
Kiara nampak bersedih karena ditinggal Agam menyelesaikan masalah perusahaan yang terjadi di pulau Kalimantan. Kiara nampak melamun di teras depan Sambil memandangi indahnya bunga yang dihinggapi oleh kupu-kupu.
Kiara berharap semua permasalahan perusahaan segera diselesaikan oleh suaminya beserta Varel. Baru kemarin Kiara ditinggal oleh suaminya dirinya merasakan hampa dan sepi dalam hidupnya.
Bahkan Putri yang masih tinggal bersamanya tidak mampu menghapus kesedihannya. Putri yang masih kecil merasakan kesedihan tante Kiara. Putri mendekati Kiara dan berusaha menghiburnya.
“Tante, itu ada kupu-kupu. Ayo kita kesana!” ucap Putri langsung menggandeng tangan Kiara menuju ke taman. Namun Kiara masih tetap diam meskipun dirinya mengikuti Putri tapi pikirannya kosong menerawang tidak jelas entah kemana.
“Tante kenapa, apa tante ingat om?” tanya Putri kepada Kiara.
“Tidak kok sayang, tante hanya sedikit tidak enak badan saja!” ucapnya berbohong karena Kiara tidak ingin ketahuan putri. Namun putri seolah tahu apa yang terjadi dengan Kiara. Putri tiba-tiba pinjam ponsel Kiara, kemudian Putri berlarian menghampiri si mbok.
“Mbok, minta tolong hubungkan dengan om Agam,” ucapnya merengek-rengek minta ditelponkan.
“Iya…, nanti kalau dimarahi tante Kiara bagaimana?” tanya si mbok yang bingung. Putri terus mendesaknya hingga akhirnya si mbok memencetkan no ponsel yang terhubung dengan Agam. Belum sempat si mbok memulai ngomong tiba-tiba Putri memintanya.
“Pagi, om! Om lagi ngapain? Ini aku sama tante Kiara bermain di taman. Aku ini tadi menangkap kupu-kupu bersama tante. Tapi tante…!” ucap Putri.
“Tante kanapa sayang?” tanya Agam kuatir.
“Tante kelihatannya bersedih dan ada sesuatu yang dipikirnya! Mungkin kangen sama om Agam!” cerocos Putri yang ngomongnya tidak ada habisnya.
“Sayang tolong dong ponselnya kasihkan tante ya?” perintah Agam kepada Putri. Putri pun berlari kecil menghampiri Kiara yang masih duduk di teras menikmati indahnya taman sambil minum jus buatan si mbok.
“Tante ini ada om yang vidio call,” ucapnya sambil menyerahkan ponsel Kiara kembali.
__ADS_1
“Sayang, bagaimana kabarnya! Aku kangen sama kamu!” ucap Agam kepada Kiara istrinya.
“Baik. Aku baik-baik saja,” ucapnya sambil berkaca-kaca memandangi suaminya yang berada di kantor cabang perusahaan.
“Alhamdulilah sayang, kamu tidak kangen sama aku ya?” tanya Agam kepada Kiara.
“Aku kangen kok sayang, aku ingin kakak segera pulang!” ucap Kiara dengan uraian air mata.
“Iya…, aku akan segera pulang! Kamu jaga kesehatan ya? Mungkin aku akan pulang minggu depan! Alhamdulilah kasus perusahaan kita sudah menemui titik terang!” ucap Agam menjelaskan kepada istrinya.
“Iya…, sayang aku do’akan semoga pekerjaan di sana segera selesai!” ucap Kiara sambil mewek hingga air matanya jatuh terurai kembali.
“Iya sayang. Sudah dulu ya! Ini aku sama Varel mau berangkat menuju lokasi. Ini ada perwakilan masyarakat yang menjemput kami!” ucap Agam hendak menutup ponselnya.
“Iya…, tapi sebelum di tutup kakak harus katakan cinta kepadaku dan calon bayi kita!” ucap Kiara yang memang ingin diperhatikan suaminya.
“Ya sudah berarti kakak tidak cinta dong?” ucap Kiara bersungut-sungut sebal hendak menutup ponselnya.
“Baiklah, tunggu jangan ditutup dulu. Kiara…, aku cinta dan sayang sama kamu!” ucapnya berbisik agar tidak didengar oleh bawahannya. Namun Kiara masih ngambek juga dan memintanya untuk berteriak.
