
Kinan yang seharian malas tidak mau keluar dari kamarnya hanya nonton Layang Putus hingga termehek-mehek terbawa perasaan.
“Sayang, kamu lagi ngapain?” ucap Agam yang pulang kerja langsung mencium kening istrinya yang rebahan di ranjang.
“Nonton yang! Ini nyebelin mas Arisnya impian Kinan tapi giliran perginya sama pelakor! Bener-bener buat aku gemes ingin memukulnya!” ucap Kinan sambil bersungut-sungut gregetan menahan emosi.
“Aduh…, sayang kamu itu jangan terbawa emosi, kasihan adik bayi kita,” ucap Agam sambil mengusap-usap perut istrinya dan sesekali menciumnya.
“Ih…, geli yang! Kak aku ingin ke Cappadocia. Melihat balon udara dan rumah kuno! Aku lihat kok pemandangannya ok dan serasa di negeri awan ketujuh!” ucap Kiara yang terus merengek kepada suaminya.
“Ngapain lo, kita tunggu baby kita lahir aja lo sayang?” Agam berusaha membujuk istrinya.
“Tidak mau! Aku maunya minggu depan mumpung kuliah aku belum masuk! Kita ajak papa dan mama sekalian tuk sekalian liburan!” ucap Kiara terus merajuk.
“Ok…, nanti aku sampaikan ke papa dan mama juga akan ke kantor ada acara bertemu dengan klien!” ucap Agam.
“Sayang…, aku minta belikan rujak ya? Aku ingin sekali makan rujak yang pedas!” Kiara kembali meminta kepada Suaminya.
“Tok…, tok…,” asisten rumah tangga mereka mengetuk pintu kamar Kiara.
“Masuk,” jawab Agam yang duduk di sebelah Kiara.
“Ada non Nayla sama pak Varel pak,” ucap asisten rumah tangga agam.
“Kau suruh lah tunggu di ruang tengah. Aku sama Kiara mau ke sana!” ucap Agam yang kemudian menggandeng istrinya ke luar kamar.
“Varel, ada apa kok tumben lu kesini!” ucap Agam menghampiri mereka.
“Ini mampir saja, Nayla katanya kangen kakak ipar!” ucap Varel sambil memberikan bungusan kepada Agam.
“Apa ini?” tanya Agam penasaran.
“Rujak untuk bumil, kata Nayla selama waktu sekolah mereka suka makan rujak pedas di depan sekolahnya!” ucap Varel menjelaskan kepada Agam tentang kebiasaan mereka.
“O…, kebetulan sekali tadi Kiara minta dibelikan rujak. Bener-bener kalian tahu selera kita!” ucap Agam kemudian memanggil asisten rumah tangganya untuk dimasukan dalam piring.
__ADS_1
Agam dengan rasa sayangnya menyuapi istrinya, Kiara yang manja nampak menikmati makanan yang dibelikan oleh Nayla dan Varel.
“Hem…, hem…, parah banget. Wah kita serasa ngontrak dik! Dunia hanya milik mereka berdua,” ucap Varel yang terbawa emosi duduk mendekat dengan Nayla.
“Iya kak! Tapi kakak harus jaga jarak, kita belum menikah seperti mereka!” sindir Nayla kepada calon suaminya.
“Bener-bener aku baper dik! Besok kita nikah ya?” ucap Varel dan langsung nemplok merebahkan kepalanya di pangkuan Nayla.
“Kak Varel ingat… kak! Jangan seperti ini?” tuh dilihat kak Agam aku malu?” ucap Nayla polos.
“Varel-varel lebih baik kamu menikah saja ya?” ucap Agam menyemangati temannya.
“Iya Varel, papa Bagas dan mama Sandra bersedia melamarkan Nyala,” ucap papa Bagas yang tiba-tiba datang ke rumah Agam.
“Papa kenapa kemari? Bukankah nanti kita bertemu dengan klien?” tanya Agam kuatir kalau mereka tidak jadi menandatangani kontrak mereka.
“Ini nak mereka mendadak ada pertemuan di Turki jadi mereka mengundang kita untuk meeting disana!” ucap papa Bagas hingga membuat Agam terkejut karena ternyata apa yang dimau istrinya hari ini terpenuhi dengan sendirinya.
