
Kiara yang sudah siap dengan pakaiannya tinggal menunggu waktu pertandingan. Agam memberi semangat lewat ponselnya. "Semangat ya sayang, aku yakin untuk yang kedua ini kamu juga menang kembali sehingga bisa mengikuti final," tulis Agam kemudian dengan memandang Kiara Agam menggunakan tangannya sebagai tanda pemberi semangat untuknya.
Tidak berapa lama kemudian Kiara dipanggil untuk bertanding. Kiara dengan penuh percaya diri menghadapi musuhnya.
“Brak…, Buk…,” Kiara menyerang musuhnya dengan semangat hingga akhirnya musuhnya terjungkal.
“Bagus Kiara! Kamu memang the best!” ucap pak Agam yang membuat pak Riko semakin curiga karena pak Agam begitu antusias menyemangati Kiara.
“Pak Agam nampak antusias sekali untuk memberi support kepada Kiara? Kalau boleh tahu pak Agam ada hubungan spesial ya dengan Kiara?”tanya pak Riko penasaran.
“Menurut Pak Riko bagaimana?” tanya pak Agam balik yang dengan sengaja biar pak Riko membuat kesimpulan sendiri.
“ Menurut aku pasti Agam punya hubungan spesial dengan Kiara? Tapi aku yakin itu pasti karena paksaan dan tekanan pak Agam sebagai sponsor pertandingan ini!” ucap pak Riko yang menyimpulkan sendiri.
“Ha…, ha…, pak Rico ternyata anda punya pikiran sepicik itu ya? Lihat dan simpulkan sendiri ya?” jawab pak Agam yang semakin membuat pak Riko panas.
“Ok…, tapi boleh dong aku ikut bersaing mendapatkan Kiara?”ucap pak Riko penuh percaya diri.
“Silakan! Itu hak anda. Dan semua keputusan nanti berada di tangan Kiara. Kalau Kiara menolak anda, janganlah anda kecewa!” ucap Agam yang terus fokus melihat permainan. Kiara.
“Ok! Aku siap bersaing dengan anda dan aku jamin Kiara pasti akan memilih aku yang notabene kesehariannya saya lebih sering bertemu dengannya karena aku sebagai pelatih dan gurunya di sekolah. Sedangkan anda di sekolah kita juga baru beberapa bulan datang dan pertemuan anda dengan Kiara sebatas di kelas saja!” ucap pak Riko yang sebenarnya membuat pak Agam tertawa dalam hatinya.
__ADS_1
Pak Riko kemudian diam-diam menganalisa sendiri tentang hubungan pak Agam dan Kiara. Pak Riko melihat pak Agam tidak takut dengan ancamannya bisa dipastikan kalau sesungguhnya memang kecurigaan tentang hubungan pak Agam dan Kiara benar adanya.
Pak Rico menghilang nafasnya karena Pak Riko belum bisa memastikan sejauh mana hubungan mereka berdua. Sebenarnya Pak Riko jauh dari awal sudah menaruh curiga terhadap kedekatan pak Agam dan Kiara namun entah mengapa setiap dirinya hendak mengungkap tabir tentang hubungan mereka seolah-olah dirinya tidak ada kuasa untuk melakukannya. Mereka berdua kelihatan sangat sulit ditembus informasinya seolah-olah ada pihak-pihak tertentu yang melindungi mereka.
Sementara itu pak Agam yang konsentrasi dengan permainan Kiara, dikejutkan dengan ulah salah satu penonton yang tiba-tiba masuk ke dalam ring dan hendak menusuk Kiara dari belakang. Agam yang tak jauh dari tempat kejadian langsung masuk dan menangkap secara spontan pisau tersebut hingga melukai telapak tangannya.
“Ah…, awas Kiara!” teriaknya memecahkan riak riuh penonton yang sedang menyemangati jagoannya masing-masing.
Semua orang akhirnya konsentrasinya terpecah dan semuanya Memandang kearah Agam yang sedang berjuang menyelamatkan Kiara. Pihak panitia akhirnya menghentikan pertandingan tersebut untuk sesaat. Namun pihak penyerang yang entah mengapa bisa meloloskan dirinya begitu saja meskipun dikejar oleh tim pengamanan pertandingan.
