Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Meninggal


__ADS_3

Perjalanan dari Amerika ke Indonesia memakan waktu yang sangat lama.  Namun begitu sampai di Indonesia Kiara meminta suaminya untuk mengantarkan ke rumah sakit di mana kakek Danu dirawat.


“Sayang, apa sebaiknya kita ke rumah dulu!” tanya Agam yang melihat Kiara kecapekan.


“Hik…, hik…,tidak sayang, aku ingin sekali berjumpa dengan kakek!”ucap Kiara minta diantar  ke rumah sakit kepada suaminya.


“Ok…, jangan menangis. Lihatlah Semua orang memandangku dipikirnya  aku menganiaya istri sendiri,”  ucap Agam sambil mengusap-usap bahwa istrinya untuk.


“Baiklah kakak janji ya kita langsung ke rumah sakit,” ucap Kiara yang masih di ruang tunggu bandara karena nunggu sopir datang menjemput.


“Varel, tolong pastikan Pak sopir sudah datang apa belum? kasihan Tiara menunggu di sini terlalu lama,” perintah Agam kepada Varel.  Farel dengan cekatan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya kemudian langsung menekan tombol ponselnya yang terhubung dengan Pak sopir.


“Pak,  Sudah sampai apa belum?  Kasihan Ibu Kiara menunggu terlalu lama?”  tanya Varel melalui ponselnya ketika lengkap langsung oleh Pak sopir.


“Sudah pak! Ini kita sudah berada di parkiran dekat pintu masuk. Pak VArel bisa langsung kesini kok!” jawab sang sopir ramah.


“Baiklah! Kita akan menyusul bapak kesana! Terimakasih pak!” ucap Varel ramah kepada sopir keluarga Agam.


“Gam, sudah siap! Ayo kita kesana! Barang-barang kamu biar aku yang ngurus sama Nayla,” ucap Varel dan langsung mengurus barang-barang Agam. Sementara Agam mendorong Kiara dengan kursi roda menuju parkiran.


“Sayang, aku bisa jalan sendiri saja!” ucap Kiara menolak untuk di dorong dengan kursi roda.


“Tidak sayang, sudahlah kamu nurut saja apa kata suami kamu,”  ucap Agam yang  menuntunnya duduk di kursi roda kemudian membelai rambutnya, dan untuk sesaat juga mengecup keningnya dengan perhatian serta rasa kasih sayang.


“Kak, bahagianya Kiara ya? Kak Agam begitu baik memperlakukannya,” ucap Nayla tiba-tiba di samping Varel.


“Kamu ingin diperlakukan seperti itu ya? Sini!” Varel dengan cekatan langsung menarik tangan Nayla dan  mengecup keningnya berlanjut menuju bibir. Nayla nampak kelimpungan menghadapi perlakuan Varel  yang tiba-tiba.


“Pluk…,” Agam menepuk bahu Varel dengan tas kecilnya.


“Hai…, hai…, ini tempat umum ya? Ayo bawakan juga tasku ini ya?” Ucap Agam memberi peringatan kepada Varel.


“Astaga, kamu itu tidak tahu apa kalau temannya lagi senang. Mumpung bonus!” ucap Varel cengengesan.


“Bonus? Bonus apaan?” ucap Agam gregetan. Varel hanya menggarukan tangannya ke kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Sudah-sudah kak! Ayo segera jalan!” ucap Kiara yang tidak suka melihat mereka agak ribut di tengah-tengah keramaian. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju parkiran dan di sana sudah ada Pak sopir yang menunggunya.  Pak sopir dengan cekatan mengambil barang-barang yang dibawa oleh mereka untuk dimasukan dalam bagasi mobil.


Setelah semuanya siap mereka masuk mobil dan berangkat menuju ke rumah sakit.


“Pak langsung rumah sakit, dimana kakek Danu dirawat ya?” perintah Agam kepada sopirnya.


“Baik pak,” kata sang sopir dan langsung menjalankan kendaraannya menuju rumah sakit yang kebetulan jarak rumah sakit dan bandara sangat dekat.


Begitu lama mereka sampai di rumah sakit, Agam menanyakan ruangan dimana kakek Danu di rawat.


Agam dan Kiara masuk ke ruangan sang kakek, mereka dikejutkan dengan sosok wanita yang seumuran dengan Kiara duduk di situ menunggu sang Kakek.


“Kakek…, Kiara langsung menghampiri kakeknya yang masih koma,” Kiara menangis tersedu-sedu dihadapan kakeknya sambil  mengusap tangan kakeknya dengan harapan akan tersadar mendengar kedatangan.


“Sudahlah Kiara…, kita do’akan kakek biar cepet sembuh!” ucap Neta wanita yang seumuran dirinya yang sedang menunggu kakek. Neta adalah sepupu kiara yang menetap di Australia.


“Neta, Kapan kamu datang? Dan siapa yang menghubungi kamu?” tanya Kiara dan langsung memeluk sepupunya.


“Riki, Kiara. Kak Riki katanya tidak bisa menunggui kakek di rumah sakit. Jadi aku dari kemarin sudah berada di sini menemani kakek,” ucap Neta sambil mengusap punggung Kiara.


“Kamu menghubungi siapa Kiara?” tanya Neta penasaran karena Kiara berkali-kali memencet nomor ponselnya tapi tidak ada jawaban.


