
Sudah hampir seminggu Putri tinggal bersama Agam dan Kiara. Putri sangat manja kepada mereka berdua. Untuk tidur pun Putri selalu ingin bersama mereka. Agam terkadang merasa bingung harus bagaimana menghadapi Putri bahkan saat ini Agam yang hendak bercumbu rayu dengan istrinya saja harus menungu Putri benar-benar tertidur.
“Sayang, sudah belum?” tanyanya kepada istri tercintanya.
“Sudah apaan,” jawab Kiara pura-pura tidak mengetahuinya.
“Sayang, kamu jangan begitu? Masa iya kamu tidak tahu? Ayolah sayang?” Agam mulai bereaksi dengan sedikit menggesekkan kakinya ke kaki betis Kiara yang mulus.
“Astaga sayang kau itu seperti anak kecil saja!” ucap Kiara yang terus cuek kepada suaminya seolah tidak tahu kalau suaminya sedang menginginkannya. Agam Terus gelisah dan tidak bisa tidur dengan tenang. Meskipun sedang berusaha memejamkan matanya akan tetapi dirinya tidak bisa tertidur. Putri yang berada di tengah-tengah mereka sudah tertidur dari tadi.
Sebenarnya Kiara pun juga merasakan hal yang sama. Beberapa hari ini ketika Putri berada di ke tengah-tengah mereka, Kiara tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kiara memang biasa tidur di dalam pelukan suaminya.
Kiara yang yang memiliki ego tinggi pura-pura tidak membutuhkan suaminya. Kiara masih tetap bertahan dan berusaha memejamkan matanya. Namun tiba-tiba Agam yang tidak sabaran ingin melihat buah hatinya yang masih dalam kandungan mamanya bangkit dari tidurnya untuk menggendongnya.
Kiara yang terkejut langsung melingkarkan tangannya di leher Agam. Sementara itu Putri tiba-tiba mengigau untuk meminta Kiara kembali.
“Tante Kiara jangan tinggalkan aku!” rintih Putri dan langsung tertidur kembali. Agam pun dengan pelan meletakkan kembali istrinya di ranjang. Agam langsung mendekap istrinya untuk tidur dengan posisi Putri berada di ujung mepet tembok dengan Kiara berada di tengah.
Agam kembali mulai gelisah karena tidak bisa menahan diri karena beberapa hari tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus dari Kiara. Sementara itu Kiara juga mulai tidak nyaman dengan pergerakan Agam yang terus berusaha menerobos pertahanan pintu masuk menuju tempat calon bayinya beristirahat.
__ADS_1
“Sayang apaan sih yang, ditahan kenapa? Main nongol saja! Awas Putri entar terbangun?” ucap Kiara sambil berusaha membelakangi suaminya. Namun Agam tidak kalah akal dengan cekatan dirinya menarik selimutnya untuk mereka berdua dan pelan-pelan mulai menjalankan aksinya. Entah bagaimana tiba-tiba dari belakang dia sudah mulai pergerakannya. Kiara dengan lembut juga mengikuti irama pergerakan suaminya.
“Sayang yang pelan ya? Aku tidak ingin Putri terbangun?” bisik Kiara diantara irama pergerakan suaminya. Agam nampak menikmatinya kemudian terus dan terus melakukannya hingga mereka berdua terpuaskan.
Agam tidak sampai disitu saja, Agam yang masih memiliki gairah kelelakiannya dengan cepat berdiri dan menggendong istrinya menuju ke kamar mandi. Mereka berdua bermain dibawah guyuran air shower hingga menambah daya tariknya sendiri. Agam bermain dengan halus mengecup bibir, leher kemudian turun ke bawah untuk mengecupnya dengan lembut dan pelan.
“Astaga, sayang! Kamu itu kelihatan seperti kehausan saja! Padahal kita tidak melakukannya hanya beberapa hari saja!” ucap Kiara yang terus bergelayut manja dengan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Agam dengan Reflek langsung mengalihkan tangan istrinya kemudian dirinya bereaksi jongkok di hadapan istrinya untuk mencium perut istrinya yang membesar.
