Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Ngidam


__ADS_3

Hari ini hari  Sabtu merupakan hari libur sekolah. Kiara mulai pagi selalu uring-uringan minta sesuatu aneh-aneh. Mungkin Kiara ngidam. 


Di pagi yang cerah tiba-tiba dirinya minta suaminya jalan-jalan mengitari alun-alun. Agam pun menuruti apa yang dimau oleh istrinya.


Mereka pagi sekali sudah berada di alun-alun. Mereka berjalan santai mengitari taman  alun-alun namun tiba-tiba Kiara berhenti di dekat seseorang yang menjual balon terbang. 


“Sayang, aku mohon belikan balon terbang itu ya? Dan setelah itu kamu terbangkan dan dan berteriaklah kalau kamu sangat mencintai aku!” ucap Kiara yang duduk di dekat bapak penjual balon.


“Baiklah sayang, kamu tunggu ya? Pak semua balon ini aku beli ya?” ucap Agam sambil memberi beberapa lembar uang untuk pemilik balon tersebut. Penjual balon menyerahkan kembaliannya tapi ditolak oleh Agam.


Tidak Berapa lama kemudian akan melepaskan balon-balon tersebut dan berteriak bahwa dia sebenarnya mencintai Kiara hingga akhir hayatnya.  Semua orang yang berada di alun-alun mendengar teriakan Agam hingga mereka melihat ke arah Agam semuanya. Semuanya fokus dengan Agam dan Kiara hingga mereka bersorak sorai mendengar perkataan Agam. Namun ternyata Kiara tidak sampai disitu saja, Kiara masih meminta sesuatu kepada Agam.


“Sayang aku masih ingin berkeliling alun-alun ini dengan becak,  dan aku mohon kakak yang mengayuh becaknya?” ucap Kiara memelas.


“Sayang, mana bisa seperti itu? Aku tidak pernah mengayuh becak, aku takut nanti jatuh. Minta yang lain saja ya?” ucap Agam berusaha mengalihkan perhatian Kiara karena dirinya memang takut mengayuh becak karena dulu pernah trauma jatuh dari becak.


“Aku tidak mau,  maunya aku naik becak berkeliling di alun-alun,” ucap Kiara bersikeras dengan permintaannya.


“Baiklah! Ayo kita kesana pinjam becaknya pak tua itu!” ucap Agam sambil berjalan menuju ke arah pak tua.


“Pak, bisa pinjam becaknya! Ini aku beserta istriku mau mengelilingi alun-alun,” ucap Agam kepada pak tua yang mempunyai becak.


“Iya pakai saja tidak apa-apa,” ucap pak tua yang mempunyai becak. Agam kemudian duduk di belakang dan bersiap-siap untuk  mengayuh becaknya.


“Sayang, ayo kamu duduk! Ini abang sudah bersiap mengantar kamu pergi kemanapun,” ucap Agam dengan banyak keluar keringat karena takut kalau dirinya beserta istrinya terjatuh dari becak.


“Kamu kenapa sayang? Sakit ya?” tanya Kiara sambil mengelap keringat dari dahi suaminya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa! Aku hanya panas saja karena terik matahari!” ucap Agam berusaha menyembunyikan ketakutannya karena trauma.


Kiara kemudian naik di kursi penumpang becak, pelan-pelan agam mengayuh becaknya namun pasti mereka berkeliling alun-alun dengan gayanya. Agam dengan penampilannya memakai kaos casual menampakan dirinya sangat macho dan tampan sehingga banyak cewek-cewek menggodanya.


“Bang mau dong aku naik becaknya! Habis mbaknya ya? Aku mau juga tuh hidup mengayuh becak mengelilingi dunia bersama kamu!” goda mbak-mbak cantik yang berpapasan dengan mereka.


Kiara nampak manyun melihat suaminya digoda mbak-mbak. “Menyebalkan, masa mereka mau juga sama tukang becak!” gerutu Kiara yang terdengar oleh Agam,


“Tentu mau dong sayang, kan yang mengayuh becak seorang miliarder, tampan dan macho lagi?” goda Agam kepada istrinya yang pelan-pelan Agam sudah enjoy tidak merasakan ketakutan lagi karena trauma.


