
Keluarga besar Agam disibukkan dengan persiapan pernikahan Dewi dengan Adrian. Agam dan Kiara juga membantu menyiapkan segala sesuatunya. Mereka sangat bahagia bisa membantu saudara sepupunya melangsungkan pernikahan. Semua kerabat yang tinggal di luar negeri pulang dan menginap di hotel milik keluarga yang telah disediakan.
Papa Bagas dan mama Sandra menjadi terima tamu, mereka berdua bersanding dengan setelan kebaya dan jas yang sangat elegan desain dari desainer ternama di kota tersebut.
Daffa yang masih kecil dan belum bisa berjalan di ditemani oleh babysitter nya. Daffa juga pakai pakaian Senada dengan kedua orang tuanya. Seperti biasa mereka memakai setelan baju berwarna biru warna favorit mereka.
“Sayang, sini dong cucunya Oma untuk foto bareng. Oma juga ingin gendong Daffa!” ucap mama Sandra sambil meminta Daffa dari gendongan baby sitter nya.
Daffa digendong oleh Mama Sandra kemudian foto bareng di depan dekor dekorasi pengantin. Setelah selesai foto bareng dengan Daffa, Mama Sandra juga memanggil Agam dan Kiara untuk mengabadikan keluarga inti mereka.
Keharmonisan keluarga mereka membuat tamu undangan yang lain sangat mengagumi mereka. Bahkan ada beberapa wartawan yang mengabadikan mereka dan dimuat di dalam majalah keluarga di kota tersebut.
Setelah foto bareng mereka juga mengucapkan selamat kepada pengantin.
“Selamat ya Adrian semoga kalian berdua menjadi keluarga yang harmonis hingga kakek-kakek dan Nenek-nenek hingga takdir yang memisahkan kalian berdua,” ucap Agam kepada sahabatnya.
“Terima kasih bro atas dukungannya baik materi maupun persiapan yang lainnya,” jawab Adrian sambil memeluk sahabatnya. Agam pun tidak kalah ketinggalan membisikan sesuatu ke telinga sahabatnya.
“Adrian nanti kalau malam pertama jangan yang kasar-kasar dan arogant ya? Ingat pelan dan berirama biar tambah hot!” bisik Agam membuat Adrian nyengir mendengar bisikan sahabatnya itu.
“Siap…, emang harus begitu ya?” tanya Adrian kembali hingga membuat Agam menowelnya.
“Kamu itu sok polos apa pura-pura polos sih!” ucap Agam yang langsung meninggalkan pengantin menuju ke meja makan yang disediakan. Agam menuntun istrinya turun dari S panggung dekorasi pengantin. Aksi Agam seperti itu membuat para gadis dan ibu-ibu kagum dengan Agam. Bahkan mereka berharap punya suami dan calon menantu seperti Agam.
__ADS_1
“Sayang, kamu ingin makan apa?” tanya Agam kepada Kiara kemudian mengambilkan beberapa makanan kesukaan Kiara.
“Iya itu saja cukup pa!” ucap Kiara yang sibuk bersama putranya Daffa ditemani Baby sitternya. Kiara kemudian makan makanan yang disiapkan oleh suaminya. Tidak beberapa lama kemudian muncul Varel dengan Nayla dengan perut yang sudah besar hendak melahirkan.
“Sayang, sudah seminggu tidak bertemu dengan tante ya?” ucap Nayla yang tiba-tiba sudah main cubit pipi Daffa yang gemoi.
“Eh…, main nyelonong aja sama anak orang. Udah ke pelaminan belum mengucapkan selamat untuk kedua pengantin?” tanya Kiara gemas melihat kelakuan sahabatnya.
“Sudah dong! Kita mah dari tadi cuman tadi Kak Adrian mengajak ngobrol agak lama dengan kak Varel,” ucap Nayla yang langsung duduk dan gabung ikut makan dengan mereka berdua.
Varel tidak jauh beda sikapnya sama dengan Agam yang selalu mengutamakan kepentingan istrinya. Varel dengan cekatan mengambilkan beberapa makanan kesukaan Nayla.
“Sayang kamu jangan minum es ya? Kasihan nanti kalau bayinya terlalu besar dan kamu harus melahirkan caesar!” ucap Varel perhatian sama Nayla.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Varel panik.