“Benarkah pa? Apa kita boleh mengajak istri kita?” tanya Agam senang karena selain kerja dia juga berlibur dengan istrinya ke Turki.
“Baik om! Tapi Nayla tidak mau kalau tidur sekamar dengan aku om?” ucap Varel tiba-tiba hingga membuat mereka semua tertawa.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu tidur sekamar? Varel…, Varel? Kalau kamu mau sekamar nikah dulu! Bisa-bisa kalau kalian sekamar yang ada akan bertambah sandal kecil dong!” ucap Agam sambil menimpuk sahabatnya dengan bantal di sofa.
“Aduh…, dasar Agam parah banget ya kamu?” ucap dan langsung berdiri hingga mereka saling tertawa dan saling tindih menindih di atas sofa.
Suasana tambah rame hingga mereka akhirnya makan siang bersama.
“Pa…, ma…, terimakasih ya! Sebenarnya aku ingin ke Cappadocia, Turki!” ucap Kiara kemudian memeluk mama Sandra. Mama Sandra juga sangat senang bisa memanjakan Kiara. Baginya Kiara itu sangatlah berharga karena bisa menyatukan papa Bagas dan Agam putra tunggalnya.
“Sama-sama! Kita kesana seminggu! Pokoknya kemana kamu mau kita akan ikuti! Kita tidak ingin cucu kita nanti ileran, ya kan pa?” ucap mama Sandra kepada suaminya.
“Tentu dong ma? Tapi ingat sebelum berangkat kamu harus cek kandungan dulu ya? Besok biar mama kamu yang mengantar! Mama kebetulan longgar!” ucap papa Bagas sangat senang karena sebentar lagi mau mendapatkan cucu.
“Siap pa? Aku boleh kan ngajak Nayla?” ucap Kiara mendapatkan persetujuan dari mama Sandra.
__ADS_1
“Boleh dong sayang? Apa sih yang gak boleh untuk kalian?” jawab mama Sandra.
“Maaf aku gak bisa ikut?” jawab Nayla tiba-tiba.
“Memangnya kenapa?” tanya Kiara gak tau.
“La…, emang kamu lupa kita harus bayar uang kuliah?” ucap Nayla mengingatkan Kiara.
“O…, iya! Kak bagaimana ini?” tanya Kiara kepada suaminya.
“Itu gampang biar Varel yang bayar kuliah kalian. Besok kalian pergi saja ke rumah sakit!” ucap Agam sekaligus memberi perintah kepada Varel.
“Siap…, apa yang tidak bisa. Untuk urusan sang bos dan kakak ipar pokoknya aku siap!” ucap Varel dengan semangat.
“Baguslah!” Itu baru adik dan teman yang baik dong!” ucap Agam memang mereka hanya selisih satu bulan lebih tua Agam.
“Baiklah! Aku terserah kak Agam saja!” ucap Nayla sambil menyerahkan cek kepada Varel untuk membayar uang kuliahnya.
“Ini kak! Tolong bayarkan!” ucap Nayla kepada Varel.
“Tidak usah sayang, kau pikir kekasihmu tidak mampu membayar uang kuliah kamu apa?” ucap Varel yang menolak pemberian Nayla.
“Iya nak! Varel ini laki-laki mapan jadi sudah siap dan matang untuk berumah tangga jadi aku rasa biarkan Varel yang membayarnya,” ucap mama Sandra berusaha meyakinkan Nayla.
“Maaf tante…, tapi kita belum suami istri lo? Jadi alangkah baiknya saya tidak tergantung pada kak Varel,” ucap Nayla.
“Tidak apa kok sayang, biarkan aku bertanggung jawab sama wanita yang aku cintai dan sayangi!” ucap Varel berusaha menyakinkan Nayla.
“Huk…, huk…,” Agam hampir keselek makanan yang ia makan karena mendengar perkataan Varel.
“Sayang kalau makan hati-hati,” ucap Kiara sambil menepuk-nepuk bahu Agam.
“Iya…, habisnya aku dengar kata-kata Varel membuat aku geli banget sayang?” ucapnya masih dengan batuk-batuk kecilnya.
“Sudah-sudah kalau makan jangan ngomong saja!” bentak mama Sandra gemas lihat tingkah anaknya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berenam makan dengan suasana santai dan tidak ada lagi ocehan atau gurauan diantara mereka. Semuanya nampak menikmati makanannya.