
Berita kehadiran mahasiswa baru telah membuat heboh seluruh penghuni kampus jurusan manajemen. Kecantikan Neta yang tidak jauh dari Kiara membuat para kaum Adam di kampus tersebut saling berebutan untuk mengambil simpati dihadapan Neta.
Prawira sebagai kakak tingkat merasa tersaingi dengan mereka sehingga Prawira angat inten melakukan PDKT dengan Neta.
“Hi…, Kiara kamu hari ini harus bisa membawa Neta ke luar rumah! Aku ingin mentraktirnya karena hari ini aku ultah,” ucap Prawira singkat dengan ucapan yang terbata-bata karena berlarian dari teras Gedung lantai 2. Prawira begitu melihat Kiara melintas, Prawira langsung menuruni anak tangga dari lantai 2 agar bisa bertemu dengan Kiara. Prawira nampak ngos-ngosan mengatur nafasnya.
“Kakak, kamu itu apaan ya? Masa iya begitu saja minta tolong aku. Coba kakak mengundangnya baik-baik, aku rasa Neta akan mau memenuhi undangan kamu!” ucap Kiara memberi saran.
“Ha…, ha…, cemen. Begitu saja tidak berani. Bener-bener payah ya kamu?” ucap Nayla yang berada di dekat Kiara ikut-ikutan.
“Ini manusia triplek, gak usah ikut-ikutan ya?” tuh urus pasangan kamu yang sok Cooll itu!” ucap Prawira tiba-tiba sambil melihat dari arah parkiran.
“Apaan sih kak! Kak Varel mana ada disini. Kak Varel kan berada di Bali,” ucap Nayla sambil mendesah menahan nafasnya karena menahan rindu tidak ketemu hampir 2 minggu.
“Iya nich kak Prawira ngada-ngada saja!” ucap Kiara yang mendukung Nayla karena dirinya juga tahu persis kalau Vael dapat tugas ke Bali dari Suaminya.
“La…, itu siapa? Kak Varelmu atau bukan?” ucap Prawira sambil memberi isyarat dengan matanya yang mengarah ke parkiran. Nayla pun mengikuti arah pandang dimana mata Prawira memandang.
“Kak Varel,” ucap Nayla heboh, langsung berlari menghampiri Varel hingga berada dalam pelukan dan dekapan Varel. Varel pun dengan Hasrat rindunya langsung membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Nayla masuk. Varel tidak ingin dirinya dan Nayla jadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di kampus Nayla.
“Walah tadinya ogah, eh… sekarang peluk-pelukan, Bener-bener manusia tidak ada akhlak ya?” sindir Prawira untuk mereka berdua.
“Biarain. Kalau ngiri bilang bos! Sayang, bukannya jadawal kamu pulangnya besok lusa?” tanya Nayla penasaran sambil menjulurkan lidahya mengolok-olok Prawira.
“Iya, tapi aku kangen kamu. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan aku agak awal sehingga bisa pulang agak awal,” ucapnya langsung menyalakan mobilnya dan membawa Nayla ke apartemennya.
“Sayang, kita mau kemana?” tanya Nayla kuatir dengan tingkah Varel.
__ADS_1
“Kita ke apartemen sayang, ada sesuatu yang akan aku tunjukan untuk kamu!” ucapnya lirih kemudian menghentikan kendaraannya di parkiran apartemennya. Varel menggandeng Nayla masuk ke apartemen dengan lift.
Nayla ketakutan dengan Varel yang tiba-tiba mengajaknya bermain ke apartemennya. Nayla dengan gemetar tiba-tiba jatuh lunglai dan pingsan di dalam lift. Varel dengan spontan langsung menopangnya kemudian menggendongnya. Setelah pintu lift terbuka Varel membawa Nayla masuk ke apartemennya kemudian membaringkannya ke kamarnya.
“Varel, apa yang kamu lakukan dengan calon menantu mama?” tanya mama Varel yang ternyata berada dalam apartemennya.
“Tidak, tahu ma. Tiba-tiba Nayla pingsan dan ketakutan,” ucap Varel dan berusaha membangunkan Nayla dengan bau minyak angin yang kebetulan sudah berada di laci tempat tidurnya.
“Sayang, ayo bangun! Kamu kenapa?” Varel mengusap-usap punggung tangan Nayla agar segera sadar dari pingsannya. Nayla pelan-pelan membuka matanya tersadarkan diri.
