
Agam keluar dari rumah tetua Adat dengan perasaan mendongkol. Agam meminta Varel menangani semua media massa yang sudah mengambil fotonya ketika digoda gadis putrinya tetua adat.
“ Varel pastikan kalau gambar yang mereka jepret tidak terekspos keluar, aku tidak ingin istri aku mengetahuinya,” ucapnya memerintah Varel selaku asisten dan temannya.
“Siap bos, Aku kira hari ini bos bener-bener mendapat lotre cuma-cuma! Kenapa tadi tidak dimanfaatkan saja!” tanya Varel penasaran.
“Manfaatkan bagaimana? Cintaku itu hanya untuk kakak ipar kamu! Jadi yang lainnya aku tidak tertarik!” ucapnya sinis sambil berjalan menuju mobil. Bodyguardnya membukakan pintu mobil untuknya kemudian dirinya naik.
“Apa iya, masak ada barang bagus seperti itu dan penampilannya seksi si Bos tidak merasakan kan sesuatu itu yang hidup?” tanya Varel membuat Agam geregetan ingin menjawabnya.
“Sembarangan saja, lama-lama kamu aku lempar di hutan baru tau rasa ya?” ucap Agam serius hingga membuat Varel terdiam. Varel yang tidak mau melihat bosnya semakin mengamuk dengan cepat dia menghubungi seseorang untuk memastikan kalau semua gambar yang diambil oleh wartawan terkait anak gadis tetua Adat dengan pak Agam tidak terekspose.
Setelah semuanya beres Varel dengan diam duduk manis disamping bosnya sedangkan yang berada di depan sopir dan bodyguardnya.
Sesampainya di tempat kerja pegang mukanya masih kelihatan marah karena sikap tetua adat di daerah tersebut yang dengan sengaja memancing kelelakiannya untuk menikahi putrinya.
“Bro sebaiknya kamu rileks dulu. Coba kamu telpon kakak ipar! Siapa tahu kakak ipar hari ini sangat merindukanmu,” ucap Varel mencoba memberi saran kepada Agam.
Agam pun merasa diingatkan berusaha menghubungi Kiara namun tidak mendapat respon dari Kiara. Agam masih suntuk kemudian Agam kembali duduk di sofa dengan perasaan galau.
“Sial…, benar-benar sial aku hari ini! Sudah dapat godaan cewek kegatelan dan sok cantik lagi!” gumamnya lirih.
__ADS_1
Varel yang tidak mau ikut campur lagi urusan Agam, dengan spontan hendak ngeloyor pergi meninggalkan Agam.
“Mau kemana,” tanya Agam dengan suara yang tinggi.
“Ke ruangan aku bro di sebelah! Suasana di sini mulai panas! Bisa-bisa aku kena uap panasnya hingga mengkristal sampai ubun-ubun. So pasti bisa mati berdiri!” goda Varel yang kemudian membalikan tubuhnya kembali lagi menghadap Agam yang sedang membaca pesan lewat ponselnya.
“Duduklah! Ini aku dapat info tetua Adat sudah bisa menerima perjanjian yang kita sodorkan. Kasus ini sudah mulai menemui titik terang. Untuk hari ini coba kau lihat kondisi lahan dan segera hubungi pengacara kita. Aku tidak ingin lagi mereka di belakang mengungkit perjanjian kita. Pastikan semua clear dan tidak ada permasalahan lagi di belakang!” ucap Agam memberi perintah kepada Varel
“Baiklah! Aku akan telpon dulu beberapa karyawan yang asli sini sehingga bisa memberi petunjuk tentang kondisi lahan kita. Untuk pengacara perusahaan sudah standby di kantor,” ucap Varel yang langsung menghubungi beberapa karyawan kantor yang bisa mengantar ke lokasi.
“Ok! Pergilah! Aku mau istirahat dulu. Tiba-tiba badan aku terasa pegal semua!” ucap Agam yang kemudian hendak masuk ke ruang istirahat yang menjadi satu dengan kantornya, akan tetapi langkahnya tertahan ketika mendengar ocehan Varel yang menggelitik telinganya.
“Bos perlu dipijit tidak? Aku panggilkan anak gadis yang tadi menggoda si bos ya? Dijamin si bos akan merasakan surga dunia tagihan neraka!” ucapnya terkekeh hingga Agam dengan reflek melempar notebook yang ada di depannya menghantam lengan Varel.
