
Pandangan Agam mengarah pada seseorang yang ditunjuk oleh Putri. Begitu yang nongol sosok Prawira, Agam tidak bereaksi sama sekali.
“Hai bro…, bagaimana kabarnya? Lama gak jumpa, tahu-tahu sudah punya gaadis kecil segedhe ini! Ini anak kamu dari istrimu yang pertama ya?” ucap Prawira yang asal nyablak hingga membuat Agam jengkel dan tidak membalas perkataannya.
“Sial kalau ngomong yang masuk akal bro? Bener-bener kamu itu orang yang membuat aku emosi! Dasar pria lapuk tidak laku-laku, dasar mahasiswa abadi. Bener-bener otak kamu dangkal sekali bro? Makanya tidak laku-laku!” bisik Agam menyindir Prawira yang sok tahu itu.
“Plak! Bener-bener calon kakak ipar tidak ada akhlak!” ucap Prawira nyenggol tanggan Agam dengan memonyongkan bibirnya.
“Ogah. Kita batal jadi kakak ipar. Aku akan bilang sama Neta untuk mencari yang lain saja! Bener-bener tidak masuk kriteria keluarga kita!” ucap Agam menggodanya yang tidak bermaksud sungguh-sungguh mengatakannya.
“Ok. Kalau kamu tidak mau jadi kakak ipar maka kelakuan kamu akan aku laporkan sama Kiara. Biar kamu dipecat jadi suaminya!” ucap Prawira berbalik mengancamnya.
“Ha…, ha…, silahkan! Aku tidak takut!” ucapnya santai dan langsung menggendong Putro hendak menjauh dari Prawira.
“Sayang, kalian apa-apaan ya? Setiap bertemu pasti ribut melulu!” ucap Kiara yang datang tiba-tiba dengan menenteng beberapa belanjaan Putri.
“Iya tante, om ini tiba-tiba membelikan aku boneka tapi kelihatannya om Agam tidak suka kalau aku menerimanya,” ucap putri dengan bahasa cadelnya.
“Eh…, Kiara. Ternyata kamu kamu juga ada disini! Jadi kamu kenal dengan gadis kecil ini ya?” ucap Prawira penuh selidik.
“Iyalah! wong dia keponakan kakak ipar aku!” ucap Kiara curiga memandang Prawira dengan penuh selidik.
“Eh…, tunggu dulu. Apakah sesuatu yang tidak beres?” tanya Kiara memandang Agam dan Prawira secara bergantian.
“Maaf…, Itu…, aku kira gadis kecil ini anak dari suamimu dengan istri pertamanya? Soalnya mereka begitu akrab, apalagi Putri begitu sayang sama suami kamu,” ucap Prawira sambil memghela nafasnya karena telah berprasangka buruk terhadapa Agam.
__ADS_1
“Astaga kak Prawira? Pikiran kamu itu kok picik banget, mana bisa aku dipersunting sama orang yang sudah menikah? Itu bukan kamus hidupku kak!” jelas Kiara yang jengkel juga terhadap Prawira.
“Eh…, tunggu dulu kamu tadi kesini dengan siapa? Jangan-jangan kamu bersama gadis lain ya?” ucap Kiara celingukan mencari seseorang di dekat Prawira.
“Astaga sayang? Kamu juga jangan punya pikiran kotor sepertinya!Ingatlah sayang tanamkan berpikir positif sejak dini untuk anak kita!” ucap Agam yang langsung mengusap perut istrinya di hadapan Prawira.
“Busyet deh…, kalau seperti ini bisa-bisa aku mati cemburu karena cinta,” ucapnya keceplosan dan langsung membungkam mulutnya rapat-rapat dengan tangannya.
“Dasar perjaka tua dan tengil, bisa-bisanya cemburu dengan suaminya orang lain! Sudah sana buruan menikah dengan Neta! Tapi awas aku tidak rela kalau Neta hanya kau jadikan pelarian!” ancam Agam dengan mengepal tangan nya diarahkan kepada Prawira.
“Iya Neta itu saudaraku! Kalau kamu permainkan dia aku yang akan menghabisimu!” ucap Kiara menekankan sekali lagi ancaman suaminya dan dirinya tidak main-main.
