
Kiara yang mengetahui tangan akan terluka, membuat dirinya semakin perhatian terhadap Agam. Di saat mereka makan, Kiara nampak menyuapi Pak Agam dengan tulus. Pak Riko yang mengetahui hal itu merasa cemburu terhadap perhatian Kiara.
Pak Riko yang iri melihat kedekatan mereka berusaha mencelakai pak Agam dengan menuangkan serbuk pencuci perut ke minuman pak Agam. Kiara yang mengetahui gerak-gerik Pak Riko kemudian saat Pak Riko lengah menukar minuman tersebut dengan milik Agam. Pak Riko sedang berjalan mengambil kue camilan untuk dirinya.
“Sayang, apa yang kamu lakukan? bukankah itu minuman aku?” tanya Agam dengan berbisik berharap pak Riko mengetahuinya.
“Syett…, diamlah!” aku hendak memberi pelajaran pada dirinya yang hendak mencelakai kamu!” ucap Kiara.
Pak Riko yang sudah kembali langsung duduk didekat mereka. Pak Riko nampak menikmati snack yang barusan dia ambil tanpa merasa curiga dengan minuman yang sudah Kiara tukar.
Kiara yang gemas dengan tingkah laku pak Riko berusaha membuat Pak Riko cemburu dengan tingkahnya.
Kiara mengambil puding di dekatnya kemudian sedikit-demi sedikit menyuapi pak Agam. “Maaf pak, tolong dimakan ya? Ini salah satu bentuk kepedulian saya karena pak Agam telah membantu menolong saya dari serangan orang yang tidak dikenal!” ucap Kiara berusaha mengelabui kedekatan mereka di hadapan teman-teman satu kontingennya dan para pelatihnya.
“Tentulah! Kalau seperti ini terus aku tidak merasakan sakit sama sekali! Tolong dong disuapin aku juga ingin makan sup itu!” ucap Agam yang sengaja ia lakukan untuk melihat reaksi Pak Riko.
Pak Riko yang sudah minum minuman yang tercampur dengan obat cuci perut, ku merasa gelisah karena obat tersebut mulai bereaksi. Pak Riko yang berusaha menahan sakit perutnya akhirnya kelepasan hingga tiba-tiba dia terburu-buru meninggalkan ruang makan tersebut.
Agam dan Kiara yang duduk di dekatnya mencium bau tidak sedap hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
“Huek…, huek…,” Kiara tidak tahan dengan bau yang ditimbulkan oleh gas sakit perutnya pak Riko.
“Sayang, ayo kembali ke kamar saja!” Agam mengajak Kiara untuk kembali ke kamar dengan Agam melangkah terlebih dahulu baru diikuti oleh Kiara.
Agam yang sampai di kamarnya terlebih dahulu langsung mengunci pintu kamarnya dan membuka pintu kamar yang menghubungkan dengan kamar Kiara.
“Sayang, ayo duduk sini!” ucap Agam yang sudah duduk di sofa kamar Kiara. Kiara pun tanpa ada rasa canggung duduk di dekat suaminya. Dengan pelan-pelan Agam langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Kiara.
“Ih…, kakak ternyata ada maunya! Kak jangan manja ah!” bisik Kiara sambil mengusap rambut suaminya yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
“ Manja boleh dong sayang, aji mumpunglah! Aku jamin kamu pasti tidak akan menolaknya!” ucap Agam kepada Kiara.
“Kakak benar-benar bisa memanfaatkan peluang! Aku sebagai istri siap kok memenuhi semua permintaan kamu!” ucap Kiara lirih kepada suaminya yang sudah tentu ia pastikan Agam tidak akan meminta begituan karena telapak tangannya masih terluka.
“Sayang kamu juga pandai memainkan umpan kok! Eh…, sudah tahu aku begini kamunya malah pasrah! Benar-benar kamu ikhlas tidak sih?” tanya Agam yang sengaja mencari kebenaran atas ucapan Kiara.
“Kakak pikirannya jangan negatif melulu ya? Kalau tidak percaya ayo kita buktikan!” ucapnya sengaja menantang Agam dengan sungguh-sungguh.
“Ha…, ha…, iya aku percaya dan yakin kok sama kamu. Tapi…, nunggu aku sembuh saja ya sayang biar lebih intens dan nikmat!” ucap Agam sekenanya.
