Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Kalah Cepat


__ADS_3

Semenjak Agam tahu kalau di kampus ada kakak kelasnya yang naksir berat sama Kiara, Agam selalu antar jemput Kiara. Demikian pula sebaliknya Prawira tidak mengerti juga kalau sebenarnya yang mengantar dan menjemput Kiara itu suaminya.


“Kayaknya aku harus minta izin kepada kakaknya Kiara,  biar Kiara bisa aku aku persunting menjadi istriku, aku siap menjadi ayah yang dikandungnya,” ucapnya kepada salah satu temannya.


“Gila apa? Kamu tidak berbuat kenapa kamu harus bertanggung jawab?” tanya temannya berusaha menyadarkan Prawira.


“Aku tahu dan sadar. Tapi dia begitu cantik, aku tidak tega kalau melihat dia jadi single parent!” ucap Prawira dengan persepsinya sendiri tanpa dia tahu kalau Kiara itu hamil dengan suaminya. Prawira pikir Kiara hamil karena perbuatan terlarang atau korban suatu kejahatan.


“Kamu jangan ngaco Wira? Kamu selidiki dul, jangan-jangan Kiara hamil karena memang sudah punya Suami!” ucap teman Prawira mengingatkan.


“Kalau dia punya suami kenapa dia selalu antar jemput dengan kakaknya!” ucap Prawira percaya diri dengan asumsinya.


“Memangnya kamu tahu kalau itu kakaknya?” tanya temannya kembali.


“Tidak! Tapi aku yakin dia kakaknya. Wajahnya sangat mirip sekali!” ucapnya.


“Plak…, serius kamu sudah selidiki itu?” tanya temannya kembali.


“Belum!”


“Prawira…, prawira! Kamu kalah cepat Prawira! Ini kan yang kau bilang kakaknya Kiara itu?” tanya teman Prawira sambil menyodorkan majalah bisnis yang baru terbit seminggu yang lalu.


“Apa ini? Kita bukan waktunya untuk sharing tentang suatu artikel bisnis!” ucap Prawira dengan jengkel kepada sahabatnya.


“Baca ini siapa?” sahabat Prawira menunjukan salah satu gambar yang mirip dengan seseorang yang mengantar dan menjemput Kiara.


“Agam Maheswara pewaris tunggal dari kekayaan Bagas Maheswara pebisnis sukses yang kekayaannya tidak habis dimakan untuk tujuh keturunan. Iya kan?”ucap Prawira tanpa memperhatikan majalah tersebut dengan detail.


“Iya! Tapi kamu cek biodatanya! Kamu pasti syok karena kalah cepat dengannya!” ucap temanya memperingatkan Prawira.


Prawira pun penasaran dengan apa yang dikatakan temannya. Prawira dengan pelan-pelan membaca biodata Agam Maheswara. Namun syok ketika membaca istri bernama Kiara Aditama, seketika itu juga Prawira lemas dan tidak bisa berkata apa-apa. Prawira memegangi batuknya karena tiba-tiba kepalanya panas seolah-olah membuat hatinya sakit bagaikan ditusuk-tusuk sembilu.


“Sudahlah! Kamu bukan saingannya, bahkan perusahaan papamu saja tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pak Agam!” ucap sahabatnya mengingatkan Prawira.

__ADS_1


“Benar-benar aku kalah telak ini! Aku sudah kalah cepat dan kalah posisi dengan pak Agam yang terkenal itu!” ucap Prawira kemudian keluar ruang kelasnya.


“Mau kemana kamu?” tanya temannya berusaha mengejar Prawira.


“Mau mengejar cinta Kiara tahu?” ucap Prawira penuh percaya diri.


“He…, he…, jangan gila kamu. Bisa-bisa perusahaan bokap kamu disita oleh pak Agam karena ulah kamu!” ucap temennya mengingatkan Prawira.


“Bodho…, yang terpenting aku mau menemui Kiara dulu. Aku ingin menyatakan cintaku kepadanya!” ucapnya penuh percaya diri.


“Ok.., terserah kamu sajalah! Itu Kiara sedang berada di bangku taman sama sahabatnya! Ayo temui! Aku yakin Kiara akan menolak kamu karena Kiara merupakan istri orang lain,” ucap sahabatnya berusaha mengingatkan.


Prawira kemudian duduk disamping Kiara dan menyapanya.


“Pagi Kiara dan Nayla? Bagaimana kabar kalian?” tanyanya kepada mereka berdua basa-basi.


