
Semenjak kehadiran Daffa kesibukan Kiara bertambah, selain kuliah dia juga harus mengurus Daffa. Kiara sangat menyayangi Daffa bahkan dia menyusui sendiri buah hatinya dengan ASI eksklusif.
Hari ini hari yang cukup melelahkan karena Dafa semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak karena habis imunisasi. Agam nampak mengerjap-ngerjapkan matanya karena terbangun dari tidurnya. Agam duduk di sofa seraya memandangi putranya kemudian melihat istrinya yang mengantuk cukup berat disamping putranya namun tidak bisa memejamkan matanya.
Agam pelan-pelan mendekati istrinya kemudian mengusap pipinya dan membungkukan badannya untuk mencium kening istrinya.
“Sayang, kau memang ibu yang baik untuk putra kita. Di usiamu yang tergolong masih muda membawamu menjadi seorang ibu tapi kamu bisa menyesuaikan dengan baik! Kamu bisa menjalankan peranmu sebagai mahasiswi, istri dan ibu sekaligus,” Agam menyelimuti istrinya kembali. Agam sengaja tidak membangunkan istrinya karena istrinya masih menunggu masa nifas. Agam pelan-pelan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berlanjut melaksanakan sholat subuh.
Setelah melaksanakan salat subuh Agam membuat sarapan spesial khusus untuk istrinya. dengan cekatan Agam membuat masakan kesukaan istrinya bahkan simbok tidak diijinkan untuk membantunya.
“Benar-benar pak Agam menyayangi nak Kiara sebagai istrinya, semoga hubungan mereka langgeng terus hingga tua nanti,” gumam si mbok lirih kemudian meninggalkan pak Agam di dapur untuk membersihkan halaman belakang.
Agam yang selesai malam masa kemudian membawa makanan hasil masakanya tersebut ke dalam kamar untuk diberikan kepada istrinya. Agam menggelengkan kepalanya tak kalah melihat Kiara masih tidur nyenyak. Agam pun tidak tega kemudian pelan-pelan membangunkan istrinya dan berniat untuk memandikannya.
“ Sayang, ayo bangun dan segera membersihkan diri kamu! Lihatlah hari mulai siang!” ucap Agam berbisik di telinga Kiara. Kiara pelan-pelan mengerjapkan matanya kemudian memandang Agam yang kebetulan sedang memandangnya. Kiara pelan-pelan mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
Agam nampak gelagapan dengan tingkah Kiara, namun Kiara mengabaikan suaminya.
“Sayang janganlah kau buat aku sakit karena tidak bisa melepaskan hasratku untuk menerobos ke pintu masuk calon adiknya Daffa,” ucap Agam mengeluh kepada istrinya. Kiara nampak tersenyum simpul menanggapi suaminya.
“He…, he…, ini peran istri untuk menguji kesabaran suami yah! Dan ini wajib dilakukan oleh istri untuk menguji kesetiaan kamu!” ucapnya langsung kepada suaminya tanpa harus ditutup-tutupi.
“Sayang jangan nakal ya? Jadi kamu meragukan kesetiann suamimu ini?” ucap Agam sambil memencet hidung Kiara dengan gemas.
“He…, he…, ampun sayang. Aku bercanda. Aku yakin suamiku tercinta adalah suami idaman yang setia dan tidak kan berpaling dengan perempuan manapun!” ucap Kiara memuji suaminya. Agampun dengan gemasnya langsung menggigit telinga Kiara.
__ADS_1
“Aduh…, sakit sayang!” ucapnya merinding karena ulah suaminya dirinya bereaksi hingga bulu kudunya merinding menahan hasratnya.
“Sayang ternyata kamu juga merasakan hal yang sama ya?” tanya Agam ingin tahu reaksi istrinya.
“Itu normal dong sayang, justru kalau tidak ada reaksi itu perlu dipertanyakan! Kemungkinan besar rasa sayang aku mulai memudar dong?” ucap Kiara blak-blakan menanggapi pertanyaan suaminya.
“Iya aku juga yakin cinta dan kasih sayang kamu hanya untuk aku dan Daffa yang lainnya hanya berapa bagian saja!” ucap Agam yang terus menciumi istrinya. Namun tiba-tiba Kiara mendorongnya untuk mengingatkan kalau suaminya harus pergi ke kantor.
