Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Bertemu Prawira


__ADS_3

Sesuai janjinya Kiara mengantar Neta ke kampus untuk mengurus semua tentang kepindahannya di universitas.  Neta dengan kendaraannya langsung menghampiri Kiara ke rumahnya dan dan berangkat ke kampus pagi sekali.


“ Hi…, Neta,  tolong kalau kalau ke kampus jaga kakakmu baik-baik ya? Kiara sebentar lagi mau melahir kan!” ucap Agam penuh rasa kuatir.


“Iya kak! Beres, aku akan selalu menjaga Kiara dan calon keponakan aku!” ucap Neta begitu ditanya Agam ketika mau berangkat ke kantor. Setelah memastikan istrinya berada di tangan yang teepat, Agam mencium kening istrinya dan berangkat ke kantor. Dan tidak lama kemudian Kiara bersama Neta berangkat menuju kampus.


 Di kampus Kiara menunjukkan semua prosedur kepada ada Neta untuk mengurus kepindahan kuliahnya termasuk menyelesaikan administrasi yang harus dilunasi oleh Neta.


Neta mengajak keliling kampus untuk mengenal semua lingkungan kampu. Neta sangat menyukai yang ada disekitar lingkungan kampus termasuk teman-temannya yang ramah-ramah.


“Wah…, kalau seperti ini aku sangat nyaman kuliah di sini! Semua orang terkesan ramah dan welcome sekali terkesan tidak ada yang terlihat jahat semuanya ramah-ramah!” ucap Neta kepada Kiara.


“Iya, memang kampus kita adalah kampus favorit yang sangat diminati oleh calon mahasiswa di berbagai seluruh pelosok kota,” ucap Kiara kepada Neta.


“Iya bener-bener standarnya sudah skala internasional!” ucap Neta yang tiba-tiba perutnya terasa lapar kemudian mengajak Kiara untuk makan ke kantin. Kiara yang tidak sanggup menolak permintaan Neta langsung menggiring Neta ke kantin sekolah. Setelah berjalan beberapa langkah dari fakultasnya mereka berdua menemukan kantin kampusnya yang asri dan enak untuk ngobrol.


Kiara dan Neta memesan makanan kesukaannya.  Sedangkan untuk minuman Kiara memilih memesan jus buah jambu. Sedangkan Neta memilih memesan kopi cappucino.


Karena pelayanannya yang memang sangat bagus sehingga mereka tidak menunggu terlalu lama. Neta ngobrol dengan Kiara tentang apapun yang terkait dengan kegiatan perkuliahan nya.


“Pokoknya kuliah di sini, genap sebulan badan kamu akan tampak gemuk seperti aku,” ucap Kiara berusaha mengingatkannya.


“Mana bisa, kamu gemuknya karena hamil jadi aku gak mungkinlah kecuali kalau aku juga hamil seperti kamu?” ucap Neta yang terus bersenda gurau dengan Kiara.


“Hamil…? Siapa yang ingin dihamili?” tanya Prawira tiba-tiba muncul dan langsung bergabung dengan kiara tanpa harus memperhatikan siapa teman Kiara.

__ADS_1


“Hus…, kebiasaan mulut tidak ada remnya!” bentak Kiara kepada Prawira yang asal nyelonong duduk di sebelahnya.


“Waduh cin…, cin! Mana ada mulut ada remnya, yang ada remnya blong ya?” ucap Prawira sekenanya.


“Plak!” Kiara sengaja memukul tangan Prawira.


“Waduh, mama muda ini ya? Kalau mukul bener-bener jago banget,” ucapnya terhenti begitu melihat ada sosok perempuan lain yang begitu cantik dekat dengan Kiara.


“Kiara…, kenapa ada barang cantik tidak dikenalkan denganku?” bisiknya di dekat telinga Kiara hingga Prawira menjadi pria yang salah tingkah.


“O…, iya kenalkan ini saudara aku namanya Neta,” ucap Kiara yang diikuti dengan uluran tangan Neta.


“Neta,” ucap Neta lirih dengan suaranya yang merdu hingga akhirnya memikat Prawira untuk ingin terus mendekatinya.


