
Erlita masih menangis menyesali dirinya yang telah mengalami keguguran. Andaikan dia tidak pergi keluar rumah pasti calon bayinya yang berada dalam kandungan akan baik-baik saja.
“Ma…, bagaimana aku harus bilang sama Kak Riki! Kak Riki sebelum masuk di tahanan menyampaikan agar aku merawat calon bayi ini dengan baik,” ucap Erlita sambil menangis sesenggukan di dalam pelukan mamanya.
“Sudahlah sayang, jangan lah kau menyesali apa yang telah terjadi. Yakinlah semua hanya ujian dari Allah! Jadikanlah kedepannya sebagai acuan untuk kamu agar bisa hidup lebih baik lagi,” ucap mamanya Erlita memberi nasihat kepada putrinya.
“Iya ma!” Erlita mulai menghapus air matanya kemudian memanggil Kiara dan Agam untuk mendekatinya.
“Agam maafkan kak Erlita ya? Dan kamu juga Kiara. Kakak menyesali semua yang kakak lakukan termasuk monopoli kekayaan keluarga kita. Kakak juga memperlakukan Agam sewena-wena ketika tinggal serumah dengan kita!” ucap Erlit yang menangis tidak terbendung air matanya karena menyesali perbuatannya.
Kiara dan Agam sangat mengerti dan memahami atas sikap Erlita. Permintaan maaf Erlita mudah-mudahan tidak hanya sandiwara saja karena ada mamanya. Mamanya kak Erlita sangat baik bahkan kalau orang menilai pasti tidak mengira kalau Erlita sesungguhnya putrinya.
Kiara yang mempunyai hati lembut kembali memeluk kakak iparnya dan berusaha menguatkannya.
“Kak…, kakak harus sabar dan kuat! Kasihan Putri nampak kebingungan melihat sikap kakak seperti ini!” ucap Kiara sambil mengusap-usap punggung kakaknya. Sementaaraa itu Putri yang peka langsung ikut mendekati mereka dan memeluk lengan Kiara. Putri yang masih kecil merengek-rengek untuk ikut Erlita.
“Mama, aku ingin tidur bersama mama!” ucapnya karena memang hari sudah mulai gelap dan siang tidak bisa tidur.
“Putri…, mama masih sakit nak? Bagaimana kalau Putri ikut tante Kiara dulu? Tante sama om akan mengajak putri jalan-jalan?” ucap Kiara berusaha menenangkan Putri.
“Putri maunya sama mama! Putri ingin menunggu mama!” ucapnya sedih dan langsung naik di tepi ranjang Erlita. Kiara yang memahami kalau Putri perlu penanganan khusus maka Kiara meminta izin kepada Erlita untuk merawat Putri selama Erlita untuk pemulihan.
“Kiara kalau itu tidak memberatkan kamu, kakak setuju saja. Kasihan nanti Putri tidak ada yang merawatnya kalau mama aku sibuk di sini!” ucap Erlita sambil berusaha membujuknya Putri.
“Putri sayang, untuk sementara kamu tinggal sama Tante Kiara ya? Mama fokus untuk kesembuhan mama dulu,” bujuk Erlita kepada Putri. Erlita menghela nafasnya panjang mengingat putranya yang sekolah dan tinggal di asrama.
“Baiklah ma! Putri ikut tante Kiara! Tapi mama janji kalau sudah membaik jemput Putri ya?” Putri langsung turun dari ranjang dan bergelayut manja pada Kiara.
__ADS_1
“Sayang sini sama om Agam ya?” Agam langsung menggendong Putri dan kemudian izin untuk pulang.
“Kiara, kamu mampir saja dulu mengambil baju dan perlengkapan putri di rumah kakak!” perintah Erlita sebelum mereka pergi.
“Iya kak! Biar kita beli saja, karena kalau kita pergi ke rumah kakak sudah terlalu malam dan sangat jauh!” ucap Kiara yang kelihatan begitu capek dan lelah.
“Baiklah, terserah kamu saja yang terpenting tidak membebani kamu!” ucap Erlita yang nampak senang karena ternyata Agam dan Kiara tidak menaruh dendam padanya.
“Terimakasih ya nak Kiara. Maaf kakak dan tante merepotkan kamu!” ucap mamanya kak Erlita.
