
Setelah semuanya berlalu termasuk kepengurusan semua hal terkait dengan ahli waris yang diwariskan oleh sang kakek, Kiara memutuskan kembali ke rumahnya. Sedangkan Neta akan kembali ke Australia.
Kiara yang sedang berada di di samping rumahnya dekat kolam renang tiba-tiba didekati oleh suaminya.
“Sayang! Apa yang kamu lakukan kan? Kamu ingin berenang ya? Ayo sini berenang sama suamimu ini!” tanya Agam yang sudah memakai baju renang hendak terjun ke kolam renang.
“Sayang…, Aku hanya ingin mendengarkan kicauan burung dan menikmati suasana pagi hari dengan cerah!” ucap Kiara yang bermalas-malasan di kursi pantainya.
“Baiklah!Aku akan berenang sendiri!” ucap Agam langsung terjun ke kolam renang. Agam berenang dengan beberapa kali putaran kemudian kembali lagi mendekati istrinya dan menggodanya. Agam yang jahil tiba-tiba mendekap istrinya dan menciumnya.
“Sayang…, dingin lo?” ucap Kiara yang pura-pura menggigil.
“Tidak kok sayang…, ayo aku ganti kamu dengan baju renang kamu!” ucapnya langsung menggendongnya masuk ke kamar yang memang dekat dengan kolam renang kemudian Agam menggantinya dengan baju renang.
Setelah ganti dengan baju renang Agam dan Kiara berenang yang sebenarnya bisa dikatakan berendam karena Kiara tidak menunjukan pergerakan terlalu jauh karena hamil. Mereka lebih banyak berendam di kolam renang yang tingginya kira-kira sebahu mereka.
Agam yang nakal sesekali memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengusap-usap perut istrinya dan membisikan sesuatu ke telinga istrinya.
“Sayang…, boleh dong kita main disini?” ucapnya nakal.
“Sayang kamu itu benar-benar suami tidak tahu akhlak ya? Masa iya istri yang hamil begini diajak begituan di kolam renang?” ucap Kiara jengkel.
“Kiara sayang aku hanya tengok sebentar saja kok! Itu jagoan kita lagi apa?” ucapnya sengaja sambil bereaksi dari belakang mengusap-usap perut istrinya dan mencium telinga, leher hingga tengkuknya. Kiara karena cuacanya mendukung langsung membalikan tubuhnya.
Nafas Kiara mulai memburu dan hal itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendorongnya ke permainan yang lebih dalam.
__ADS_1
“Sayang…, aku mau itu!” ucapnya lirih dan mendesah. Agam dengan cekatan berusaha menerobosnya dengan celah-celah yang ada. Kiara semakin terlihat tidak bisa mengendalikan permainan. Entah bagaimana tiba-tiba mereka sudah tidak memakai selembar kain pun di tubuh mereka.
Kiara memburu dengan terus menciumi tubuh suaminya seolah dia yang memegang kendali karena mungkin dipengaruhi oleh hormon kehamilannya. Kiara sudah berada dalam gendongan suaminya yang berhadapan dengan suaminya yaitu berada di gendongan depan dengan kaki sudah melilit pinggang suaminya.
Agam yang tahu situasi dengan sigap membawanya ke daratan dan bermain di kursi pantai pinggir kolam renang dengan sangat indah diikuti oleh irama musik dari kicauan burung di sekitarnya.
Sesekali rintihan dan jeritan Kiara nampak menghiasi merdunya kicauan burung. Entah berapa kali Agam membawa Kiara terbang bersama dengan membobol pintu keluar calon anaknya.
“Sayang yang pelan ya? Aku tidak ingin anak kita terkejut karena kita terlalu berisik melihatnya!” ucap Kiara sambil mendesah menikmati kepuasan karena sensasi yang diberikan oleh Agam suaminya.
“Iya…, sayang aku sudah pikirkan itu kok!” ucapnya sambil terus berpacu dalam puncak kenikmatan dengan Agam yang memegang kendali nya.
Setelah beberapa kali dengan beberapa gaya yang berbeda mereka terkulai lemah dengan Agam memeluk dan memangku istrinya di atas kursi pantainya. Agam dengan pelan mengusap rambut, pipi hingga sesekali menciumi anak rambut istrinya dan berkata sesuatu kepada istrinya dengan lembut.