“Prawira, kakak kelas Kiara.  Dan kami bertiga dengan Nayla menjalin persahabatan dengan sangat erat. Bahkan mereka berdua sudah aku anggap adik kandungku sendiri!” ucap Prawira yang berusaha mempromosikan dirinya sendiri agar Neta lebih mengenalnya.


“Siap! Apapun yang diminta kalau semua untuk adik Neta kakanda siap membantu,” ucapnya semakin lebai hingga membuat Kiara semakin gemas melihat ulah Prawira. Kiara nampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Prawira yang kelihatannya benar-benar tertarik sama Neta.


“Kakak…! Jangan lebay ya? Ingat kak Neta bukan gadis sembarangan yang mudah ditaklukan!” bisik Kiara memberi peringatan kepada Prawira.


“Dik Neta…, kalau sudah selesai kakak mau kok mengantarmu pulang?” ucap Prawira terang-terangan dengan bahasa gombalnya.


“Maaf aku membawa mobil sendiri bersama Kiara,” ucap Neta pelan dan terus menyeruput kopinya yang kemudian ditaruhnya kembali di meja. Sementara Prawira yang sudah memesan kopi sendiri tiba-tiba tangannya mengambil gelas kopi milik  Neta hingga Neta spontan mengingatkannya.


“Maaf kakak! Itu gelas kopi milik aku!” ucapnya lirih dengan suara yang merdu, sehingga Prawira semakin terpesona dengan Neta.

__ADS_1


“Eh…, iya maaf. Dik Neta sih terlalu manis dan enak dipandang jadi membuat pemandangan aku terlalu kabur hingga salah ambil kopi,” ucapnya lirih hingga membuat wajahnya semakin memerah menahan malu karena rayuan gombal Prawira.


“Hus…, ayo segera habiskan kopi kamu! Enak saja main selonong punya orang!” ucap Kiara mengingatkan. Prawira hanya tersenyum simpul dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Astaga, Aku kok  jadi linglung gini ya lihat cewek cantik. Dik Neta maukah kamu jadi pacar aku?” tanyanya tiba-tiba hingga membuat Neta gelagapan mau jawab apa.


“Maaf kak! Aku masih belum ingin  pacaran? Mama aku ingin aku jadi orang sukses dulu,” ucap Neta polos.


“Astaga dik Neta, kamu khawatir kalau abang tidak ada masa depan ya? Jangan kuatir dik, abang punya perusahaan, punya kebun duren, perkebunan kelapa sawit dan empang. Jadi aku jamin kehidupan kamu akan sejahtera dan mamur sentosa,” ucap Prawira menyakinkan Neta.


“Kakak kalau pamer kekayaan orang tua jangan di sini ya?” ucap Kiara sebal dengan Prawira.


“He…, he bukan maksud aku seperti itu. Soalnya aku sudah cinta mati dengan kamu dik Neta? Jadi abang harap dik Neta bisa menerima aku!” ucap Perwira yang sama sekli tidak malu yang mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk menarik simpati Neta. Neta pun hanya tersenyum simpul menanggapi kelakaran Prawira.


Neta sudah biasa menghadapi lelaki seperti Prawira. Baginya yang pernah tinggal di luar negeri menanggapi pria seperti Prawira tidak ada apa-apanya.


“Neta…, ayo sudah siang kita pulang! Kita nanti janjian sama tante untuk acara makan-makan untuk syukuran karena kepindahan tugas beliau!” ucap Kiara dan langsung menarik tangan Neta menjauh dari Prawira. Neta pun dengan patuh mengikuti Kiara dan berdiri untuk pulang.


“Kiara…, jangan jadi profokator ya? Besok-besok aku kesana! Cantik jangan lupa tunggu abang ya” ucap Prawira santai penuh percaya diri. Sementara itu Neta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena bsaginya Prawira itu pria uang unik dan antik.


“Awas ya jangan senyum-senyum sendiri ya? Bisa-bisa kamu nanti kecantol sama si Prawira!” goda Kiara .


“Tak apa yang terpenting juragan empang yang kaya raya,” ucap Neta menjawab selorohan Kiara.


“Kiara ini siapa yang bayar?” tanya Prawira secara spontan.

__ADS_1


“Ya kamulah masa aku?” jawab Kiara.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2