Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Empat Mata


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai,  Kiara dan Mama Sandra pergi melihat Daffa.  Mereka berdua nampak asik dengan  Daffa.  Mama Sandra  menimang-nimang Daffa yang hendak mulai tidur. Kiara hanya duduk mengamati mama mertuanya yang berusaha menidurkan Daffa.


Kiara berusaha sabar terhadap mama mertuanya yang selalu memonopoli urusan yang berhubungan dengan Daffa.


Sementara itu Agam yang berada di ruang tengah meminta Papa Bagas untuk ke ruang kerjanya berbicara Empat Mata tanpa mama Sandra.


Papa Bagas yang  mengerti dengan isi hati putranya segera mengikuti apa yang dimau oleh Putra semata wayangnya. Sesaat mereka pun saling berhadapan di meja kerja Agam.


“ Papa, sebenarnya aku ingin membahas sesuatu tentang mama dan Putraku Daffa.  Tapi sebelumnya aku selaku putra dari Papa minta maaf apabila nanti melukai hati papa dan mama,”  ucap akan sopan kepada papanya.


“ Iya sayang,  papa mengerti akan masalah kamu dan istrimu tentang mama yang telah memanjakan Daffa dengan berlebihan,” ucap Papa Bagas yang seolah-olah tahu permasalahan Agam tanpa diberitahu terlebih dahulu.


“ Papa,  bagaimana papa begitu mengerti dan paham masalah yang ingin Agam bahas dengan papa?”   ucap Agam penasaran terhadap Papanya.


“Papa  pernah menjadi orang tua, di mana dulu Papa juga mengalami masalah yang sama dengan orang tua papa sendiri.  Dulu kamu juga dimanjakan oleh Oma kamu. Bahkan Oma kamu dulu lebih parah dibandingkan dengan ulah mama kamu. Mama kamu tidak seberapa sayang. Dulu oma kamu lebih keras dan memonopoli kamu. Mama tidak diperbolehkan menyentuhmu selain menyusui. Mama kamu waktu itu juga marah-marah sama papa hingga akhirnya papa berusaha mendekati Oma kamu namun tidak ada hasil. Jadi akhirnya papa memutuskan untuk mendekati Opa kamu baru ada hasilnya. Opa kamu sangat bisa mengendalikan Oma kamu. Jadi kalau kamu mengambil langkah seperti ini sangatlah bagus!” ucap papa Bagas berusaha menebak isi hati putranya.


“Iya pa! Papa kok bisa membaca pikiran aku pa?” ucap Agam yang menghela nafasnya berusaha melepas kegundahan hatinya.


“Sayang, urusan mama nanti papa yang mengurusnya. Ayo sana kau lihat putramu. Papa yakin mama kamu pasti sudah monopolinya!” ucap papa Bagas kepada putra kesayangannya. Papa pun juga mengikuti putranya.


“Eh ternyata semuanya ada disini ya?” ucap Agam memulai pembicaraan.


“Iya nak! Mama gemas melihat Daffa , dia seperti kamu waktu kecil dulu,” ucap mama Sandra tersenyum senang melihat Daffa yang sudah tertidur pulas di gendongannya.

__ADS_1


“Sini ma biar kau tidurkan Daffa kasihan mama nanti capek!” ucap Agam yang langsung mengambil Daffa dari gendongan mamanya. Agam pun menidurkan Daffa ke box tidurnya.


“Sayang pelan-pelan dong! Kasihan Daffa ntar terbangun,” ucap mama Sandra yang sangat perhatian terhadap cucu kesayangannya.


“Iya ma! Ini aku pelan banget kok! Mama terlalu berlebihan memikirkan Daffa!” ucap Agam hingga membuat mama Sandra agak tersinggung.


“Iya Mama tahu. Karena mama sangat menyayanginya mama dulu ingin anak banyak tapi karena suatu hal mama hanya bisa melahirkan kamu nak! Jadi Daffa bagi mama seolah-olah merupakan putra kedua mama setelah kamu!” ucap mama Sandra agak berlinang air matanya menahan tangisnya. Agam pun mendekati mamanya kemudian memeluknya.


