
Hari ini mata kuliah yang diberikan sudah selesai. Dengan gontai Kiara berjalan kearah parkiran diikuti oleh Nayla.
“Nay…, hari ini aku jadi pulang ke rumah kamu lo?” ucap Kiara dengan gontai tiba-tiba masuk ke dalam mobil Nayla.
“Kiara beneran ini? Terus mobil kamu bagaimana?” tanya Nayla penasaaran.
“Biarkan disini saja!” ucap Kiara yang membuat Nayla kebingungnan sehingga bergegas turun dari mobilnya hendak menitipkan mobil Kiara kepada satpam kampus.
“Nay mau kemana?” teriak Kiara yang masih di dalam mobil hingga Nayla kembali memalingkan tubuhnya utuk berhenti tidak melanjutakn jalannya.
“Nitipkan mobil kamu ke pak satpam!” jawab Nayla.
“Tidak usah Nay! Biarakan saja, ayo berangkat!” Kiara memberi perintah keppada Nayla hingga Nayla menuruti apa kemauan Kiara.
“Baiklah! Aku tidak nanggung kalau terjadai apa-apa dengan mobil kamu lo ya?” ucap Nayla penuh rasa kuatir kalau dimarahi Agam. Kemudian mereka berdua sudah berada di jalanan membelah jalan berasapal menuju ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah Nayla mereka berdua masuk ke dalam rumah dan disambut ramah oleh asisten rumah tangga Nayla.
“Non Kiara? Lama tidak pernah main ke rumah ya? bibik kangen lo non?” ucap asisten rumah tangga Nayla.
“Iya bik…, maaf lagi sibuk! Bibik masak apa?” tanya Kiara yang memang akrab dengan asisen rumah tangganya Nayla karena waktu sekolah sering ke rumah Nayla bahkan bibinya Nayla sangat memanjakan mereka berdua. Apa yang diminta Nayla dan Kiara soal masakan pasti dibuatkannya.
“Bibik masak rendang kesukaan non!” ucap bibinya Nayala kemudian bergegas ke meja makan untuk menyiapkan makanan untuk makan siang mereka. Setelah siap bibinya Nayla kembali menemui mereka yang berada di ruang keluarga sedang nonton drama Korea.
“Non…, mari makan dulu! Itu sudah tak siapkan semuanya!” ucap bibinya Nayla begitu menghampiri mereka berdua sedang asyik nonton.
“Iya bik! Nanggung nich, ceritanya lagi seru!” ucap Kiara.
__ADS_1
“Kiara…, ayo nanti dedek bayi dalam kandungan kamu lapar?” bujuk Nayla yang memang selalu menjaga Kiara dimanapun berada termasuk menjaga makannya karena Kiara kalau sudah asyik melakukan sesuatu pasti lupa dengan makannya.
“Iya…,” ucapnya langsung berdiri kemudian berjalan melangkah ke ruang makan bersama Nayla. Kiara dan Nayla akhirnya makan makanan kesukaannya kemudian setelah kenyang mereka berdua bersantai di balkon kamar atas rumah Nayla.
Kiara dan Nayla asyik ngobrol tentang masa depan mereka, terutama Nayla yang ingin melepas masa lajangnya menyusul Kiara dengan menerima lamaran Varel.
“Nay…, kamu serius dengan kak Varel? Soalnya mama Sandra kemarin sudah menyiapkan segala sesuatunya?” tanya Kiara tiba-tiba kepada sahabatnya.
“Iyalah! Menurut aku kak Varel laki-laki yang tepat untukku. Dan aku rasa orang tua aku juga punya pemikiran yang sama. Jadi aku terima kalau bulan depan kak Varel melamarku!” ucap Nayla yang sangat mengejutkan Kiara karena bagaimanapun bulan depan itu tinggal menghitung hari.
“Selamat ya? Dengan begitu kita akan sering bersama-sama terus! Itupun kalau…?” ucap Kiara sambil menghela nafasnya.
“Kalau apa?” tanya Nayla penasaran.
“Ya…, kalau kak Agam tidak menceraikan aku?” ucapnya lemas mengingat akhir-akhir ini Agam terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang memperhatikannya.
