
Pagi hari begitu cerah, Agam sudah terbangun dan memancarkan senyumnya yang begitu menggoda sehingga hampir semua siswinya dibuat tidak berdaya di hadapannya.
“Pagi Pak,” Indri menyapa Pak Agam yang berpapasan dengannya. Indri yang merupakan musuh terbesar dari Kiara berusaha ingin mendekati pak Agam. Bahkan Indri secara terang-terangan menunjukkan kalau dirinya perhatian terhadap pak Agam.
“Pagi juga!” Jawab pak Agam santai tanpa melirik Indri sama sekali. Indri sangat kesal kepada sikap pak Agam hingga akhirnya Indri berniat membuat rencana agar diirnya mendapat perhatian pak Agam.
Saat pelajaran Seni Budaya tiba-tiba Indri pergi ke kantor pak Agam untuk mengambil buku tugas teman-teman nya.
“Permisi pak, mau mengambi pekerjaan teman-teman,” ucap Indri saat berada di depan Agam.
“Itu ambil di meja! Tolong Kiara suruh menghadap saya dengan membawa tugasnya kemarin!” perintah Agam cuek sambil menulis sesuatu di mejanya.
“ Baik Pak, akan aku sampaikan kepada Kiara,” jawab Indri sambil membawa buku tugas teman-temannya.
“Sudah capek-capek datang ke sini, malah yang ditanyakan Kiara! Benar-benar Pak Agan menyebalkan!” gumam Indri lirih dipenuhi rasa cemburu.
Tidak berapa lama kemudian Indri sampai di ruang kelasnya kembali.
“Kiara! Kamu dipanggil pak Agam keruangannya, dan bawa sekalian tugas kamu!” ucap Indri sambil memonyongkan bibirnya karena kesal,”perintah Indri sambil membagikan buku tugas teman-temannya yang sudah dinilai pak Agam.
Kiara yang malas bertemu dengan Pak Agam hanya diam saja tanpa melakukan pergerakan untuk menemui pak Agam. Indri semakin kesal dengan sikap Kiara.
“Kiara jangan munafik kamu! Aku tahu sesungguhnya kamu selalu mencari perhatian di depan pak Agam!” teriak Indri tiba-tiba sehingga Kiara kaget dibuatnya. Nayla yang mengetahu Kiara diam saja
“Hai Indri apa pedulimu!”sahut Nayla yang berusaha membantu Kiara.
“Hello…, suka-suka aku to?” aku kan ketua kelas, jadi terserah aku dong?” jawab Indri sekenanya sambil menggoyang-goyang. Nayla yang naik darah langsung, menghampirinya dan menjambak rambutnya hingga mereka berlanjut bergulat di lantai.
“Ayo…,Pukul Nay! Pukul! Jangan kasih ampun mulutnya yang pedas itu!“ ucap seseorang entah darimana sumbernya! Mereka berdua pun saling tindih dan cakar-cakaran di lantai kelas. Sementara kelas sementara yang lainnya justru sangat senang jika Indri ada yang melawannya.
Kiara yang yang berada di dekat Nayla berusaha melerainya namun entah bagaimana tiba-tiba Indri mendorong Kiara hingga terhuyung-huyung ke belakang dan hendak jatuh ke lantai namun dengan sigap tiba-tiba pak Agam datang menangkapnya dari belakang.
Pak Agam dan Kiara nampak berpelukan dan saling memandang, seolah-olah mereka berdua ada hubungan spesial. Dan tanpa mereka sadari ada yang salah satu siswa memfotonya.
“So sweet, pak Agam dan Kiara pantas dan serasi ya kalau mereka berdua jadian!” ucap salah seorang siswa di kelas tersebut. Indri yang mendengarkannya langsung kesal dan pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke tempat duduknya sambil memonyongkan bibirnya.
Sedangkan Kiara yang berada di pelukan pak Agam nampak canggung dan berusaha melepaskannya, dan pak Agam yang grogi langsung melepaskan pelukannya dengan pelan-pelan agar Kiara tidak terjatuh kembali.
“Tolong semuanya dikondisikan. Untuk kalian bertiga Kiara, Nayla dan Indri segera ke ruangan saya!” perintah pak Agam kepada mereka bertiga. Mereka bertiga pun berjalan di belakang pak Agam menuju ruangan pak Agam.
“Kalian itu pengurus kelas tidak memberi contoh yang baik! Dan Kiara kenapa kamu tidak segera ke ruangan saya?” tanya pak Agam setelah berada di ruangannya.