Setelah kepergian Varel, Agam masuk ke tempat istirahatnya memandangi langit-langit kamarnya. Agam nampak sesekali menahan kerinduan terhadap istrinya. Agam teringat kebersamaannya dengan sang istri. Istrinya yang manja dan terkadang bertingkah aneh selalu akan menghibur dirinya. Agam merasakan rindunya yang sangat dahsyat hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk menelpon istrinya.
Ponselnya setelah dia pencet terhubung dengan ponsel Kiara. Kiara menyambutnya dengan baik dan dirinya seperti biasa selalu nampak bermanja-manjaan terhadap sang suami.
“Siang sayang, bagaimana kabar kamu dan calon bayi kita?” tanya Agam yang tidak sabaran menerima kabar dari istrinya.
“Aku baik-baik saja kak, Aku rasa calon putramu juga baik! Aku bersama putramu menunggu sampai kakak pulang. Dengarkan kak, calon putramu mulai menendang-nendang kembali. Putramu seolah tahu kalau kamu mengajaknya ngobrol!” ucap Kiara manja dan mengarahkan ponselnya ke perutnya.
__ADS_1
“Sayang, putra kesayangan papa. Jaga mama kamu ya? Jangan sampai ada yang mengganggunya!” ucapnya dari seberang sana. Namun tiba-tiba Prawira muncul berkeliaran di hadapannya yang tertangkap oleh kamera Kiara. Agam pun cemburu dibuatnya hingga langsung kesal dan menyampaikan kepada Kiara untuk menjauhi Prawira.
“Sayang…, itu si cunguk perjaka tengil ngapain?” ucapnya dengan nada cemburu.
“Mengantarkan Neta sayang, kebetulan Neta hari ini tidak membawa mobil karena ada di bengkel!” ucap Kiara yang sedang duduk di bangku taman kampusnya namun tiba-tiba Prawira sok pahlawan mengambil ponselnya dan mengatakan kalau dirinya bersama dengan Neta siap menjaga Kiara dan selalu siap siaga 45 menunggu kelahirannya.
Agam semakin marah mendengar ucapan Prawira hingga akhirnya Agam mengancam Prawira untuk segera memberikan ponsel istrinya itu kepada Kiara. Prawira yang tahu klaau Agam sedang marah besar hanya cengengesan menanggapinya.
“Sayang, kalau seperti ini aku jamin besok aku akan segera pulang! aku tidak rela kalau calon putra kita lahir dengan Prawira yang menjaganya!” ucapnya marah besar dan bersungut-sungut hingga membuat Kiara tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah suaminya.
“Sayang, kamu janganlah seperti anak kecil. Itu tidak baik! Lihatlah ntar kamu cepet tua! Masa iya aku dan anak kita berjalan sama aki-aki! Percayalah sama aku sayang. Aku tetap milik kamu dan setia kepadamu!” rayu Kiara hingga membuat Agam agak mereda kemarahannya.
“Jangan merayuku sayang, mau bagaimanapun besok aku tetap pulang! Aku sudah tidak bisa menahan dedek kecilku yang selalu merana dan meratap dengan sepi tidak pernah keluar dari sangkarnya!” ucap Agam syukur nyablak sama istrinya. Kiara nampak malu-malu dengan ucapan suaminya karena tanpa sadar dirinya pakai speaker saat vidio call sama suaminya.
Kiara masih beruntung yang berada di dekatnya hanya Neta dan Prawira sahabatnya. Prawira yang terlanjur mendengar perkataan Agam langsung tertawa terbahak-bahak menertawakan perkataan Agam.
“Bener-bener suamimu itu suami mesum Kiara. Ha…, ha…, pak Agam benar-bener mantap,” ucapnya yang keras terdengar oleh Agam. Hingga Agam pun meminta Kiara memberikan ponselnya kepada Prawira.
“Hai…, perjaka tua dan tengil. Awas ya kalau aku sudah pulang biar ku hajar abis ya? enak saja mengatakan suami mesum. Berbicara sama istri sendiri itu sah-sah saja ya?” ucapnya serius hingga Prawira menahan agar tidak tertawa kembali. Prawira sebenarnya masih ingin tertawa melihat sikap Agam yang lucu dan kekanak-kanakan meskipun seorang ceo perusahaan besar serta sebentar lagi sudah berstatus calon papa untuk anaknya.
Demikianlah akhirnya Agam dan Kiara mengakhiri percakapannya.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?