“Terserahlah!” jawab Kiara sekenanya.
Disaat mereka sedang asyik ngobrol tiba-tiba ponselnya berbunyi yang ternyata berasal dari sahabatnya Nayla.
“Halo…, Kiara sayang? Bagaimana keadaan kamu?” tanya sahabatnya.
“Alhamdulilah aku baik-baik saja, namun kak Agam terluka di telapak tangannya!” jawab Kiara.
“Ha…, serius nich? Gila apa?” umpatnya tiba-tiba hingga tanpa sadar dirinya berdiri hingga Agam jatuh ke lantai.
“Buk…, ah…,” jerit Agam lirih karena terjatuh dari sofa.
“Kiara…? Apa yang terjadi dengan kamu? Dan suara siapa itu?” tanya Nayla penasaran.
“Suara orang di televisi Nay, aku di kamar 105 kesinilah! Mintalah petugas hotel mengantarmu kesini!” perintah Kiara kepada sahabatnya melalui ponselnya kemudian menutup ponselnya.
“Sayang, kamu ke kamar kamu dulu ya? Ingat kamu jangan pernah membuka pintu tembus kita ya?” ucap Kiara memberi peringatan kepada Agam.
“Iya sayang, tapi bonus dong?” ucapnya sambil menyodorkan pipinya ke arah Kiara. Kiara yang gemas menanggapi Agam dengan mencium pipi kanan dan kirinya kemudian menempelkan jari-jarinya ke bibir suaminya.
__ADS_1
“Astaga sayang itu namanya tidak abdol dan setengah-setengah memberi ciuman kepada suamimu ini!” ucap Agam yang kemudian dengan memaksa mencium bibir Kiara.
“Muach…, cup…, terimakasih sayang? Selamat bersenang-senang dengan Nayla dan jangan lupa tetap hubungi aku ya kalau ada masalah!” ucap Agam yang selalu mengkhawatirkan Kiara.
“Iya…, iya bawel amat sih! Sana cepat pergi keburu Nayla datang!” ucap Kiara yang mendorong tubuh Agam untuk kembali ke kamarnya.
Sementara itu Nayla yang sudah berada di depan pintu Kiara, mengetuk pintu kamar hotel Kiara sebagai tanda untuk izin masuk. Tidak berapa lama kemudian Kiara membuka pintu untuk sahabatnya.
“Kejutan…!” ucap Nayla yang langsung memeluk sahabatnya.
“Hai…, Nayla tidak menyangka kalau kamu hadir ke Paris juga ya?” ucap Kiara membalas pelukan sahabatnya.
“Iya kebetulan, sebenarnya aku datang kesini sejak kemarin, namun aku masih sibuk dengan pernikahan sepupu aku!” ucap Nayla dan langsung duduk begitu saja di sofa kamar Kiara.
“Hem…, hem…, aromanya kok bau-bau farfum maskulin ya?” tanya Nayla yang kocak dengan mengendus-endus sofa yang diduduki.
“Astaga Nayla…, mana ada cowok masuk ke hotel cewek?” ucap Kiara yang berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya kalau barusan Agam baru datang ke kamarnya.
“Beneran nih! ini sih bau cowok banget dan aku pastikan aromanya baru saja!” ucap Nayla yang mulai mencari-cari sosok cowok yang dia curiagai. Nayla mencari-cari di kamar mandi dan di dalam lemari namun tidak menemukan siapa-siapa.
Kiara terkekeh melihat penciuman tajam sahabatnya. Tidak berapa lama mereka berdebat tentang bau parfum maskulin tiba-tiba dikejutkan suara ketukan kamar Kiara.
Kiara kemudian membuka pintu kamarnya dan di luar suda nampak papa dan mama mertuanya.
“Papa…, mama…? Selamat datang di Paris pa…,ma…?” ucap Kiara bingung melihat mereka sudah hadir di Paris. Kiara langsung mencium punggung tangan kedua mertuanya diikuti oleh Nayla.
“Lo…, ada nak Nayla juga ya? Kapan datang nak? Tahu begitu Varel tadi harusnya kita ajak kesini juga pa?” goda mama Sandra kepada Nayla.
“Iya ma! Tapi nanti saat pertandingan final saja kita suruh menyusul kesini!” ucap papa Bagas penuh pengertian hingga membuat Nayla malu.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?