“Sayang anak papa baik-baik saja ya? Maafkan papa karena sibuk baru bisa besuk hari ini?” ucapnya kembali mengecup perut istrinya dan di dalam perut pun nampak beraksi dengan menendang-nendang perut mamanya.
“Sayang…, kau itu ada-ada saja! Aku rasa putra kita akan nampak senang jika kamu tidak terlalu sering menjenguknya. Karena kalau sering-sering aku takut anak kita terlalu banyak di bawah tekanan kamu yang keras. Kamu teralu ambisi sayang? Ingat calon anak kita kasihan kalau brojol sebelum waktunya!” ucap Kiara memberi peringatan kepada suaminya.
Agam tanpa sepengetahuan Kiara telah menanyakan hal itu kepada dokter kandungan sahabatnya. Bahkan Agam juga menanyakan cara-cara aman untuk melakukannya tanpa mengganggu kehamilan istrinya. Dan yang lebih menyenangkan lagi disaat usia kehamilan nya menjelang akan melahirkan Agam bisa melakukannya untuk memperlancar proses kelahiran calon anaknya.
Agam yang merasa puas dengan senang hati memandikan istrinya hingga bersih dan dengan sukarela juga membantu mengeringkan rambut istrinya. Kiara nampak senang melihat suaminya yang begitu memanjakannya.
“Sayang, tinggal satu bulan lagi aku melahirkan. Aku ingin ketika melahirkan kamu menemaiku! Aku ingin mengabadikan persalinan putra kita dengan vidio,” ucap Kiara memohon kepada suaminya.
__ADS_1
“Iya sayang, soal itu janganlah kau ragukan lagi. Aku akan menyewa ruangan khusus untuk persalinan. Aku jamin aku akan selalu menemanimu!” ucap Agam sambil mengecup anak rambut Kiara yang tergerai untuk dikeringkan. Kiara nampak senang karena suaminya mau menuruti apa yang menjadi keinginannya.
Setelah kering rambutnya Kiara dan Agam kembali ke pembaringan untuk melanjutkan tidurnya kembali. Kiara terlelap dalam pelukan Agam yang perkasa. Agam yang menyayangi Kiara nampak memeluknya erat seolah tidak mau melepaskannya. Agam memainkan rambut Kiara yang tergerai dan sesekali mengusap-usap pipi Kiara yang mulus dengan lembut.
“Terimakasih sayang, kamu begitu sayang dan menjaga calon anak kita dengan baik! Jadilah istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita,” gumamnya lirih hingga akhirnya dirinya juga ikutan tertidur pulas.
Hari pun berganti hingga pagi hari menjelang, Agam membangunkan istrinya untuk segera mandi dan melaksanakan salat subuh bersama. Kiara yang sudah terbiasa dengan Putri juga membangunkan Putri dan memandikannya. cara juga mengajak Putri untuk melakukan salat subuh bersama. Putri yang beberapa hari bersama dengannya sangat menuruti apa yang dikatakan oleh Kiara.
Setelah melakukan aktivitas salat subuh bersama Kiara mengambil air minum di dapur. Agam yang berada di belakangnya dengan tiba-tiba langsung memeluknya kemudian mencium istrinya mesra hingga membuat Kiara reaksi.
Kiara yang gemas dengan kelakuan suaminya langsung meminta Agam untuk menghentikannya karena sebentar lagi pasti si mbok akan masuk dapur untuk melakukan aktivitas membuat sarapan pagi.
“Tenang sayang, si mbok sedang belanja ke pasar!” ucap Agam menenangkan istrinya karena takut kepergok si mbok.
“Putri bagaimana?” tanyanya lagi karena setahunya Putri bersama dengan Agam.
“Bersama si mbok belanja ditemani sopir!” ucap Agam yang terus berlanjut melaksanakan aksinya.
“Sayang jangan ah! Ini dapur lo sayang?” ucap Kiara memohon.
__ADS_1
“Ok, kalau begitu kita pindah tempat ya sayang?” ucap Agam langsung menarik istrinya menuju ruang keluarga. Agam dengan antusias kembali menjenguk calon putranya dengan irama yang sangat pelan dan memabukan.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?