“Kak Riki! Aku hanya ingin penjelasan darinya!” ucap Kiara kepada Neta.


“Percuma Kiara…, Riki ditangkap polisi kemarin sore karena kasus pengedaran narkoba! Dan kak Erlita kembali ke kotanya karena rumah yang ditempati sekarang disita oleh polisi.


“Kakak Riki…, katanya sudah tobat tidak berteman dengan Gary ternyata kakak kok seperti itu ya?” ucap Kiara semakin bersedih.


“Sudahlah Kiara…, janganlah kau bersedih. Itu pilihan kak Riki yang tidak pernah bersyukur,” ucap Neta sambil melepaskan pelukan Kiara untuk mengajaknya duduk di sofa.


“E…, iya Neta kenalkan ini suami Aku namanya Agam dan ini sahabat aku dan suamiku namanya Varel dan Nayla?” ucap Kiara masih sesenggukan menangis sambil menghapus air matanya.


“Neta…, sepupunya Kiara yang tinggal di Australia,” ucap Neta mengulurkan tangannya kepada mereka.


Mereka pun saling berjabat tangan mengenalkan satu sama lainnya.

__ADS_1


“Neta…, bagaimana hasil rekaman medis kakek?” tanya Kiara kepada Neta.


“Hasilnya buruk Kiara, Kita harus berdo’a dan berserah diri sama Allah karena semuanya atas kehendaknya,” ucap Neta berat menahan nafasnya karena sesungguhnya dia tidak ingin menyampaikannya kepada Kiara. Kiara tubuhnya terguncang dan gemetar menahan tangisnya karena baru kemarin dia meninggalkan kakeknya ternyata kakeknya menderita sakit jantung dan sudah komplikasi.


Kiara pelan-pelan menghampiri kakeknya kembali kemudian membisikkan sesuatu ke telinga kakeknya dengan harapan kakeknya akan tersadar dari komanya.


“Sayang janganlah kau paksakan. Kasihan kakek. Kita tuntuni dengan bacaan istighfar ya sayang?” ucap Agam menghampiri Kiara.


“Kak, aku tidak tega melihat kakek kesakitan,” ucap Kiara yang duduk di samping kakeknya.


“Kiara…, Kiara…, Maafkan kakek nak…yang tidak bisa…?” ucap kakek Danu yang menggenggam erat tangan Kiara kemudian tersedak dan mesin monitor yang mendeteksi tubuh sang kakek langsung terhenti.


“Kakek…, jangan tinggalkan Kiara kek? Yang Kiara punya hanya kakek dan kak Riki!” ucap Kiara bersedih dan pingsan, langsung dipeluk oleh Agam.


Varel dengan cepat langsung memanggil dokter dan seketika itu juga dokter datang bersama perawat jaga.


“Maaf kakek anda sudah meninggal. Dan untuk pihak keluarga silahkan ke bagian administrasi untuk mengurusnya!” ucap perawat tersebut.


Sekali lagi Varel langsung mengurus semuanya ditemani oleh Nayla. Setelah semua beres jenazah kakek Danu dibawa ke rumah duka sesuai permintaan kakek Danu. Hal itu pernah kakek sampaikan kepada Neta dan Kiara semasa liburan di Australia ke rumah Neta.


Ketika tersadar dari pingsannya Kiara mengenang semua perkataan kakeknya waktu itu ketiak dia dan Neta mendampinginya di ruang tamu rumah Neta.


“Kalian berdua kesayangan kakek! Kakek harap kalian besok bisa hidup berdampingan. Neta meskipun kamu bukan cucu kandung kakek tapi kamu udah aku anggap seperti cucu sendiri. Ayah kamu kakek yang membesarkannya bersam-sama dengan ayahnya Kiara. Jadi apapun yang terjadi kalian jangan saling menjatuhkan. Meskipun tidak sedarah tapi kalian lambang persahabatan antara kedua orang tua kalian!” ucak kakek Danu yang selalu membawakan mereka berdua es krim.


“Tentu kakek! Aku sama Neta akan memegang janji untuk selalu bersahabat dan hidup berdampingan tanpa harus menjatuhkan satu sama lainnya, “ ucap Kiara.


“Bagus nak! Memang harus seperti itu! Kakek juga berharap ketika suatu saat umur kakek harus diminta oleh sang kuasa yaitu yang meniupkan ruh ke dalam tubuh kakek, kalian berdua bisa menemani kakek!” ucap kakek Danu kepada kedua cucunya.


“Kakek janganlah begitu! Bicaralah ke hal-hal yang baik!” ucap Kiara memelasa dan langsung memeluk kakeknya diikuti oleh Neta.


“Iya kek! Kita masih butuh kakek,” ucap Neta ikut menimpali perkataan kakeknya.


“Satu lagi kalau aku meninggal makamkan aku di kuburan keluarga di samping nenek kamu dengan terlebih dahulu kau semayamkan dirumahku!” ucap kakek Danu sambil memeluk kedua cucunya.


“Sayang jenazah kakek siap dibawa pulang, ayo kita temani kakek di mobil ambulan,” ucap Agam langsung menggandeng istrinya mengikuti suster yang membawa jenazah kakek ke dalam mobil ambulan.

__ADS_1


__ADS_2