
Kiara benar-benar terpuruk setelah kematian kakeknya. Apalagi apalagi kakaknya mendekam di penjara. Acara tujuh hari meninggalnya sang kakek juga sudah terlewati, namun Kiara masih enggan meninggalkan rumah kakeknya. Agam dengan setia mendampingi Kiara.
Di saat mereka ada di ruang tamu tiba-tiba ada pengacara kakek datang dan ingin membicarakan sesuatu tentang wasiat kakek.
“Maaf nyonya kami pengacara kakek ingin menyampaikan sesuatu yang kakek pesankan kepada Kiara, Riki, dan Neta,” ucap sang pengacara didampingi sekertarisnya.
“Tapi untuk kak Riki tidak ada pak,” ucap Kiara sambil menghela nafasnya.
“Riki diwakili oleh istrinya yang kebetulan tadi sudah dihubungi dan bisa datang, kemungkinan sebentar lagi sudah hadir di sini,” ucap sang pengacara.
“Baiklah terserah bapak saja! Tapi mohon maaf bukannya aset kakek banyak yang sudah hilang karena keserakahan kak Riki?” tanya Kiara kepada pengacara kakek.
“Tidak nyonya, karena bantuan suami nyonya hampir seluruh aset kakek anda terselamatkan. Bahkan perusahaan yang terpuruk karena ulah kakak anda semuanya juga bisa terselamatkan oleh suami anda!” ucap sang pengacara yang mengejutkan bagi Kiara dan Neta.
Kiara dan Neta nampak berpandangan tidak mengerti sementara Agam hanya tersenyum simpul melihat reaksi istrinya.
“Ha…, yang benar kak!” ucap Kiara terkejut mendengar pernyataan dari pengacara kakeknya sambil memegangi tangan suaminya minta penjelasan.Agam hanya tersenyum dan mengusap punggung tangan istrinya.
“Iya nyonya, peran serta suami anda itu sangat besar dalam hal penyelamatan beberapa aset dan perusahaan yang dipimpin oleh kakek Danu yang sebelumnya sempat dipegang oleh kakak anda!” ucap pengacara kakek menekankan sekali lagi.
“Non…, nyonya Erlita datang!” ucap asisten rumah tangga kakeknya tergopoh-gopoh sambil mengantarkan nyonya Erlita istri Riki.
“Selamat pagi kak!” ucap Kiara sambil terus berdiri menyambut kedatangan Erlita.
__ADS_1
“Pagi,” ucap Erlita ketus menunjukan kalau dirinya tidak suka dengan Kiara.
“Kak Erlita…, lama tidak jumpa ya?” ucap Neta menimpali untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
“Eh…, Neta ternyata kamu juga belum pulang ya? Jangan harap kamu bisa memperoleh warisan dari kakek!” ucap Erlita ketus yang tidak pernah kapok suaminya dipenjara.
“Kakak…, jagalah omongan kakak! Kita semua saudara dan kita baru kehilangan kakek!” ucap Kiara namun membuat emosi Erlita. Erlita tiba-tiba berdiri hendak menampar Kiara namun dengan cekatan Neta yang terdekat langsung menghadangnya dengan tangannya.
“Dasar pecundang, kamu mau ya jadi anteknya Kiara?” ucap Erlita langsung duduk kembali di kursinya.
“Sudah…, kalian jangan ribut! Mari kita mulai saja, saya banyak acara yang lain yang harus saya selesaikan,” ucap pengacara kakek.Tidak lama kemudian mengeluarkan berkas-berkas yang yang harus ditandatangani oleh mereka bertiga. namun sebelumnya pengacara tersebut membeberkan bahwa Villa dan rumah kakek yang ditinggali milik Kiara sepenuhnya, tanah yang ada di Bekasi juga milik Kiara, sedangkan untuk perusahaan dibagi 3 dengan persentase Kiara 70%, Riki 15% dan dan Neta mendapatkan 15%.
“Tidak bisa, ini tidak adil untuk kak Riki. Karena kak Riki selama ini yang mengelola perusahaan,” ucap Erlita ngotot.
Erlita yang tidak pernah puas kemudian nampak terdiam sesaat akan tetapi setelah itu juga berpikir untuk menanyakan tentang rumah, Vila dan tanah yang diberikan kepada Kiara.