“Iya…, iya akan aku bahagiakan Neta!” ucap Prawira kemudian meminta Kiara memilihkan hadiah untuk Neta karena besok ulang tahun.
“Kiara…, kesukaan Neta itu apa ya? Besok ulang tahun dan aku bingung mau ngasih hadiah apa untuknya,” tanya Prawira bingung.
“Beneran Kiara…, aku bingung! Apalagi menghadapi Neta sekelas dengan kamu yang gaulnya super high class.
“Prawira… kamu itu jadi cowok kok tidak peka. Masa iya Neta tidak pernah punya keinginan sama sekali. Kamu juga aneh jadian dengan Neta sudah lama tapi tidak tahu keinginannya. Makanya selalu gagal pasti si cewek tidak betah jalan bersama kamu! Lagaknya saja sok gaul tapi menghadapi cewek gak bisa! Kamu bener-bener harus di briefing deh,” ucap Agam yang gemas mendengar keluhan Prawira.
“Pak Agam sok tahu. Emangnya situ yang suka main nyosor aja. Aku yakin Kiara mau sama pak Agam karena paksaan!” ucap Prawira sukur nyeplos hingga membuat Agam gemas hendak menghajar dirinya.
“Dasar tidak mulut tidak pernah disekolahkan!Ayo dik kita pulang. Kalau terlalu lama bersama Prawira bisa-bisa aku stres dibuatnya! Ayo sayang kita pulang!” ucap Agam langsung menggandeng Kiara dan Putri meninggalkan Prawira.
“Pak Agam tunggu dulu, aku belum dapat hadiah untuk Neta,” teriak Prawira meminta mereka menemaninya membeli kado.
__ADS_1
“Bodho amat! Ayo dik kita pergi saja dari sini, biarkanlah dia cari sendiri dan mikir kehidupannya sendiri. Bener-bener orang tidak ada adat dirinya!” ucap Agam terus berjalan menuju parkiran.
“Om Agam bermusuhan ya sama om Prawira?” tanya Putri kepada merek berdua.
“Tidak kok sayang, om tidak bermusuhan dengan om Prawira. Kita hanya beda pendapat saja!” ucap Agam memberi penjelasan kepada Putri.
“O…, gitu ya? Orang besar suka berbeda pendapat seperti kayak bertengkar,” ucap Putri kritis.
“Sayang, itu ada badut di pinggir jalan! Lihatlah!” ucap Kiara mengalihkan pembicaraan Putri.
“Mana tante? Aku tidak lihat!” tanya Putri sambil celingukan mencari lewat kaca jendella mobil.
“Eh…, iya lucu sekali! Om aku minta uangnya. Kasihan badut itu, aku mau kasih uang untuknya!” ucap Putri merengek-rengek minta uang kepada Agam.
“Iya sayang…, ini tante kasih!” ucap Kiara sambil meminta Agam meminggirkan kendaraannya. Mereka bertiga akhirnya turun dari mobil dan menghampiri badut tersebut.
“Om badut, Putri mau berfoto denganmu! Boleh tidak” ucapnya dan langsung menggandeng badut tersebut duduk di bangku taman dekat lampu merah. Putri nampak senang bersama badut tersebut.
Agam mengabadikan foto Putri bersama badut tersebut, setelah capek Putri mengajak mereka pulang ke rumah. Agam kembali menggendong Putri kemali masuk ke dalam mobil. Putri dengan pelan direbahkan ke dalam mobil dan Agam kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Agam meminta si mbok untuk menidurkan Putri di kamar tamu dan memintanya untuk menemani si mbok. Setelah semuanya aman Agam mengajak Kiara untuk istirahat.
“Sayang, aku capek banget. Bisakah kamu memijitku? Aku sangat capek dan pegal,” ucap Kiara yang rebahan di ranjang. Agam yang mencintai istrinya dengan segera memijat istrinya.
Kiara yang nyaman dipijit suaminya tidak menunggu lama dalam hitungan detik langsung tertidur. Agam pun yang capek juga ikutan tertidur di samping Kiara hingga pagi hari.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?