“Kak…, aku ingin pulang!” ucapnya lirih setelah terbangun dari pingsannya.
“Iya, sayang. Nanti aku antar pulang!” ucap Varel yang berusaha menenangkan Nayla yang sebenarnya takut kalau Varel memaksanya menyerahkan kegadisannya sebelum ada ikatan pernikahan.
“Sayang, ini teh hangatnya. Tolong segera diminumkan ke calon menantu mama!” ucap mama Varel yang tiba-tiba muncul membawakan teh hangat untuk Nayla. Nayla yang adinya sakit mendengar suara mamanya Varel langsung duduk dan hendak berusaha berdiri menghampiri mamanya Varel.
“Kak jadi kakak mengajak aku kesini hendak mengealakan mama kakak ya?” tanya Nayla sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya, memanganya kenapa?” tanya Varel penasaran.
“Aku kira kakak akan memintaku untuk melayani kakak layaknya suami istri hingga mengajak aku ke apartemen kakak ini!” ucap Nayla polos.
“Ha…, ha…, jadi kamu pingsan tadi karena takut kalau aku memintamu untuk melayani aku? Sayang kau itu pikiranmu ngeres betul!” ucap Varel yang tertawa ngakak dengan kelakuan Nayla.
“Habisnya kakak tidak memberitahuku kalau mau mempertemukanku dengan mama!” ucap Nayla kembali. Sementara itu mama Varel juga ikut tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
“Ayo sayang kita makan bersama, mama sudah menyiapkan makanan istimewa untuk kalian berdua,” ucap mama Varel. Sementar itu Varel menggandeng Nayla menuju ruang makan. Varel dengan sangat hati-hati menjaga Nayla hingga mereka berdua duduk berdampingan.
__ADS_1
“Ma…, papa mana?” tanya Nayla yang tidak melihat calon papa mertuanya.
“Papa masih ada urusan, kemungkinan nanti malam baru bisa datang,” ucap mama Varel memberi penjelasan.
“O…, maaf habisnya aku tidak melihat papa ma?” ucap Nayla to the point.
“Tidak apa-apa nak! Ayo segera makan, nanti makanannya keburu dingin!” ucap mama Varel sambil mengambilkan lauk untuk Nayla.
“Tidak usah ma! Aku ambil sendiri saja!” ucap Nayla yang tersipu malu karena calon mertuanya begitu baik terhadapnya.
Mereka bertiga akhirnya makan dengan tanpa suara hingga akhirnya selesai. Varel dengan manja mengajak Nayla untuk nonton televisi hingga mereka bertiga ngobrol hingga menjelang malam. Nayla yang kecapekan tertidur di sofa.
“Sayang, kau tidurkanlah Nayla di kamar kamu. Kasihan kelihatannya dia kelelahan karena seharian belajar!” ucap mama Varel penuh pengertian.
“Iya ma!” Varel pun dengan sigap menggendong tubuh mungil Nayla menuju kamarnya. Pelan-pelan kemudian menurunkannya di ranjang. Varel kemudian menyelimuti Nayla dengan pelan-pelan. Varel kemudian mengambil bantal dan selimut untuk dirinya kemudian membaringkan tubuhnya di sofa.
Karena terlalu capek mereka berdua tertidur hingga pagi hari. Namun yang mengejutkan tiba-tiba mereka berdua tertidur dalam satu ranjang. Nayla yang terbangun duluan langsung menjerit dan berlari ke ruang tengah sambil meneliti semua tubuhnya yang ternyata bajunya masih melekat dengan tubuhnya.
“Astaga sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya mama Varel tiba-tiba yang sudah berada di dekat Nayla.
“Ma, kak Varel nakal. Kak Varel telah menodai aku duluan!” ucapnya sambil terisak menangis dipelukan mama Varel. Semntara itu Varel yang berhasil mengejar Nayla dan berada di dekat ibunya langsung dipukuli mamanya.
“Varel…, setan apa yang merasukimu hingga kamu perlakukan Nayla sepeti itu,” ucap mama Varel gemas dengan tingkah putranya.
“Ma…, jangan salah paham! Aku hanya tidur di dekatnya karena semalaman aku kedinginan. Lagian kalau aku menyentuhnya bukannya ada noda di seprei kita?” tanya Varel kepada mamanya.
Kemudian Varel mengajak mereka berdua untuk membuktikannya.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?