“Kak, kayaknya Nayla mau melahirkan!” ucap Kiara yang langsung memapah Nayla keluar dari hotel. Kiara menyuruh Agam untuk mengemudikan mobil sementara Varel juga memapah istrinya menuju depan hotel. Agam berlari mengambil mobilnya yang berada di parkiran hotel. Sementara itu Daffa diurus oleh baby sitternya dibantu oleh mama Sandra yang mengawasi.
Mama Sandra sengaja tidak ikut karena sudah yakin kalau putra dan menantunya bisa membantu mengurus persalinan Nayla.
“Nay…, kamu yang tenang, “ ucap Kiara yang berada di depan sesekali menoleh ke belakang memantau keadaan Nayla yang dikuatkan oleh suaminya.
“Sayang…, tarik nafas dan buang nafas ya? Agam tolong lebih cepat lagi!” ucap Varel panik melihat istrinya yang sudah bercucuran keringat. Sesekali Varel mengelap keringat istrinya dengan tisu.
__ADS_1
“Kak sakit!” ucap Nayla manja dan terus memegangi perutnya. Dan tidak lama kemudian nampak air ketuban sudah pecah.
“Ayo cepet dong Gam. Air ketubannya sudah pecah!” teriak Varel karena cemas melihat isstrinya sudah mulai lemas. Agam menambah kecepatannya. Namun sayang kira-kira kurang dari 500 meter ada kecelakaan sehingga jalannya terhambat.
“Bagaimana ini? Aku putar balik saja ya? Kita masuk gang sebelah untuk jalan memutar,” tanya Agam kepada Varel. Namun karena Varel bingung dan cemas maka Agam harus mengambil keputusan sendiri dengan manuver balik arah memutar lewat gang sempit.
Tidak berapa lama merkapin sampai di UGD. Nayla langsung mendapat pertolongan dan dilarikan ke ruang persalinan. Varel hendak ikut masuk menemani istrinya melahirkan namun dilarang oleh dokter yang menolongnya. Agam membantu menguatkan Varel untuk sabar dan berdo’a untuk kelancaran kelahiran istrinya.
Varel nampak mondar-mandir cemas memikirkan istrinya. Agam memakluminya karena dulu dia pernah berada di posisinya. Kiara juga bergerak cepat dengan menelpon si Mbok yang ada di rumah Nayla untuk mengirim beberapa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan oleh Nayla.
Setelah beberapa menit menunggu terdengar suara tangis bayi yang ternyata terlahir cewek. Varel sangat bahagia mendengarnya kemudian masuk ke dalam dan memberi adzan untuk putrinya.
Agam dan Kiara tersenyum bahagia mendengar putri dari sahabatnya telah terlahir.
“Alhamdulilah sayang, kelahirannya lancar. Nayla dan putrinya selamat!” ucap Kiara yang duduk bersebelahan dengan suaminya Agam.
“Iya! Tadi itu sangat menegangkan sayang!” ucap Agam kemudian mereka berdiri dari duduknya dan mengikuti Varel yang mengikuti istrinya dipindahkan di ruang perawatan.
Setelah di ruang perawatan, Kiara mendekati Nayla dan menciumnya kemudian mengucapkan selamat untuk kelahiran putrinya.
Nayla juga mengucapkan terimakasih terhadap sahabatnya yang membantunya dan menemaninya disaat-saat keluarganya tidak ada. Baginya Kiara bagikan saudaranya sendiri.
Nayla sangat senang Agam yang merupakan atasan suami dan suami dari sahabatnya juga bisa diandalkan untuk segala hal. Bahkan pak Agam juga bisa berbagi orang tua dengan suaminya. Papa Bagas dan Mama Sandra merupakan orang tua pengganti bagi mereka berdua karena orang tua Varel maupun dirinya kedua-duanya tinggal di luar negeri karena pekerjaannya di sana.
__ADS_1
Benar saja setelah acara Dewi selesai papa Bagas dan mama Sandra sudah menyusulnya ke rumah sakit. Daffa sengaja tidak dibawanya karena masih balita takut rentan penyakit karena di rumah sakit banyak virus dan penyakit yang tidak kelihatan bisa menyerangnya kapan saja.