“Tidak tante, kami pergi dulu ya?” ucap Kiara yang sudah digandeng oleh Agam sementara bahu kanannya menggendong Putri.
Agam dengan senang hati berusaha menghibur Putri dengan mengajarinya bernyanyi. Putripun dengan cadel mengikuti apa yang diajarkan oleh Agam.
“Om…, Putri laper!” ucapnya sambil duduk di samping kemudi Agam.
“Ayam goreng saja om! Aku sangat suka!” ucap Putri. Dan tidak lama kemudian mereka sampai di rumah makan. Namun tiba-tiba putri tidak mau turun dari mobil dan ngambek.
“Ayo sayang kita turun dan makan dulu!” bujuk Kiara kepada Putri.
“Gak mau. Aku ingin makan nasi dan ayam goreng! Tapi disitu tidak ada gambar ayam goreng! Tapi warung sederhana!” ucapnya polos hingga membuat Kiara dan Agam menelan salivanya.
“Sayang itu nama warungnya, tapi ayam gorengnya ada di dalam kok!Ayo digendong sama tante,” ucap Kiara langsung membuka tangannya untuk Putri. Putri pun dengan manyun langsung naik ke gendongan Kiara. Kiara dengan perut buncit tertatih-tatih menggendong Putri. Agam yang tidak tega langsung menggantikan Kiara menggendong Putri.
Agam memilih tempat yang strategis untuk makan bersama Kiara dan Putri. Agam mengambil lokasi yang dekat dengan kolam ikan hias. Putri yang tahu warna-warni ikan hias langsung melorot dari gendongan Agam berniat mendekati kolam ikan. Putri mengambil makanan ikan yang ada di dekat kolam dan melemparnya ke dalam kolam. Semua ikan berebutan untuk makan dan terlihat sangat banyak.
Putri nampak puas dan gembira melihat keanekaragaman ikan hias. Putri berteriak-teriak memaanggil Agam dan menunjukan ikan-ikan kesukaannya.
__ADS_1
“Om Agam, ini bagus sekali! Aku sangat menyukainya. Om, tangkap ikan ini ya? Aku mau membawanya pulang!”ucap Putri dengan girang.
“Iya, nanti om tanyakan! Sekarang kita makan dulu ya? Ini ayamnya sudah jadi!” ucap Agam yang mengajak Putri duduk di kursi makan. Agam dengan sangat perhatian menyuapi Putri.
Kiara memperhatikan Agam yang sangat perhatian terhadap putri. Kiara bersyukur karena selama ini Agam yang dianggapnya remeh mau menyuapi Putri. Lelaki seperti Agam yang begitu berkelas pewaris tunggal perusahaan ternama bisa memperhatikan anak yang bukan amal kandungnya.
“Enak om ayam gorengnya! Aku suka!” ucapnya dengan makanan masih di dalam mulutnya.
“Iya om juga suka. Ini benar-benar lezzat yang sempurna!” ucap Agam yang berusaha menyenangkan Putri. Tidak lama kemudian mereka selesai makan dan berlanjut mencari baju untuk Putri. Putri sangat menikmati kebersamaannya bersama Kiara dan Agam.
Putri nampak berlari-lari memilih baju sesuka hatinya, semua baju yang dia suka dia masukan dalam keranjang belanjaan.
“Om, putri minta bajunya yang banyak ya? Baju Putri di rumah tinggal sedikit dan jelek,” ucap Putri seolah sengaja untuk mendapatkan baju yang bagus-bagus.
Agam dan Kiara pun tidak keberatan dengan permintaan Putri. Putri yang seolah-olah dimanja oleh Agam dan Kiara, bahkan mereka memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
“Sayang, kamu tidak keberatan kan kalau Putri tinggal di rumah kita?’ tanya Kiara kepada suaminya.
“Tentu tidak sayang, karena aku sangat sayang padanya! Lihatlah kelucuannya membuat banyak orang tertawa. Astaga lihat apa yang dibawanya!” ucap Agam kepada istrinya kemudian mendekati Putri.
Agam berjongkok begitu saja mendekati putri dan menanyakan barang yang dibawa oleh Putri.
“Putri, apa yang kamu bawa sayang?” tanya Agam mengambil barang dari tangan putri.
“Ini boneka cantik om! Aku tadi dikasih sama om itu!”ucap Putri sambil menunjukan tangannya ke seseorang yang ada di dekat pintu.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1