“Hus…, jangan ngaco kamu Kiara? Kak Agam tidak akan seperti itu?” ucap Nayla berusaha menyakinkan Kiara.
“Sudahlah kamu jangan berprasangka negatif! Ayo waktunya membersihkan diri dan kita tiduran sejenak melepas kepenatan perkuliahan tadi siang yang sangat menguras energi!” bujuk Nayla yang langsung membereskan tempat tidurnya mengajak Kiara istirahat.
Sementara itu Agam yang pulang dari kantor bergegas mencari istrinya karena Agam ingin menebus kesalahannya selama 3 hari jarang memperhatikan istrinya. Pekerjaannya yang terlalu banyak membuat dia pulang malam sehingga jarang bertemu dengan Kiara.
“Sayang…, aku pulang! Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu!” ucap Agam yang membuka pintu kamarnya namun tidak menemukan Kiara di dalam kamarnya.
Agam kebingungan mondar-mandir mencari Kiara mulai dari kolam renang sampai halaman belakang namun tidak ada. Agam menghela nafasnya kemudian memanggil salah satu pelayannya yang selalu membantu Kiara dalam semua hal.
“Mbok…, nyonya kemana?” tanya Agam kepada simbok ya ng melintas di depannya.
__ADS_1
“Maaf tidak tahu pak karena sejak kuliah nyonya Kiara tidak nampak pulang!” jawab simbok ketakutan.
“Ya sudah mbok aku coba menghubunginya!” Agam memencet ponselnya namun tidak ada balasan sama sekali oleh Kiara. Agam kemudian menelpon Nayla namun tidak diangkat juga sehingga Agam menghubunginya Varel untuk meminta bantuannya.
“Varel…, tolong kamu hubungi Nayla dan tanyakan keberadaan istri aku?” perintah Agam tak kala ponselnya diangkat oleh Varel.
“Iya bos! Yang istrinya siapa, yang suruh cari siapa. Benar-bener merepotakan!” gumamnya lirih namun ponselnya lupa tidak dimatikan sehingga terdengar oleh Agam.
“Varel! Apa yang ungkapkan?” tanya Agam penasaran karena menjengkelkan sekali dirinya harus berhubungan kembali.
“Eh.., iya bos! Maaf!” Varel menutup ponselnya kemudian memencet tombol nomor ponselnya Nayla. Namun nasibnya sama dengan Agam ponselnya tidak dapat jawaban dari Nayla.
Varel kemudian lapor kembali kepada Agam kalau nasibnya sama tidak bisa terhubung dengan Nayla. Agam yang merasa bersalah dengan istrinya meminta Varel mengantarnya menuju rumah Nayla. Varel yang capek dan baru pulang dari kantor langsung berangkat kembali ke rumah Agam untuk menjemputnya dan meluncur pergi ke rumah Nayla.
“Bos…, lagi marahan ya?’ tanya Varel kepada bosnya sehingga membuat Agam naik pitam.
“Diam! Jangan banyak omong! Yang terpenting kita segera menemukan Kiara!” ucap Agam tanpa memberitahukan masalahnya terhadap Varel karena memang dirinya tidak ada masalah dengan Kiara. Namun dalam pikirannya awal masalahnya dengan Kiara hanya dirinya kurang memperhatikan Kiara selama 3 hari terakhir ini.
“Bos! Sudah sampai mari kita turun!” ucap Varel yang memupuskan lamunan Agam tentang istrinya.
“Bailah!” Agam turun dari mobilnya kemudian menekan bell rumah Nayla namun yang keluar bibinya Nayla.
“Maaf apa Kiara ada di sini?” tanya Agam yang cemas memikirkan istrinya.
“Non Kiara masih tidur! Silahkan duduk aku panggilkan! Lo tuan Varel juga ada to?” jawab sang bibi ramah.
“Baiklah! Aku tunggu!” jawab Agam dengan sabar menunggu bibinya Nayla. Sesaat setelah menunggu bibinya Nayla memanggil Kiara, Agam mondar-mandir tidak jelas. Agam yakin Kiara yang keras kepala pasti tidak ingin menemui dirinya.
__ADS_1
“Maaf pak, non Kiara tidak mau bertemu dengan anda,” ucap bibi menyampaikan apa yang diterimanya dari Kiara setelah menemuinya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?