
Seminggu sudah Kiara berada di rumah sakit dan hari ini diperbolehkan untuk pulang. Kiara sudah mulai membaik bahkan tidak begitu merasakan mual-mual lagi di perutnya.
Agam mempacking semua barang-barangnya Untuk dibawa pulang. Sementara itu Varel sudah menjemputnya. Varel membawakan barang-barangnya menuju ke mobil terlebih dahulu diikuti oleh Agam yang mendorong Kiara dengan kursi roda. Agam sangat protektif terhadap Kiara dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
“ Sayang, kita pulang ya?” ucap Agam dengan mengangkat Kiara dari kursi roda untuk dipindahkan ke mobil. Kiara hanya menganggukan kepalanya. Setelah semuanya siap, Agam duduk di samping Kiara kemudian Varel langsung menyalakan kendaraannya pulang menuju rumah Agam.
Tidak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Agam. Nayla sudah berada di rumah Agam bersama mama Sandra sekaligus Papa Bagas. Mereka sangat senang menyambut kehadiran Kiara.
Kiara digendong Agam dan dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Mma Sandra yang begitu perhatian terhadap menantunya sudah menyiapkan semuanya termasuk membersihkan kamar tidur Agam dan Kiara.
Ragam dengan pelan merebahkan Kiara di tempat tidur. Kemudian Agam menata bantalnya sehingga Kiara bisa tidur dengan nyaman. Agam dengan sangat perhatian dia menunggu Kiara di samping tempat tidur.
Sesaat setelah mereka ngobrol tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran seseorang orang yang membuat Kiara senang sekaligus meneteskan air matanya karena lama tidak bertemu dengan orang tersebut yang ternyata adalah kakek Kiara.
“ Kakek, selama ini kakek ke mana saja? Aku sudah Mencari kakek kemana-mana tapi seolah-olah kakek hilang begitu saja tanpa ada berita sama sekali!”ucap Kiara berusaha duduk dan memeluk kakeknya yang berjalan menghampiri dirinya.
“Ceritanya panjang nak, Kakek selama ini dilindungi oleh Agam. di agama disebut oleh nilai jauh dari keramaian!” ucap kakek Danu yang terus membelai rambut Kiara dengan penuh kasih sayang.
“Iya kek. Alhamdulillah kakek masih sehat dan panjang umur!” ucap Sambil mengusap air matanya sehingga membuat orang lain yang melihatnya juga merasakan hal yang sama sama seperti Kiara. Papa Bagas dan mama Sandra juga Varel beserta Nayla sangat sedih melihatnya. Mereka berniat memberi kesempatan Kiara untuk melepas rindu dan kangennya terhadap kakeknya. Mereka berbalik hendak keluar kamar, namun tiba-tiba Kiara memanggil papa Bagas dan mama Sandra.
“Pa…, ma…, bolehkah aku merawat dan mengizinkan kakek tetap tinggal disini?” ucap Kiara yang masih terisak menangis di pelukan kakeknya.
“Hantu, boleh kok Sayang? Bukan begitu kan pa?” ucap mama Sandra sambil meminta kejelasan juga dari suaminya.
__ADS_1
“Iya nak Kiara! Papa sangat bersyukur memiliki kamu. Apa yang kamu miliki termasuk keluarga kamu, papa dan mama menerimanya dengan baik. Kakek boleh tinggal disini bersama kamu! Papa sangat senang karena papa dan mama bisa memiliki keluarga hebat seperti kalian. Pak Danu dulu juga rekan kerja papa nak!” ucap papa Bagas kepada Kiara dengan tulus.
“Terimakasih pak Bagas. Anda dari dulu selalu membantu saya bahkan dulu waktu aku dalam kondisi pailit karena ayah Kiara yang telah pergi meninggalkan kita semua hanya mewarisi perusahaan yang terlilit banyak hutang, kamu tanpa segan membantuku untuk bangkit kembali merintis perusahan putranku dari nol!” ucap kakek Danu.
Kakek Danu tanpa canggung menghampiri papa Bagas dan memeluknya sebagai ungkapan terima kasihnya. Mereka berdua pun berpelukan seolah-olah melepas nostalgia mereka di tempo dulu.
Papa Bagas yang dulunya sahabatnya papa Kiara ternyata sangat mengenal kakek Danu dan papa Bagas dari dulu juga menganggap kakek Danu sebagai orang tuanya.
