Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Kakek Danu


__ADS_3

Agam pergi keluar kota bersama Varel dengan perasaan tidak menentu. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Varel.


“Fokus bro…? Fokus!” goda Varel kepada sahabat.


Agam menarik nafas panjang seolah ingin menceritakan sesuatu kepada sahabatnya.


“Entahlah Bro, aku kembali ke keluargaku hanya ingin membuktikan kalau aku sebenarnya bukan seperti yang mereka pikirkan! Aku ingin memberi pelajaran kepada gadis kecil itu dan keluarganya!” ucap Agam serius sehingga membuat Varel tertawa dibuatnya. Karena dimanapun Agam tidak pernah seserius ini apalagi ingin membalas dendam. Sepengetahuan Varel sahabatnya tidak pernah menyakiti orang lain.


“Serius Bro? kamu akan melakukannya? Awas lo ya, bisa-bisa kamu jatuh cinta terhadap gadis itu!” ucap Varel sengaja mengejek Agam.


“Seriuslah, aku pelan-pelan akan menyiksanya hingga akhirnya dia akan berlutut kepadaku untuk memohon maaf kepadaku!”ucapnya bersemangat.


Disaat mobil mereka berada di kawasan yang sepi tiba-tiba ada seseorang melambaikan tangan dengan badan yang penuh luka dan langsung terjatuh di jalanan yang beraspal. Varel yang terkejut langsung menghentikan mobilnya.


“Bro kalau nyetir hati-hati!” tegur Agam.


“Itu ada seseorang yang penuh luka menghentikan mobil kita. Kelihatannya pingsan,” ucap Varel yang langsung meminggirkan kendaraannya. Varel dan Agam turun dari mobil untuk memeriksa orang yang pingsan di pinggir jalan tadi.


“Kakek Danu!” ucap Agam sangat terkejut ketika melihat yang pingsan ternyata kakek Danu yang dikenalnya.


“Kamu mengenalnya bro?” tanya Varel penuh tanda tanya.


“Iya…, ayo kita masukan ke dalam mobil, kita bawa ke rumah sakit!” perintah Agam yang membantu Varel mengangkat tubuh kakek Danu untuk dimasukan ke dalam mobil. Varel kembali ke posisinya dengan mengemudikan mobil menuju rumah sakit yang kebetulan searah dengan jalan yang akan mereka kunjungi.


 Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di UGD dan dengan cekatan perawat menyambut mereka untuk membawa kakek Danu ke tempat perawatan intensif. Semua luka kakek Danu dibersihkan dan diberi perban agar segera membaik.

__ADS_1


 “Bagaimana pak dokter keadaan kakek saya?” tanya Agam kepada dokter yang menangani kakek Danu.


“Lukanya hanya luka ringan karena bekas cambukan! Tapi kalau tidak segera ditangani bis menyebabkan kakek Danu kehilangan nyawanya karena darah dari luka tubuhnya banyak yang mengalir!” ucap dokter kepada Agam.


“Baguslah, kalau begitu dokter, semoga kakek aku tidak akan apa-apa!” ucap Agam cemas karena bagaimanapun dirinya sangat prihatin dan simpati dengan kakek Danu. Agam yakin kakek Danu orangnya baik tidak seperti cucu-cucunya.


“Maaf pak, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?” tanya pak dokter kepada Agam.


“Kita tunggu kakek sadar dulu saja!” ucap Agam yang mencoba melirik kakek Danu dan berharap segera sadar. Dan betul saja seketika itu kakek Danu bergerak dan memanggil seseorang yang lain adalah Kiara.


“Kiara, Tolong selamatkan kakek!” ucap Kakek Danu lirih hingga akhirnya Agam berusaha membangunkan kakek Danu.Seketika itu juga kakek Danu hanya dan sadar kalau dirinya berada di rumah sakit.


 Kakek Danu menyebarkan seluruh pandangannya menuju ruangan rumah sakit tempat perawatannya dan seketika itu juga kakek Danu kaget tak kala melihat kalau yang berada di depannya itu adalah Agam.


“Nak Agam tolong selamatkan kakek! Bawa pergi kakek jauh-jauh dari sini!” rengek kakek Da u seperti anak kecil dengan memegangi tangan Agam seperti anak kecil.


