Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Nayla Ngambek


__ADS_3

Nayla menunggu Varel yang tadi menelpon kalau mau datang ke rumah namun tidak kunjung datang dan tidak ada kabar lagi. Nayla pun juga menelpon Varel namun tidak ada jawaban. Nayla mendesah nafasnya panjang dan pasrah dengan sikap Varel. Nayla mondar-mandir di teras sambil memegang hpnya berharap Varel menghubunginya.


“Non…, makan siangnya sudah siap. Ayo makan!” ucap asisten rumah tangganya yang mengkhawatirkan Nayla sakit maagnya kambuh.


“Iya mbok, sebentar lagi aku makan!” ucapnya sambil sesekali melirik ke arah pintu gerbang sekolah.


“Non…, ayo nanti kamu sakit. Si mbok bisa kena marah nyonya besar!” ucap si mbok yang memang dari kecil selalu mendampingi Nayla seperti putrinya sendiri.


“Iya mbok,” ucapnya sambil ngeloyor pergi namun tidak ke ruang makan. Nayla pergi ke kamarnya untuk merebahkan dirinya tiduran. Si mbok nampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat majikannya seperti itu. Si mbok mengkhawatirkan Nayla ngambek dengan Varel. Si mbok hanya bisa menghela nafas takut kalau Nayla sakit.


“Bener-bener anak muda sekarang, urusan cinta dan perasaan mengorbankan raga yang tidak memperhatikan kesehatan, Non Nayla…, kasihan betul kamu non!” ucap si mbok hendak berlalu kembali ke kamarnya. Belum sempat berbalik menuju kamarnya tiba-tiba bel pintu depan berbunyi. Si mbok bergegas menuju ke depan dan membukakan pintu rumah.


“Tuan Varel…, kasihan non Nayla menunggu dari tadi tapi tidak kunjung datang!” ucap Si mbok yang mempersilahkan Varel duduk di ruang tamu.


“Iya mbok. Maaf tidak sempat memberitahu. Aku ada kepentingan mendadak. Tolong panggilkan Nayla mbok!” ucap Varel sopan kepada si mbok. Sibuk pun bergegas menuju kamar Nayla bermaksud untuk memanggil Nayla agar keluar dari kamarnya.


“Non, di depan ada tuan muda Varel ingin bertemu dengan non Nayla!”ucap si mbok begitu masuk ke dalam kamar Nayla setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Malas mbok! Aku mau tidur saja! Dan bilang sama kak Varel aku sudah tidur tidak bisa diganggu karena capek mengerjakan tugas kampus!” ucap Nayla ngambek dengan Varel.


“Si… non, benar-benar ngambek ya? Padahal tuan muda Varel orang e baik lo? Awas kalau non ngambek terus tuan muda Varel bisa-bisa pulang dan cari perempuan lain lo?” ucap si mbok berusaha mengingatkan nona mudanya.


“Biarin mbok. Aku sudah tidak peduli lagi. Tolong sampaikan ke kak Varel?” ucap Nayla sambil membalikan tubuhnya untuk menghadap ke tembok.

__ADS_1


“Baik non…, akan aku sampaikan!” si mbok bergegas keluar kamarnya Nayla dan menemui Varel.


“Maaf tuan muda! Non Nayla ngambek, tidak mau bertemu!” ucap si mbok terus terang tanpa basa-basi sama sekali.


“Baiklah! Antar aku ke kamarnya mbok!” ucap Varel minta bantuan si mbok untuk ke kamar Nayla. Si mbok pun mengantarkan Varel ke kamar Nayla.


“Sayang, maaf kan aku? Aku tidak bermaksud seperti itu! Tadi itu ada perintah mendadak dari Agam untuk menjemput Neta di bandara,” ucap Varel yang berniat menjelaskan tapi malah memperkeruh keadaan karena keterlambatannya datang karena menjemput Neta.


Nayla masih tidak bergeming sama sekali dan membelakangi Varel dengan muka yang masih gondok tidak jelas.