Kiara yang panik melihat darah yang mengucur di tangan pak Agam dengan spontan melepas sabuknya yang dari kain untuk dililitkan ke telapak tangan pak Agam. Kiara dengan sabar dan penuh kasih memberinya pertolongan pertama.
“Tidak apa-apa! Itu memang sudah kewajibanku untuk melindungimu!” jawab pak Agam dengan berbisik di telinga Kiara dan itu tidak lepas dari perhatian pak Riko sehingga pak Riko menjadi cemburu melihat kedekatan mereka.
“Kiara ini kau pakailah sabuk pengganti untukmu! Ayo kembalilah ke ring untuk melanjutkan pertandingan ini! Jangan sampai kamu nanti kena diskualifikasi,” ucap pak Riko yang menyodorkan sabuk pengganti untuk Kiara.
Semantara itu Agam langsung ditangani oleh pihak medis dan dibawanya ke ruang kesehatan. Setelah memastikan pak Agam ditangani oleh pihak yang tepat maka dengan penuh percaya diri Kiara melanjutkan pertandingan tersebut.
Perjuangan Pak Agam yang telah menyelamatkan dirinya membuat Kiara semakin percaya diri untuk memenangkan perlombaan tersebut. Kiara semakin mantap untuk mengalahkan lawannya, entah dari mana dia bisa mengumpulkan kekuatan tersebut. Dengan sekali tendang dan pukul, lawannya dibuat jatuh sempoyongan hingga tidak berdaya.
Karena lawannya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri pihak juri memutuskan kalau pertandingan hari ini dimenangkan oleh Kiara. Sorak sorai penonton mendukung Kiara dan mereka dengan bangga mengidolakan Kiara.
__ADS_1
Dan semua media massa hari ini memberitakan tentang kemenangan Kiara. Dan tidak kalah menariknya semua medsos juga memberitakan seorang penyelamat Kiara ketika Kiara di atas ring pertandingan di serang oleh seseorang.
Berita tersebut sampai ke Indonesia, terutama ke orang tua Agam. Papa Bagas dan mama Sandra sangat mencemaskan keselamatan putra dan menantunya.
Kemudian mama Sandra mengajak papa Bagas untuk terbang ke Paris agar bisa melihat putranya. Mama Sandra juga meminta papanya untuk mengawal putra dan menantunya dengan beberapa bodyguard secara diam-diam.
“Papa, Aku mohon papa mau menuruti permintaan Mama untuk menjaga Putra dan menantu kita! Aku sangat takut jika kehilangan mereka!” Banyak Mama Sandra kepada suaminya. Papa Bagas yang sangat mencintai istrinya dan mengerti perasaan istrinya dengan cepat akhirnya menelpon Varel untuk mengirim bodyguard andalan keluarganya ke Paris.
Varel yang merupakan kepercayaan dari keluarga Agam langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh papa Bagas. Karena kepergiannya ke Paris maka papa Bagas memerintahkan Varel untuk menghandle semua kegiatan perusahaan dengan bantuan asisten pribadinya.
Papa Bagas akan merasa tenang jika semua pekerjaan tersebut ditangani oleh Varel karena Varel memang dari awal sudah dia siapkan untuk mengurus semua bisnisnya setelah Agam. Baginya Varel juga sudah dianggap sebagai putranya sendiri.
Varel sendiri juga sudah menganggap papa dan mama Sandra sebagai orang tuanya sendiri karena Varel dari kecil diasuh oleh mereka berdua.
“Om…, pesawat sudah siap! Karena mendesaknya kepentingan, aku sudah siapkan jet probadi untuk om dan tante. Salam untuk Agam om? Aku akan menyusul kesana kalau petandingan inal nanti di hari sabtu!” ucap Varel kepada papa Bagas dan mama Sandra.
“Ok…, nak! Semua kegiatan perusahaan kamu yang pegang! Dan jangan lupa besok ada petemuan dengan klien penting yang harus kamu hadiri!” ucap papa Bagas sambil menepuk bahu Varel diikuti oleh mama Sandra.
Varel pun menghela nafasnya dalam-dalam karena tugas yang diberikan oleh papa Bagas sangat berat baginya untuk dijalani. Varel yang tidak bisa mengikuti mereka ke Paris akhirnya secara pribadi menelpon Agam dengan vidio call untuk mengetahui keadaan Agam, karena bagaimanapun Varel belum bisa tenang kalau tidak tahu keadaan Agam sesungguhnya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1