Sementara itu Varel yang tak jauh dari mereka sedang jalan-jalan bersama Nayla melihat Agam mengayuh becak dirinya tersenyum tipis mengingat masa lalu Agam yang waktu kecil jatuh dari becak bersamanya hingga Agam trauma tidak mau naik becak sama sekali.


“Sayang apa yang kamu sembunyikan hingga kamu kelihatan tersenyum puas seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatian kamu?” tanya Nayla penuh curiga.


“Lihatlah siapa mereka?” tanya Varel kepada Nayla dengan menunjuk ke arah becak yang sedang mengelilingi alun-alun.


“Masalahnya dulu hingga saat ini sebenarnya trauma naik becak, bahkan kalau dipaksakan dia akan pingsan,” ucap Varel memberi penjelasan kepada Nayla.


“Berarti pak Agam sudah sembuh dong yang, dan aku yakin itu semua karena cinta,” ucap Nayla memberi penjelasan kepada Varel,


“Iya kali yang, cinta bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin!” ucap Varel kepada Nayla kemudian menggandeng Nayla hendak menghampiri mereka.


“Sayang mau kemana?” tanya Nayla yang tidak mengerti dengan sikap Varel.


“Mereka sudah selesai naik becaknya, ayo kita kesana menemui mereka! Kita bisa ngedate bareng dengan mereka,” ucap Varel dan terus menggandeng Nayla. 


“Ok, mumpung mereka ada di sini kita ajak sekalian nonton pertunjukan circus di depan situ,” ucap Nayla kepada Varel. Dan tidak berapa lama kemudian mereka sudah berada di dekat Agam dan kiara.

__ADS_1


“Selamat pagi pak bos? Wah ternyata sudah sembuh dari trauma ya?” ucap Varel tiba-tiba yang berada di dekat mereka.


“Eh kak Varel dan Nayla? Kalian lagi jalan-jalan juga ya? Eh…, tunggu dulu. Trauma? Siapa yang trauma?” tanya Kiara kepada mereka dengan penuh penasaran.


“Itu pak Agam! Dulu pernah trauma naik becak karena pernah jatuh naik becak dan nyungsep ke aspal,” ucap Nayla memberitahu sahabatnya.


“Astaga benarkah seperti itu kak? Tapi kenapa tidak menolaknya waktu aku meimintamu mengayuh becak?” tanya Kiara kepada suaminya. 


"Karena aku laki-laki dan aku tidak boleh lemah dihapanmu. Kalau aku lemah siapa yang menjaga kamu dan anak-anak kita kelak?" ucap Agam yang sangat menyentuh hati Kiara. 


Kiara pun melangkah mendekati suaminya kemudian mencium pipi suaminya. 


"Terimakasih sayang, kamu memang suami yang baik dan calon papa yang baik juga untuk anak-anak kita?" ucap Kiara dan lagi-lagi membuat baper Varel dan Nayla. 


" Sayang, mau dong dicium," ucap Varel menunjuk pipinya dihapan Nayla. 


"Hem…, hem. Halalin dulu ya?" ucap Agam sambil menimpuk Varel dengan botol aqua yang sudah hampir habis. 


"Dikit, doang kok!" ucap Varel terkekeh kembali menggoda Nayla. 


"Enak saja. Tuh dengerin kata pak Agam. Lamar dan nikahin dulu baru boleh begitu an," ucap Nayla kepada Varel kekasihnya. 


"Iya bulan depan aku lamar. Aku siap kok menikah dengan kamu. Tunggu orang tuaku meminangmu ya?" ucap Varel yang memang serius dengan Nayla. 


"Iya, terserah kakak saja. Aku ikut apa kata kakak saja ya? O…,iya. Ayo katanya mau mengajak nonton sirkus?" ucap Nayla berusaha mengalihkan pembicaraan. 


"Iya…, mari bro kita nonton bersama," ucap Varel nyambung perkataan Nayla. 

__ADS_1


Mereka pun akhirnya pergi nonton sirkus setelah memberi uang kepada pak tua pemilik becak. 


__ADS_2