“Terimaksih sayang? Kau bener-bener istri dan calon ibu yang baik. Kau izinkan aku menengok putra kita yang belum lahir,” ucap Agam sambil terus menciumi kening istrinya namun Kiara yang gemas langsung mencubit pinggang suaminya.
“Iya suamiku yang nakal? Kamu benar-benar tega sama istri dan anakmu yang belum lahir ini!” ucap Kiara sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.
“Tega gimana…? Wong kamu juga enjoy dan menikmatinya. Dan anak kita pun kelihatan puas dengan permainan petak umpet kita yang sekali-kali pintu keluarnya aku terobos dengan pelan!” ucap Agam semakin ngelantur.
“Sayang!” Kiara mencubit hidung mancung suaminya. Namun tiba-tiba dia panik dan berdiri dari pelukan suaminya dan menyambar handuk di sebelahnya sambil celingukan melihat ke kanan dan kirai dan juga berkeliling ke sekitar kolam renang.
“Sayang…, apa yang kamu lakukan?” ucap Agam dan terus berdiri menghampiri istrinya dan memeluknya.
“Sayang…, kemana mereka kenapa tidak ada di sini?” tanya Kiara penuh kuatir karena biasanya asisten rumah tangganya akan berada di dapur dekat kolam renang untuk memasak kalau jam segini.
__ADS_1
“Mereka siapa? Sopir dan asisten rumah tangga kita?” tanya Agam dan hanya disambut dengan anggukan oleh Kiara.
Agam nampak tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi istrinya yang polos.
“Sayang, bukankah mereka kemarin izin untuk liburan ke desanya? Dan kamu sendiri yang memberi uang sakunya?” ucap Agam yang masih menahan tawanya yang menatap istrinya yang menggaruk-garukan tangan nya di kepalanya yang tidak gatal.
“Iya…, ya? Kenapa aku jadi lupa ya?” ucap Kiara kembali duduk di kursi pantai sambil menyandarkan tubuhnya menatap matahari yang mulai meninggi.
“Itu karena kamu terlalu larut dalam permainan kita sayang? Sudahlah ayo kita ulangi lagi!” bisik Agam yang menggoda istrinya.
“Tidak sayang…, Aku sudah capek!” ucap Kiara sambil meluruskan kakinya di atas kursi. Agam yang cinta dengan istrinya langsung mendekatinya dan memijat kaki Kiara pelan-pelan.
“Ini ya yang sakit! Aku pijat ya? Biar kaki kamu tidak bengkak!” ucapnya dan terus memijat kaki Kiara. Namun Agam yang modus tiba-tiba pijatannya semakin melemah dan berubah jadi usapan yang eksotik hingga Kiara lagi-lagi terbawa emosi mengikuti iramanya.
“Sayang…, ini jangan terlalu keseringan? Ingat kata dokter!” ucap Kiara mengingatkan suaminya.
“Iya sayang…, aku hanya main yang atas saja kok. Aku melupakan dulu bagian bawah!” ucap Agam dengan mengerlingkan matanya yang nakal dan genit.
“Kakak! Kamu itu ya? Benar-benar membuat aku serasa hidup penuh warna! Kau yang memanjakanku dan kau juga yang kadang-kadang membuat aku khawatir!” ucap Kiara yang terus bergelayut manja dengan mengalungkan tanganya di leher suaminya dengan dia duduk di atas tubuh suaminya menghadap ke suaminya. Mereka tampak menikmati ciuman bibir mereka dan bermain cukup lama.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara bel rumah yang berbunyi hingga akhirnya mereka harus mengakhirinya.
“Sayang…, ayo kamu pakai handukmu dulu!” ucap Agam langsung menggendong istrinya masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu bersihkan tubuhmu dulu. Aku akan ke depan membukakan pintu dulu!” ucap Agam langsung memakai kaos oblong dan celana pendeknya.
__ADS_1
Agam tanpa menunggu lama langsung membuka pintu rumahnya yang ternyata Varel yang nongol bertamu ke rumahnya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?