“Anu pak, tadi saya masih memperbaiki pekerjaan saya yang kurang pas tapi Indri yang punya mulut pedas mengatai saya kalau saya sebenarnya suka mencari perhatian ke bapak. Nayla tidak terima sehingga langsung menjambak Indri hingga mereka berdua bertengkar. Aku berusaha melerainya dan Indri justru mendorongku hingga aku hendak terjatuh tapi…, untung bapak selamatkan!” jelas Kiara dengan lengkap.
“Ok, kalau begitu kalian bertiga aku hukum untuk membersihkan lapangan upacara. Ayo segera laksanakan!” perintah pak Agam serius.
__ADS_1
“Pak, itu tidak adil. Saya kan hanya melerai dan justru saya juga korban pencemaran nama baik oleh Indri tapi kenapa aku harus ikut?” tanya Kiara berusaha mencari pembelaan dirinya agar terbebas dari tugasnya.
“Baik kalau begitu hukuman kamu saya tambahi membersihkan ruang perpustakaan setelah membersihkan lapangan upacara!” ucap pak Agam puas karena berhasil mengerjai Kiara.
“Benar-benar manusia planet yang susah diajak kompromi. Ini yang korban siapa dan yang tersangka siapa? Dua-duanya nampak abu-abu jadi samar-samar tidak jelas,”gerutu Kiara hendak perg meninggalkan ruangan pak Agam menyusul kedua temannya namun tiba-tiba kerah bajunya ada yang menahannya dari belakang.
“Makanya kalau bertindak itu harus hati-hati!Jangan suka mengurusi urusan orang lain?” ucap pak Agam didekat telinga Kiara.
“Dasar manusia planet yang aneh. Masa ada temena sendiri yang berusaha membela kita dan dianiaya orang lain kita harus diam. Benar-benar pak guru yang tidak berperasaan,”jawab Kiara semakin berani.
“Kiara Aditama! Jaga sikap kamu, meskipun begini kita masih suami istri! Jadi jangan pernah melawan suami kamu?”ucap Agam keceplosan namun untung tidak orang lain yang mendengarnya.
“Ha…, ha…, suami istri? Tidak aku sebenarnya tidak menghendakinya! Pernikahan kita hanya di atas kertas. Itupun karena kakek yang berusaha mencari menantu pengganti yang ingin menggantikan calon suamiku yang tidak hadir di pernikahanku!” ucap Kiara tegas dengan terbata-bata karena sebenarnya dirinya berucap seperti itu merasa sakit di dalam hatinya.
“Ok…, terserah kamu! Pergi sana dan laksanakan hukumanmu!” ucap Agam yang merasakan sakit atas kata-kata dilontarkan Kiara dari mulutnya.
Tiara tanpa menoleh kebelakang langsung meninggalkan ruangan pak Agam. Kiara bergabung dengan Indri dan dan Nayla membersihkan lapangan upacara dengan hati yang sangat kacau.
Tiara tiba-tiba merasakan kalau di hatinya ada sesuatu yang hampa. Setelah 1 jam membersihkan lapangan upacara, kedua temannya kembali ke kelasnya. Makan Kiara bergegas menuju ruang perpustakaan untuk melanjutkan hukumannya yang kedua.
“Benar-benar pak guru Agam tidak bermoral dan tidak berperasaan. Aku yang melerai mereka bertengkar justru mendapat hukuman paling berat,” ucapnya sambil merapikan buku-buku yang ada di rak perpustakaan.
“Bruk…,” satu tumpukan buku terjatuh dari rak buku dan hampir mengenai kepala bu Sandra yang duduk di dekatnya sedang membaca buku.
“Nak Kiara, kalau bekerja itu yang ikhlas ya?” ucapnya pelan dengan penuh kesabaran tanpa ada rasa amarah sama sekali.
“Nak Kiara kalau bekerja jangan melamun?” ucap bu Sandra lembut.
“Baik bu, maafkan saya untung bukunya tidak menjatuhi ibu?” jawab Kiara dengan cekatan kembali membereskan buku-bukunya.
“Agam…, Agam kalau begini caranya bagaimana bisa kamu membawa pulang menantu mama ke rumah?”gumam bu Sandra lirih sambil tersenyum mengawasi Kiara yang sedang bekerja.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Bagaimana kisah selanjutnya ya? Apakah Kiara tahu posisi mama Sandra sebenaranya?
__ADS_1
__ADS_1