“Sayang…, ayo kita makan yuk! Si mbok hari ini masak makanan kesukaan kamu!” ucap Varel yang masih bingung dengan ulah Nayla. Karena tidak bergeming sama sekali maka Varel dengan cekatan melempar kunci mobilnya di belakang Nayla untuk menakut-nakuti Nayla.


“Buk…, Nay…awas! Ada tikus jatuh!” ucap Varel higga membuat Nayla bangkit dari ranjangnya dan langsung menerjang Varel dalam gendongannya.


“Iya non! Mana ada tikus dikamar non Nayla?” ucap si mbok yang tertawa gemas melihat tingkah mereka berdua. Si mbok kemudian pergi meninggalkan mereka karena melihat tingkah mereka si mbok malu sendiri.


Begitu si mbok pergi Nayla yang masih dalam gendongan Varel tanpa sadar kakinya melingkar erat ke pinggang Varel dan tangannya memeluk erat leher Varel. Varel yang memiliki naluri kelakiannya berperang diri agar bisa mengendalikan gejolak dalam dirinya.


Varel kemudian mencium kening Nayla kemudian mengecup bibirnya hingga tubuh mereka terasa tersengat aliran listrik. Varel yang merasakan sensasinya nampak tidak bisa menahan hasratnya hingga tubuhnya limbung tidak bisa menahan beban tubuh Nayla. Mereka berdua terjatuh dalam ranjang Nayla yang begitu besar dan mereka berdua berguling-guling berusaha menahan nafasnya untuk mengendalikan emosi jiwanya.


“Sayang…, maaf  kan aku!” ucap Varel yang memegang tangan Nayla kemudian mencium punggung tangannya.


“Iya kak! Ayo kita keluar! Kita makan ya? Tadi si mbok sudah menyiapkan!” ucap Nayla yang sadar akan kekhilafan mereka berdua. Mereka berdua duduk di tepi ranjang dan saling pandang namun dengan hasrat yang sudah terkendali.

__ADS_1


“Sayang…, kita makan di restoran saja! Sekalian ada sesuatu yang harus kita obrolkan berdua!” ucap Varel kemudian menggandeng Nayla ke luar dari kamarnya setelah merapika  bajunya yang sedikit berantakan.


“Kak! Kamu keluar dulu saja aku ingin ganti baju yang agak santai saja!” ucap Nayla memohon kepada Varel.


“Ok! Aku tunggu 15 menit ya? Dandan yang cantik ya?” bisiknya di telinga Nayla sambil berlalu dari kamra Nayla.


“Mbok, aku sama Nayla ingin makan di luar si mbok mau ikut tidak?” ucap Varel sopan.


“Tidak tuan muda! Aku di rumah saja!” ucap si mbok tersenyum tipis memandangi Varel yang nunggu di sofa ruang keluarga.


“Baklah! Nanti akan aku bawakan kesukaan si mbok! Itu Nayla sudah siap. Kita berdua pergi dulu ya mbok?” Varel pamitan untuk pergi.


Dengan santai Varel mengemudikan mobilnya menuju restoran kesukaan Nayla. Setelah sampai mereka berdua mencari tempat yang romantis diwarnai dengan bunga-bunga yang asri dan rindang dekat kolam ikan.


“Sayang…,  aku mau main ke rumah Kiara setelah ini!” ucap Nayla yang duduk di sebelah varel.


“Iya Nanti gampang itu! Yang terpenting kita makan bersama dulu!” ucap Varel dengan pelan.


“Baik kak!” ucap Nayla sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Nayla yang manja kadang-kadang nampak mengemaskan setelah makan makanan yang belepotan seperti anak kecil.


Varel mengusap mulut Nayla yang bellepotan dengan tangannya. Setelah makannya hampir habis Varel mengungkapkan kalau dirinya dipindah tugaskan ke Bali selama beberapa hari.


Varel juga mengatakan kalau nanti baju lamarannya akan dicoba terlebih dahulu di butiknya. Nayla awalnya keberatan dengan kepergiannya Varel namun dengan bujuk rayunya Varel biasa menyakinkan Nayla kalau dirinya setia dan berjanji akan pulang dengan tepat waktu untuk melamarnhya.

__ADS_1


__ADS_2