“Jangan nak! Mereka semua sangatlah licik dan jumlahnya cukup banyak. Aku mohon bawalah aku pergi dari sini,” ucap kakek Danu ketakutan. Kemudian Agam konsultasi kepada dokter yang merawat kakek Danu untuk membawanya pergi menjalani perawatan jalan.  Setelah mendapat izin dari  dari dokter,  Agam membawa kakek Danu ikut serta dengannya.


“Varel kita ke Villa dulu setelah itu baru meluncur ke tempat meeting bersama klien,” perintah Agam kepada Varel.


“Baik bro,” dengan sigap dan vekatan Varel kembali menyetir membelah jalanan yang beraspal. Berapa menit kemudian mereka sampai di Villa keluarga milik orang tua Agam yang biasa digunakan sebagai tempat singgah jika berada di kota tersebut.


“Ayo kek!” dengan penuh kasih sayang, Agam mendampingi kakek Danu yang berjalan tertatih-tatih menuju Villa. sementara itu Varel juga membantunya.


“Kakek bisa tinggal disini sepuasnya! Dan aku rasa ini tempat yang aman untuk kakek!” ucap Varel mewakili bosnya.

__ADS_1


“Baik terimakasih nak Agam!” ucap kakek Danu setelah dibantu Agam dan Varel untuk direbahkan di ranjang kamar.


“Kakek…, siapa yang melakukan ini?” tanya Agam kepada sang kakek yang masih meringis kesakitan.


“Riki nak! Dia hendak menguasai seluruh warisan papanya! Dia itu sangat kejam nak! Dan sesungguhnya dia adalah anak di luar nikah putraku papanyanya Kiara. Dulu sebelum menikahi ibunya Kiara putraku pernah berpacaran dengan temannya semasa kuliah hingga terlahir Riki,” ucap kakek Danu yang mengejutkan Agam. Karena yang dia pikir Riki itu saudara kandung dari Kiara.


“Astaga terus bagaimana dengan Kiara kek?” tanya Agam sedikit kuatir dengan Kiara.


“Aku rasa dia tidak akan pernah menyakiti Kiara secara fisik, karena bagaimanapun mereka masih memiliki hubungan darah!” jelas kakek Danu.


“Terus bagaimana selanjutnya nya? Apa yang harus kakek lakukan?” tanya Agam dengan penuh rasa kuatir.


“ Untuk sementara kakek mohon kamu bisa mengizinkan kakek untuk tinggal disini!” ucap Kakek Danu serius.


“Baiklah, kalau itu kemauan kakek! Aku akan menyuruh mbok Mien untuk menjaga dan merawat kakek di sini!” ucap Agam Tegas kemudian mencari mbok Mien untuk menjaga kakek Danu.


“Mbok Mien tolong jaga kakek Danu dan layani semua kebutuhannya dengan baik,” ucap Agam begitu bertemu dengan mbok Mien.


“Bro, itu tidak lucu bro? Janganlah kau cari masalah dengan melibatkan dirimu ke masalah yang menurutku cukup pelik dan berbahaya. Apalagi menyangkut nyawa dan harta warisan. Aku yakin ini pasti tidak sampai di sini saja!” ucap Varel yang dri tadi diam ternyata berusaha memikirkan sesuatu agar Agam tidak terlibat dengan masalah kakek Danu.


“Varel, kamu itu apaan sih? Mana ada cucu menantu seperti aku membiarkan kakek mertua aku teraniaya dan tersakiti seperti itu!” ucap Agam dengan sedikit emosi hingga Varel terdiam.


“Baiklah terserah kamu sajalah bro! Aku tahu kamu bisa berpikir baik dan realistis. Apakah Kiara menganggap dirimu sebagai suaminya?” tanya Varel balik hingga Agam kembali terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Varel.


Namun Agam saat ini dirinya hanya dikuasai oleh bayangan Kiara yang lembut dan menggoda seolah-olah berteriak minta tolong kepadanya. Dirinya yang memang belum pernah terucap kata cerai dengan Kiara seolah berharap kalau ke depannya bisa menjalin hubungan suami istri yang baik dengan Kiara.

__ADS_1


“Hai…, bro apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Varel telah menyadarkan dirinya dari lamunan yang tidak menentu.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Bagaimana kisah selanjutnya ya? Akankah kakek Danu terus bersembunyi dari Riki? Mari kita simak kisah selanjutnya!


__ADS_2