“Pagi kak, adakah sesuatu yang bisa aku bantu?” tanya Kiara kepada Prawira sopan.


“Iya kak, akan aku usahakan. Bebas kan untuk perusahaannya!” tanya Kiara dengan harapan dia bisa memasukan proposal ke perusahaannya dan sekaligus perusahaan suaminya.


“Iya bebas kok!” ucap Prawira kemudian menyodorkan proposal kepada Kiara.


“Ok, aku minta 2!” ucap Kiara kemudian menerima proposal dari Prawira dan dimasukan ke dalam tasnya. Sementara itu Nayla hanya diam melihat mereka bercakap-cakap namun sekilas Nayla mengerti kalau Prawira sebenarnya menaruh hati pada Kiara. Prawira memang sering kali mencuri pandang pada Kiara.


“Kak! Adakah sesuatu yang membuat kamu mengganjal?” tanya Kiara sesaat setelah mengetahui gerak-gerik Prawira.


“Tidak ada! Aku akan kembali ke kelas aku! O…, iya ini susunan kepengurusan kegiatan Diez Natalis kampus kita!” Prawira memberikan selembar kertas kepada Kiara dan Nayla.


“What…, kenapa aku mesti dimasukkan ke dalam kepanitian! Aku rasa aku tidak perlu kak, aku akan membantu kalian tapi aku jangan kamu masukan dalam kepengurusan. apalagi ini kepengurusan dalam hal penggalangan dana!” ucap Kiara memohon.


“Tidak apa dik! Kamu jangan takut, ini sudah berizin kok. Secara hukum ini syah kok! Jadi kalau ada yang menggugat kita aku ras tidak akan terjadi!” ucap Prawira menjelaskan.


“Bukan itu kak! Aku sama Nayla anak baru mana bisa seperti itu. Dan aku juga…?” ucap Kiara tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Hamil…, maksud kamu!” sambung Prawira memperjelas kalimatnya.


“Iya kak! Aktivitasku terbatas!” jawab Kiara.


“Iya kak Prawira yang terhormat jadi aku mohon Kiara tentunya beserta aku janganlah dimasukan dalam kepanitiaan kalian!” ucap Nayla membantu Kiara menegaskan.


“Tidak apa Nay…, kalian biar punya pengalaman dengan organisasi di kampus!” ucap teman Prawira yang ikut gabung dengan mereka.


“Ok, terserah kalian saja! Bagaimana baiknya. Aku sama Kiara akan berusaha semaksimal mungkin!” ucap Nayla.


“Ya…, sudah permisi dulu! Jangan lupa kau jaga calon bayi kita!” bisik Prawira di telinga Kiara hingga kerongkongan Kiara tercekat mendengar pernyataan konyol Prawira. Kiara nampak malu mendengarnya.


“Maaf kak! Jangan konyol! Ini bukan bayi kita! Tapi ini bayi aku dengan suami aku. Jadi jangan pernah sebut bayi kita ya? Kalau didengarkan oleh orang lain rasa-rasanyap tidak enak di dengar!” ucap Kiara serius kepada Prawira.


“Kau itu, tidak merasa tanam benih malah hendak pelihara hasilnya! Prawira…, kamu kalau berucap hati-hati ya?” ucap temannya memberi peringatan kepada sahabatnya.


“He…, he…, aku bercanda dik! Tapi aku berharap juga bisa menjadi papa anak kamu!” ucap Prawira namun tiba-tiba mendapatkan bogeman mentah dari belakang yang ternyata Agam sudah berdiri di belakangnya karena menjemput Kiara pulang.


“Astaga! Kak cukup kak!” Kiara melerai Agam agar menahan emosinya.


“Aku sebenarnya sudah ingin menghajarnya sejak minggu lalu waktu kamu mengikuti ospek! Aku tidak suka melihatnya. Enak saja merayu-rayu istri aku!” ucap Agam emosi dan untung tidak ada orang di sekeliling mereka.


“Maaf kak, aku hanya bercanda,” ucap Prawira sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah.


“Kak…, tolong kau bawa pergi kak Prawira! Sayang, ayo kita pulang!” Kiara kembali menenangkan suaminya dan mengajaknya menuju parkir mobil. Agam yang masih bersungut-sungut masuk ke dalam mobil dan kelihatan masih emosi.


Kiara dengan cepat langsung memeluk dan mencium suaminya hingga bisa meredakan panasnya api yang membara dalam diri suaminya.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya!


Baca juga tidak kalah seru :


Novel yang sangat bagus untukmu, Buah Hati Ceo Pendendam, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=4087856&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2