“Wah, ternyata hari ini adalah hari yang bahagia di mana kita dipertemukan oleh keluarga besar kita dengan keadaan sehat. Selanjutnya mari kita rayakan pertemuan ini dengan makan masakan yang telah disiapkan oleh simbok,” ucap mama Sandra memecahkan keheningan.
Akhirnya mereka berlima meninggalkan Agam dan Kiara menuju ruang makan untuk makan siang. Sementara itu Agam mengambil beberapa makanan untuk Kiara dan dirinya.
Kakek Danu merasa puas karena cucunya jatuh di tangan yang tepat. Kakek Danu mengucapkan banyak terima kasih kepada papa Bagas dan mama Sandra. Tidak berapa lama kemudian setelah makan mereka beramah tamah di ruang keluarga.
Sementara itu Kiara bermanja-manja dengan suaminya, setelah makan Kiara minta dielus-elus perutnya hingga tertidur. Pelan-pelan Agam melepaskan tangannya dan hendak pergi ke dapur mengambil minuman. Kiara seolah tidak mau ditinggal oleh Agam dan mengigau agra Agam tidak pergi kemudian memeluknya dengan sangat erat.
Agam yang tidak berdaya dan tidak tega dengan Kiara kemudian memanggil simbok dengan interkom yang ada di kamarnya.
“Mbok, tolong ambilkan minuman dingin di kulkas ya? Maaf Kiara tidak bisa ditinggal!” ucap Agam kepada simbok begitu tahu yang menerima pesawat intercomnya simbok sendiri.
“Baik Tuan Muda,” Simbok langsung mematikan intercom tersebut dan bergegas mengambil minuman di kulkas.
“Mbok, untuk siapa minuman itu?” tanya mama Sandra ingin tahu.
__ADS_1
“Untuk tuan muda nyonya,” jawab simbok dan bergegas menuju kamar Agam.
“Mbok biar saya saja. Ini sekalian aku juga mau memberinya kue untuk cemilan. Ini puding kesukaan Kiara!” ucap Mama Sandra kemudian mengambil minuman yang ada di tangan simbok dan bergegas menuju kamar putranya.
“Tok…, tok…,” mama Sandra mengetuk pintu kamar putranya.
“Masuk!” ucap Agam yang tidak tahu kalau yang mengantar minumannya mamanya sendiri.
“Mama, Ma kenapa yang mengantarkan Mama sendiri? Ke mana simbok?” tanya Agam yang masih berada di pembaringan dengan Kiara merebahkan kepalanya di dada Agam hingga Agam tidak bisa berbuat apa-apa.
Kiara yang mendengar ada percakapan antara suaminya dengan mama Sandra mengerjap-ngerjapkan matanya terbangun dan hendak duduk di pembaringan karena malu. Mama Sandra yang tahu diri, akhirnya pamitan untuk meninggalkan mereka.
“Sayang, mama hanya mengantarkan minuman dan kue saja! Tidak apa-apa lanjutkan istirahatmu! Mama mengerti cucu mama pasti kecapekan karena seminggu tidur di rumah sakit!” ucap Mama Sandra kemudian menaruh minuman dan makanan tersebut di meja nakas dekat tempat tidur mereka.
“Terima Kasih mama! Maaf merepotkan!” ucap Kiara yang masih malu-malu menghadapi mertuanya.
“Iya sayang, jaga ya cucu mama! Dan ingat kamu Agam, untuk sementara kebutuhanmu yang satu itu istirahat dulu. Tunggu sampai usia kandungannya melebihi triwulan pertama!” ucap mama Sandra yang memberi peringatan dan ultimatum untuk putranya.
“Iya…, ma! Agam mengerti kok! Kemarin juga sudah dapat penjelasan dan arahan dari bu dokter!” ucap Agam lirih.
“Iya…, tapi biasanya kamu bandel dan suka mencoba sesuatu yang biasanya dilarang!” ucap mama Sandra terkekeh membayangkan masa nak-anak dan remaja Agam yang begitu bandel.
Agampun mendelik memberi peringatan kepada mamanya agar tidak keceplosan untuk menceritakan kebandelannya di depan Kiara. Mama Sandra yang mengerti kecemasan putranya langsung meninggalkan putra dan menantunya.
__ADS_1