“Iya ma. Agam ngerti dan tahu apa keinginan mama! Maaf bukan maksud Agam menyakiti hati mama!” ucap Agam yang sudah bersimpuh dihadapan mamanya sambil menciumi pipi mamanya. Papa Bagas yang tahu situasinya langsung mendekati mereka dan merengkuhnya dalam dekapan papa Bagas. Berangsur-angsur mereka mulai memikirkan dan merenungkan masalah mereka masing-masing.


Setelah tenang papa Bagas melepaskan mereka, dan mama dan Agam berusaha saling memaafkan satu sama lainnya. Kiara yang mengamati mereka, matanya berkaca-kaca menahan air mata agar tidak terjatuh dari matanya.


Setelah saling memaafkan papa Bagas mengajak istrinya untuk pulang kerumah, namun Kiara yang tahu situasi antara mama mertua dan suaminya agak berbeda, Kiara langsung memohon mertuanya untuk tetap tinggal di rumahnya.


Begitu papa Bagas dan mama Sandra masuk ke kamarnya papa Bagas dengan spontan memeluk istrinya dan membawanya duduk di tepi ranjang.


“Sayang kamu kelihatan capek sekali. Ayo berbaringlah aku akan memijatmu!” bisik papa Bagas pelan kepada istrinya.


“Aku tidak capek fisik sayang, tapi aku sakit hati sama putra kita. Aku merasa dirinya sangat tidak senang kalau aku memanjakan cucuku! Darah daging aku!” ucap mama Sandra menahan emosi hingga air matanya tidak bisa dibendung lagi.


“Sudahlah sayang, setiap orang tua itu punya caranya sendiri untuk mendidik dan membesarkan putranya. Kamu masih ingat dulu waktu kamu membesarkan Agam. Kamu juga merasa keberatan kalau Orang tua aku ikut berperan langsung mendidik dan membesarkan Agam,” ucap papa Bagas kepaada istrinya dengan terus memijat istrinya untuk mengambil hati istrinya agar tidak menangis lagi.


“Iya pa, tapi Daffa sangat menggemaskan dan itu membuat aku tertarik untuk menyayanginya,” ucap mama Sandra mengeluh kepada suaminya.

__ADS_1


“Iya sayang sudahlah ayo kita buat dedek bayi sendiri saja,” ucap papa Bagas menggoda istrinya.


“Papa jangan ngawur ah!” ucapnya yang kemudian sama papa Bagas langsung diberinya sebuah kecupan di bibirnya hingga akhirnya mama sandra nampak tidak bersuara lagi. Mereka sudah terlarut dalam kesibukan untuk mencapai puncak kenikmatan berdua.


“Sayang kamu ikuti irama dari papa saja ya?” bisik papa Bagas yang masih bersemangat melakukan kegiatan malamnya hingga mereka berdua tertidur pulas hingga adzan subuh.


Setelah mendengar adzan subuh mereka berdua membersihkan diri kemudian berlanjut sholat subuh di mushola yang berada di rumah dimana Agam sudah menantinya di situ. Papa Bagas memimpin sholat diikuti oleh mereka berdua.


Setelah melakukan sholat subuh bersama mereka berbincang-bincang sejenak antara oraang tua dan putranya. Mereka sam-sama mengulas kesalahan masing-masing kemudian saling memaafkan satu sama lainnya.


Mama Sandra dengan lapang hati menerima keputusan mereka bertiga yang dijembatani papa Bagas. Setelah sama-sama saling memaafkan mereka berencana olahraga pagi berkeliling kompleks.


Setelah puas olah raga mereka bertiga sarapan bersama yang telah disediakan oleh Kiara dan si mbok. Kiara sengaja tidak ikut olahraga karena mengurus putranya.


Suasana sarapan pagi ini sangatlah harmonis mereka sudah melupakan peristiwa malam hari yang telah melanda mereka.


Mama Sandra juga nampak ceria kembali normal bercanda dengan menantunya. Kiara juga tanpa basa-basi mengimbangi sikap mertuanya.


Papa Bagas sangat senang melihat perubahan mereka, dan tersenyum manja terhadap istrinya. Papa


Bagas memegangi tangan mama Sandra dengan sesekali tersenyum bahagia. Agam memberi kode kepada papanya seolah-olah mengucapkan terima kasih atas bantuan papanya sehingga mamanya bisa menerima keputusan mereka agar tidak terlalu ikut campur tentang putranya.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?

__ADS_1


__ADS_2