“Sayang…, maaf kamu harus pergi ke kantor. Sebentar baju kamu aku siapkan dulu!” ucap Kiara yang hendak berdiri mengambil baju-baju suaminya dari almari namun Agam menahannya.
“Sudahlah tidak perlu sayang. Semua pekerjaan aku hari ini aku alihkan ke rumah. Nanti Varel datang kesini untuk membawa berkas-berkas kantor yang harus aku tanda tangani,” ucap Agam menyakinkan istrinya.
“O…, ceritanya hari ini mas suami ingin membahagiakan aku dengan Daffa ya? Terimakasih kak!” ucpa Kiara yang main sosor langsung mencium bibir suaminya.
“Sayang, aku besok ada kegiatan kampus. Aku sangat berat meninggalkan Daffa dengan suster. Bagaimana dong sayang?” ucap Kiara membuka pembicaraan dengan suaminya mengenai kegiatannya di kampus.
“Sampai jam berapa sayang?” tanya Agam kepada istri tercintanya.
“Paling lama jam 2 sayang, soalnya hanya seminar saja!” jelas Kiara kepada suaminya. Agam pun nampak berpikir sejenak kemudian mengambil jalan keluar untuk mereka. Agam nampak ragu untuk mengatakannya.
“Maaf sayang, misal mama besok di sini bagaimana? Biar mengawasi Daffa,” ucap Agam memberanikan diri mengatakannya kepada Kiara.
Kiara nampak berpikir sejenak kemudian menyetujuinya selama tidak mengganggu mama Sandra. Agam nampak senang dengan jawaban istrinya kemudian mengecup kening istrinya untuk menunjukan rasa sukanya.
Agam menyuruh suster mereka untuk membersihkan dan memandikan bayi Daffa sementara dirinya menyiapkan segala sesuatu untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, Agam mengajak istrinya untuk sarapan pagi. Mereka makan di balkon kamar dengan suasana yang sangat romantis. Agam juga memutar lagu nostalgia yang mengingatkan perjalanan cinta mereka.
Kiara tidak menyangka kalau suaminya itu romantis dan penuh perhatian. Kiara berharap hal ini akan terjadi hingga mereka terpisah oleh kehendak Allah hingga kakek-kakek dan nenek-nenek.
Mereka berdua layaknya masa pacaran saling menyukai satu sama lainnya. Bahkan mereka juga bersulang bersama untuk kebahagiaan mereka selama ini. Namun belum selesai acara mereka tiba-tiba nongol si Varel dengan Nayla yang nyelonong masuk begitu saja tanpa permisi.
“Pak Agam ini berkas…,” ucapnya terhenti karena melihat kebersamaan dan keromantisan mereka. Agam pun menghentikan aktivitasnya.
“Maaf mengganggu!” ucap Varel karena terlanjur menyaksikan keromantisan dan keharmonisan mereka berdua.
“ E…, Varel dan Nayla! Ayo sini gabung dengan kita ajak Kiara kepada mereka berdua bermaksud menghilangkan ketegangan mereka. Kiara tidak menginginkan suaminya nanti memarahi mereka berdua.
Varel menggandeng istrinya mendekati mereka dan duduk di bangku dekat mereka berdua sarapan pagi karena kursinya hanya ada untuk mereka berdua saja.
Kiara mengambilkan makanan untuk Nayla agar mereka ikut sarapan dengan mereka berdua. Sedangkan Varel mengambil makanan sendiri yang mereka suka.
“Bener-bener lezat banget. Si bos masakan kamu sejak dulu memang tidak ada duanya!” ucap Varel memuji bosanya.
“Lo…, kak Vael kok tahu kalau ini masakan kak AGam?” tanya Kiara penasaran.
“Tahu dong, aku kan sejak orok selalu bersamanya. Bahkan kita kuliah satu kampus dan satu apartemen dengannya,” ucap Varel menjelaskannya.
Kiara tampak senang melihat keakraban mereka berdua dimana mereka seperti kakak beradik bukan lagi sebagai sahabat saja.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1