“Kurang keras sayang, Aku tidak mendengarnya!” Kiara masih bersikeras untuk meintanya mengucapkan lagi .
“Sayang, aku cinta dan sayang kamu serta anak kita apa adanya!” teriak Agam sangat keras hingga karyawannya yang berada di perusahaannya melongo melihatnya. Mereka tidak mengira laki-laki seperti pak Agam sangat sayang kepada istrinya bahkan mau melakukan apapun untuk istrinya.
“Tidak usah liat-liat, apalagi mendengarkannya! Semuanya hadap tembok dan tutup telinga kalian. Kiara yang diseberang mendengar suaminya seperti itu tertawa terbahak-bahak melihat dan mendengarkan tingkah suaminya. Kiara merasa terhibur dengan polah suaminya karena sebenarnya dirinya hanya ingin mengetahui keseriusan suaminya terhadap dirinya.
__ADS_1
Kiara sebenaranya sudah tahu isi hati dari suaminya namun dirinya yang hamil nampak sensitif dan butuh perhatian suaminya.
“Menantu sayang, apa yang membuat kamu tertawa seperti itu?” tanya mama Sandra tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
“Eh…, mama ini hanya bercanda sama kak Agam saja! Gak Agam itu lucu lo ma!” ucapnya sambil membungkam mulutnya menahan tawa.
“Ha…, Agam? Kamu video call sama Agam?” tanya mama Sandra kepada menantunya dan ikutan nimbrung bersama Kiara.
“Iya oma Sandra. Tante Kiara kangen sama om Agam. Dari tadi bawaannya melamun jadi aku video call om Agam ma!” ucap Putri dengan bahasa yang cadel.
“Serius nich? Kangen sama papa ya sayang?” ucap mama Sandra yang masih bingung dengan keterangan Putri. Mama Sandra pun menggoda Kiara dengan mengusap-usap perut Kiara seolah-olah berinteraksi dengan cucunya.
“Oma…, yang kangen bukan calon dedek bayi tapi mama dan papa sendiri!” ucap Putri santai dan langsung duduk dipangkuan oma Sandra. Setelah puas dengan melepas rasa rindu mereka lewat video call, mereka pun akhirnya menyudahi hubungan mereka.
“Iya sayang…, oma percaya dengan kamu kok sayang. Ayo kita ke dapur ambil camilan biar papa dan mama melepas rindunya sayang,” ucap mama Sandra menurunkan Putri dari pangkuannya kemudian membawanya masuk ke rumah menuju ke dapur.
“Mama, kami sudah selesai kok! Ayo kita makan bersama saja bibik juga sudah menghidangkan sarapan pagi ini. Sudah ya sayang nanti kita sambung lagi. Kakak di sana yang hati-hati. Jangan lupa makan dan minum. Dan sama anak buah itu jangan sewena-wena. Nanti kakak di benci mereka lo?” ucapannya tenang kemudian pamitan untuk menutup kegiatan hari ini.
“Sayang, terimakasih! kamu memang istri hebat untuk aku!” ucapnya sambil mengecup dengan jarak jauh.
“Sama-sama sayang, semoga kakak disana sehat dan selalu dibawah lindungan Allah, Muach…., selamat bekerja,” ucap Kiara dengan ciuman jarak jauhnya. Tanpa sadar Agam membalasnya dan karyawannya yang iseng lepas kontrol dan tertawa cekikian mendengar obrolan mereka.
“Diam semuanya! Jika tidak akan aku potong gaji kalain bulan ini!” ucap Agam mengancam anak buahnya yang hendak mengikuti rapat tapi mencuri dengar pembicaraannya. Seketika itu juga mereka terdiam tidak berani menoleh dan masih menghadap ke belakang membelakangi Agam.
Sementara itu Varel yang berada di dekat Agam memintanya untuk bersabar sambil cekikikan menertawai Agam. Agam pun dengan jengkel mengancam sahabatnya dengan ancaman yang sama. Varel pun menuruti apa yang diminta Agam, seketika itu juga dirinya terdiam dan tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
Bahkan saat Agam memimpin rapat ketika membuka pertanyaan tentang hasil rapat mereka hanya terdiam tidak menyampaikan apapun. Varel dan karyawan yang lainnya mengatakan kalau diamnya karena disuruh oleh Agam. Agam hanya mengelus jidatnya karena ulah bawahannya tersebut.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?