
Liburan di Turki sudah usai. Kiara dan Agam pulang ke Indonesia beserta rombongan. Setelah sampai di Bandara mereka langsung ke rumah masing-masing. Keesokan harinya Agam sudah mulai bekerja di kantor, untuk aktivitas di sekolah sesuai dengan janjinya kepada papa Bagas usai hanya beberapa bulan saja tentunya setelah bisa meluluhkan hati Kiara.
Sementara itu Kiara juga sudah melakukan kuliah untuk pertama kalinya. Kiara juga mengikuti Orientasi Studi dan Pengenalan Kamus yang dikenal dengan Ospek. Kiara daan Nayla selalu berada secara berdampingan. Nayla juga sering membantu Kiara jika ada tugas-tugas yang memberatkan karena Kiara telah hamil muda.
Disaat ada pembelajaran oleh kakak kelas, Kiara diminta untuk memperkenalkan dirinya oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang bernama Prawira terkenal galak dan arogant.
“Hai…, kamu majulah ke depan dan kenalkan dirimu!” ucap Prawira sambil menunjuk Kiara.
“Perkenalkan namaku Kiara Aditama kuliah jurusan Manajemen, hobby aku bela diri dan aku sudah banyak menjuarai beberapa lomba tingkat internasional cabang pencak silat!” ucap Kiara penuh percaya diri di depan mereka.
“Astaga…, benar nich,” ucap Prawira sambil maju ke depan dengan melayangkan beberapa pukulan namun Kiara dengan santai dapat menghindari pukulan
Prawira.
“Bagus kamu boleh kembali ke tempat kamu semula!” ucap Prawira memberi perintah kepada Kiara yang tanpa Kiara sadari Prawira diam-diam memberinya perhatian.
“Terimakasih kak!” ucap Kiara sambil kembali ke barisannya namun begitu pandangannya lurus ke depan, dirinya menangkap kalau Prawira selalu memandangnya tanpa berhenti sehingga Kiara merasa rikuh dengan situasi tersebut.
“Sit…, sit…, aromanya ada cinlok nich?” goda Nayla yang ada di sebelahnya sambil menyenggol siku tangan Kiara.
“Diam kau! Mana ada orang hamil begini dapat menarik perhatiannya. Dia kan cakep dan ketua BEM lagi. jangan ngaco kamu!” bisik Kiara lirih.
“Aku jamin seratus persen setelah ini dia akan selalu cari muka di hadapanmu!” ucap Nayla kepada sahabatnya yang masih cuek-cuek saja.
Dan benara saja baru selesai omong tiba-tiba Nayla ditegur oleh Prawira. Dan Prawira juga memintanya agar tidak mengganggu Kiara.
“Astaga bener-bener cari perhatianbanget orang ini ya?” bisik Nayla kepada Kiara. Jelas-jelas yang ngobrol kita berdua yang ditegur cuman akau saja. Benar-benar cowok aneh.
__ADS_1
“Sudahlah diam saja kenapa,” ucap Kiara dan langsung konsentrasi dengan kegiatan tersebut hingga akhirnya kegiatan Ospek pertama kali selesai.
Setelah kegiatan selesai Kiara duduk di taman menunggu jemputan. Kiara yang tadinya diantar sopir hendak diajak bareng sama Nayla namun tidak mau karena sudah janjian dengan Agam.
“Kamu pulang duluan saja Nay…?” ucap Kiara begitu diajak bareng Nayla.
“Aku masih nunggu kak Agam dan kebetulan kak Agam baru saja menelpon kalau datang agak terlambat 10 menit karena jalanan mancet,” jelas Kiara kepada sahabatnya.
“Bener nich Kay? Aku tidak bisa menemani kamu lo ya? karena aku sekalian ke bandara jemput mama pulang. Dan mama ini sudah menunggu aku di bandara!” ucap Nayla yang tidak bisa menemani Kiara di kampus.
“Tidak apa-apa. Disini juga masih banyak orangnya. Banyak mahasiswa yang lain juga belum pulang!” ucap Kiara santai sambil mencari tempat duduk yang enak untuk nongkrong.
Setelah kepergian Nayla, Kiara membaca buku di bangku taman sambil menikmati cemilan dengan satu botol minuman air mineral. Namun tiba-tiba ada seseorang mendekatinya hingga duduk di sebelahnya.
“Dik Kiara? Kenapa belum pulang?” tanya seseorang yang ternyata Prawira.