“Ok! Saya terima apa yang kalian sampaikan. Lalu bagaimana dengan rumah, Villa dan tanah kenapa hanya Kiara yang menikmati? Aku tidak terima?” ucap Erlita selaku wakil dari Riki.
“Maaf…, semuanya apa perlu saya beberkan? Sebenaranya apabila saya beberkan ini sangatlah tidak etis karena sesungguhnya kakek Danu punya rahasia sendiri untuk suami Anda dan Nona Neta?” ucap sang pengacara kembali karena dirinya sangat heran dengan kelakuan Erlita yang sesungguhnya akan membuka aib suaminya.
“Iya…, karena aku juga perlu tahu semuanya!” ucap Erlita bersikeras untuk ingin tahu rahasia kakek Danu.
“Ok…, kalau itu permintaan anda? Bagaimana nyonya Kiara dan nona Neta apakah anda tidak keberatan?” tanya sang pengacara kembali.
__ADS_1
“Baiklah…, kalau itu kemauan kak Erlita apa boleh buat,” ucap Kiara sambil menhela nafasnya.
“Aku ngikut saja!” ucap Neta berat karena sesungguhnya dia juga tahu rahasia itu.
“Nyonya Erlita sebenarnya suami anda itu cucu tiri dari kakek Danu yang beda ibu dengan Kiara. Jadi sebelum menikahi mamanya Kiara, papanya Kiara punya hubungan gelap dengan sekretarisnya hingga terlahir Riki. Sedangakan mama Riki sendiri meninggal setelah melahirkan Riki. Jadi kakek Danu berbesar hati mau menerima Riki sebagai cucunya ketika papanya mau menikah dengan mamanya Kiara yang merupakan pilihan oleh kakek Danu. Namun ternyata setelah ditelusuri Riki itu bukan anak dari papanya Kiara namun tidak jelas keberadaan papanya yang sebenarnya. Papa Kiara dan kakek Danu tidak pernah mengungkapkannya karena terlanjur sayang dengan Riki dan diperlakukan sebagai cucu sendiri tapi…?” ucap sang pengacara terhenti tidak melanjutkan ucapannya.
“Tapi…, kenapa pak?” tanya Neta penasaran.
“Riki tidak tahu terimakasih, Riki berniat menguasai semua asep milik papa Kiara dan kakeknya bahkan sempat hendak membunuh kakek Danu. Namun berkat pertolongan Agam kakek Danu bisa terselamatkan! Untuk Neta itu putri dari sahabatnya ayah Kiara yang dianggap sebagai cucunya sendiri sehingga diberi saham seian persen oleh kakek Danu,” ucap sang pengacara detail bahkan juga punya bukti-bukti video penyiksaan kakek Danu oleh Riki.
Erlita nampa terdiam tidak bisa berucap kembali sehingga dia dengan perasaan malu tertunduk diam sambil mengeluarkan air matanya memohon maaf kepada Kiara.
“Maaf Kiara? Aku telah berburuk sangka terhadapmu!” ucapnya pelan sambil mengusap air matanya. Erlita berdiri kemudian mencium dan memeluk Kiara untuk minta maaf.
Kiara pun dengan besar hati memeluknya dan diikuti oleh Neta sehingga semua orang terlarut dengan suasana hati mereka. Kiara melepaskan pelukannya kemudian mengucapkan sesuatu kepada pengacara kakeknya.
“Pak untuk tanah kakek bisakah aku berikan untuk mereka berdua? Biarlah bermanfaat sedangkan aku untuk semua itu lebih dari cukup,” ucap Kiara yang dengan ikhlas membagikan untuk mereka.
“Baiklah nyonya besok kita urusnya, untuk sementara aku butuh tanda tangan dari kalian!” ucap pengacara dibantu sekretarisnya mengeluarkan berkas-berkas yang ada.
Setelah semua beres mereka semua pamitan untuk pulang termasuk Erlita sedangkan Neta masih tinggal menemani Kiara. Mereka berdua masih ingin mengenang masa keci mereka. Sedangkan Agam pamitan untuk kembali bekerja di kantor karena ada meeting penting dengan klien penting yang harus didatangi.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1