Kiara kemudian kembali mencium bibir Kiara sebagai ucapan terima kasih.
“ Sayang, tidak aku sangka kamu mengerti semua selera aku baik tentang makanan baju dan kegiatan-kegiatan aku yang lainnya termasuk hobi aku,” ucap Agam sambil mencium dan memeluk istrinya.
“Sudah sayang, lihatlah putra kita nampak ingin dipeluk dan diperhatikan pula?” ucap Kiara tak mana melihat Daffa mencebikan bibirnya hendak menangis. Agam pun dengan cekatan menggendong Daffa dan diayun-ayunkannya hingga Daffa nampak tertawa riang. Agam begitu menyukai sikap buah hatinya kemudian mencium pipi chubby putranya. Mereka berdua nampak tertawa gembira melihat reaksi Daffa.
“Lihatlah sayang , Daffa begitu mirip dengan kamu! Selalu ingin disanjung dan dipuji!” ucap Agam yang terus mengayun-ayunkan putranya serta memujinya.
“Benarkah? bukannya mirip papa kalau seperti itu?” ucap Kiara yang juga merangkul lengan suaminya yang masih menggendong Daffa.
__ADS_1
“Permisi tuan muda, di depan ada pak Varel yang menjemput anda,” ucap si mbok yang datang menemuinya.
“Baik mbok, tolong kau jaga Daffa dulu aku sama Kiara ke depan dulu!” ucap Daffa kepada si mbok.
“Baik pak!” si mbok langsung menggendong Daffa untuk dibawanya ke kamar Daffa.
“Lo kak Varel, Nayla tidak ikut ya?” tanya Kiara kepada Varel.
“Tidak kakak ipar, Nayla mengerjakan tugas membuat resum tentang materi di acara seminar tadi pagi, “ ucap Varel sehingga secara tidak langsung mengingatkan Kiara kalau acara seminar tadi ada tugas resum yang harus diselesaikan.
“Iya sih kak. Tapi tugasnya kan hanya resum doang. Harusnya tadi diajak kesini biara ramai. Dan kita bisa mengerjakan bareng-bareng,” ucap Kiara.
“Iya kakak ipar. Nanti akan aku sampaikan kalau kakak ipar menginginkan kerja kelompok dengannya,” ucap Varel sambil sambil sekalian pamitan untuk keluar bersama Agam
Setelah mereka pergi Kiara menyuruh satpam untuk mengunci pintu gerbang karena Kiara takut kalau ada orang asing menyusup ke rumahnya apalagi suaminya tidak ada di rumah meskipun ada satpam, sopir dan si mbok.
Sementara itu di restoran sudah ada seseorang yang menunggu Agam dan Varel. Bahkan semua hidangan sudah disiapkan dengan menu yang sangat istimewa. Agam yang baru datang langsung menghubungi kasir untuk menunjukan no meja yang telah diberikan oleh temannya.
Setelah ditunjukan oleh kasir mereka berdua menghampiri temannya tersebut yang ternyata sudah menunggunya di meja makan paling pojok menghadap ke taman.
“Malam, sudah lama ya nunggu kita berdua?” ucap Agam kepada sosok laki-laki tersebut.
“Tidak kok aku juga baru nyampek,” ucap laki-laki tersebut sambil memeluknya satu persatu teman akrabnya dulu waktu kuliah. Agam dan Varel duduk di samping kanan dan kirinya mereka bertiga akan makanan yang disiapkan oleh restoran. Setelah menikmati makan mereka nampak ngobrol asik dengan cerita-ceritanya termasuk tentang pasangan mereka.
__ADS_1
Agam dan Varel menceritakan istri mereka yang bersahabatan sejak sekolah di SMA. Dan mereka juga menceritakan kekompakan istri mereka saat kuliah maupun berada di rumah di saat ada acara keluarga.
Sementara itu teman mereka yang ternyata Adrian menceritakan kalau saat ini sedang putus dengan pacarnya dahulu dan sekarang sedang mengincar seseorang untuk menjadikannya istrinya.
“Bagus itu! Berarti kamu sudah serius untuk menikah!” ucap Agam kepada sahabatnya itu di dukung Varel yang juga mendukungnya. Namun Adrian nampak menghela nafas panjang seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. Dan hal itu tertangkap oleh Agam sahabatnya.
“Adrian adakah sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya Agam penasaran tatkala menangkap kegundahan hati Adrian. Adrian pun menjelaskan kalau dirinya sedang tertarik dengan mahasiswinya dan sayang nya sudah bersuami dan punya putra.
Agam dan Varel tampak terkejut dengan pengakuan sahabatnya yang anti banget sebagai pebinor, tapi kenapa dirinya yang alim tiba-tiba bisa tertarik dengan istri orang.
“Gila bro!” ucap Agam dan Varel secara bersama-sama.
“Adakah sesuatu yang menarik darinya hingga kamu tertarik dengannya? Bahkan sudah tahu bersuami tapi kamu masih mengharapkan!” tanya Agam penasaran.
Adrian dengan gamblang menceritakan pesona mahasiswinya itu termasuk dengan ciri-cirinya. Agam yang mendengarkannya tiba-tiba hatinya menjadi deg-degkan karena menurutnya wanita yang dideskripsikan oleh Adrian tidak jauh beda dengan ciri-ciri istrinya. Agam yang sangat menjaga privasi Adrian tidak berani menanyakannya lebih detail.
Adrian pun kelihatannya tidak mau menyebutkan wanita yang disukainya itu jadi Agam maupun Varel tidak berani mengusiknya.
Setelah acara makan selesai mereka bertiga pulang menuju ke rumah masing-masing dengan Varel mengantarkan Agam terlebih dahulu ke rumahnya. Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba Varel membuka suara terkait dengan pernyataan Adrian. Seperti halnya Agam, Varel juga mengatakan kalau apa yang disampaikan oleh Adrian mirip kakak iparnya yaitu Kiara.
Namun mereka berdua akhirnya sepakat untuk tidak mencurigai Adrian karena belum tentu wanita yang ditemui oleh Adrian itu Kiara istrinya Agam.
Mereka pun tidak ingin mengotori pikiran mereka dengan dugaan-dugaan yang tidak benar apalagi menyangkut sahabat dan istrinya. Menurut Agam mungkin hanya sifat dan ciri-cirinya saja yang kebetulan sama. Karena manusia di dunia ini dimungkinkan memiliki kesamaan dengan salah satu ciptaannya Allah SWT.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?