“Belum kak masih nunggu jemputan.Kebetulan barusan menghubungi tapi kena macet!” ucap Kiara santai sambil terus makan cemilannya. Sikap Kiara yang cuek sungguh menarik perhatian Prawira. Prawira merasa tertantang untuk mendekati Kiara dan berusaha meluluhkan hatinya untuk menjadi pacarnya.
“Terimakasih, tapi aku sudah dijemput kok!” Kiara berusaha menolak dengan halus.
“Baiklah kalau begitu aku temani ya?” Prawira tiba-tiba langsung duduk di sebelahnya. Dan kebetulan di kepala Kiara ada daun yang jatuh dari pohonnya kemudian dengan penuh tiba-tiba Prawira agak maju ke depan dan mengambil daun tersebut untuk disingkirkan dari kepala Kiara.
“Maaf ada daun jatuh yang hampir mengotori kepala kamu!” ucapnya lirih sambil memperlihatkan daun tersebut dihadapan Kiara.
“Tidak apa kak hanya daun saja!Itu tidak akan mempengaruhi aktivitas aku!” Kiara tersenyum melihat ulah Prawira dengan perhatiannya yang sangat kecil tersebut namun bisa membuat suaminya cemburu.
Benar saja setelah beberapa menit duduk tiba-tiba mobil mewah masuk ke parkiran kampus dan keluarlah seorang laki-laki muda keren dengan setelan jas. Semua gadis kampus berdecak kagum melihatnya.
__ADS_1
“Astaga…, siapa dia?” ucap Prawira yang nampak terkejut dan cemas kalau dia tersaingi.
“Yang menjemput aku!” ucap Kiara namun pikir Prawira hanyalah kakak Kiara saja karena wajahnya tampak mirip. Prawira dengan percaya diri memperkenalkan diri kepada Agam tatkala Agam dekat dengan dirinya dan Kiara.
“Selamat siang kak? Mau jemput Kiara ya? Perkenalkan Prawira!” ucap Prawira sambil menjulurkan tangannya sok akrab.
“Agam!” ucap Agam dengan pandangan tajam mengarah ke Prawira. Kiara yang tidak mau terjadi perang Hiroshima dan Nagasaki terulang maka dengan cepat kilat Kiara langsung menggandeng Agam menuju ke mobilnya. Sementara itu Prawira nampak bengong melihat mereka pergi.
“Sayang, siapa dia? Jangan bilang dia naksir kamu ya?” tanya Agam yang menunjukan cemburu buta kepada istrinya.
“Gila apa? Mana ada seorang pemuda tulen seperti dia naksir wanita yang sudah hamil? Kau gila apa kak!” ucap Kiara sekenanya.
“Siapa bilang gak ada yang naksir wanita hamil? Buktinya temanmu tadi si…?” ucap Agam menghentikan ucapannya.
“Prawira maksudmu kak?” ucap Kiara menyambung perkataan Agam.
“Iya…, itu si Perwira atau Prawira. Aku tidak mau kau dekat-dekat dengannya!” ucap Agam sambil bersungut-sungut di belakang kemudi.
“Kak…, kamu itu apa-apaan ya? Aku kira alasan kamu tidak masuk akal!” ucap Kiara yang duduk di samping Agam.
“Tidak masuk akal bagaimana? Naluriku sebagai laki-laki kalau dia benar-benar naksir kamu dik?” ucap Agam memberi peringatan kepada istrinya.
“Naksir bagaimana? Wong bertemunya juga baru hari ini!” ucap Kiara yang cuek membuang mukanya menghadap ke jendela karena jengkel dengan suaminya yang kekanak-kanakan.
“Tapi dik sorotan matanya jelas ketika memandangmu menyimpan sejuta harapan!” Agam bersikeras dengan ucapannya sambil konsentrasi mengemudikan mobilnya.
“Ah…, sudahlah aku lapar. Aku ingin makan seafood makanan kesukaan aku! Ayo kita mampir ke restoran itu!” ucap Kiara yang tidak mau berdebat dengan suaminya.
__ADS_1
Agam pun akhirnya menyudahi apa yang menjadi topik pembicaraan dengan dirinya karena bagaimanapun dia tidak mau membebani istrinya dengan sesuatu yang nam[ak memberatkannya. Mereka berdua berhenti di restoran dan memakan makanan seafood kesukaa Kiara.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?